3/10/2019

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 13 PART 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

Dan Yi sudah mengganti pakaiannya dan sedang merapikan dandanannya. Eun Ho mengetuk pintu, lalu masuk ke kamar Dan Yi sambil memberikan tasnya, tapi menyembunyikan sesuatu di balik tubuhnya. Ia bertanya apakah Dan Yi sudah siap.


Dan Yi mengambil tasnya dan berterima kasih. Ia juga bilang kalau ia sudah siap. “Tidak, kau belum siap,” kata Eun Ho. Dan Yi bertanya apa maksudnya. “Tutup matamu.” Dan Yi menanyakan alasannya. “Tutup saja.”


Dan Yi menutup matany dan Eun Ho membuka kotak perhiasan yang ia sembunyikan tadi.


Eun Ho menyibakkan rambut Dan Yi dan memasangkan anting itu di telinganya. “Ini anting?” tanya Dan Yi yang merasa geli. Eun Ho memintanya agar tidak bergerak.


“Sudah,” kata Eun Ho. Dan Yi membuka matanya dan melihat anting barunya lewat cermin.


Eun Ho memeluk Dan Yi dan dari belakang dan bilang tadi ia bertemu temannya, tapi malah memikirkan Dan Yi. Ia bertanya apa Dan Yi menyukai antingnya. “Ya. Kau memilih anting yang sepertiku. Aku mekar seperti bunga yang indah,” kata Dan Yi.


Eun Ho bilang ia akan merapikan rumah, lalu akan pergi nanti. Dan Yi bertanya ke mana Eun Ho berencana pergi. “Rahasia,” kata Eun Ho.


Di sebuah restoran, Park Hoon membersihkan kacamatanya lalu bicara dengan serius. Ia bilang mereka berkumpul untuk menyiapkan Kontes Ide Gyeoroo. Ia bilang meski mereka duduk bersama, tapi mereka akan saling bersaing.


“Benar. 5 juta won itu milikku. Aku sangat membutuhkannya,” kata Ji Yul. Dan Yi menyimpulkan bahwa mereka berbagi informasi, tapi bukan berbagi ide. Ji Yul mengangguk setuju, tapi tidak begitu dengan Park Hoon.


Park Hoon bilang mereka tidak berbagi informasi karena informasi adalah aset. Dan Yi mengganti kesimpulannya bahwa mereka duduk bersama, tapi bekerja sendiri. Park Hoon setuju. “Aku dalam masalah,” kata Ji Yul yang merasa tidak bisa melakukannya sendirian.


Park Hoon bertanya bagaimana jadinya Ji Yul jika mereka tidak ada. Ia memberikan daftar ide pemenang sebelumnya pada Ji Yul dan menyuruhnya mempelajarinya terlebih dulu.


Dan Yi memberikan daftar semua buku terbitan Gyeoro berdasarkan tahun terbitnya. Ji Yul masih cemberut, tapi ia menerima kedua daftar itu.


Park Hoon dan Dan Yi mulai bekerja, sedangkan Ji Yul berusaha mengintip. Dan Yi hanya tertawa.


Saat pulang ke rumah, Dan Yi mendapati sebuah pesan dari Eun Ho yang menuliskan bahwa ia sudah membersihkan rumah, mencuci dan membeli bahan makanan untuk sepekan. Ia juga sudah menyiapkan sup dan menyuruh Dan Yi menghangatkannya.


‘Aku ikuti resep di buku. Semoga enak. Dan mimpi indah,’ tulis Eun Ho.


Dan Yi melihat panci sup yang ada di atas kompor.


Ia membuka tudung saji dan ada beberapa lauk di atas meja.


“Ke mana dia? Aneh. Jika dipikir, dia sering tidak pulang. Apa dia ke Kapyong lagi?” gumam Dan Yi.


Eun Ho memang pergi ke Kapyong. Dokter mengatakan bahwa demam tinggi yang dialami Penulis Kang disebabkan oleh pneumonia. Direktur Kim heran karena Penulis Kang baru saja sembuh.


“Dengan kondisinya sekarang, sulit mengharapkan peningkatan. Dia nyaris tidak selamat,” kata dokter. Eun Ho terlihat sedih. “Menurutku, dia sudah bertahan cukup lama. Kau harus siap untuk yang terburuk.”


Direktur Kim mengantar dokter keluar, sedangkan Eun Ho menatap Penulis Kang dan duduk di dekatnya. Direktur Kim kembali ke kamar dan meminta Eun Ho agar tidak cemas.


“Dokter sering bilang kita harus bersiap. Penulis Kang akan melaluinya lagi,” kata Direktur Kim. Eun Ho bilang bukan itu yang ia pikirkan. Ia tidak yakin apakah tindakannya saat itu benar.


“Pilihanku bisa berbeda saat itu. Aku tidak yakin melepasnya begini adalah pilihan tepat. Apakah menghilang dari dunia adalah keputusan yang tepat? Apakah menepati janji adalah hal yang tepat?” kata Eun Ho.


“Penulis Kang, katakan kepadaku… bahwa tindakanku dulu dan saat ini adalah benar. Katakan,” kata Eun Ho lalu menangis. Direktur Kim juga merasa sedih.


 Keesokan harinya, Hae Rin berjalan sambil memperhatikan ponselnya. Ia lalu mundur lagi saat menemukan apa yang ia cari.


Hae Rin ternyata pergi ke rumah Seo Jun. Ia mengetuk pintunya.


Seo Jun sedang memasangkan tali ke leher Geum Bi dan membiarkan ketukan itu. Tapi Hae Rin mengetuk lagi berkali-kali. “Siapa itu?” gumam Seo Jun heran.


