3/10/2019

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 13 PART 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

Eun Ho menemui seorang temannya dan menunjukkan resume Dan Yi. Temannya bilang Dan yi memenuhi syarat, tapi ia tidak bisa menerima Dan Yi. Eun Ho menanyakan alasannya.


“Karena waktu menganggur. Dia 7 tahun tidak bekerja. Agensi periklanana bekerja sangat cepat,” kata teman Eun Ho. Eun Ho bilang di persyaratan tertulis bahwa orang berpengalaman bisa melamar. “Diskriminatif itu illegal. Karena itu tertulis semua bisa melamar. Semua surat lamaran akan disortir dan Dan Yi tidak akan pernah diwawancarai.”


Eun Ho menemui rekannya yang lain dan bilang walaupun Dan Yi sudah menganggur selama 7 tahun, tapi pasti bisa beradaptasi dalam 3 bulan. Rekannya bilang perusahaannya pernah menerima ornag seperti itu, dan menerima wanita seperti Dan Yi bisa merusak suasana kantor.


“Apa jabatannya dulu? Manajer? Manajer Senior? Dia sudah lama tidak bekerja. Rasanya serba salah, Manajer tak akan nyaman memberikannya tugas sepele,” kata pria itu.


Eun Ho meminta temannya itu menanyakan pada perusahaan yang lebih kecil. Tapi temannya malah menyuruh Eun Ho mentraktir Dan Yi dengan makanan enak dan memberikan semangat. Ia bilang Dan Yi tidak akan bisa kembali ke periklanan.


Eun Ho mengambil beberapa mantel sekaligus dan berencana membelinya tanpa mencobanya sama sekali. Pemilik toko yang juga temannya merasa heran dengan sikapnya. Ia memberikan pakaian-pakaian itu pada stafnya.


Eun Ho meminta tolong agar temannya itu mempekerjakan orang di bagian pemasarannya. “Mesiki tidak butuh, lakukan ini untukku,” kata Eun Ho lalu memberikan resume Dan Yi padanya.


Temannya bilang pemasaran mode berbeda dengan periklanan. Eun Ho bilang Dan Yi akan cepat belajar bahkan Dan Yi terlalu baik untuk bekerja di sana. “Hei, kau tidak bisa memaksaku melakukannya,” kata pria itu.


Eun Ho menyuruhnya melupakannya saja dan bilang akan mengirimkan kembali mantel itu saat pulang. “Aku tidak akan kemari lagi,” kata Eun Ho lalu pergi. Temannya tidak mengerti karena sikap Eun Ho sangat aneh hari ini.


Eun Hp kembali lagi dan mulai mengomel karena tidak ada satupun perusahaan yang mau mempekerjakan Dan Yi. Temannya bertanya kenapa Eun Ho berteriak padanya. “Aku tidak jadi beli,” kata Eun Ho lalu melepaskan mantel barunya dan mengambil mantel lamanya yang masih tergantung di sana. Ia mengambil resume Dan Yi dan pergi.


Saat sedang membersihkan rumah, Seo Jun mendapat telepon dari ‘Bintik Merah’. Ia lalu mengingat saat Hae Rin keluar dari kamarnya dengan wajah penuh bintik karena alergi mentimunnya.


“Jangan telepon aku, Song Hae Rin. Aku bukan temanmu,” kata Seo Jun lalu me-reject telepon itu.


Hae Rin kemudian menelepon Eun Ho yang sedang mengemudi. Eun Ho menolak panggilan itu. “Aku ingin menghindarimu dulu, Hae Rin,” gumamnya.


Hae Rin lalu mengirimkan pesan yang bilang ia sedang berada di lingkungan rumah Eun Ho. Ia bilang ia merasa bersalah karena merepotkan Seo Jun saat mabuk, jadi ia ingin minta maaf, tapi Seo Jun tidak menjawab teleponnya.


Hae Rin mencoba mengingat apa yang ia lakukan setelah keluar dari restoran malam kemarin. Ia tidak bisa mengingat ke arah mana ia pergi setelahnya. Ia bilang seharusnya ia memeriksa alamat Seo Jun di surat kontrak sebelum datang ke sana.


Hae Rin menerima pesan dari Eun Ho yang bilang Hae Rind an Seo Jun adalah rekan kerja bukan teman. Eun Ho bilang ia juga akan menghindari Hae Rin jika jadi Seo Jun. ‘Sebaiknya, kau minta maaf dengan baik. Masih ada 4 buku lagi yang harus kita kerjakan,’ pesan Eun Ho.


Seo Jun juga mengirim pesan pada Hae Rin. Ia bilang ia mencuci seprainya karena ada wanita yang tidur di sana tanpa mandi. Walaupun seprai sudah dicuci, tapi masih ada bau Pollock dan sotong di kamarnya. Ia curiga Hae Rin menyimpan makanan di kantongnya.


