5/01/2019

SINOPSIS Your Honor Episode 24 PART 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

Di Ruang Tunggu Pengadilan, Sang Cheol memberitahu Hae Na bahwa Ho Sung ingin bertemu sebelum persidangan, jadi ia mengatur pertemuan itu. “Kau tidak mau bertemu bahkan ketika aku memohon, tapi kini kita sering bertemu karena kubilang aku mau bunuh diri,” kata Hae Na.


Ho Sung bilang mereka akan sering bertemu setelah urusan hari ini selesai. “Bersabarlah untuk satu hari. Jangan merengek,” ujarnya. Ia lalu bicara pada Sang Cheol, “Pengacara tidak boleh ikut campur.”


Sang Cheol pun pergi meninggalkan mereka.


Ho Sung mendekati Hae Na dan membelai rambutnya. “Setelah persidangan berakhir, pergilah ke Afrika selama 3 atau 4 bulan dan layanilah masyarakat. Aku sudah selesai bicara dengan studio agar kau  bisa mengikuti acara ragam setelah itu,” kata Ho Sung.


Hae Na bilang ia ingin menanyakan sesuatu dan Ho Sung mempersilakannya. “Aku hanyalah salah satu bonekamu, bukan?” tanya Hae Na.


Ho Sung tertawa. “Kau berangan-angan menjadi istri konglomerat, ya? Kau manis sekali,” katanya. Hae Na bertanya apa ia tidak boleh berangan-angan. “Tentu saja boleh. Toh, itu cuma angan-angan.”


“Baiklah,” kata Hee Na sambil mengangguk mengerti. “Aku akan pergi.”


Ho Sung menahannya dan berkata kalau ia tidak mempermainkan Hae Na. “Aku tulus menyukaimu dan masih menyukaimu. Aku sungguh meminta maaf karena tidak melibatkan diri dan membuatmu mengikuti persidangan sendirian. Aku akan membalas jasamu berkali-kali lipat,” ujarnya.


Ho Sung yakin persidangan akan berjalan lancar dan Hae Na pasti bisa naik daun lagi. Ia bahkan menjanjikan kalau mereka akan terus bersama selamanya.


Hae Na: “Kau janji?”
Ho Sung: “Kau tahu… Adakah yang tidak bisa kulakukan di negara ini?”


Ho Sung mencium kening Hae Na, lalu memeluknya.


Kang Ho sudah berada di Ruang Persidangan dan sedang sibuk membaca berkas.


Sang Cheol juga sudah duduk di kursi pembela dan menatap Jung Soo. Jung Soo menganggukkan kepala kepadanya.


So Eun memperhatikan Hae Na yang duduk tidak jauh darinya.


“Ji Chang Soo hadir?” tanya Kang Ho. Sang Cheol melaporkan bahwa Chang Soo sedang di UGD karena mengidap hepatitis akut, sehingga tidak bisa hadir. Jung Soo meminta izin agar persidangan bisa dilanjutkan tanpa kehadiran Chang Soo.


Kang Ho bilang itu akan merugikan terdakwa. Ia menanyakan pendapat pengacara. “Kami tidak keberatan,” kata Sang Cheol. Kang Ho lalu mempersikan jaksa untuk memulai.


“Tidak ada yang ingin kami sampaikan,” kata Jung Soo. Kang Ho menunduk kecewa, begitu juga dengan So Eun. Jung Soo menyeringai tipis. Kang Ho mempersilakan pengacara memberikan kalimat penutupnya.


“Tidak ada yang ingin saya sampaikan,” kata Sang Cheol. Kang Ho bilang ia akan memberikan putusan untuk Chang Soo hari Rabu depan. Ia lalu memanggil Hae Na.


Hae Na masuk ke area sidang dan duduk di sebelah Sang Cheol. Kang Ho bilang sidang HAe Na sudah berlangsung lama dan akan berakhir hari ini. “Kejaksaan, silakan dimulai,” kata Kang Ho.


Jung Soo: “Tidak ada yang ingin saya sampaikan.”
Kang Ho: “Mungkin Anda tidak memiliki kemauan untuk mengungkap kebenaran!”
Jung Soo: “Saya memiliki kemauan! Tapi, tidak ada yang ingin saya sampaikan.”


“Sungguh jaksa yang luar biasa,” sindir Kang Ho. Ia lalu berkata kepada pengacara, “Kalimat penutup!”


“Tidak ada yang ingin saya sampaikan,” kata Sang Cheol memberikan jawaban yang sama seperti sebelumnya. Kang Ho menyimpulkan bahwa Sang Cheol ingin sidang itu cepat berakhir.


“Saya akan memakluminya. Terdakwa, berikan kalimat penutup Anda,” kata Kang Ho. Hae Na diam saja. Semua orang menunggu. “Tidak ada yang ingin disampaikan?” tanya Kang Ho. Hae Na masih terdiam. Kang Ho menghela napas. “Saya akan memberikan putusannya Hari Rabu depan.”


Sang Cheol dan Jung Soo saling berpandangan dan menganggukkan kepala. Mereka semua mulai merapikan berkas masing-masing.


