2/21/2019

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 8 PART 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

Keesokan harinya, Seo Jun melarang Geum Bi ikut bersamanya. “Aku berpura-pura bekerja agar bisa kencan pagi dengan Dan Yi. Aku akan segera kembali,” ujarnya.


Seo Jun membawa Geum Bi masuk, lalu menutup pintunya dari luar dan pergi.


Eun Ho menghentikan mobilnya saat melihat Seo Jun ada di halte. “Apa ini? Jadi mereka benar-benar berangkat bersama,” gerutunya. Ia kesal karena tidak bisa berangkat ke kantor bersama Dan Yi karena takut akan ketahuan pegawai lain. Ia lalu turun dari mobil dan menghampiri Seo Jun.


Seo Jun terkejut dan menanyakan di mana Dan Yi. Eun Ho menegurnya karena tidak menyapa lebih dulu. “Good morning,” sapa Seo Jun. Eun Ho membalas sapaannya. “Di mana Dan Yi?” Eun Ho bertanya kenapa Seo Jun bertanya padanya. “Kalian tinggal bersama. Lupakan jika kau tidak tahu.”


Eun Ho menyebut Seo Jun kekanakkan karena akan berangkat dan pulang bersama Dan Yi. “Kau pekerja lepas. Sejak kapan harus bekerja? Kontrakmu dengan Wolmyeong berakhir,” ujarnya.


Seo Jun khawatir Eun Ho memberitahu Dan Yi tentang itu. Eun Ho bilang ia tidak memberitahu Dan Yi karena itu sangat tidak jantan dan ia tidak mau dianggap sebagai orang yang menghalangi mereka. Seo Jun mengingatkan kalau Eun Ho pernah bilang tidak suka jika ia menemui Dan Yi.


“Benar, aku tidak suka. Huft.. Tapi aku tidak mau jadi pecundang,” kata Eun Ho. Seo Jun meminta Eun Ho pura-pura saja tidak tahu. Ia tahu Dan Yi tidak nyaman berkencan, jadi ia berimprovisasi dengan rencana itu. “Dia jelas tidak nyaman! Kau lebih muda. Tahu betapa dia tidak nyaman soal itu?”


Seo Jun bertanya kenapa Eun Ho tertarik dengan asrama Dan Yi. Eun Ho bilang ia hanya khawatir karena pria yang Dan Yi temui itu menyebalkan. “Urus saja asmaramu sendiri. Sudah lewat 3 menit. Kau akan ditilang,” kata Seo Jun.


Eun Ho bilang lewat dari 5 menit pun tidak masalah baginya. Seo Jun menyebutnya tidak sopan karena parkir di jalanan.


“Ah, itu Dan Yi,” kata Seo Jun saat melihat Dan Yi mendekat. Eun Ho malah khawatir karena Dan Yi akan jatuh karena menyeberang sambil berlari. Ia lalu pergi mobilnya


Eun Ho sangat kesal karena melihat Dan Yi tampak begitu akrab dengan Seo Jun. Bus datang dan mereka berdua pun masuk ke dalamnya. “Astaga, yang benar saja. Ini konyol,” gerutu Eun Ho.


Di dalam bus, mereka duduk bersebelahan. Dan Yi membuka buku pemberian Seo Jun dan bilang bukunya bagus. Seo Jun juga mengambil buku dari dalam tasnya. Beberapa saat kemudian, Seo Jun memberikan satu earphone-nya kepada Dan Yi.


Seo Jun tidak menyangka Dan Yi menyukai lagu yang diputarnya. Mereka lalu melanjutkan membaca sambil mendengarkan musik, tapi Seo Jun lebih banyak mencuri pandang ke arah Dan Yi.


Saat sampai di kantor, Dan Yi membuka lagi buku tadi dan membaca tulisan tangan Seo Jun sebelumnya. Seo Jun menuliskan perjalanannya dengan Dan Yi ke Toko Buku Moonlight dan makan malam bersama.


‘Seo Jun dan aku naik bus yang sama pagi ini. Kubaca buku ini. Lagu dan buku yang ia rekomendasikan juga bagus,’ tulis Dan Yi di bawah tulisan Seo Jun.


Ji Yul bersorak karena ia datang jauh lebih awal hari ini. Belum ada seorang pun di timnya yang sudah datang. Dan Yi lalu menghampirinya dan menyerahkan surat pembaca yang sudah ia rapikan.


Ji Yul bilang ia bahkan belum membaca bagiannya. Ia berjanji akan mentraktir Dan Yi makan siang sebagai gantinya. “Aku senang. Aku suka membaca,” kata Dan Yi lalu kembali ke mejanya.


