2/26/2019

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 9 PART 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

Seo Jun melihat salju pertamanya tahun ini bersama Hae Rin. “Indah sekali,” kata HAe Rind an Seo Jun setuju dengannya.


Seo Jun buru-buru mengambil ponselnya, begitu juga dengan Hae Rin. ‘Dan Yi, kau sibuk? Bisakah kita bertemu?” tulis Seo Jun.


Ponsel Dan Yi ada di meja, sedangkan pemiliknya sedang menikmati salju di halaman.


‘Sunbae, salju turun. Kau melihatnya?’ ketik Hae Rin, tapi ia belum mengirimkannya. Seo Jun bilang melihat salju, membuatnya memikirkan seseorang. Hae Rin mengangguk. Ia lalu mengirimkan pesan tadi kepada Eun Ho.


Ponsel Eun Ho juga ada di meja.


Eun Ho dan Dan Yi menikmati salju bersama.


“Apa dia begitu sibuk?” kata Seo Jun dalam hati karena Dan Yi tidak juga membalas pesannya. Hae Rin juga menunggu balasan pesan dari Eun Ho. Ia tersenyum saat Seo Jun memergokinya sedang melamun.


“Alih-alih mengatakan ‘aku mencintaimu’, Soseki Natsume bilang ‘bulannya indah’. Itu malam yang mengingatkanku padanya,” tulis Eun Ho di media sosialnya.


Ternyata dulu Dan Yi-lah yang memberitahu Eun Ho tentang Penulis Soseki Natsume itu. Ia senang karena Eun Ho masih mengingatnya.


“Itulah sebabnya kubilang pada Noona, ‘bulannya indah’,” kata Eun Ho mengungkapkan perasaannya. Dan Yi terkejut, tapi ia belum terlalu yakin. “Aku baru saja mengatakannya lagi. Aku bilang padamu ‘saljunya indah’.”


Dan Yi menatap Eun Ho. “Indah, kan?” kata Eun Ho lagi sambil tersenyum. Eun Ho akan membersihkan salju dari kepala Dan Yi, tapi Dan Yi menjauh. “Kenapa? Tiba-tiba kau merasa aku menarik? Kemari.” Eun Ho lalu membersihkan saljunya.


Dan Yi mengingat saat ia bertanya pada Eun Ho, “Jika kau mulai menyukai seorang wanita dan ternyata dia adalah janda yang memiliki anak, bukankah kau akan mundur?”


Eun Ho: “Itu tidak membuatku mundur. Itu semua tidak menggangguku.”
Dan Yi: “Kau mau berkencan dengan janda cerai? Sadarlah!”
Eun Ho: “Bagaimana jika aku tetap suka?”


“Apa… kau… Apa kau… menyukaiku?” tanya Dan Yi. Senyum Eun Ho menghilang. Ia lalu masuk ke dalam rumah tanpa menjawab pertanyaan Dan Yi.


Dan Yi kebingungan.


Di dalam rumah, Eun Ho hampir saja terjatuh lemas.


“Kenapa dia tidak bilang ‘tidak’?” gumam Dan Yi. “Maksudku, dia seharusnya bilang… tidak. Apa maksudnya?”


“Aku hampir ketahuan dan langsung ditolak,” gumam Eun Ho. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.


Di luar kafe, Hae Rin bilang akan menghubungi Seo Jun lagi setelah kontraknya siap. Mereka lalu berpisah dan mengambil jalan berbeda.


Seo Jun berhenti untuk mengecek ponselnya, tapi masih belum ada balasan dari Dan Yi.


Hae Rin juga melakukan hal yang sama. Ia lalu menyimpan lagi ponselnya dengan perasaan kecewa. Ia lalu melihat poster ‘Pameran Seni- Syair untuk Musik’.


Dan Yi menemui Eun Ho di dapur dan bilang kalau mereka harus bicara. Ia bertanya kenapa Eun Ho tidak menjawabnya tadi. Eun Ho balik bertanya kenapa Dan Yi menanyakan hal seperti itu. “Jawab saja tidak. Tidak, kan? Aku pasti salah paham, kan? Itu akan lebih mudah untuk kita berdua,” kata Dan Yi.