Tiba-tiba, Hae Na berdiri. “Kau tidak perlu mengatakan apapun,” bisik Sang Cheol. Hae Na bilang ia akan memberikan kalimat penutupnya. Jung Soo terkejut.


“Akan saya dengarkan,” kata Kang Ho.


“Saat itu saya berada di toilet sebuah klub, lalu seseorang memberi saya sesuatu yang katanya obat penghilang mabuk. Jadi saya menerima dan menggunakannya. Keesokan harinya di UGD, saya menyadari bahwa itu narkoba. Tidak ada yang ikut mengonsumsinya. Hanya saya. Maaf telah membuat masalah,” kata Hae Na.


Kang Ho menunduk kecewa karena Hae Na masih berbohong. Sang Cheol dan Jung Soo merasa lega. Kang Ho sudah malas mendengarkan Hae Na. “Selama beberapa hari di pengadilan, aku terus mengulangi kalimat itu seperti burung beo,” lanjut Hae Na yang membuat Kang Ho memperhatikannya lagi.


“Maafkan saya. Semua itu adalah… kebohongan,” lanjut Hae Na. Semua orang terkejut. “Di hari insiden itu terjadi, saya datang ke bar pribadi di Gangnam bersama rekan-rekan saya.


Hae Na menceritakan saat di ruang pribadi bar, In Gyu memberitahu teman-temannya bahwa ia akan mencalonkan diri untuk Majelis. Kedua temannya terkejut dan hampir tidak percaya.


“Saat ayahku menjadi Kepala Partai, dia bilang tidak akan mencalonkan diri lagi agar aku menjadi nomor 3 di surat suara,” kata In Gyu. Ho Sung meminta Hae Na menuangkan minuman untuk In Gyu.


Hae Na: “Oppa, apa kau sungguh akan mencalonkan diri untuk Majelis?”
In Gyu: “Tentu saja.”


Min Gook bilang jika berada di nomor 3 surat suara, itu sama saja seperti mendapatkan kursi gratis. Ho Sung mengiyakan. In Gyu bahkan berjanji akan menjadikan Hae Na sebagai model utama untuk layanan kesehatan nasional.


“Sungguh? Kau berjanji?” kata Hae Na senang. Min Gook bilang mereka harus minum lagi. Mereka bersulang dan Min Gook sudah menyebut In Gyu sebagai ‘Anggota Majelis Kang’.


“Itu bar tempat kami biasa berkumpul dan pelayan yang kami kenal memberi kami narkoba itu. Lalu terjadilah insiden itu,” kata Hae Na yang akhirnya memberikan kesaksian yang benar.


Chang Soo membawakan botol minuman dan es batu, lalu Min Gook memberikan cek senilai 1 juta won. “Terima kasih! Selamat menikmati!” kata Chang Soo senang.


Min Gook lalu mengambil botol narkoba itu dari dalam tempat es batu. Ho Sung dan In Gyu bahkan sudah tidak sabar untuk mengonsumsi narkoba itu. Min Gook lalu memberikan obat itu dan semua temannya langsung meminumnya.


Mereka mulai merasakan efek narkoba itu.


“Terdakwa berbohong! Anda sadar dengan tindakan Anda?” kata Jung Soo. Kang Ho menyuruhnya duduk. “Yang Mulia!”


“Duduk!” kata Kang Ho tidak kalah keras. Jung Soo tidak punya pilihan lain selain duduk kembali. “Teruskan,” kata Kang Ho pada Hae Na.


Hae Na bilang salah satu dari mereka sudah terlalu teler dan menyerang pelayan berserta pemilik bar. H Sung memukul dan menendan Chang Soo, tapi Min Gook dan In Gyu malah tertawa saja.


Pemilik bar datang dan berusaha melerai. Ho Sung memukulinya dengan nampan, namun pemilik bar yang merupakan ahli judo bisa menghalaunya dengan mudah. Chang Soo melarikan diri. “Aku pergi. Ini tidak lucu,” kata Hae Na. Ho Sung mulai memukul wajah pemilik bar dengan tangan kosong.


“Lalu saat mereka menyadari bahwa yang terjadi saat itu akan tersebar, mereka menemui dan meminta saya untuk mengaku bahwa hanya saya yang mengonsumsi narkoba itu,” lanjut Hae Na.


“Mereka bilang akan bersaksi bahwa penyerangan itu adalah antara pelayan dan pemilik bar,” kata Hae Na lalu menangis. “Saya menerima tawaran itu dan berbohong di pengadilan.” Kang Ho menanyakan alasannya. “Mereka bilang akan menjamin masa depan saya.”


Kang Ho bertanya kenapa sekarang Hae Na mengubah kesaksiannya. “Kemarin, saya bertemu penggemar saya. Orang itu… berharap saya adalah orang yang baik,” kata Hae Na. Kang Ho tersenyum. “Saya bertekad mempercayai janjinya. Dia berjanji akan terus mendukung saya, jika saya mengungkap kebenarannya.”


Comments


EmoticonEmoticon