2/27/2019

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 9 PART 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

Setelah melihat poster tadi, Hae Rin akhirnya pergi ke pameran seni itu.


Seo Jun juga tampak memperhatikan sebuah lukisan.


Mereka berdua ternyata pergi ke tempat yang sama.


Mereka terkejut ketika akhirnya tidak sengaja bertemu di depan sebuah lukisan. Hae Rin bilang ia mengira Seo Jun ada acara lain. “Kupikir kau juga. Kau berkirim pesan,” kata Seo Jun. Hae Rin bilang pesannya tidak dibalas.


Seo Jun bertanya kenapa Hae Rin datang sendirian. “Aku juga ingin tanya begitu,” kata Hae Rin dan mereka tertawa.


Dan Yi baru saja mengambil beberapa surat dari resepsionis. “Ini untuk Direktur Cha, Nona Go. Satu lagi untuk Eun Ho. Ah, maksudku Kepala Editor Cha,” gumamnya.


“Yang ini… untuk Penulis Kang Byeong Jun. Ini dari penggemarnya?” gumam Dan Yi saat melihat surat terakhir. Young A datang dan menyenggolnya dari belakang.


“Hei, kawan! Lama tak jumpa,” sapa Young A. Dan Yi membalas sapaannya dengan memanggilnya dengan sebutan Ketua Tim Seo. “Hei, ayolah. Kita sudah memutuskan untuk berteman.” Young A mulai berjingkrak. “Mari berteman. Hei, apa kabarmu tadi?” Dan Yi ikut menari sampai mereka masuk ke dalam lift sambil tertawa.


Young A: “Kau pasti sangat sibuk. Sudah selesai mendigitalkan naskahnya, kawan?”
Dan Yi: “Ya, kawan.”
Young A: “Mari ke klub lagi. Aku sudah berlatih agar tidak kalah dengan Macan Gangnam.”


Young A mulai menari lagi dan Dan Yi tertawa geli. Dan Yi juga ikut menari sambil mengibaskan rambutnya. Ia bilang akan menari pose kekuatan untuk Young A. Mereka berhenti teratwa saat pintu lift terbuka da nada Yoo Sun di luar.


“Halo, kawan,” sapa Dan Yi. Yoo Sun menatapnya dingin. “Halo, Nona Go. Bagaimana kabarmu? Kepala Editor Cha dan aku sudah selesai mendigitalkan naskah Penulis Yu. Mulai hari ini aku kembali ke kantor.” Yoo Sun pergi tanpa membalas sapaan Dan Yi.


Yoo Sun berbalik lagi dan bilang kalau hari ini ulang tahun pertama bayi Penulis Oh, jadi Dan Yi harus membelikan hadiah. Dan Yi bertanya bagusnya apa untuk hadiahnya. “Kau yang pikirkan. Sesuatu yang mewah dan kreatif. Jangan tanya dan pikirkan saja,” kata Yoo Sun lalu pergi. Dan Yi bilang akan membeli hadiahnya sore nanti.


“Wanita sombong itu. Menjengkelkan sekali,” gerutu Young A.


Hae Rin sangat senang saat melihat Pak Bae membawa satu dus berisi buku ‘Semestamu’. Staf lain mulai berkumpul. Pak Bae bilang ia sudah mengirimkan satu untuk Profesor Kang, langsung daru gudang. “Terima kasih. DIa sudah menunggu,” kata Hae Rin.


“Congratulation… oh.. celebration…” Young A bernyanyi untuk Hae Rin. Hae Rin tertawa dan berterima kasih kepada mereka semua.


Dan Yi membawakan buku baru itu kepada Direktur Kim yang menyambutnya dengan gembira. “Panas! Ini panas percetakan,” candanya lalu menghirup aroma buku itu. “Aku bisa menciumnya, Ini bau penjualan terbaik.”


Dan Yi ikut menghirup aroma bukunya juga. “Aku juga! Kurasa buku ini akan sukses” ujarnya. Direktur Kim sangat senang mendengarnya dan bertanya apakah Dan Yi mau bertaruh tentang jumlah penjualan. “Kedengarannya bagus. Direktur dulu yang sebutkan angkanya.”


Dir. Kim: “Kurasa akan terjual 5.000 eksemplar.”
Dan Yi: “Ow… Kalau begitu, haruskah kita langsung buat cetakan kedua?”
Dir. Kim: “Ah.. hahaha… Bukunya bahkan belum masuk toko buku.”


