4/18/2019

SINOPSIS Witch's Love Episode 12 PART 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: DramaX
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

Sung Tae memperhatikan bekas luka di dadanya melalui cermin di kamar mandi.


Sementara itu, Cho Hong keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar mandi.


Cho Hong membuka pintu kamar mandi dan melihat Sung Tae ada di dalam. Ia terkejut dan langsung menutup pintunya lagi.


Sung Tae keluar dari kamar mandi dan bilang kalau rumah itu benar-benar tidak memiliki privasi. “Aku yakin sudah memberitahumu untuk mengetuk pintu lebih dulu,” tegurnya.Cho Hong minta maaf dan bilang ia sungguh tidak sengaja.


Sung Tae tidak percaya jika kejadian tadi tidak disengaja. Menurutnya, Cho Hong berniat kotor. “Apa maksudmu ‘kotor’?” protes Cho Hong.


Cho Hong lalu terpaku melihat bekas luka di dada Sung Tae. “Ah..” keluh Sung Tae lalu menutup bekas lukanya. “Ternyata itu memang niat kotor. Bukankah kau terlalu terang-terangan?”


“Diamlah,” kata Cho Hong dan malah membuka piyama Sung Tae untuk melihat bekas lukasnya. “Kupikir warnanya menjadi lebih gelap.” Cho Hong melepaskan tangan Cho Hong. “Kau tidak punya bekas luka lainnya, kan?”


Sung Tae bertanya kenapa Cho Hong sangat cemas dengan kesehatannya. Cho Hong mengelak. Sung Tae merasa pengakuan cinta ekstrim Cho Hong bukan hanya karena mabuk.


Cho Hong bilang saat mabuk, ia hanya bicara omong kosong. Ia lalu berbalik pergi, tapi Sung Tae malah menariknya ke dalam dekapannya.


Cho Hong: “Apa yang kau lakukan?”
Sung Tae: “Apa itu hanya perkataan orang mabuk? Suaramu terdengar terlalu tulus jika itu hanya omong kosong. Kau bahkan mengambil tindakan.”


“Orang yang paling aku cintai di dunia ini adalah Ma Sung Tae,” kata Cho Hong kemarin malam. Ia bahkan menarik dasi Sung Tae hingga mereka berciuman. (hehe sebelumnya aku kira Sung Tae yang ngga sadar nyium Cho Hong karena kebawa suasana)


Sung Tae mendekatkan wajahnya akan mencium Cho Hong, tapi kemudian mereka menjauh karena mendengar ada suara pintu. Aeng Doo keluar dari kamarnya sambil menguap.


“Aku sudah makan tadi, kenapa aku masih merasa lapar?” gumam Aeng Doo yang kemudian melihat Sung Tae dan Cho Hong di depannya. “Astaga. Apa yang kalian berdua lakukan?”


Cho Hong: “Aku habis mandi.”
Sung Tae: “Aku mau mandi.”


Chp Hong berjalan menuju kamarnya, tapi tiba-tiba berhenti. “Oh ya. Aku baru mau mandi,” ujarnya. Sung Tae juga mengoreksi perkataannya bahwa ia sebenarnya sudah mandi. 


Aeng Doo menatap kepergian mereka dengan heran, tapi kemudian ia menguap dengan sangat lebar. “Aku sangat lapar, jadi tidak bisa tidur,” ujarnya.


Di dalam kamar mandi, Cho Hong merasa jantungnya masih berdetak kencang.


Di kamarnya, Sung Tae tampak memikirkan sesuatu dengan serius, tapi kemudian ia tersenyum tipis.


Keesokan harinya, Sekretaris Kim datang menjemput Sung Tae. Aeng Doo bilang Sung Tae sedang keluar sebentar dan mengajak Sekretaris Kim makan sup nasi dulu sambil menunggu.


Sekretaris Kim yang merasa tidak enak akhirnya setuju untuk makan sambil tersipu. “Ini enak,” ujarnya sambil memakan sup nasinya.


Nenek bertanya apakah ada masalah sampai-sampai Sekretaris Kim datang pagi-pagi sekali. “Tidak, itu karena aku sedikit terlambat kemarin dan kecelakaan hampir terjadi. Mulai sekarang, aku berencana datang saat fajar dan menunggunya,” kata Sekretaris Kim.


Aeng Doo bilang saat itu kepala Sung Tae juga terluka. “Dia hampir mati saat itu!” kata Sekretaris Kim. Aeng Doo dan nenek terkejut.


“Ban yang sangat halut tiba-tiba pecah di tengah jalan! Astaga, sulit dipercaya. Jika bukan karena kemampuan menyetirku yang hebat dan penilaian cepat, Direktur kami… sudah meninggal sekarang,” kata Sekretaris Kim.


