3/29/2019

SINOPSIS Witch's Love Episode 9 PART 4


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: DramaX
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

Ternyata pekerja paruh waktu yang dimaksud nenek adalah Je Wook.


“Apa kau baru bekerja di sini?” tanya seorang pelanggan. Je Wook mengiyakan sambil terus melayani mereka.


Sung Tae tidak mau kalah. Ia tidak jadi bekerja dan malah menjadi pelayan di restoran sup nasi. Mereka tampak menatap dengan sengit. Je Wook lalu perg ke jendela pemesanan.


Cho Hong membuka tirainya dan bertanya kenapa Je Wook masih ada disana padahal sudah disuruh pergi. “Siapa kau menyuruhku pergi? Aku pekerja paruh waktu di sini,” kata Je Wook. Cho Hong bilang keadaan itu membuatnya tidak nyaman.


Je Wook bertanya apakah Cho Hong ingin mengusirnya di depan semua orang setelah dia mencoba membantunya. Ia mengingatkan bahwa ia tadi memesan 2 sup nasi dan kimchi lobak untuk pelanggan yang baru datang tadi. 


“Aku sudah kembali!” kata Sekretaris Kim yang ternyata ikut berjualan hari itu. Ia mendapat tugas mengantarkan pesanan keluar restoran.


Sekretaris Kim menghabiskan banyak air sekaligus karena sangat lelah. Ia bilang tidak sanggung lagi mengantarkan pesanan. “Suhu di luar 40 derajat. 40 derajat!” ujarnya.


Cho Hong bilang mereka harus tetap mengantarkan pesanan. Ia bertukar tugas dengan Sekretaris Kim dan mengangkat pesanannya. Sung Tae melarangnya.


Sung Tae bilang cuaca sangat panas, jadi dia yang akan mengantar pesanannya.


Je Wook: “Kau hanya akan memecahkan mangkok mahal. Bisepmu…”
Sung Tae: “Asal kau tahu, aku masuk di pasukan khusus.”
Je Wook: “Apa kau tidak tahu kalau mariner menangkap hantu?” (mariner berlatih penuh semangat)


Sekretaris Kim hanya bisa melongo mendengar perdebatan mereka. Sung Tae bilang penulis yang memegang pena sebaiknya tetap di restoran dan menerima pesanan. Sedangkan, Je Wook berkata kalau orang kaya tidak tahu arus dunia lebih cocok menjadi kasir.


Cho Hong tidak peduli dengan perkataan mereka. Ia meletakkan pengaman kepalanya ke kepala Je Wook.


AKhirnya mereka berdua pergi dan berjalan dengan kaki gemetar. Je Wook berbohong dengan bilang itu mudah dan sama sekali tidak berat. Sung Tae tidak mau kalah. Ia bilang bebannya seringan bulu.


Mereka berdua terus saja saling mengolok dan tidak mau kalah. Mereka lalu menempuh jalan yang berbeda untuk mengantarkan pesanan.


Malm harinya, Sekretaris Kim sangat lega karena bisa minum setelah lelah bekerja. Cho Hong bilang semua orang sudah bekerja keras. Dia akan menuangkan minuman untuk Sekretaris Kim, tapi Sung Tae mengambil botolnya dan ia yang menuangkannya.


Sekretaris Kim bilang hari ini ia melihat sisi baru Sung Tae. Ia bilang Sung Tae yang biasanya tidak peduli pada orang lain, tapi tadi malah memakai celemek dan membantu mengantarkan makanan yang berat. “Jika orang-orang dari perusahaan, mereka semua akan pingsan,” ujarnya.


Sung Tae menahan senyum dan merasa tersanjung karena Sekretaris Kim menyebutnya sebagai orang yang peduli sekarang.


“Tapi dia tetap orang yang sama! Dia tidak peka dan tidak peduli dengan orang lain. Bisa dibilang, dia brengsek!” kata Sekretaris Kim. Sung Tae kehilangan senyumnya, tapi Je Wook dan Cho Hong malah tersenyum geli. “Hari ini, ia menggulung lengan baju dan membantu di restoran. Ini benar-benar mengejutkan!”


