2/27/2019

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 9 PART 5


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

Dalam perjalanan pulang di bus, Dan Yi mengingat sikap-sikap Eun Ho yang menurutnya aneh belakangan ini.


Eun Ho: “Aku hanya butuh Noona. Seseorang yang sangat mengenalku.”


Eun Ho: “Ya, aku seorang pria. Sebenarnya, pria yang hebat.”


Eun Ho: “Kau bicara apa?! Kau punya aku! Kau terus bilang tidak punya tujuan. Hentikan itu. Aku rumahmu. Aku selalu ada untukmu.”


Atau saat Eun Ho memasangkan syal di lehernya.


Dan Yi lalu menyandarkan kepalanya di jendela. Ia mendapat telepon dari Eun Ho. Walaupun agak ragu, ia kemudian menjawabnya.


Eun Ho sudah menyiapkan sebuket bunga dan sebuah tas belanja kecil.  Ia bertanya kapan Dan Yi akan pulang.


“Aku masih di kantor,” kata Dan Yi berbohong. Eun Ho mengerti dan menutup teleponnya. Dan Yi bingung dan menyandarkan lagi kepalanya ke jendela.


Seo Jun membukakan pintu untuk Hae Rin dan bertanya apakah akan kembali ke kantor.  Hae Rin bilang ia akan ke tempat Eun Ho yang tinggal di sekitar situ.


Seo Jun: “Ayo pergi bersama. AKu tinggal di lingkungan ini.”
Hae Rin: “Oh, kau tahu tempat tinggal Kepala Editor Cha?”
Seo Jun: “Ya, begitulah.”


Dan Yi sudah sampai di jalan menuju rumah Eun Ho. Ia mengingat saat Eun Ho mencoba kalung itu di lehernya. “Sekarang bagaimana?” gumamnya bingung.


Ia buru-buru bersembunyi saat melihat Hae Rin dan Seo Jun datang dari arah berbeda. Hae Rin dan Seo Jun saling berpamitan. Hae Rin menekan bel rumah Eun Ho.


Eun Ho sedang meletakkan bunga dan hadiahnya di meja rias Dan Yi. Ia lalu keluar kamar untuk mengecek siapa tamunya.


Ia terkejut saat melihat tamunya adalah Hae Rin.


“Sunbae, ini aku,” kata Hae Rin di intercom. Seo Jun terkejut saat melihat Dan Yi di belakang mobil.


Dan Yi menyuruhnya diam dan Seo Jun menganggukkan kepalanya mengerti.


Eun Ho menghela napas dan terpaksa membuka pintu gerbangnya. Ia pun keluar untuk menemui Hae Rin.


Eun Ho: “Kubilang jangan kemari saat mabuk. Jangan membuatku mengulangnya.”
Hae Rin: “Tidak ada orang di rumahmu. Kau berbohong soal teman serumahmu. Lagipula, aku tidak minum hari ini.”


Eun Ho lalu berbalik masuk ke rumah dan Hae Rin mengikutinya.


Seo Jun bertanya apakah orang kantor tahu kalau Dan Yi tinggal bersama Eun Ho. Dan Yi menggeleng. “Aku teken kontrak Gyeorro hari ini karena kau menyuruhku,” kata Seo Jun. Dan Yi bilang mereka akan sering bekerja sama kalau begitu.


“Benar. Kau sudah makan malam? Mau cari makan?” ajak Seo Jun. Dan Yi berpikir saat ini ia tidak bisa masuk ke rumah, jadi ia menerima ajakan Seo Jun. “Ngomong-ngomong, kau tidak menerima pesanku?”


Dan Yi baru mengingatnya. Ia bilang ia sangat sibuk sampai lupa membalasnya. Seo Jun bilang ia mengecek ponselnya beberapa kali karena menunggu jawaban Dan Yi. Dan Yi tersenyum merasa bersalah. “Ayo,” ajak Seo Jun.


Hae Rin memberitahu bahwa ia berhasil membuat Seo Jun meneken kontrak untuk 5 buku. “Itu bagus,’ kata Eun Ho tidak antusias. Ia lalu menatap Hae Rin.


Hae Rin: “Ada apa? Tidak senang aku kemari? Ji Seo Jun tinggal di sekitar sini, jadi…”
Eun Ho: “Hae Rin, kau lupa bukumu. Kau meninggalkan karangan Pascal Quignard di sini. Ambillah selagi di sini.”


Hae Rin tidak ingat kapan ia meninggalkan buku itu. “Cek di rak kedua. Di sebelah ‘Admonitions on Governing the People’,” kata Eun Ho.


Hae Rin pergi ke ruang kerja. “Dasar bodoh. Masih tidak tahu aku sengaja agar kau baca pesanku,” gumamnya.


Hae Rin kecewa karena surat yang ia sembunyikan masih ada di tempatnya. Ia menyelipkan lagi suratnya.


“Ah, ini dia,” gumamnya saat menemukan buku miliknya. Ia mengambilnya dan sebuah amplop terjatuh ke lantai. Ia mengambilnya.


Eun Ho sedang membuat teh dan terlihat merasa bersalah.


Hae Rin menyadari bahwa itu bukan amplop darinya. Ia membaca isi suratnya. ‘Hae Rin, aku sudah membaca semua suratmu untukku,’ tulis Eun Ho di awal suratnya. “Apa dia tahu perasaanku padanya? Tapi dia tetap berlagak tidak tahu,” kata Hae Rin di dalam hati.


‘Banyak hal yang kupikirkan. Haruskah kujelaskan hubungan kita? Haruskah aku menjaga jarak darimu? Aku juga mempertanyakan apa itu satu-satunya cara untukmu. Sekeras apapun kupikir, kurasa bukan itu jawabannya.’


‘Perasaanmu padaku itu indah dan berharga. Jadi, aku tidak mau salah menyikapinya. Wanita yang kukenal 3 tahun adalah wanita yang bersemangat, disiplin, dan cantik.”


‘Itu sebabnya kau akan menemukan pria yang lebih baik dariku. Orang yang menganggap keberadaanmu. Orang yang membuatmu tersenyum. Orang yang membahagiakanmu.’


‘Setidaknya, orang yang tidak akan pura-pura tidak tahu tentang perasaanmu. Aku tidak mau menjadi salah satu kekasihmu dalam ingatanmu. Aku lebih baik menjadi kolegamu. Dan aku akan menunggu. Aku akan menunggu sampai kau bertemu kekasih yang baik. Menunggu di sampingmu, sebagai kolega yang baik.”


‘Terima kasih untuk segalanya, Song Hae Rin. Dan telah menyukaiku.’


Hae Rin menangis. Eun Ho memperhatikan Hae Rin dari belakang.

Comments


EmoticonEmoticon