Aeng Doo dan nenek saling menatap dengan khawatir. “Ada kecelakaan di lift juga, kan? Itu sebabnya Cho Hong…” kata Aeng Doo. Nenek memberi kode agar Aeng Doo berhenti bicara. 


Sekretaris Kim bilang telah terjadi 3 kali ketidakberuntungan pada Sung Tae. “Apa yang harus aku lakukan?” tanyanya bingung. Ia lalu melihat Sung Tae turun dari lantai 2.


“Apa yang terjadi?” tanya Sung Tae saat melihat ketiga orang di depannya menatapnya dengan khawatir. Nenek bilang tidak terjadi apa-apa.


Kedua nenek masuk ke dalam, sedangkan Sekretaris Kim mempersilakan Sung Tae keluar.


Setelah Sung Tae pergi, Cho Hong merapikan kamar Sung Tae, tapi kemudian ia malah melamun. Ia mengingat saat Sung Tae menariknya dalam dekapannya semalam. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu membaringkan dirinya di atas kasur.


“Aku tetap akan hidup jika aku tidak bertemu dengannya sejak awal, tapi aku tidak bisa hidup seperti ini. Huft…” gumam Cho Hong.


Ia terkejut saat mendapat telepon dari Sung Tae yang ia beri nama ‘Pemilik Gedung’. “Halo?” sapanya.


Sung Tae bertanya kenapa suara Cho Hong terdengar terkejut. “Ngomong-ngomong, apa kau sedang di kamarku?” tanyanya.


Cho Hong berbohong dan bilang kalau ia ada di dapur. “Aku tidak mendengar suara piring,” kata Sung Tae curiga. Cho Hong bilang suara perabot dapur sangat keras di sana. Ia bahkan berteriak menyuruh neneknya jangan berisik.


Sung Tae menahan senyum. Cho Hong mempersilakan Sung Tae bicara karena sudah tidak berisik lagi di tempatnya. “Kau tidak berbaring di tempat tidurku atau melakukan sesuatu yang aneh ketika aku tidak ada di sana, kan?” tanya Sung Tae.


“Kau pikir aku orang cabul?” protes Cho Hong. Sung Tae bilang ia akan tahu kebenarannya setelah memeriksa CCTV.


Cho Hong buru-buru menjentikkan jarinya ke arah CCTV. Ia lalu bertanya kenapa Sung Tae meneleponnya.


Sung Tae: “Jika kau masuk ke kamarku, pasti ada map biru.”
Cho Hong: “Map biru?”


Cho Hong lalu melihat map biru di atas meja. “Aku hanya perlu mencarinya dan mengirimnya lewat pos, kan?” tanya Cho Hong seolah ia belum menemukan map biru itu.


“Jangan! Begini… itu berkas penting. Berkas penting yang tidak boleh rusak. Meskipun kau sibuk, tolong kirimkan secara langsung. Jangan minta orang lain untuk melakukannya,” kata Sung Tae membuat alasan.


Beberapa saat kemudian, Cho Hong sampai di kantor Sung Tae sambil membawa map birunya. Ia lalu mengambil cermin kecil dan mengecek riasan wajahnya.


“Untuk siapa kau berdandan?” tanya Sung Tae yang tiba-tiba muncul. Cho Hong terkejut dan menutup bedaknya. “Apa untukku?”


Cho Hong pura-pura tidak mengerti dan menyerahkan mapnya pada Sung Tae. Ia menyebut Sung Tae pelupa dan berbalik. “Kau langsung pergi?” tanya Sung Tae. Cho Hong mengiyakan dan bertanya apa Sung Tae ingin ia tetap di sana. “Maksudku, kau datang jauh-auh ke sini jadi setidaknya makan sianglah dulu sebelum pergi. Aku merasa tidak enak, jika kau langsung pergi.”


Cho Hong bilang ia harus segera pulang karena restoran sedang ramai. Sung Tae bilang ia tidak punya teman makan dan merasa canggung jika makan sendirian.


“Direktur, ayo makan siang! Aku kelaparan!” ajak Sekretaris Kim yang baru saja datang. Sung Tae langsung melotot padanya.. “Nona Cho Hong,” kata Sekretaris Kim yang tidak mengerti keadaan.


Sung Tae menyerahkan map birunya pada Sekretaris Kim dan bilang itu adalah berkas untuk rapat Direksi hari ini. Ia lalu mengajak Cho Hong pergi.


“Rapat Direksi?” gumam Sekretaris Kim heran sambil melihat berkasnya. “Tidak ada rapat dengan Dewan Direksi hari ini…” Ia lalu melihat Sung Tae dan Cho Hong pergi. “Apa ini? Mereka akan makan sendiri?!”


Comments


EmoticonEmoticon