5/07/2019

SINOPSIS Your Honor Episode 28 PART 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

Kang Ho menghabiskan supnya dan terlihat sangat menikmatinya. Ma Ryong heran karena Kang Ho sering sekali muncul di hadapannya.


“Hyungnim, beri aku pekerjaan di sini. Aku bisa tidur bersamamu di ruang belakang. Kau bisa membayarku dengan upah minimum. Tapi jika menu baruku laku, beri aku insentif,” kata Kang Ho tanpa basa-basi.


Ma Ryong menertawainya. Ia akan memberi semangkuk makanan lagi, lalu Kang Ho bisa pulang. Kang Ho dengar kalau MA Ryong adalah manajer di sana. “Tentu, kurasa bisa dibilang begitu. Memangnya kenapa?” tanya Ma Ryong.


Kang Ho bilang setelah diwawancarai oleh manajer, kemudian seharusnya ia diwawancara oleh pemilik restoran. Ma Ryong mulai mengumpat. “Pemilik…” panggil Kang Ho pada Hong Ran. “Aku mau wawancara untuk posisi chef.”


Hong Ran tahu kalau Kang Ho sebelumnya berada di penjara bersama Ma Ryong. “Ayolah. Aku di sana lebih lama daripada dia,” kata Ma Ryong. Kang Ho bilang ada beberapa insiden tidak adil, sehingga ia berkelahi karena tidak bisa mengendalikan kemarahan.


Dengan dramatis, Kang Ho bercerita bahwa ia ditangkap usai mengancam orang yang menipu uangnya. “Aku punya catatan criminal, tapi bukan kejahatan besar atau kejahatan kemanusiaan,” ujarnya.


Hong Ran bahkan tidak mau kalau orang seperti Kang Ho menjadi pelanggannya. Ia menyuruh Kang Ho pergi. Ia juga menyuruh Ma Ryong pergi jika terus bergaul dengan orang seperti Kang Ho. Ma Ryong terkejut.


Ma Ryong: “Dia menyuruhmu pergi, berandal!”
Kang Ho: “Aku percaya diri dalam memasak. Aku punya ide cemerlang untuk menu baru. Aku berencana menjadikan ini perusahaan yang sadar social.”


Ma Ryong meminta Hong Ran tidak mempercayai kebohongan Kang Ho. Hong Ran bilang ia tidak mau restorannya kotor. Ia menyuruh Kang Ho pergi.


Kang Ho bilang ia punya uang yang baru diterima dari perusahaan besar untuk kompensasi dan pengalamannya. “Aku punya 30.000 dolar,” ujarnya. Ma Ryong tertawa tidak percaya.


Kang Ho mengambil tasnya dan menunjukkan uang yang ada di dalamnya. “Aku akan membeli gukbap seharga 30.000 dolar. Akan kubayar di muka. Terserah apakah itu panti asuhan atau panti jompo, tolong donasikan 100 mangkuk setiap hari. Seperti perusahaan yang sadar sosial,” ujarnya. Hong Ran berdiri mendekat.


“Kami bangga dengan dapur kami yang bersih, tapi Anda mau lingkungan kerja seperti apa, Tuan? Anda ingin melihat-lihat?” kata Hong Ran dengan sopan karena ia tertarik dengan uang itu. Ma Ryong terkejut.


Ma Ryong bilang mereka tidak tahu dari mana asal uang itu, tapi Hong Ran memukul bahunya agar Ma Ryong berhenti bicara. Hong Ran berjanji akan membantu Kang Ho mengembangkan menu barunya. “Akan kubersihkan dapurnya, bawa Tuan Han ke dapur setelah beberapa menit,” kata Hong Ran kepada Ma Ryong.


Ma Ryong mengomel kalau Kang Ho tidak pantas dipanggil ‘Tuan’. Ia lalu bertanya dari mana Kang Ho mendapatkan uang itu karena khawatir uangnya haram. “Temui saja Direktur Pelaksana Grup Hanyong, Tuan Choi, dan tanyai dia uang itu halal atau tidak. Dia pasti akan bilang kalau uang itu lebih murni daripada salju,” kata Kang Ho.


