5/10/2019

SINOPSIS Your Honor Episode 31 PART 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

Ji Yeon menggandeng So Eun masuk ke tokonya.


“Unnie… Kita kehabisan pestisida tikus tanah, bisakah kita pesan…” Bibi Bo Ram itu berhenti bicara karena Ji Yeon datang bersama seorang wanita. “Ini adikmu?”


Ji Yeon mengangguk senang, sedangkan So Eun heran karena wanita itu tahu kalau ia adalah adik Ji Yeon. Ia sampai bertanya berkali-kali dan Ji Yeon terus mengangguk. “Dia adik iparku,” kata Ji Yeon pada So Eun. Mereka saling memberi salam.


Bibi Bo Ram terlihat sangat terharu. “Jangan menangis,” kata Ji Yeon. Bibi Bo Ram bertanya apa Ji Yeon sudah memberi tahu kakaknya. “Belum.”


Bibi Bo Ram menyuruh Ji Yeon mengajak So Eun pulang ke rumah dan dia yang akan menjaga toko. Ji Yeon khawatir meninggalkan adiknya menjaga toko sendirian. “Tidak apa-apa. Lekaslah,” kata BIbi Bo Ram.


Di rumah, Ji Yeon langsung mengambilkan air minum dan duduk di dekat So Eun seakan tidak mau melepaskannya. Ia terus menggenggam tangan So Eun dan menanyakan kabarnya. Mereka menangis lagi, tapi tangisan bahagia.


So Eun memberitahu kalau ia mendapatkan posisi sebagai peneliti yudisial. Ji Yeon bertanya posisi apa itu. “Aku sangat bahagia, tapi tidak ada yang bisa kuhubungi, tidak ada orang untuk menyombongkan diri atau tidak ada yang memberikan selamat,” kata So Eun.


Ji Yeon meminta maaf dan bilang kalau ia benar-benar menyesal. So Eun bertanya apa Ji Yeon tidak merindukannya. Ji Yeon menggeleng. So Eun bertanya kenapa Ji Yeon tidak pernah menemuinya padahal merindukannya. Ji Yeon diam saja.


“Kenapa kakak tidak pernah menelepon? Kakak seharusnya menelepon setelah merasa damai. Kakak seharusnya tidak menikah tanpa kehadiran keluarga. Jika kakak tidak bisa menemuiku, seharusnya menelepon. Seharusnya lakukan itu untukku,” protes So Eun.


Ji Yeon meminta maaf untuk segalanya. So Eun juga meminta maaf karena datang terlambat. Ji Yeon menggeleng lagi. Mereka tersenyum dan saling menghapus air matanya.


“Adik iparku datang?!” tanya suami Ji Yeon dengan antusias. So Eun terkejut. “Adik ipar.. Sudah lama aku ingin bertemu denganmu.” So Eun terkejut karena suami Ji Yeon juga tahu tentang dirinya. Ji Yeon bilang mereka semua sangat merindukan So Eun.


So Eun lalu berjabat tangan dengan kakak iparnya. “Terima kasih sudah datang,” kata suami Ji Yeon. So Eun sangat senang mendengarnya.


Kang Ho ternyata masih berada di lingkungan itu. Ia tampak lega.


Sambil makan, suami Ji Yeon bertanya apakah So Eun akan menjadi hakim setelah menjadi peneliti yudisial. “Tidak. Aku harus bekerja di firma hukum lebih dari 10 tahun agar bisa mendaftar untuk posisi sebagai hakim,” kata So Eun.


So Eun juga bilang kalau masa kerjanya sebagai peneliti yudisial adalah 2 tahun, lalu akan menjadi pengacara dan membangun karirnya di sana. “Bukankah kau menjadi hakim setelah lulus ujian profesi advokat?” tanya suami Ji Yeon.


Bibi Bo Ram: “Dia bilang tidak.”
Suami Ji Yeon: “Kakak tidak tahu. Tapi mendapat hasl yang bagus tidak seharusnya menjamin posisimu. Kau harus mengalami hidup setidaknya 10 tahun dahulu untuk menjadi hakim yang layak.”
Bibi Bo Ram: “Itu yang tadi dia katakan, Oppa. Dia tidak bisa makan karena Opp terus bertanya.”


So Eun dan Ji Yeon tertawa beli. Bibi Bo Ram lalu memberitahu Ji Yeon bahwa ia sudah memesan pestisida tikus tanah. “Kau memesan banyak?” tanya Ji Yeon dan adik iparnya mengangguk. “Itu akan terjual cukup cepat selama musim ini.”


