2/27/2019

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 9 PART 4


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

“Kurasa ini bagus. Bagaimana menurutmu?” Dan Yi memilih kalung yang ada di tengah.


Eun Ho meminta izin pelayan untuk mencobanya. ‘Angkat rambutmu sebentar,” kata Eun Ho. Dan Yi terkejut, tapi ia membiarkan Eun Ho memasangkan kalung itu di lehernya.


Jarak merek sangat dekat.


“Coba kulihat. Cantik. Bagus. Dipakai olehmu,” kata Eun Ho. Dan Yi menjauh, padahal Eun Ho hanya ingin melepaskan kalungnya. “Jangan bergerak.” Eun Ho melepaskan kalungnya dan jarak mereka berdekatan lagi.


Eun Ho bertanya apakah Dan Yi akan kembali ke kantor karena ia sendiri akan pergi ke kampus untuk mengajar. Dan Yi lalu pergi lebih dulu.


“Ada apa dengan Eun Ho? Kenapa sikapnya seperti itu? Dia bilang tidak menyukaiku. Apa dia mencoba mengejekku?” gumam Dan Yi.


Di kantor, Dan Yi mengeluarkan baju yang ia belu untuk Eun Ho dan menyimpannya di atas meja. Hae Rin meminjam staplernya, sedangkan Dan Yi pergi sambil membawa hadiah untuk anak Penulis Oh.


Hae Rin melihat baju di atas meja Dan Yi itu.


Ia menggunakan stapler untuk dokumen ‘Kontrak Desain Buku’.


Seo Jun yang sedang berada di perpustakaan mendapat pesan dari Hae Rin. ‘Desainer Ji, mohon teken kontrak hari ini. Aku akan datang ke tempatmu,’ tulis Hae Rin. Seo Jun membalas pesannya.


Hae Rin datang ke dapur dan meminta diambilkan mug pada Dan Yi. “Nona Song…” bisik Dan Yi setelah memberikan mugnya. Ia lalu mengendap-endap dan mengeluarkan sesuatu dari bawah meja kecil.


Ia menunjukkan soju Hae Rin yang ia sembunyikan di sana. “Kau yang terbaik,” kata Hae Rin. Mereka saling mengedipkan mata. Hae Rin lalu menunjukkan pesan yang baru saja ia dapatkan dari Eun Ho.


‘Song Hae Rin, jangan minum di ruang kerja lagi. Lain kali akan kucatat,’ tulis Eun Ho. Hae Rin menyebut sunbae-nya itu sangat teliti. Ia lalu mengingat sesuatu. “Saat kau mengerjakan naskah Penulis Yu, bagaimana keadaan di rumah Kepala Editor Cha?” tanyanya.


Dan Yi: “Keadaan rumahnya?”
Hae Rin: “Ah, apa ada orang lain di sana?”
Dan Yi: “Tidak ada.”


“Hanya kau dan Kepala Editor Cha?” tanya Hae Rin. Dan Yi mengiyakan. “Dasar Cha Eun Ho. Sudah kuduga.” Hae Rin menyimpulkan bahwa perkataan Eun Ho tentang tinggal bersama wanita di rumahnya itu bohong.


Ji Yul sudah menempel beberapa stiker. Karena lelah, ia malah terbalik memasangnya. Ia lalu melepasnya dengan hati-hati dan memasangkan stiker baru. Perutnya berbunyi. “Astaga, aku lapar,” gumamnya.


Park Hoon meminta Dan Yi membuka lagi pintu lift-nya. Ia menyebut Dan Yi sebagai rekan kerjanya yang paling berbakat. Dan Yi bertanya apakah Park Hoon akan pulang. “Tidak, aku memilih lembur. Kita punya kolega yang suka mengacau,” kata Park Hoon.


Dan Yi bilang ia juga mau menemui Ji Yul. Park Hoon berkata, “Cara berpikir kolega memang sama. Tapi aku tidak mau ke sana.” Dan Yi menanyakan alasannya. “Karena aku yang akan ke sana.”


“Makin banyak main meriah,” kata Dan Yi. Park Hoon bilang Dan Yi memang handal dalam pekerjaan, tapi tidak pandai membaca petunjuk.


Park Hoon berkata, “Ji Yul di sana sendirian, jadi aku akan menemaninya. Pikirmu bagaimana? Ji Yul itu lajang, aku juga. Kami berdua bisa berakhir bersama bagai keajaiban.” Dan Yi masih saja tidak mengerti dan bilang kalau berdua saja, pekerjaan itu tidak akan selesai sebelum tengah malam.