Cho Hong menyorakinya untuk memuji perubahannya, tapi Sung Tae merasa Cho Hong hanya mengejeknya. “Apa bagusnya itu? Dia hanya bisa membawa beberapa mangkok,” ejek Je Wook.


Sekretaris Kim lalu menanyakan kelanjutan episode komik Penyihir Sup Nasi pada Je Wook. “Tokoh protagonist laki-laki tahu tentang identitas penyihir. Akankah ia tetap mencintainya? Ini menempatkan Gyeom Deng dalam perspektif yang sama sekali berbeda,” tanyanya.


Cho Hong penasaran dengan jawaban Je Wook. “Aku punya banyak penggemar, tapi kenapa aku hanya ada di peringkat 97?” tanya Je Wook kecewa. Sekretaris Kim merajuk ingin tahu kelanjutan ceritanya.


Je Wook tertawa dan menanyakan pendapat Sekretaris Kim sendiri. “Gyeom Deng berkencan dengan penyihir? Gyeom Deng adalah malaikat. Malaikat. Dia sangat baik. Memikirkannya saja sudah menakutkan,” kata Sekretaris Kim yang berpendapat Gyeom Deng tidak akan mencintai penyihir lagi.


Je Wook sendiri tidak masalah dengan itu. Ia bilang bisa saja manusia menemui seseorang yang benar-benar mereka cintai.


Sekretaris Kim bilang itu kasus manusia, sedangkan akan berbeda untuk penyihir. Je Wook bilang manusia pun berbeda, tidak ada yang sama, itulah sebabnya manusia hidup beradaptasi.


“Ada apa? Kau lelah?” tanya Sung Tae yang sejak tadi memperhatikan Cho Hong yang murung. Cho Hong tersenyum dan bilang ia tidak lelah. “Sekretaris Kim, kau harus pergi sekarang. Kau sudah minum banyak.”


Sekretaris Kim bilang ia baru saja mulai. Ia mengajak Je Wook minum segelas lagi. “Se-kre-ta-ris Kim,” kata Sung Tae. Sekretaris Kim tidak peduli, tapi ia langsung berubah saat melijat Sung Tae sedang menatap tajam padanya.


Sekretaris Kim berdiri dan beralasan kalau waktu berlalu sangat cepat. “Penulis Hwang! Kau harus peigi juga! Jangan jadi obat nyamuk di sini,” ujarnya. Je Wook tidak mengerti. “Bangun!”


Sekretaris Kim bilang ia menjalani malam yang menyenangkan. Ia berpamitan, lalu naik ke taksi dalam keadaan mabuk. Sung Tae berpesan agar Sekretaris Kim berhati-hati. 


Sung Tae bilang Sekretaris Kim adalah pria yang baik, tapi banyak bicara. Cho Hong tertawa, lalu bertanya, “Tapi, kapan Je Wook pergi?” Sung Tae bilang Je Wook tahu diri. “Apa?” Sung Tae bilang bukan apa-apa.


Cho Hong tidak mengerti kenapa Je Wook pergi tanpa pamit. Ia penasaran apakah ada sesuatu yang membuat Je Wook marah tadi. Sung Tae merangkul Cho Hong dan berkata, “Sekarang, apa hanya kita berdua? Malam ini?”


Cho Hong lalu menanyakan pendapat Sung Tae tentang kisah cinta penyihir dan manusia yang dibicarakan Sekretaris Kim dan Je Wook tadi. Menurut Sung Tae, itu adalah pertanyaan yang paling tidak berarti dan tidak dewasa di dunia.


Sung Tae bilang membicarakan penyihir yang tidak ada, bahkan menganggapnya luar biasa, adalah pembicaraan kekanak-kanakan yang tidak selayaknya dibicarakan pria dewasa saat wajib militer. “Dasar brengsek,” kata Cho Hong yang kecewa dengan jawaban Sung Tae.