Bibi Bo Ram bilang ia memesan sebanyak pesanan tahun lalu. Ia lalu memberitahu So Eun kalau ia sedang belajar dan akan membuat toko lain seperti milik Ji Yeon.


Suami Ji Yeon bilang tidak semua bisa menjalankan bisnis. Ia mengomel karena adiknya itu tidak mau belajar keterampilan. “Menjalankan bisnis juga suatu keterampilan,” kata Bibi Bo Ram. Suami Ji Yeon bilang adiknya perlu sertifikasi agar bisa dianggap keterampilan.


“Aku menginstal system baru,” pamer suami Ji Yeon pada So Eun. “Sistem pengolahan otomatis untuk rumah hijau. Bagaimana aku menjelaskannya?” Bibi Bo Ram bilang tidak perlu menjelaskannya.


“Jangan dengarkan dia. Nama panggilannya GImpo Park Chan Ho,” kata Bibi Bo Ram pada So Eun. So Eun tertawa, tapi kemudian meminta kakak iparnya itu memberitahunya.


Chan Ho sangat senang karena So Eun tampak tertarik. “Temperatur dan kelembaban paling penting untuk rumah hijau. Menyesuaikan temperature dan kelembaban paling sulit, jadi…”


Ucapan Chan Ho terhenti karena melihat putrinya berpindah tempat duduk. Ia kemudian bertepuk tangan.


Chan Ho: “Kau menang, So Eun. Kau yang paling cantik di rumah ini.”
So Eun: “Apa?”
Chan Ho: “Bo Ram berpikir duduk di samping wanita cantik akan membuatnya cantik juga.”
Ji Yeon: “Dia mendekati orang yang paling ingin ia tiru.


Ji Yeon lalu bertanya pada Bo Ram apakah So Eun itu cantik. “Ya,” jawab Bo Ram.Ji Yeon bertanya siapa yang lebih cantik dari dirinya dan So Eun. “Bibi So Eun.”


Bibi Bo Ram: “Lebih cantik bibi atau bBibi So Eun?”
Bo Ram: “Bibi So Eun.”
Bibi Ram: “Tidak bibi duga kau memilihnya. Dasar pengkhianat.”


Semua tertawa. Bo Ram tidak peduli dan melanjutkan makannya. Chan Ho bilang ia satu-satunya pria di rumah itu, jadi ia memohon agar So Eun menikah dengan seorang pria. Ji Yeon dan Bibi Bo Ram memukul bahu Chan Ho karena mengira Chan Ho akan bicara serius. “Ah, kenapa? Aku mau minum dengan anggota keluarga pria,” kata Chan Ho.


So Eun bilang ia suka minum banyak. Chan Ho sangat senang dan langsung mengambil minumannya. “Ayah…” panggil Bo Ram. Chan Ho lalu duduk kembali.


Di kamar setelah makan, So Eun bilang baru kali ini ia makan sambil bicara begitu banyak. Ia bilang semuanya tampak ceria. “Kakak sangat bangga padamu, So Eun. Kau lulus ujian yang sulit itu. Pasti sungguh sulit. Tidak ada yang mendukungmu,” kata Ji Yeon.


So Eun bilang orang tua mereka mengirimkan biaya hidup sampai ia lulus. Ji Yeon bertanya apakah kedua orang tuanya sehat. So Eun mengiyakan.


Ji Yeon: “Saat ibu mengatakan akan berimigrasi karenaku…”
So Eun: “Unnie… Ini aneh. Seharusnya ini putus saat aku bertemu kakak, tapi gelang ini tidak putus. Ini tidak berguna, bukan?”


Ji Yeon merasa ada harapan lain yang So Eun miliki di dalam hatinya. “Tidak ada, kecuali bertemu dengan Unnie,” kata So Eun. Ji Yeon bilang seiring waktu, harapan orang akan berubah dan menjadi lebih kuat. “Aneh. Tidak seperti itu.”


Ji Yeon menanyakan kehidupan So Eun di Seoul. “Saat aku di institute, gajiku tidak cukup. Itu akan lebih baik setelah aku menjadi peneliti yudisial,” kata So Eun. Ji Yeon bertanya apakah So Eun mau tinggal bersamanya. So Eun hanya tersenyum.


