2/21/2019

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 8 PART 4


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

Young A menceritakan saat ia pergi bersama Ji Hong sebelum perceraian terjadi. Ia mengatakan pada Ji Hong bahwa ia merasa senang, walaupun baru saja menghabiskan banyak uang. “Kita membeli sepatu untuk putra kita dan baju renang untuk ibumu. Jika beli jaket untuk kakak perempuanmu, itu akan bagus,” ujarnya.


Young A ingin membeli jaket itu untuk kakak iparnya dan menanyakan harganya. “190.000 won,” kata pelayan toko. Young A dan Ji Hong tertawa karena harganya sangat mahal bagi mereka. Young A lalu mengajak suaminya itu pergi.


Young A mengingatkan kalau ulang tahun kakak Ji Hong sebentar lagi. “Apa artinya? Dia dipenjara,” kata Ji Hong. Young A bilang ia mencemaskan kakak Ji Hong, tapi lebih cemas lagi pada istri dan anak-anaknya.


“Anggaplah aku dipenjara. Bagaimana perasaanmu saat hari ulang tahunku?” tanya Young A. Ji Hong melarangnya mencemaskan hal yang tidak terjadi. “Wah.. Sayang, itu bagus.”


Young A melihat-lihat sepatunya yang menurutnya bagus. Ji Hong menyuruhnya membeli sepatu itu. Young A menanyakan harganya kepada pemilik toko.


Pemilik toko mempersilakan mereka masuk karena ada lebih banyak model sepatu di dalam. “Boleh aku lihat-lihat? Aku butuh sepatu baru,” kata Young A dan Ji Hong memperbolehkannya. Pemilik toko bilang semua sepatu di sana buatan tangan. Young A mengambil sebuah sepatu dan menanyakan harganya.


Pemilik toko yang sedang makan bilang kalau ia akan memberi diskon jika Yoo Sun membeli sepatunya. Yoo sun bertanya apa ada ukuran 240 untuk model itu. “Ukuran 240?” tanya pemilik toko lalu mengambilkan sepatunya.


Young A: “Ini juga bagus. Ada ukuran 240?”
Pemilik toko: “Jika suka, coba saja dulu. Berhenti memegang tiap sepatu.”
Young A: “Tapi aku tidak tahu harganya.”


“Yang biru 190.000 won. Yang hitam 220.000 won,” kata pemilik toko. Young A bilang harganya mahal. “Saat ini, sepatu buatan tangan harganya memang mahal. Kau terus memeganginya, tapi tidak membeli. Sungguh menyebalkan. Pergi! Aku tidak butuh kalian membelinya.”


JI Hong menyuruh Young A membeli sepatunya. Menurutnya, pilihan pertama Young A tadi bagus. “Aku tidak akan beli!” kata Young A. Ji Hong lalu mengajaknya pergi.


Young A merasa kesal dan heran karena pemilik toko tadi bersikap seperti itu. “Mungkin dia kesal karena tadi sedang makan. Aku yakin dia harus menghadapi banyak orang aneh. Jujurlah. Kau tidak akan membeli sepatunya. Tapi kau terus menanyainya soal harga,” kata Ji Hong.


Young A: “Kau memihak siapa? Pihak mana yang kau pilih? Apa pemilik toko sepatu itu saudaramu?! Apa dia putramu?!”
Ji Hong: “Yeobu..”
Young A: “Orang asing itu menyebut istrimu menyebalkan. Tapi kau terus membaca kumpulan puisi itu. Apa aku orang asing bagimu?”
Ji Hong: “Yeobu..”


“Kau seharusnya memihakku!” kata Young A histeris. Ji Hong terkejut. “Bukan dia yang seharusnya kau coba pahami! Tapi aku!! Apa aku orang asing?! Akulah yang harus kau coba pahami! Bukan dia!!”


Semua orang melihat mereka. Ji Hong meraih tangan Young A dan bilang ia paham. “Lepaskan,” kata Young A lalu pergi lebih dulu.


Ji Hong bilang ia tidak menganggap hal itu sebagai masalah besar, tapi Young A terus berteriak seperti orang gila di pusat perbelanjana yang ramai. “Orang-orang menatap saat kami berjalan,” ujarnya.