Dan Yi mengetuk pintu ruangan Yoo Sun dengan hati-hati, lalu memberikan cetakan final ‘Semestamu’ padanya. Yoo Sun langsung membuka bukunya. “Aku akan keluar.”


“Tunggu, Kang Dan Yi,” kata Yoo Sun tiba-tiba.


Direktur Kim yang juga membuka halaman buku ‘Semestamu’ tampak terkejut.


Sementara itu, Hae Rin sedang menghubungi Profesor Kang, penulis buku ‘Semestamu’ untuk mengkonfirmasi apakah dia sudah menerima bukunya. Ia bilang tulisan Profesor Kang sangat sempurna. “Dan aku senang kita tetap memakai sampul tebal. Tampak luar biasa dan klasik. Memikat..” kalimatnya terhenti dan senyuman Hae Rin menghilang.


“Apa? Sebentar,” kata Hae Rin lalu membuka halaman buku barunya. Dan Yi datang menghampirinya dengan terburu-buru.


“Nona Song, pada buku ‘Semestamu’…” Dan Yi berhenti bicara karena melihat Hae Rin sedang membaca bukunya sambil bicara di telepon.


Tertulis di bagian biografi, ‘Penulis Kang Gyeong Ju dari 1998 sampai 2006 di National Institute of Standards and Technology America’. Hae Rin berkata, “Ya, baru kuperksa. Ya, Profesor. Aku mengerti.” Ia lalu menutup teleponnya.


“Song Hae Rin! Song Hae Rin!” Direktur Kim datang dengan tergesa-gesa. “Kau belum mengirim bukunya pada Profesor Kang, kan?” Pak Bae memberitahunya kalau ia sudah mengirimkan satu buku pada Profesor Kang langsung dari gudang.


“Kau penanggung jawabnya. Kenapa kirim buku tanpa memeriksa biografi penulis, Song Hae Rin?!” tegur Yoo Sun lalu membanting bukunya ke atas meja.


Hae Rin berdiri dan menundukkan kepalanya. Yang lain langsung memeriksa halaman biografi penulis.


Ji Yul tidak mengerti kenapa tiba-tiba Hae Rin menatap tajam padanya.


Ji Yul lalu mengingat saat HAe Rin memintanya melakukan riset dan menambahkan detail tentang biografi penulis buku ‘Semestamu’.


JI Yul bilang ia mengecek kembali semuanya dan menambahkannya sebelum mengirimnya. “Ada yang salah?” tanyanya. Eun Ho bilang ada beberapa info penting yang hilang. “Bagian mana?”


Eun Ho: “Di sini tertulis dia adalah NIST dari 1998 hingga 2006. Dia adalah NIST? Bagaimana mungkin?”
Song Yi: “Dia adalah ahli fisika. Kenapa ‘ahli fisika’, tidak ada di biografi?”
Pak Bae: “Maaf. Seharusnya aku mengecek kembali biografinya sebelum mengirimkan perintah cetak.”


Hae Rin bilang itu semua salahnya dan meminta maaf kepada Direktur Kim dan Yoo Sun. “Tentu saja ini salahmu. Kau kini asisten manajer tahun ketiga. Kau tidak lagi peduli pada tugas dasar? Kau pikir itu buang-buang waktu, kan? Kini kau anggap remeh pekerjaan setelah merasa cukup belajar? Kau mau berhenti?” kata Yoo Sun.


Hae Rin meminta maaf lagi. Eun Ho bilang kesalahan biografi penulis tidak bisa diremehkan, jadi ia menyuruhnya menulis permintaan maaf secara tertulis. Hae Rin meminta maaf lagi dan berjanji akan membereskannya. Yoo Sun pergi dengan kesal.


“Hae Rin, kau jarang membuat kesalahan,” sesal Direktur Kim lalu pergi. Ji Hong menyarankan agar mereka menempelkan stiker. Eun Ho menolak dan bilang mereka harus mencetak ulang karena para professor bisa sangat sensitif tentang biografinya.


Staf C setuju dengan Eun Ho. Ia bilang Profesor Kang sangat cerewet. “Saat aku siapkan kuliah penulisnya 2 tahun lalu, aku jadi botak sebagian karena stress menghadapinya,” kata Staf C.