‘Saat ini,  aku tidak mau jawab panggilan. Kirimi aku email tentang pekerjaan, maka aku akan membalasmu,’ tulis Seo Jun. Hae Rin bertambah bingung karena merasa kedua pria itu membencinya.


Seo Jun menerima pesan dari Hae Rin yang bilang ia membawa kue untuk meminta maaf. ‘Aku tidak butuh maafmu. Dan jangan muncul di hadapanku. Sebenarnya, ada satu pertanyaan terakhir. Apakah dicampakkan membuatmu menjadi pemabuk? Atau kau dicampakkan karena tidak bisa minum?’ balas Seo Jun.


Hae Rin menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal. “Hei, itu tidak benar! Kau salah! Sebenarnya aku wanita hebat!” katanya pada ponselnya. “Di mana rumahnya?”


Eun Ho memarkir mobilnya di depan rumah. Ia mengingat saat Dan Yi bercerita bahwa ia menjalani lebih dari 50 wawancara, tapi tidak satupun yang menerima wanita yang pernah hiatus bekerja.


Eun Ho menghela napasnya saat mengingat perintah Yoo Sun untuk mengakhiri kontrak Dan Yi.


Di dalam rumah, Dan Yi membaca brosur Kontes Ide Gyeoroo bertajuk ‘Semangat Esok’. Saat Eun Ho datang, ia memberitahu kalau ia akan mengikuti kontes itu.


Eun Ho tampak prihatin. Ia melepaskan mantelnya dan duduk di dekat Dan Yi. Dan Yi meminta Eun Ho memberikan idenya. “Kau mau ide gratis?” tanya Eun Ho. Dan Yi bertanya apa yang Eun Ho inginkan sebagai imbalannya. Eun Ho menunjuk pipinya.


Dan Yi mencium pipi Eun Ho. “Tidak, itu setengah hati. Lakukan lagi di pipi ini,’ kata Eun Ho sambil menunjuk pipi satunya. Dan Yi menurut. “Tidak, belum cukup. Lakukan dengan baik.” Dan Yi lalu mengecup bibir Eun Ho. “Lumayan, tapi bisa lebih baik. Kau hanya bisa itu? Lakukan lagi.”


“Katakan saja idenya,” kata Dan Yi sambil memukul pelan bibir Eun Ho. Mereka tertawa.


Eun Ho bilang sebagai pendiri perusahaan, ia akan menjadi juri dan harus bersikap adil pada semua peserta. “Jika menjadi kau, aku tidak akan mengajukan buku dengan popularitas jangka pendek. AKu lebih baik mengajukan ide yang akan lama diingat orang. Bagus jika bisa berkontribusi untuk perusahaan. Cobalah berpikir berbeda,” ujarnya.


“Oh.. kau andalanku,” kata Dan Yi lalu bertepuk tangan. “Tapi itu sulit. Apa yang harus kuajukan?” Eun Ho lalu mengalihkan pembicaraan tentang Dan Yi yang pasti stress karena harus melakukan banyak wawancara pekerjaan.


“Tentu saja aku stress. Suatu hari, saat berlari di antara gedung tinggi sambil membawa resume, aku kasihan pada diriku sendiri. Kupikir: ‘Pasti banyak meja di gedung itu. Tidak bisa beri satu untukku?’ Aku selalu bekerja keras. Kupikit itu tidak adil,” ata Dan Yi.


Dan Yi bilang uang di rekeningnya habis dengan cepat dan ia tidak juga mendapatkan pekerjaan, sekeras apapun usahanya.


Eun Ho bertanya kenapa Dan Yi tidak meminta bantuannya. “Karena aku tahu kau akan kesal,” kata Dan Yi. Eun Ho bilang lebih baik jika mereka kesal bersama. “Kenapa kau tiba-tiba menanyakannya? Semua sudah lewat. Kini aku punya pekerjaan dan cukup baik melakukannya.”


“Kini aku bahkan punya pacar,’ kata Dan Yi sambil menutupi wajahnya karena malu. Eun Ho tertawa, lalu ikut duduk di lantai dan mengenggam tangan Dan Yi.


Eun Ho meminta maaf karena saat itu ia tidak tahu apa-apa. Dan Yi bertanya ada apa sebenarnya. Eun Ho bilang ia hanya sedang mengingatnya saja.


Dan Yi: “Ngomong-ngomong, apa menurutmu aku boleh ikut kontes? Aku pegawai kontrak. Apa itu berlebihan?”

Eun Ho: “Tidak apa-apa. Lakukan semua yang kau mau. Tidak apa-apa. Lalu, bagaimana dengan belajar kelompok. Hari ini pegawai baru belajar bersama. Ji Yul bilang kemarin.”


“Ah, benar. Gawat. Aku harus bersiap dan pergi. Bagaimana ini?” kata Dan Yi panik karena ia lupa dengan janjinya. Eun Ho menyuruhnya bersiap dan ia yang akan merapikan laptop dan buku-bukunya.


Comments


EmoticonEmoticon