3/03/2019

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 11 PART 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

Dari meja kerjanya, Dan Yi memperhatikan Hae Rin. Hae Rin mengambil sebuah dokumen dari atas mejanya.


Hae Rin lalu memberikan kontrak yang sudah diteken oleh Seo Jun kepada Dan Yi. Ia meminta Dan Yi membuat salinannya dan menyerahkannya ke Tim Support Bisnis. Dan Yi menerima dokumen kontrak itu dan mengkopinya.


Sambil memfotokopi, Dan Yi lagi-lagi memperhatikan Hae Rin. Setelah dokumennya selesai, ia membaca tanggal lahir Seo Jun adalah 23 April 1991.


“Apa? Ulang tahun Seo Jun 23 April?” gumam Dan Yi.


Dan Yi mengingat saat sebelumnya ia pernah bertanya apakah Seo Jun membaca buku ’23 April’ karya Penulis Kang Byeong Jun. Seo Jun mengiyakan dan Dan Yi mulai memberitahu analisisnya tentang judul buku tersebut.


Dan Yi tidak terlalu memikirkannya. Ia menstaples dokumen itu.


Eun Ho pergi ke supermarket sambil melihat di internet apa saja bahan=bahan untuk membuat saus spageti.


“Sebentar… Untuk makan malam besok, aku akan membuat tteokbokki,” gumamnya lalu mencari bahannya apa saja. “Saus cabai sudah ada di rumah…” Ia lalu melanjutkan belanjanya.


Dan Yi masih berada di kantor. Ia sedang membahas hadiah untuk peserta kontes. Ia mengganti hadiah buku catatan dengan pembatas buku agar lebih murah. Young A merasa itu ide yang bagus.


“Bagaimana dengan ini? Ini terbuat dari bunga,” kata Dan Yi sambil menunjukkan contoh pembatas bukunya. Young A menyebutnya bagus. “Manis, kan? Aku mau satu.”


Dan Yi menerima pesan dari Eun Ho yang menyuruhnya cepat pulang karena ia memasak spageti untuk makan malam mereka. Dan Yi tampak berpikir.


Saat sedang menyiapkan bahan-bahannya, Eun Ho menerima pesan balasan dari Dan Yi. ‘Ini hari Jumat. Noona-mu berkencan,’ tulis Dan Yi. Eun Ho mengomel bahwa ia sudah muak mendengar kata ‘noona’ terus.


“Ah.. dia menemui Ji Seo Jun lagi?” gerutu Eun Ho kesal.


Dan Yi menyarankan agar mereka memakai lampu mini di kafe tempat acara nanti dan Young A setuju. “Hei, mau pesan camilan?” tanya Young A. Dan Yi sangat setuju. “Mari pesan sesuatu. Ambil menunya di sana.” Mereka lalu memutuskan untuk memesan jokbal.


Saat melihat Yoo Sun keluar dari ruangannya, Dan Yi bertanya apakah yoo Sun mau memesan camilan juga. “Tidak, terima kasih. Aku akan berkemas dan pulang,” kata Yoo Sun lalu perg.


Young A bilang seharusnya Dan Yi tidak menawari Yoo Sun karena sudah mau pulang.


Yoo Sun masuk ke ruangan Direktur Kim dan meletakkan dokumen di mejanya. Ia melihat foto-foto yang ada di meja itu.


“Bagus untuknya. Dia punya dua orang putri,” gumam Yoo Sun lalu meletakkan fotonya lagi.


Kancing lengan baju Yoo Sun terjatuh ke lantai.


Petugas pengantar makanan datang dan Dan Yi bilang akan mentraktir. Young A menolak dan bilang ia yang akan membayarnya.


Pengantar itu menjamin kalau jokbal itu enak karena istrinya memasaknya sendiri dari awal. Ia bilang sekarang banyak restoran menjual yang cepat saji dan itu rasanya tidak pernah enak.


Young A tampak memperhatikan pria pengantar makanan itu. Dan Yi juga melakukan hal yang sama.


Mereka berdua mengingat bahwa pria itu adalah mantan calon suami Yoo Sun yang pernan ditunjukkan fotonya dulu.


Young A dan Dan Yi bertatapan bingung. “Lihat. Ini tampak lebih lezat, kan? Ini pertama kalinya kalian memesan, kan? Lain kali pesanlah lagi dengan yang lain dan akan kuberikan porsi tambahan,” kata pengantar itu. Young A mengangguk canggung. Mereka lalu melihat Yoo Sun datang.


“Ahjushi, biar aku yang bayar. Terima kartu kredit, kan?” kata Yoo Sun. Pengantar itu mengiyakan dan mengeluarkan mesinnya dan menggesek kartu Yoo Sun.


Young A dan Dan Yi tampak khawatir. Pengantar itu mengajak mereka mengunjungi juga restorannya yang ada di ujung jalan.