Ma Ryong heran karena Kang Ho terus muncul dan mengacaukan hidupnya. “Tolong terima aku sampai aku menjadi orang baik. Tolong pastikan aku tidak berniat buruk,” kata Kang Ho tulus.


“Kau sedang jatuh cinta?” tanya Ma Ryong dan Kang Ho mengangguk malu-malu.


Sementara itu, Soo Ho sudah kembali ke apartemennya. Ia melihat yang 50 dolar yang ditinggalkan Kang Ho untuknya. “Aneh,” gumamnya.


Ia lalu mengambil foto Jo Eun yang ada di meja tersebut.


“Aku sibuk,” kata Joo Eun tanpa basi-basi ketika Soo Ho meneleponnya. “Surat Penangkapan untuk Lee Ho Sung dan semuanya sudah diajukan. Kita dalam keadaan genting.”


Soo Ho bertanya apakah Joo Eun bisa datang setelahnya karena ia ingin mengatakan dan mendengarkan sesuatu. Joo Eun menolak. Soo Ho bilang ia akan menunggu sampai Joo Eun mau bertemu dengannya. “Oppa mungkin harus menunggu lama atau bahkan selamanya,” kata Joo Eun. Soo Ho bilang itu tidak masalah dan jika ia sudah tidak sanggup menunggu, maka ia akan mendatangi Joo Eun.


Di Firma Hukum, saat merapikan dokumennya, Sang Cheol menemukan sobekan surat dari So Eun. ‘Hakim Han yang kukenal adalah orang baik,’ tulis So Eun.


Sang Cheol mengingat saat ia menyelimuti So Eun dengan jasnya saat So Eun tertidur di mobilnya dan mengingat saat-saat mereka bersama sebagai teman baik.


Ia sangat senang saat menyambut So Eun yang datang ke kantornya untuk magang. Semuanaya sudah berubah sekarang.


Sang Cheol meremas sobekan kertas itu.


Kang Ho pergi ke toko kosmetik. “Akan kubeli semua ini masing-masing satu,” ujarnya kepada pelayan.


Di rumahnya, So Eun sedang membersihkan dapurnya.


Dengan bahagia, Kang Ho membawa belanjaan yang dibelinya tadi. Ia lalu pergi ke rumah So Eun.


So Eun: “Apa ini?”
Kang Ho: “Aku tidak tahu kesukaanmu, jadi kubeli semuanya.”


“Apa?!” So Eun terkejut sekaligus terharu.


Seperti seorang penjual. Kang Ho mengatakan bahwa barang yang dibawanya itu sangat bagus. Tapi So Eun malah bilang itu pemborosan. “Sudah kubilang, satu hal yang kusuka saja sudah cukup,” kata So Eun. Kang Ho menunjukkan wajah murung, tapi kemudian ia tersenyum lebar pada So Eun.


Kang Ho menunjukkan sebotol soju, sesuatu yang disukai So Eun. Mereka tertawa. “Sekarang katakanlah. Kau bilang akan mengatakan semuanya hari ini,” kata So Eun mengingatkan. Kang Ho bilang ia akan mengatakannya setelah mereka makan.


Kang Ho: “Lalu kita mencuci piring, berjalan-jalan sore, dan akan kukatakan di bar sambil minum bersama.”
So Eun: “Ada apa”
Kang Ho: “Sudah kubilang, kita makan dulu.”


“Makan malam hari ini…” kata Kang Ho sambil menunjukkan belanjaannya yang lain.


Kang Ho menyuruh So Eun istirahat saja, tapi So Eun ingin memasak bersama. “Kau bisa memasak?” tanya Kang Ho. So Eun menggeleng. “Istirahatlah…” So Eun tetap ingin membantu. Kang Ho setuju. “Hati-hatilah.”


So Eun mulai menangis saat mengiris bawang.


Kang Ho membantu menyeka air mata So Eun, tapi So Eun malah merasa lebih perih.


“Maafkan aku!” kata Kang Ho setelah sadar kalau tangannya tadi sedang mengiris cabai. “Seka dengan ini,” kata Kang Ho sambil mendekatkan lengan bajunya ke mata So Eun.


“Perih…” isak So Eun.
Comments


EmoticonEmoticon