Park Hoon lalu bilang kalau Yoo Sun meninggalkan sesuatu di meja Dan Yi. “Apa? Nona Go? Kapan?” kata Dan Yi panik. Park Hoon juga bersikap panik. “Astaga, aku harus bagaimana?” Park Hoon keluar lift, sedangkan Dan Yi tidak bisa karena harus mengecek tugas dari Yoo Sun.


“Aku bohong. Sampai jumpa besok,” kata Park Hoon saat pintu lift hampir tertutup. “Sukses!” uajrnya karena berhasil menggagalkan rencana Dan Yi menemui Ji Yul.


Ji Yul memindahkan dus buku dan tidak sengaja menjatuhkan tasnya. “Astaga, my baby!” ia bruu-buru mengambilnya dan terisak. “Kau jadi lecet. Pasti sakit. Maafkan aku.” Ia lalu menyobek stiker yang menempel di roknya. “Song Hae Rin, dasar penyihir! Seharusnya kau cek sendiri!”


Park Hoon berlari menghampiri Ji Yul, lalu mengedipkan sebelah matanya. “Park Hoon….” Panggil JI Yul dengan riang. Park Hoon memintanya jangan terllau tersentuh. Ji Yul menghampirinya.


Ji Yul: “Itu makanan, kan? Aku sangat kelaparan. Ah, ini dari restoran favoritku! Aku tidak sabar”
Park Hoon: “Apa aku tidak terlihat?”
Ji Yul: “Aku bisa melihatmu dengan jelas. Park Hoon, kau pahlawanku. Terima kasiiiih.”


Park Hoon sangat senang karena JI Yul memeluknya. Tapi dengan cepat Ji Yul melepaskan pelukannya dan mengajaknya makan. “Aku membeli sushi,” kata Park Hoon.


Di sebuah restoran, Hae Rin bertemu Seo Jun dan menunjukkan buku yang disuntingnya. Seo un bilang jenis buku terkadang menggambarkan editornya. “Aku mempelajari partnerku,” ujarnya. Hae Rin menanyakan pendapat Seo Jun tentang dirinya.


“Keras kepala, tapi fleksibel. Mudah berterus terang,” kata Seo Jun. Hae Rin mengangkat alisnya. “Maksudku bukunya. Aku yakin kau juga begitu.” Mereka tertawa.


Hae Rin bilang Seo Jun pandai membaca orang. Ia lalu mengeluarkan kontrak untuk 3 buku, salah satunya adalah untuk buku Penulis Yu dan 2 laginya Seo Jun bisa memilihnya sendiri nanti.


Seo Jun membaca kontraknya dan bilang ia punya satu persyaratan. HAe Rin mengambil buku catatannya dan mempersilakan Seo Jun mengatakan syaratnya, “Aku tidak nyaman bekerja dengan orang lain. Aku ingin bekerja terpisah dari Tim Desainmu,” kata Seo Jun. Hae Rin langsung setuju. “Aku juga tidak suka jika orang membawa buku lain dan bilang mereka suka desainnya, Itu hanya menyiratkan agar aku mengusulkan ide yang mirip.” Hae Rin setuju lagi.


Seo Jun bertanya apakah Hae Rin mendengarkannya karena jawabannya terlalu mudah. “Aku tidak begitu memikirkannya. Aku terima begitu saja. Aku suka orang yang spesifik, walau pemilih. Ini tentang membuat buku yang bagus, kan?” kata Hae Rin, Seo Jun tampak tersentuh dengan jawabannya


Hae Rin bilang ia juga menyiapkan kontrak lainnya. Seo Jun bertanya apa perbedaannya. “Yang ini untuk 3 buku, sedangkan yang ini untuk 5 buku. Kenapa kau tidak kerjakan 5 buku? Aku janji akan bekerja keras,” kata Hae Rin.


Seo Jun bertanya apakah Hae Rin suka membuat buku. “Ya, aku suka,” kata Hae Rin. Seo Jun bilang ia juga menyukainya dan setuju untuk menandatangani kontrak untuk 5 buku. “Kau setuju?” Seo Jun bilang ternyata ia dan editornya punya visi yang sama.


Hae Rin merapikan semua kontraknya dan berkata, “Kalau begitu, bagaimana jika 10 buku saja?” Seo Jun menolak. “Pikirkanlah dulu. 10 buku?” Seo Jun tetap menolak. “Bagaimana jika 8?”


Comments


EmoticonEmoticon