Pria itu berhenti bicara saat akan mengembalikan kartu kreditnya kepada Yoo Sun. Yoo Sun juga terkejut, tapi ia mencoba bersikap biasa saja.


Saat mabuk, Yoo Sun bilang ia masih memikirkan mantan calon suaminya dan penasaran apakah pria itu sudah menikah atau belum. Ia merasa suatu saat akan berpapasan dengan pria itu di jalan. “Jika berpapasan dengannya, aku akan percaya bahwa kami berjodoh,” kata Yoo Sun.


“Nona Go, ini kartu kreditmu,” kata Dan Yi karena kedua orang itu hanya diam dan saling bertatapan saja. Yoo Sun menerima kartunya dan berterima kasih. Pengantar itu lalu pamit pergi.


“Dia pria itu, kan?” bisik Young A. Dan Yi tidak menjawab. “Dia orangnya, kan?” Mata Yoo Sun berkaca-kaca, tapi Yoo Sun bilang ia tidak mengerti siapa yang Yoo Sun bicarakan dan ia tidak mengenal pria itu.


Dan Yi berterima kasih atas traktiran Yoo Sun dan berjanji akan bekerja keras. “Baik,” kata Yoo Sun lalu pergi.


Di luar gedung, pengantar tadi masih menunggu dan tersenyum manis saat melihat Yoo Sun. Yoo Sun berjalan ke arah berbeda seolah tidak melihatnya. “Yoo Sun,” panggil pengantar itu dan menghampirinya.


Pria itu menanyakan kabar Yoo Sun, Ia bilang Yoo Sun masih bergaya dan cantik. “Bagaimana firma brokermu? Kau berhenti?” tanya Yoo Sun. Pria itu bilang itu bukan tempatnya karena ia tidak kunjung mendapat promosi. Ia juga pernah membuka toko di lingkungan lain, tapi gagal.


Pria:  “Aku baru saja bangkit lagi. Jadi, kau sudah menikah?”
Yoo Sun: “Ya. Sudah.”
Pria: “Oh begitu. Aku cemas kau masih lajang. Lalu, kau punya anak?”


Yoo Sun tidak menjawab. “Aku sudah punya 3 anak. Semuanya laki-laki. Kunjungi restoranku. Aku selalu penasaran dengan kabarmu. Syukurlah kau baik-baik saja,” kata pria itu. Yoo Sun mengangguk sambil menahan tangis. “Aku pamit.” Yoo Sun mengangguk lagi.


Pria itu pergi dengan motornya dan Yoo Sun tampak sangat sedih.


Young A bilang ia harusnya pura-pura tidak tahu tadi. Dan Yi bilang Yoo Sun pasti masih punya perasaan pada pria itu. Ia mengajak Young A ke rumah Yoo Sun sambil membawa makanan karena khawatir Yoo Sun tidak punya teman untuk bercerita. Young A bilang mereka tidak akan diizinkan masuk.


Terlihat sebuah undangan bertuliskan nama Ahn Jeong Hun dan Go Yoo Sun. Foto pria pengantar makanan tadi juga ada di sana.


Yoo Sun menatap bingkai foto pre-wedding nya dengan sedih. Ia patah hati.


Ia menatap fotonya dengan gaun pengantin bersama Jeong Hun dan tampak sangat bahagia saat itu. “Kuharap kau sehat. Kenapa harus muncul seperti itu?” isaknya.


Ia menyobek-nyobek foto itu, lalu menangis tersedu-sedu.


Keesokan harinya, Dan Yi mendapat pesan dari Seo Jun bahwa akhir pekan ini ia harus bekerja. Dan Yi menuliskan bahwa ia akan membereskan kamarnya Hari Sabtu ini. Ia lalu menatap dirinya di cermin.


“Jangan menghindarinya, Kang Dan Yi. Aku akan membuka pintu Cha Eun Ho dan bicara seperti seorang noona,” kata Dan Yi pada dirinya sendiri.


Ia mencibir dengan sinis dan berkata, “Aku tidak tertarik padamu, Cha Eun Ho. Aku tak menganggapmu sebagai pria. Sadarlah.” Ia terus mengulangi kata-kata itu dengan intonasi berbeda. “Astaga, aku harus bilang apa?” Ia terkejut saat mendengar pintu kamarnya diketuk.


“Kang Dan Yi,” panggil Eun Ho lalu membuka pintunya. Ia tidak melihat Dan Yi karena Dan Yi terdesak ke dinding di belakang pintu. Dan Yi sengaja tidak bersuara. “Dia keluar?”


Eun Ho lalu berpura-pura akan menutup pintunya, tapi kemudian membukanya lagi hingga membentur kepala Dan Yi terbentur pintu. “Sedang apa kau di sana?” tanya Eun Ho sambil tertawa. “Ayo kita bersihkan rumah.” Dan Yi memukul kepalanya dan terpaksa keluar.


Comments


EmoticonEmoticon