2/27/2019

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 9 PART 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

Seo Jun tampak melihat sekeliling koridor rumah sakit. Ia kemudian mendengar suara yang dikenalnya. “Nenek… kau tampak cantik setelah mandi. Kenapa kau sangat membenci mandi? Kau membuatku basah kuyup. Rasanya menyegarkan, kan?” kata wanita itu. Seo Jun tersenyum.


Wanita itu lalu melambaikan tangannya saat melihat Seo Jun. mereka saling tersenyum.


Di kafetaria, Seo Jun bertanya apa nenek tadi masih merepotkan ibunya saat mandi. “Tidak, hanya sedikit,” kata Ibu Seo Jun. Seo Jun meminta ibunya berhenti melakukan itu karena membuatnya cemas. Ia mengingatkan kalau ibunya harus menjaga kesehatan.


Ibunya mengingatkan kalau dokter mengatakan ia baik-baik saja. Seo Jun bilang tidak ada yang bisa pulih total dari kanker. “Berdiam diri memperburuk penyakit ibu. Ibu di sini bukan bekerja sosial. Ibu di sini untuk merasa lebih baik. Ibu sangat bersyukur setiap kali datang ke sini,” kata ibunya.


Ibu Seo Jun bilang berkat putranya itulah ia bisa hidup karena Seo Jun rela cuti sekolah demi merawatnya. Seo Jun meminta agar datang sepekan sekali saja. “Ngomong-ngomong, kemarin turun salju. Kau berkencan dengan wanita tinggi?” tanya ibunya.


Seo Jun bertanya kenapa ibunya menanyakan itu. Ibunya meminta Seo Jun menunjukkan foto wanita itu karena Seo Jun sudah berjanji. “Kubawa fotonya lain kali. Sebagai gantinya, ini hadiah,” kata Seo Jun sambil memberikan sebuah foto.


“Ini lukisan Ju Mi Hyeon,” kata ibunya. Seo Jun bilang lebih bagis jika dilihat langsung dan mengajak ibunya melihatnya bersama sebelum pamerannya berakhir. “Wah, terima kasih, putraku.”


Seo Jun lalu menunjukkan beberapa buku yang ia desain sampulnya. “Bagaimana menurut ibu?” tanyanya.


Ji Yul pergi ke gudang dengan taksi. Ia tampak sedih. Supir taksi bilang kartu kredit yang Ji Yul berikan tidak bisa dipakai. Ji Yul terkejut dan memberikan kartu lainnya.


“Tidak bisa juga,” kata supir taksinya. Ji Yul mulai panik dan memberikan semua kartu kreditnya yang lain. Supir taksi mencoba semua kartu itu untuk melakukan pembayaran, tapi tidak ada yang berhasil.


Ji Yul mengeluarkan semua uang tunai yang ada di dompetnya. “Paman, aku kurang 300 won,” katanya takut-takut. Supir taksi itu menerimanya dan mengembalikan semua kartu kredit Ji Yul.


Ji Yul sampai berdiri terpaku saat melihat aktifitas di gudang buku itu. Ia lalu memperkenalkan dirinya kepada seorang pekerja di sana.


“Ah, stikernya? Ada di sana?” tunjuk pekerja itu. Ji Yul berterima kasih dan pergi kea rah yang ditunjuk. Ia melihat tumpukan dus berisi buku itu dan berusaha meyakinkan dirinya bisa melakukan itu. Ia melepaskan mantelnya dan bertanya pada petugas tadi di mana ia bisa menggantung mantelnya.


“Mantelmu? Mari kupegangkan,” kata petugas itu, tapi kemudian ia meletakkannya begitu saha di atas tumpukan buku. Ia lalu melanjutkan pekerjaannya.


Ji Yul lalu meletakkan tas mahalnya di atas mantelnya. “Tunggu di sini sebentar, sayang. Jangan sampai terluka,” ujarnya. Petugas tadi mendengarnya dan menyeringai. Ponsel Ji Yul berdering.


“Ibu, bagaimana kalau aku berhenti bekerja di sini? Aku bahkan tidak dibayar tinggi. Apa aku pulang saja? Ibu, tuliskan surat pengunduran diriku,” rajuk Ji Yul.


Ibu Ji Yul melarang Ji Yul berhenti bekerja. Ia bilang setidaknya Ji Yul harus bekerja di sana selama 3 bulan. “Belakangan ini, pria suka wanita bekerja, Kau bisa berfoto dengan rekan kerjamu pada pernikahamu. Selain itu, kau tidak mau calon mertuami berpikir kau tidak bekerja. Berhentilah setelah bekerja,” ujarnya.


“Ibu, bisakah setidaknya aktifkan kembali kartu kreditku? Aku tidak punya cukup uang untuk pulang malam ini,” pinta Ji Yul. Ibu Ji Yul memutus teleponnya. “Ibu.. Ibu!”