Eun Ho mempersilakan Dan Yi berpikir begitu, jika itu memang membuatnya lebih tenang. Dan Yi bertanya apa Eun Ho sedang bercanda. “Ayolah. Kita harus menyelesaikannya hari ini,” kata Eun Ho.


Eun Ho lalu berbalik, “Jawabanku ‘tidak’. Sekarang beres? Ayolah.” Ia lalu berjalan lebih dulu ke ruang kerja. Dan Yi belum terlalu lega. Ia lalu duduk di sebelah Eun Ho.


“Aku akan mulai membaca,” kata Eun Ho lalu membuka dan membaca naskahnya.


Bukannya mengetik, Dan Yi malah mencoba mengira apa yang terjadi saat ia tertidur tadi. Ia merasa ada sesuatu yang menyentuh wajahnya.


“Dia memakai itu?” kata Dan Yi dalam hati saat melihat pensil yang dipegang Eun Ho.


Ia membayangkan Eun Ho menekan-nekan pipinya dengan pensil itu.


Ia menggunakan pulpennya dan mencoba merasakannya sendiri. Eun Ho melihatnya melakukan itu dan berhenti membaca.


Karena rasanya berbeda, Dan Yi kemudian menggunakan penghapusnya untuk menyentuh wajahnya. “Fokuslah. Aku bilang ‘tidak’,” kata Eun Ho lalu memukul kepala Dan Yi dengan pensil. Dan Yi memarahinya dan bilang kalau ia lebih tua.


Eun Ho bilang ia bosan mendengar itu. “Aneh sekali. Saat aku tertidur, aku menaruh kepalaku di bahumu selama beberapa menit, aku sungguh merasakan hal aneh.. Aku merasakannya,” kata Dan Yi.


Eun Ho bertanya hal aneh apa itu. “Rasanya seperti tangan seseorang membelai wajahku,” kata Dan Yi. Eun Ho bilang tadi Dan Yi mendengkur. Ia menuduh Dan Yi memikirkan hal-hal nakal. “Aku tidak pernah mendengkur seumur hidupku.”


Eun Ho bilang ia percaya itu dan yakin Dan Yi juga langsung bisa membaca saat dilahirkan. Dan Yi menyuruh Eun Ho membaca lagi naskahnya. Eun Ho mendekat untuk melihat laptopnya sampai di mana mereka tadi. Tapi Dan Yi malah menjauh dengan gugup. Eun Ho mulai membaca, tapi kemudian berhenti.


Eun Ho: “Kau penasaran apakah aku suka padamu?”
Dan Yi: “Itu konyol.”
Eun Ho: “Apa yang konyol? Pria menyukai wanita.”


“Teruskan membaca. Kita harus kerja besok,” kata Dan Yi. Eun Ho mulai membaca satu kalimat naskahnya, tapi kemudian berhenti lagi.


“Noona, bukankah kau seharusnya senang jika aku punya perasaan padamu? Di mana bisa temukan pria sepertiku? Aku pria idaman. Aku tampan dan cerdas. Semua bukuku laris. Semua berkata aku jenius, tapi rendah hati,” kata Eun Ho, tapi Dan Yi malah memukulnya. “Noona, jika kau menerimarku, aku akan memperlakukanmu dengan baik.”


Dan Yi memukulinya lagi, lalu Eun Ho menangkap tangannya. “Haruskah aku menyukaimu?” goda Eun Ho. Dan Yi berusaha melepaskan tangannya, tapi tidak bisa. “Jika ya, apa kau akan menyerah dan berpacaran denganku?”


Dan Yi melarangnya bersikap menyebalkan dan berusaha melepaskan tangannya. “Kau sebenarnya cukup manis. Kang Dan Yi. Dan cantik. Aku mencintaimu, Kang Dan Yi,” Eun Ho.


Dan Yi terkejut, apalagi ketika Eun Ho tersenyum lebar padanya. “Yang benar saja,” ujarnya sambil menyundul wajah Eun Ho dengan kepalanya. “Berhenti berakting.”


Eun Ho mengerang kesakitan. “Aku harus menggunakan kekerasan untuk menyadarkanmu, kan? Teruskan membaca,” kata Dan Yi. Eun Ho pun mulai membaca sambil menahan sakit.

Comments


EmoticonEmoticon