3/11/2019

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 13 PART 4


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

Kelima anggota pendiri Gyeoroo itu berjalan masuk ke ruang rapat.


Sebelum duduk, mereka mengibaskan dulu mantelnya.


Ji Yul bertanya apa yang terjadi. Park Hoon bilang Ji Yul masih harus banyak belajar. “Ini tradisi Gyeoroo. INi pertama kali aku melihatnya selama 3 tahun bekerja di sini. Tapi kalian beruntung bisa melihatnya di tahun pertama,” kata Hae Rin.


Gwang Soo mengatakan mereka berlima mengenakan mantel itu saat pertama mendirikan Gyeoroo. Ia bilang mereka mengenakan mantel itu untuk pergi ke tempat-tempat penting, seperti penjilidan, percetakan dan toko buku. Song Yi bertanya kenapa hari ini menjadi penting.


“Hari ini mereka akan memutuskan apakah harus menerbitkan koleksi puisi atau tidak,” kata Gwang Soo. Dan Yi lalu ingat tentang kotak suaranya. Ia berlari untuk mengambilnya.


Dan Yi meletakkan kotak suara berbentuk buku di atas meja. Direktur Kim akan memulai rapatnya, tapi Ji Hong lebih dulu menggebrak meja dan membuat semua orang terkejut. “Seperti… saat puisi seseorang menyelamatkan hidupku, kuharap puisiku juga bisa menjangkau mereka yang membutuhkan dan menyelamatkannya,” kata Ji Hong dengan intonasi puitis.


Ji Hong bilang itu adalah puisi karya Penyair Na. DIrektur Kim menghela napas. “Kuharap kalian membuat keputusan yang tepat. Kalian tidak bisa memutar waktu dan menyesali berlian yang sudah hilang,” kata Ji Hong.


Direktur Kim mengangkat tangannya dan membuka kacamatanya, lalu bilang ia juga ingin bicara sebagai Direktur. Ia mengingatkan bahwa mereka semua adalah anggota pendiri Penerbit Gyeoroo yang pastinya tidak mau jika menjadi peringkat 5 di industri itu.


“Kita harus jadi yang terbaik. Gyeoroo tidak pernah melambat, dan selalu maju!” teriak Direktur Kim penuh semangat. Mereka merasa ia sangat berisik. Direktur Kim memberi salam, lalu duduk lagi.


Dan Yi bilang ia akan membuka kotak suaranya. Ji Hong sangat gugup. Ia terus duduk dan berdiri berulang-ulang.


Dan Yi membuka surat suara pertama. “Hei, itu lingkaran. Lihat,” kata Ji Hong senang. Direktur Kim meminta Ji Hong tidak terlalu senang karena itu mungkin surat suara Ji Hong sendiri. “Mungkin saja bukan!”


Ji Hong langsung menjatuhkan kepalanya ke meja saat melihat surat suara kedua bertuliskan tanda silang. Direktur Kim bilang hasilnya sudah jelas sekarang dan jika dilanjutkan hanya akan terlihat kejam. “Isinya tidak banyak, periksa saja,” kata Eun Ho.


Ji Hong sangat senang karena surat suara ketiga adalah lingkaran. “Ketua Tim Seo, apa itu punyamu? Jangan libatkan perasaan pribadimu,” kata Direktur Kim. Young A bertanya kenapa ia punya perasaan pribadi pada Ji Hong.


Ji Hong mengajaknya tos, tapi Young A mengabaikannya. Young A bilang ia setuju karena menyukai koleksi puisinya.


“Astaga, ini luar biasa! Astaga. Aku senang sekali,” sorak Ji Hong saat suara keempat adalah lingkaran. Direktur Kim langsung melotot pada Eun Ho.


“Aku suka puisinya,” kata Eun Ho. Direktur Kim bilang itu bukan alasan yang cukup dari seorang Kepala Editor. Ji Hong memijat bahu Eun Ho. “Satu suara lagi dan ini akan selesai.” Ji Hong bertanya suara siapa yang belum keluar. Mereka semua melihat Yoo Sun.


Ji Hong putus asa, sedangkan Direktur Kim sangat senang karena berpikir Yoo Sun pasti menolak penerbitan koleksi puisi itu.