Hae Rin langsung pergi saat melihat ada suara langkah kaki dari dalam rumah.


“Apa aku salah dengar?” gumam Seo Jun saat tidak menemukan siapapun di luar. Ia masuk lagi ke dalam rumah.


Hae Rin muncul lagi dan tersenyum.


Tidak lama kemudian di bawah, Seo Jun sangat terkejut karena melihat Hae Rin yang muncul tiba-tiba di hadapannya. “Halo, Geum Bi,” sapa Hae Rin lalu menyalakan musik di ponselnya.


Hae Rin lalu membuka buku yang sudah ia siapkan dengan tulisan. Ia bertanya melalui tulisannya apakah Seo Jun baik-baik saja karena malam itu Seo Jun pasti terkejut.


‘Aku ingin beritahu aku sudah pulih,’ tulis Dan Yi dan Seo Jun hanya mengangguk kesal. ‘Kau bilang tidak akan menjawab teleponku. Jadi, aku datang menemuimu karena ingin mengatakan sesuatu.’


‘Mulai saat itu, aku berhenti minum. Jadi tolong maafkan aku,’ tulis Hae Rin sambil melakukan gerakan menangis.


‘Bagiku, kau sempurna. Bagiku, kau desainer buku yang sempurna.’


Seo Jun tersenyum. Hae Rin melambaikan tangannya. Seo Jun membalas lambaian tangannya, tapi kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya dan pergi begitu saja. Ia masih kesal pada Hae Rin.


Young A bertanya ke mana semua orang. “Sekarang waktu makan siang,” kata Dan Yi. Young A menebak kalau Dan Yi belum makan. “Mau makan siang bersama?”


“Tunggu. Aku harus memberikan suaraku dulu,” kata Young A sambil menunjukkan kertas votingnya. Dan Yi pergi untuk mengambil kotak votingnya.


“Lingkaran?” tanya Dan Yi antusias. Young A tidak mau memberitahu pilihannya. Ia memasukkan kertasnya, lalu mengajak Dan Yi makan siang.


Sambil makan, Young A bilang ia kelaparan karena sangat sibuk. Ia harus memeriksa toko buku online, dan banyak pekerjaan lainnya. Ia bertanya apakah Dan Yi tertarik untuk bergabung dengan timnya.


Dan Yi bilang ia mau, tapi ia bilang ia hanya pegawai kontrak. Young A bilang rapat anggota pendiri segera digelar dan ia akan membahasnya di sana.


Young A: “Tapi jangan terlalu banyak berharap.”
Dan Yi: “Kau sedang menggodaku, kan?”
Young A: “Ya…”


Seo Jun heran karena Geum Bi berjalan dengan sangat cepat, tidak seperti biasanya. Ia bahkan hampir terjatuh karena Geum Bi terus berlari.


Ternyata Geum Bi menghampiri Hae Rin yang menggodanya dengan daging. Geum Bi memakan daging itu dan Hae Rin tersenyum pada Seo Jun. “Ayo,” ajak Seo Jun pada Geum Bi.


Hae Rin tidak menyerah. Tidak lama kemudian, ia tampak memberi makan Geum Bi.


Ia memperhatikan Seo Jun yang sedang berada di dalam toko buku.


Hae Rin tiba-tiba muncul di hadapan Seo Jun sambil menunjukkan sebuah buku padanya.


Seo Jun mengabaikannya dan pergi begitu saja.


Hae Rin mengacak-acak rambutnya dengan kesal.


Seo Jun terkejut saat melihat Geum Bi memakai pita di kepalanya. Ia menghela napas kesal.


“Tada!” Hae Rin muncul lagi. Seo Jun bertanya kenapa Hae Rin terus mengikutinya, padahal harusnya sedang bekerja. “Aku ambil cuti karenamu, Penulis Ji.” Seo Jun mengingatkan agar Hae Rin mengirim email saja, bukan malah mengganggunya. “Aku bersalah, jadi harus kuperbaiki. Selain itu, kau ada kontrak denganku. Aku selalu mengurus orang yang kontrak denganku.”


Hae Rin bilang tidak ada satu pun kontraknya yang berakhir buruk. Ia lalu membungkukkan badannya dan berkata, “Mohon maaf soal tempo hari, Penulis Ji. Aku sungguh berhenti minum.”


Seo Jun bilang ia sangat ketakutan saat itu. “Kau buat soju mentimun, padahal alergi! Astaga, ada apa denganmu?”omelnya. Hae Rin berjanji hal itu tidak akan terjadi lagi hingga kontrak mereka berakhir. Ia berjanji akan berusaha lebih keras untuk menjadi rekan yang lebih baik.


“Baik, tolong lakukan,” kata Seo Jun menirukan gerakan tangan Hae Rin.


“Hati-hati di jalan!” kata Hae Rin saat Seo Jun pergi bersama Geum BI. Perutnya keroncongan dan baru ingat kalau ia belum makan siang. “Kita sudah berbaikan, tapi kurasa kau akan menolak jika aku ajak makan siang bersama, kan?”


“Dia mengabaikanku,” gumam Hae Rin karena Seo Jun terus saja berjalan pergi. Ia lalu mengirim pesan kepada Eun Ho.


‘Kepala Editor Cha, aku sudah minta maaf pada Penulis Ji. Mulai kini, akan kupisahkan kerja dan kehidupan pribadi,’ tulis Hae Rin.


“Huft… Aku lapar,” gumam Hae Rin.

Comments


EmoticonEmoticon