Ji Yeon: “Kakak merasa bersalah. Keluarga kita haru melalui hal itu karena kakak. Kakak kira jika menghilang, maka semua akan baik-baik saja. Kakak khawatir hanya kakak yang hidup bahagia.”
So Eun: “Unnie… Unnie bahagia?”
Ji Yeon: “Ya. Kau?”


“Aku juga bahagia,” kata So Eun. Ji Yeon senang mendengarnya dan mereka saling berpelukan.


Chan Ho minum sendirian di ruang makan.


So Eun sangat senang bertemu dengan Ji Yeon hingga tidak bisa tidur dan terus memandangani Ji Yeon yang sudah terlelap.


So Eun keluar dari kamar dan melihat Chan Ho ada di meja makan. Ia memberi salam, lalu akan kembali masuk ke dalam kamar, tapi Chan Ho mengajaknya minum.


Chan Ho menuangkan minuman ke gelas So Eun dan bertanya apakah So Eun bingung saat ia memperlakukannya dengan santai saat pertama bertemu. So Eun bilang ia menyukainya. “Aku berjanji kepada kakakmu bahwa aku akan memperlakukanmu dengan santai jika kita bertemu. Agar kita tidak terlalu canggung,” kata Chan Ho.


So Eun melarang Chan Ho bicara formal dengannya. Chan Ho bilang ia akan menganggap So Eun sebagai teman minum dan memperlakukannya dengan santai. So Eun tertawa. Mereka bersulang dan minum bersama.


Chan Ho bercerita bahwa ia pertama kali bertemu dengan Ji Yeon di Pulau Jeju. Ia ke sana untuk pekerjaan merancang rumah hijau. Ia bertemu Ji Yeon di restoran tempat Ji Yeon bekerja paruh waktu.


“Itu cinta pada pandangan pertama, jadi aku terus datang ke sana. Dia sangat tidak ramah. Aku ke sana selama sebulan, tapi dia tidak pernah menyapa,” kata Chan Ho. So Eun terkejut karena Chan Ho tidak bicara dengan kakaknya selama sebulan. “Tidak. Dua bulan.”


So Eun tampak tidak percaya. Chan Ho bilang ia harus meninggalkan Pulau Jeju karena proyeknya sudah selesai. Ia memutuskan untuk bicara tanpa berpikir panjang. So Eun bertanya apa yang Chan Ho katakana.


“Kubilang orang tuaku mewarisi toko pestisida agrikultura di kampong halamanku. Aku bertanya apakah dia menyukai pestisida agrikultura,” kata Chan Ho menahan tawa. So Eun tertawa dan bilang tidak banyak wanita yang menyukai hal itu. “Dia hampir memukulku dengan sendok sayur.”


So Eun tersenyum dan menanyakan kelanjutannya. “Setelah itu, aku datang ke sana tiap akhir pekan selama setahun. Aku hampir gagal mengajaknya kencan dan mulai berpacaran. Dia sangat baik. Karena itu aku melamar. Dia menolakku. Katanya dia tidak pantas menikah,” kata Chan Ho.


So Eun sedih mendengarnya. Chan Ho melanjutkan ceritanya, “Katanya dia berbohong. Katanya dia menipuku.” So Eun menghabiskan minumannya. “So Eun, kau punya bekas luka di tanganmu, bukan?”


So Eun menyentuh bekas lukanya. Chan Ho berkata, “Huft… setelah mendengar segalanya, aku mengatakan bukan salahnya sampai hal seperti itu terjadi padanya. Kubilang bukan salahnya meninggalkan rumah, mengganti nama, dan tidak memberitahuku sejak awal. DIa tidak bilang karena ingin tetap bersamaku. Karena itu aku mengatakan kami harus tetap bersama.”


So Eun: “Terima kasih… telah mengatakan itu kepadanya.”
Chan Ho: “Aku harus bersyukur dia memilih tinggal denganku. Aku juga bersyukur kau datang.”
So Eun: “Tidak. Aku mungkin tidak bisa berbuat apa-apa untuk kakakku.”


Chan Ho bilang Ji Yeon selalu membicarakan So Eun setiap hari. So Eun terkejut. “Dia ingin bertemu denganmu tiap hari. Meski demikian, dia tidak sanggup melakukannya. Jadi, jangan terlalu membencinya, ya?” lanjut Chan Ho.


“Aku tidak membencinya. Aku… berterima kasih untuk segalanya. Terima kasih,” kata So Eun dan Chan Ho menganggukkan kepalanya.


Comments


EmoticonEmoticon