Lingkaran keluar lagi. Young A langsung berteriak. “Serius? Astaga! Kita akan menerbitkannya!” sorak Ji Hong.


Direktur Kim tidak percaya dan melihat surat suara itu dari dekat. Ia lalu menatap heran pada Yoo Sun.


Yoo Sun mengangkat tangannya tanpa mengatakan apa-apa. Ji Hong lalu mengajak mereka semua tos, kecuali Direktur Kim yang masih syok.


Ji Hong menghapus air mata bahagianya.


Sedangkan, Direktur Kim menangis sedih. “Direktur Go, kupikir setidaknya kau akan memihakku,” isaknya. Yoo Sun bilang ia memang selalu berada di pihak Direktur Kim.


“Tapi koleksi puisi ini bagus,” kata Yoo Sun. Eun Ho yakin dengan rencana pemasaran yang bagus, buku koleksi puisi itu akan laris.


Direktur Kim merengek bahwa ia sudah kewalahan dengan Ji Hong yang tidak realistis, tapi sekarang ketiga rekannya malah bersikap serupa. “Mari adakan rapat pemasaran sore ini,” ajak Ji Hong tidak mempedulikan kesedihan Direktur Kim.


Dan Yi mengacungkan jempolnya dan Eun Ho tersenyum sambil mengedipkan matanya. Ia lalu merapikan kotak suaranya.


Young A memukul-mukul meja dan mulai bernyanyi tentang penerbitan koleksi puisi. Eun Ho dan Yoo Sun ikut bertepuk tangan. Ji Hong memberikan tanda love dengan jarinya kepada rekan-rekannya.


Direktur Kim menghapus air matanya dan bicara dengan serius, “Mari kita lanjutkan agenda berikutnya.”


Para staf gelisah karena penasaran dengan hasil rapatnya. Dan Yi datang dan membuat tanda lingkaran dengan tangannya. Para staf bersorak gembira. Hae Rin langsung sibuk mencari daftar puisi yang pernah ia buat.


“Ah.. aku harus minta tonik herbal pada istriku. Kita harus bekerja lebih keras untuk menjual koleksi puisi,” kata Seung Jin. Gwang Soo juga tampak bersemangat dan masih tidak percaya kalau mereka akan menerbitkan koleksi puisi.


Ji Yul juga merasa senang karena menjadi saksi sejarah karena untuk pertama kalinya perusahaan menerbitkan koleksi puisi. Park Hoon bilang mereka juga harus segera membuat pengumuman bersejarah. 


Park Hoon: “Are you ready?”
Ji Yul: “I’m ready. You ready?”
Dan Yi: “Ready.”


Park Hoon dan Dan Yi pergi ke meja kerja masing-masing, lalu kembali dengan membawa laptop. Song Yi bertanya apa yang mereka siapkan itu.


Park Hoon tertawa dan berkata dengan serius, “Kami, para pegawai baru, akan ikut serta dalam Kontes Ide Semangat Esok!” Gwang Soo bertanya kapan mereka menyiapkan karena selalu sibuk bekerja. Seung Jin memuji kerja keras mereka.


Park Hoon: “Kalian sudah lakukan cek final?”
Dan Yi: “Pastikan kalian tidak menyesal.”
Ji Yul: “Maka, mari kita tekan tombolnya.”


Ji Yul malah menekan tombol kirim di laptop Park Hoon. “Astaga,” keluh Park Hoon yang gagal melakukan momen berharganya. Mereka bertiga berhasil mengirimkan ide mereka. Mereka semua bertepuk tangan dan saling memberi dukungan.


Sambil membawa dus berisi kertas, Dan Yi mengingat perkataan Young A yang ingin mengajaknya pindah ke Tim Pemasaran dan akan membahasnya di rapat.


Young A mengajukan tambahan staf karena tahun lalu ia meminta 3, tapi hanya diberi 1 staf. Ia merasa kewalahan. Direktur Kim bilang mereka sudah menerima pegawai baru tahun ini, jadi ia meminta Young A agar menunggu sampai musim gugur.