Tanpa mereka sadari, Hae Rin ada di sana dan mengetahui hal itu. 


Melihat Hae Rin datang, Ji Yul langsung menyerahkan tugasnya (yang dikerjakan oleh Dan Yi). Ia bilang ia senang membacanya. Hae Rin memberikan biografi penulis buku ‘Semestamu’. Ia meminta Ji Yul untuk melakukan riset dan menambahkan detailnya.


Hae Rin lalu menugaskan Dan Yi untuk mengatur surat pembaca. “Apa?” tanya Dan Yi heran. Ji Yul malah cuek saja dan kembali ke mejanya sambil membawa tugas baru.


Eun Ho datang sambil membawa bungkusan semalam. “Oh, itu pasti naskah Penulis Yu!” kata Young A heboh. Semua orang bertepuk tangan.


Eun Ho lalu menghubungi Direktur Kim untuk memberitahu kalau naskah Penulis Yu sudah datang. “Hmmm…..” Direktur Kim sangat senang dan bergegas pergi ke ruang staf.


Sambil berbisik, JI Yul bertanya apa yang istimewa soal naskahnya. “Dia menulisnya dengan tangan,” bisik Dan Yi. Ji Yul terkejut karena masih ada yang melakukan itu di zaman sekarang. “Penulis Choi In Ho dan Jo Jeong Rae juga lebih suka menulis dengan tangan.”


Park Hoon: “Belakangan ini Park Beom Sin juga. Kim Hun juga.”
Dan Yi: “Penulis Kang Byeong Jun juga.”
Park Hoon: “Naskah asli ‘Waiting for Godot’ karya Samuel Beckett terjual 1,6 juta won.”


Eun Ho dan Young A merasa bangga karena dua pegawai baru mereka memiliki wawasan yang cukup luas. Direktur Kim, yang datang bersama Yoo Sun, menanyakan di mana naskahnya.


Direktur Kim menghirup aroma naskah itu. “Ah… aroma tinta yang kuat. Kurasa buku ini akan laris,” katanya senang. Staf lain juga merasakan kegembiraan yang sama. “Baiklah… kumpulkan energi positif. Semangat!”


“Semangat!” sambut para staf. Direktur Kim lalu membuka kain pembungkusnya dengan hati. Ia memberikan naskah pertama pada Yoo Sun.


Buku itu berjudul ‘Hai, Orang Asing’. “Judul yang bagus. Cocok dengan Penulis Yu,” kata Yoo Sun.


Staf C bertanya siapa yang akan mendigitalkan naskahnya. “Aku! Aku! Biar aku saja,” Hae Rin langsung mengangkat tangannya.


Yoo Sun: “Song Hae Rin, kau serakah lagi. Itu tugas Kepala Editor Cha. Butuh berapa lama?”
Eun Ho: “Kuusahakan secepat mungkin.”
Dir. Kim: “Sungguh? Belakangan ini kau sibuk.”


Eun Ho bilang ia sendiri yang harus mengerjakannya karena Penulis mempercayakan naskah itu padanya. “Ah, Kang Dan Yi bisa membantumu,” kata Direktur Kim. Semua orang melihat Dan Yi. “Kau tahu Penulis Yu Myeong Suk?”


“Ya,” jawab Dan Yi yang masih terkejut. Direktur Kim sangat senang karena Tim Support tahu banyak penulis dan banyak membaca buku. Ia bilang Dan Yi bisa mengetik dan Eun Ho bisa memeriksa. Yoo Sun bilang bahwa banyak aksara Mandarin di naskahnya.


“Aku tahu banyak aksara Mandarin, Nona Go,” kata Dan Yi malu-malu. Para staf bersorak bangga padanya. Yoo Sun akhirnya setuju karena itu juga bagian dari tugas Tim Support. “Aku akan membantu Kepala Editor Cha sebaik mungkin. Terima kasih.” Beberapa staf bertepuk tangan.


Hae Rin bilang ia akan mengoreksi bersama Eun Ho. Ia tahu Eun Ho sangat teliti, tapi ia akan mengoreksi ulang. “Terima kasih,” kata Eun Ho.


Yoo Sun menyarankan agar mereka menyewa apartemen karena jika dikerjakan di kantor nanti naskahnya bisa bocor. Direktur Kim bertanya apa Eun Ho menginginkan hal itu. “Akan kukerjakan di rumah. Aku ingin benar-benar fokus,” kata Eun Ho.


Hae Rin terkejut. “Apa tidak apa-apa?” tanyanya.