“Ya, baik. Terima kasih,” kata Eun Ho lalu menutup teleponnya. Ia tersenyum pada Dan Yi, tapi Dan Yi tidak mengerti maksudnya. Eun Ho lalu berdiri dan berkata, “Semuanya, kita mendapat tambahan pesanan untuk 2 buku!” Semua bertepuk tangan. “Yang pertama…”


Ji Hong bilang itu buku hasil suntingannya. Ia bilang itu pesanan tambahan keenam untuk buku itu. Direktur Kim datang dan mereka tos. Young A bilang itu karena strategi pemasarannya yang bagus. Mereka semua bertepuk tangan lagi.


Eun Ho lalu menunjukkan buku kedua. Song Yi bersorak bahagia karena itu buka hasil suntingannya. Ia sungguh tidak menyangkanya. “Tapi bukan Song Yi yang harus diberi selamat. Tepuk tangannya seharusnya untuk Nona Kang Dan Yi dari Tim Support.” Young A yang pertama bertepuk tangan untuk Dan Yi.


Dan Yi tidak mengerti maksud perkataan Eun Ho. “Permintaan pesanan buku ini melonjak setelah iklan format salindia Dan Yi dipublikasikan di web,” kata Eun Ho. Direktur Kim memuji hasil kerja Tim Support dan memberi selamat pada Dan Yi.


Yoo Sun mulai bisa tersenyum untuk Dan Yi. “Dia pembawa keberuntungan,” kata Ji Hong. Semuanya bertepuk tangan untuk Dan Yi.


Dan Yi pergi ke ruang rapat dan mengecek webnya. Ia membaca komentar beberapa pengunjung web. ‘Aku tak sabat membaca kelanjutannya.’ ‘Aku membelinya begitu melihatnya.’ Ia sangat senang karena akhirnya melakukan sesuatu untuk perusahaan.


Ia mulai menari-nari dan diakhiri dengan. “Pose kekuatan!” Ia bersikap normal lagi saat melihat Eun Ho ada di sana dan sedang memperhatikannya.


“Bukankah kau harus membeli hadiah?” tanya Eun Ho. Dan Yi bilang ia akan pergi sebentar lagi. 


Dan Yi membeli hadiah untuk anak Penulis Oh. Ia lalu melewati toko pakaian dan memilih satu.


Sementara itu, Eun Ho sedang berada di toko perhiasan. Pelayannya bertanya apakah Eun Ho akan melamar seseorang. “Tidak,” kata Eun Ho. Pelayan itu lalu mengenali Eun Ho dan bilang ia sangat menyukai buku-bukunya. Ia lalu meminta Eun Ho menunggu sebentar.


Pelayan lain datang dan bertanya apa yang bisa ia bantu. “Aku ingin membeli kalung,” kata Eun Ho. Pelayan itu lalu memilihkan 3 jenis kalung.


Dan Yi membayar pakaian yang ia pilih tadi dan melarang kasir membungkusnya. Ia bilang akan membawanya langsung karena itu untuk adiknya. Kasir lalu memasukkan baju tadi ke tas belanja hadiah. Ia lalu menerima telepon dari Eun Ho.


“Hai, Eun Ho. Aku sedang di mall. Apa? Kau juga di sini? Kenapa? Di mana kau?” tanya Dan Yi heran.


Eun Ho melambaikan tangannya saat melihat Dan Yi. “Ada apa? Kenapa menyuruhku ke sana?” gumam Dan Yi.


Eun Ho bertanya kalung mana yang paling Dan Yi suka. “Untuk siapa?” tanya Dan Yi, tapi Eun Ho bilang itu bukan urusannya. “Aku harus tahu agar rekomendasiku tepat. Tidak semua wanita punya selera yang sama.” Eun Ho bilang wanita pasti suka barang yang cantik.


Eun Ho berkata, “Akan kuberitahu tentang dia. Wajahnya mungil. Mata indah. Hidung dan bibirnya sangat pas dengan wajah mungilnya. Dia orang yang teliti. Lehernya panjang dan mata besar. DIa selalu ingin tahu dan mudah menangis. Dia cenderung berani dan jujur jika berhubungan dengan hal kesukaannya.”


Dan Yi: “Kesimpulannya, dia cantik dan baik.”
Eun Ho: “Begitukah kesimpulannya?”
Dan Yi: “Pria hanya peduli akan dua hal itu.”
Eun Ho: “Kami juga suka tubuh yang bagus.”
Dan Yi: “Dasar…”


Kedua pelayan tadi memperhatikan mereka dan tersipu sendiri. “Jadi, mana yang kau suka?” tanya Eun Ho.


“Kurasa yang ini bagus,” tunjuk Dan Yi,

Comments


EmoticonEmoticon