“Bagaimana jika transfer departemen? Lagipula, butuh waktu untuk mengajari pegawai baru,” usul Young A. Yoo Sun bertanya apa yang Young A pikirkan. “Bagaimana dengan Kang Dan Yi dari Tim Support? Dia tahu seluk beluk tim dan punya kemampuan dalam pemasaran.”


Eun Ho dan Yoo Sun saling bertatapan.


Yoo Sun: “Tidak bisa.”
Eun Ho: “Menurutku itu ide bagus. Penerimaan pegawai berikutnya masih lama dan kita tidak menerima pegawai karir. Jika Kang Dan Yi…”
Yoo Sun: “Kepala Editor Cha, bukankah kau sudah setuju untuk memutus kontrak Kang Dan Yi?”


Eun Ho bilang kontrak Dan Yi belum habis dan mereka tidak punya alasan untuk memutus kontraknya. Direktur Kim bertanya apakah ada masalah dengan Dan Yi. “Aku membahas tentang transfer, tapi kenapa kalian bicara soal pemutusan kontraknya?” tanya Young A bingung. Ji Hong juga bilang kalau Dan Yi bekerja dengan baik. DirekturK Kim menanyakan alasan pemutusan kontraknya.


“Kang Dan Yi memalsukan latar belakang pendidikannya di resume,” kata Yoo Sun. Semua orang terkejut, tentu saja kecuali Eun Ho.


Di luar ruang rapat, Ji Hong mengulangi informasi yang baru ia dengar tadi. “Jadi, Dan Yi lulusan universitas bergengsi, bukan lulusan SMA,” ujarnya. Young A bilang Periklanan SH adalah perusahaan besar. "Dia tidak diterima di mana pun dengan itu, maka dia bohong soal latar belakangnya?”


Young A bilang Ji Hong sudah dengar, tapi terus saja bertanya. Ji Hong bilang ia masih tidak percaya. Ia memang sering mendengar ada yang memalsukan latar belakang pendidikan, dan ia masih tidak percaya kalau ia sedang bekerja dengan salah satunya. Young A tampak sedih.


Yoo Sun berjalan melewati mereka dan Young A memanggilnya untuk menanyakan keputusannya tentang Dan Yi. “Direktur Kim sudah tahu, dia yang akan memutuskan,” kata Yoo Sun.


Ji Hong berpendapat bahwa mereka terlalu berlebihan jika menyebut Dan Yi memalsukannya. “Kau sudah memutuskan tempat untuk kuliah Penulis Mo?” tanya Yoo Sun mengalihkan pembicaraan. Young A bilang Penulis Mo ingin memberikan kuliahnya di universitas tempatnya kuliah dulu dan Direktur Kim yang akan mengerjakannya karena almamater mereka sama.


“Tidak ada waktu. Kerjakan dan konfirmas tempat hari ini,” kata Yoo Sun. Young A mengiyakan dan langsung pergi. Ji Hong bingung karena ia diabaikan oleh Yoo Sun yang masuk ke ruangannya.


Young A berhenti di depan pintu rapat dan mendengar Direktur Kim yang tahu alasan kenapa sebelumnya Eun Ho bertanya bagaimana caranya pegawai kontrak bisa menjadi pegawai tetap. Young A tampak sedih karena Dan Yi tidak punya harapan lagi untuk bekerja bersamanya.


Direktur Kim setuju dengan Yoo Sun bahwa jalan terbaik adalah dengan memutus kontrak Dan Yi. Eun Ho menentang keputusan itu karena pernah membaca kasus serupa dan tidak termasuk perbuatan ilegal. “Kepala Editor Cha, ini bukan klub sekolah di mana peraturan bisa diubah seenaknya. Aku tahu Kang Dan Yi sangat cakap, tapi memutus kontrak lebih baik, kan?” kata Direktur Kim.


Direktur Kim bilang pegawai lain akan canggung jika mengetahui latar belakang pendidikan Dan Yi yang sebenarnya. Ia lalu meninggalkan ruang rapat.


Di luar ruang rapat, Direktur Kim bertemu Young A yang menanyakan tentang tempat kuliah Penulis Mo. Sementara itu, Eun Ho sangat resah karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk mempertahankan Dan Yi di Gyeoroo.


Comments


EmoticonEmoticon