“Kau mau bekerja di rumahku kan, Nona Kang Dan Yi?” tanya Eun Ho. Dan Yi setuju. Hae Rin masih tidak mengerti. Young A tidak sabar untuk mendiskusikan strategi pemasarannya karena bukunya pasti akan hebat.


“Bagaimana jika memasukkan beberapa naskah tulis tangan di belakang buku?” usul Pak Bae. Staf C bilang ide itu sangat bagus


Hae Rin berdeham dan bilang ia akan menarik Ji Seo Jun. “Benarkah?!” tanya Direktur Kim tidak percaya. Hae Rin bilang ia akan membuat Seo Jun meneken kontrak sebelum Eun Ho menyelesaikan naskahnya. “Song Hae Rin, gunakan kartu kredit perusahaan! Pastikan kau mendapatkannya!” Ia lalu tos dengan Hae Rin.


“Oke, Tim!” sambut Young A bersemangat. “Ngomong-ngomong, siapa yang mau ke klub malam ini?!” Semua orang kembali ke mejanya dan tidak ada yang mempedulikan ajakan Young A, kecuali Yoo Sun yang mengangkat tangannya.


Young A menarik Dan Yi dan melarangnya menolak ajakannya. “Aku harus bantu Kepala Editor Cha dengan naskah itu,” kata Dan Yi.


Eun Ho melihat Yoo Sun mengangkat tangannya, tapi ia tidak mengerti apa maksudnya. Young A bertanya apakah Eun Ho baru akan mengerjakan naskahnya pekan depan. “Ya,” jawab Eun Ho.


“Bagus! Kita ke klub sepulang kerja? Benarkah?” ajak Young A dan Dan Yi mengangguk. “Astaga, aku menyayangimu!” Young A mulai menari dan Dan Yi kembali ke mejanya. Yoo Sun masih mengangkat tangannya, tapi Young  A tidak juga menjawabnya.


“Nona Go, ada apa? Tanganmu sakit? Bahumu? Bahumu kaku?” tanya Young A. Karena terlalu gengsi, Yoo Sun tidak bisa bilang kalau ia juga ingin pergi ke klub. Ia menepuk-nepuk ketiaknya. “Ini menghilangkan racun. Semua orang melakukan ini. Bagus untukmu.” Young A juga menirukannya.


Seo Jun masuk ke ruangan yang menggunakan kunci digital.


Di dinding di dalam ruangan itu ada beberapa foto dan informasi. Salah satunya, ada artikel berjudul ‘Novel Terakhir Kang Byeong Jun, ‘Para Pahlawan’.’ Ada juga bagan hubungan dan tulisan tangan tentang kemungkinan adanya karakter tambahan.


Di ruangan itu juga terdapat buku-buku karya Penulis Kang yang berjudul ‘Ibu’, ‘ Kucir’, ‘Revolusi Karya’, ‘Di Meja’, ‘Tangisan Sebuah Pulau’.


Ada banyak buku lain juga di sana.


Seo Jun yang sedang duduk di depan laptopnya., lalu mendapat pesan dari Dan Yi. Dan Yi memberitahunya kalau ia akan pulang malam karena ada acara dengan rekan kerja.”


Seo Jun sangat senang karena Dan Yi mengabarinya. ‘Kita tidak bisa pulang bersama malam ini. Sampai jumpa pekan depan,’ balas Seo Jun. Ia lalu mendapat pesan dari Hae Rin yang memintanya melunasi hutangnya. Hae Rin bertanya kapan mereka bisa bertemu.


Seo Jun mengingat bahwa hutang yang dimaksud adalah saat Hae Rin memberikan bunga pesanannya kepadanya. “Kau berutang padaku sekarang,” kata Hae Rin saat itu.


“Kau pikir aku orang mesum? Kau salah. Kau berutang dan berbuat kesalahan. Kau berutang dua hal,” kata Hae Rin saat Seo Jun menyangka Hae Rin sengaja mengikutinya.


Hae Rin menunjukkan pada Eun Ho tentang pesan balasan dari Seo Jun yang setuju untuk bertemu dan membicarakan buku Penulis Yu. Ia yakin bisa membuat kesepakatan dengan Seo Jun. “Tentu, terserah,” kata Eun Ho tidak peduli.


“Ngomong-ngomong, kau akan mengerjakan naskah Penulis Yu di rumah? Kau bilang tinggal bersama seseorang. Tidak apa-apa jika Kang Dan Yi datang?” tanya Hae Rin. Eun Ho mengangkat jarinya dan mengingatkan agar Hae Rin tidak melewati batas.


“Baiklah. Aku tidak akan ikut campur,” kata Hae Rin.

Comments


EmoticonEmoticon