Sung Tae terkejut. “Kau pikir hanya kau yang hebat, ya? Bagaimana kau bisa tahu apakah mereka ada atau tida? Kau pernah melihat mereka? Apa yang akan kau lakukan jika mereka ada? Apa yanga kan kau lakukan?!” kata Cho Hong. Sung Taer bertanya kenapa Cho Hong tiba-tiba marah.


Cho Hong: “Entahlah! Aku hanya ingin marah. Tidak, aku kecewa.” 
Sung Tae: “Apa?”
Cho Hong: “Pria yang kusukai… tidak tahu bahwa ada makhluk mistis dalam hidup ini dan menghakimi mereka! Sudahlah.”


“Apa aku melakukan kesalahan lagi?” gumam Sung Tae setelah Cho Hong masuk ke dalam rumah lebih dulu.


Sung Tae menyusul Cho Hong. Ia bilang ia harus tahu alasan Cho Hong marah agar ia bisa meminta maaf. Cho Hong mengomel. Sung Tae bertanya lagi apa kesalahannya. “Jae Wook?!” kata Cho Hong heran.


Mereka terkejut karena Je Wook ternyata masih ada di sana, bahkan sambil membawa pemukul baseball. Sung Tae bertanya kenapa Je Wook belum pulang dan apa yang dilakukannya dengan pemukul itu. “Kenapa aku harus pulang? Kau sudah gila?” kata Je Wook. Sung Tae merasa kesal.


“Jika kau berani menyentuh Cho Hong, kau tahu kan?” ancam Je Wook sambil mengangkat pemukulnya. Sung Tae bilang Je Wook memang harus melakukan sesuatu. Cho Hong yang masih kesal pada Sung Tae, bertanya apa maksudnya.


“Masa bodoh kalian saling berpelukan atau tidur di satu kasur. Itu bukan urusanku,” kata Cho Hong lalu masuk ke kamarnya.


Je Wook memberi kode dengan kedua jari di matanya bahwa ia akan mengawasi Sung Tae.


Beberapa saat kemudian, Sung Tae yang baru saja selesai mandi terkejut karena Je Wook sudah berbaring santai di kasurnya. Ia bertanya apa yang sedang Je Wook lakukan. “Aku dimanja sejak kecil, jadi aku tidak bisa tidur di lantai,” kata Je Wook.


Sung Tae menghela napas. Ia heran kenapa Je Wook tidak bekerja, padahal penulis biasanya punya deadline, sampai tidak bisa makan atau tidur. Je Wook bilang itu karena penulis-penulis itu masih memiliki bahan yang belum selesai.


“Untuk orang jenius sepertiku, aku bisa tidur semaunya, makan apa saja, dan bermain sekukaku. Kemudian aku bekerja di waktu luangku karena merasa bosan,” kata Je Wook. Sung Tae tidak mau bercanda dan menyuruhnya segera pergi.


Tapi Je Wook malah berpura-pura menguap dan merasa ia lelah karena bekerja terllau keras di restoran. Ia meletakkan ponselnya, lalu bersiap tidur. Sung Tae menghela napas menahan kesal.


Sung Tae lalu menarik selimutnya dengan keras sehingga Je Wook hampir jatuh. Je Wook tidak mau tidur bersama dengan laki-laki. “Apa aku tidak boleh tidur di kasurku?” tanya Sung Tae lalu memejamkan matanya.


Je Wook merebut selimut itu dan menarik satu bantal Sung Tae. Ia lalu menyelimuti dirinya.


Sung Tae merebut selimutnya lagi, lalu JE Wook merebutnya lagi. Mereka terus berebut selimut.


Di kamarnya, Cho Hong tidak bisa tidur.


Je Wook akhirnya tertidur sambil memeluk Sung Tae. Sung Tae berusaha menyingkirkannya, tapi Je Wook malah mendekapnya semakin erat.


Comments


EmoticonEmoticon