Song Yi: “Jadi kita hanya bisa mencetak ulang?”
Park Hoon: “Maksudmu, semuanya? 5.000 eksemplar?”
Pak Bae: “Karena memakai sampul tebal, akan sangat terlihat walau hanya mengganti satu halaman.”
Young A:” Tapi bukankah itu pemborosan? Kenapa tidak ganti sampulnya saja?”


Hae Rin ingin membuka laci bawahnya, tapi Dan Yi melarangnya.  HAe Rin memaksa dan berhasil membuka lacinya.


Dan Yi berusaha menutupi minuman yang diminum Hae Rin. Eun Ho yang sedang membicarakan bahwa stiker lebih murah, tapi tampak tidak bagus, lalu berhenti bicara saat melihat apa yang sedang dilakukan Hae Rin.


“Hei,” kata Ji Hong. Semua staf juga terkejut saat melihat Hae Rin. Dan Yi menyerah dan menurunkan tangannya. Hae Rin menghabiskan minumannya dan meremas kotaknya.


“Oh Ji Yul. Ke ruang rapat. Sekarang,” kata Hae Rin dengan napas terengah-engah menahan marah.


Ji Yul beranjak dari kursinya dan Park Hoon mengikutinya. Ji Hong ingin mengambil berkas kotak minuman tadi, tapi Dan Yi berhasil mendahuluinya. “Kapand ai mendapatkan soju itu?” tanya Ji Hong heran.


“Semangat, Ji Yul,” bisik Park Hoon dari balik rak buku, tapi Ji Yul sepertinya tidak mendengarnya karena ia sedang ketakutan. Park Hoon tampak sedih.


Eun Ho membuka laci Hae Rin dan Dan Yi tidak bisa menghalanginya. “Kang Dan Yi, buang ini,” kata Eun Ho. Dan Yi mengiyakan.


Eun Ho: “Kalian semua tidak melihat kejadian tadi. Paham?”
Dir. Kim: “Jangan bilang apapun pada Direktur Kim dan Nona Go. Paham, kan?”
Song Yi: “Ji Yul tamat sekarang.”


Di ruang rapat, Ji Yul bingung karena Hae Rin melepaskan tanda pengenalnya dan mantelnya. Hae Rin lalu membanting-banting mantelnya ke atas meja beberapa kali. Ji Yul semakin ketakutan. Hae Rin lalu mengatur napasnya.


“Singkat saja, Ji Yul. Bagaimanapun kujelaskan, kau tidak akan mengerti. Aku akan senang jika kau memberikan surat pengunduran diri dan pergi, tapi terserah padamu karena ini hidupmu. Tapi kau tahu, 5.000 eksemplar itu adalah tubuh dan darahku!” kata Hae Rin.


Hae Rin bilang ia tidak bisa memusnahkannya. “Semua stikernya harus sudah terpasang besok pagi,” ujarnya lalu pergi.


“Bisa tunjukkan caranya?” tanya Ji Yul hampir menangis. Hae Rin memelototinya lagi. “Aku akan cari tahu sendiri.” Ia lalu menangis setelah Hae Rin keluar dari ruang rapat. “Ibu, aku takut…”


Hae Rin kembali ke mejanya dan mengambil telepon. “Ini Song Hae Rin dari Penerbit Gyeoroo. Aku ingin memesan stiker. Akan kukirimkan email tentang ukuran dan isinya.” Eun Ho bertanya apa Hae Rin sungguh akan melakukan itu.


“Tidak, Ji Yul yang akan melakukannya. Aku butuh setahun untuk membuat buku ini. Tidak akan kubiarkan semuanya dihancurkan hanya karena kita tidak menuliskan satu frasa. Aku tdak bisa membiarkan itu terjadi. Aku juga tidak mau menempelkan stiker. Tapi… aku tidak bairkan 5.000 eksemplar menjadi serpihan kertas!” Hae Rin menangis.


Ji Hong bilang seharusnya mereka menerbitkan 2.000 eksemplar saja. Pak Bae bilang mereka harusnya tidak memakai sampul tebal.


Dan Yi menyodorkan tisu kepada Hae Rin.


“Oh Ji Yul, kau harus ke gudang dan bereskan,” kata Eun Ho. Ji Yul melangkah lesu ke kursinya. “Song Hae Rin, stikernya akan kau kirim ke gudang?” Hae Rin mengiyakan. Semua orang kembali ke pekerjaannya masing-masing, sedangkan Ji Yul akan langsung pergi ke gudang.


Comments


EmoticonEmoticon