“Dia mungkin tidak menganggap itu masalah besar. Dia selalu begitu. Tapi saat itu… aku tiba-tiba… menyadari sesuatu. Ah… aku telah menyia-nyiakan hidupku. Aku mengira dia sebagai orang yang akan selalu memihakku dan selau ada untukku, tapi dia tidak tahu apa yang kupikirkan atau kuinginkan. Tentu aku mau beli sepatu. Aku punya penghasilan,” isak Young A.


Dan Yi ikut menangis. Young A bilang ia hampir diusir oleh pemilik toko, dan harusnya Ji Hong membelanya. Ia menangis tersedu-sedu.


“Dia membawa surat gugatan cerai esok harinya. Dia ingin aku menandatanganinya. AKu tahu. Selama bertahun-tahun pernikahan kami, ini bukan satu-satunya kesalahanku padanya. Makanya aku tanda tangan. Dia selalu kesulitan dalam pernikahan kami. Apalagi yang bisa kulakukan?” kata Ji Hong.


“Itu menyedihkan,” kata Yoo Sun. Young A malah tertawa karena mereka ikut menangis. Dan Yi mengangkat tangannya dan bilang ingin mengatakan sesuatu. Young A mempersilakannya.


Dan Yi: “Aku juga bercerai.”
Yoo Sun: “Kau pernah menikah?”
Young A: “Aku tidak tahu.”


Dan Yi bilang kisahnya malah lebih menyedihkan. “Suamiku… Suamiku berselingkuhnya,” ucapnya. Kedua atasannya itu terkejut. Young A menyebut mantan suami Dan Yi brengsek. Ia heran bagaimana pria itu bisa menyelingkuhi wanita yang sangat cantik.


“Memikirkannya membuatku marah lagi,” kata Dan Yi sambil menangis. Yoo Sun bertanya siapa pria itu. “Semuanya hanya masa lalu, tapi tiap kali aku mengingat itu lagi… Aku merasa kasihan pada diriku yang dulu karena berharap dia akan kembali. Tapi semua sudah selesai sekarang. Aku tinggal menendangnya saja!”


Yoo Sun: “Kenapa tidak kau tendang saja dia sekarang?”
Dan Yi: “Kalian mau menemani?”
Yoo Sun: “Ya!”
Young A: “Akan kami temani! Di mana dia tinggal?!”


“Setidaknya, kalian pernah merasakan pernikahan. Kalian bahkan punya anak. AKu punya sesuatu untuk ditunjukkan,” kata Yoo Sun lalu pergi ke dalam.


Young A berbisik kalau Yoo Sun ternyata menggemaskan. Dan Yi mengangguk setuju. “Kau juga menggemaskan,” kata Dan Yi.


Yoo Sun keluar sambil membawa foto pernikahan. Dan Yi bertanya apa Yoo Sun pernah menikah. Young A juga terkejut. “Tidak. Aku hanya sempat berfoto,” kata Yoo Sun lalu menjatuhkan fotonya. Ia lalu duduk lagi bersama kedua rekannya.


Dan Yi mengira pengantin pria meninggal, sedangkan Young A menebak kalau mereka putus. “Tanggal hari H sudah ada, tapi seseorang kabur,” kata Yoo Sun. Dan Yi menyebut pria itu brengsek. “Tidak. Aku yang kabur.”


Yoo Sun bilang ia takut pada calon mertuanya dan takut punya anak. Ia ingin sekolah lagi dan mengejar karir. Jadi ia berpikir kalau tetap melajang adalah pilihan terbaik. “Kupikir aku akan bahagia jika hidup sendiri,” katanya sedih.


Young A merasa hidup sendirian dengan glamor begitu terasa bagus. “Itulah kenapa aku tinggal di tempat berantakan ini. Aku bangun sendirian pada pagi hari, pergi juga sendiri. Saat sedih pun, aku sendirian. Saat sakit pun, aku sendirian. Aku selalu makan sendirian. Aku harus melakukan semuanya sendiri. Aku sangat mudak dengan itu. Kenapa aku kabur saat itu,” kata Yoo Sun.


Mereka bertiga menangis histeris.


Comments


EmoticonEmoticon