10/16/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 10 PART 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

Keesokan harinya, di Desa Janda…


“Aku menyukaimu!” Dong Joo terbangun dari tidurnya yang lelap. Ia sempat terkejut, tapi kemudian tertawa karena mendapat mimpi yang aneh. “Tentu saja itu mimpi. Bagaimana jika bukan mimpi?”


Ia memiringkan tubuhnya dan akan kembali tidur, tapi ada sebuah tangan mendarat di wajahnya. Ia menoleh dan melihat ada seorang gadis kecil di sampingnya. Ia bangkit dan panik.


“Tidak, tidak. Aku tidak sungguh-sungguh. Tidak,” ucapnya. Ia lalu memperhatikan Aeng Doo dan Nok Du yang masih tertidur dengan nyenyak. Ia buru-buru keluar karena merasa mual. Ia muntah dan mendengar beberapa janda membicarakannya.


Wanita 1: “Dia putri dari ibu yang buruk.”
Wanita 2: “Aku juga dengar. Ibu dan anak memperebutkan seorang pria di Rumah Gisaeng.”
Wanita 3: “Aku dengar bahkan itu lebih buruk daripada perang.”
Wanita 2: “Astaga. Ayo kita pergi.”


Dong Joo akhirnya sadar bahwa kejadian tadi bukanlah mimpi, melainkan kenyataan. Ia menutup wajahnya karena malu.


Di rumah, Nok Du sudah bangun dan mengajarkan agar Aeng Doo memanggilnya dengan sebutan ‘unnie’. Aeng Doo berjanji akan memperlakukan Nok Du seperti kakak perempuannya selama berada di sana.


Aeng Doo memakan camilan dan berkata, “Orabeoni, kau punya makanan ini lagi?” Nok Du memarahinya karena Aeng Doo memanggilnya dengan sebutan untuk kakak laki-laki. “Hm… Sayang?”


Nok Du menjatuhkan dirinya dan menghentak-hentakkan kakinya ke udara. “Unnnie… unnie.. . unnie…” ujarnya. Aeng Doo bertanya kenapa ia harus melakukannya. “Aku sudah bilang kalau aku akan melakukan sesuatu di luar pulau.”


Aeng Doo: “Astaga, apa menjadi perempuan adalah hal yang ingin kau lakukan?” 
Nok Du: “Tidak. Aeng Doo… JIka orang di sini tahu kalau aku adalah seorang pria, maka aku akan disiksa dan dibunuh.”
Aeng Doo: “Itu tidak bisa terjadi! Kau tidak boleh mati!”


Nok Du meminta Aeng Doo tidak membuka penyamarannya dan meminta berlatih mengucapkan kata unnie. “Unnie,” kata Aeng Doo yang mengkhawatirkan keselamatan Nok Du.


Guru Hwang merasa apa yang dialami Nok Du sangat konyol. Ia bertanya apakah si atasan yang memberi perintah tinggal di desa penuh janda itu. “Ya. Itulah kenapa aku tidak bisa pulang sekarang,” kata Nok Du. Guru Hwang bilang Nok Du sampai menyamar menjadi wanita seperti itu, jadi Nok Du harus tetap tinggal di sana sampai bisa membunuh si atasan.


Nok Du lalu menanyakan keadaan ayah dan kakaknya. Guru Hwang heran karena Nok Du terus menanyakan hal yang sama. Ia bilang Hwang Tae sudah membaik dan ayahnya pun baik-baik saja. Ia juga sudah mengirim surat bahwa ia akan kembali dengan Nok Du dari Hanyang dan meminta mereka agar tidak khawatir.


Guru Hwang menebak kalau Dong Joo tahu bahwa Nok Du adalah seorang pria. “Kemarin, saat dia mengatakan ‘aku menyukaimu’, siapa yang dimaksud? Apakah itu untukmu atau pria yang satu lagi?” tanyanya.


Nok Du menanyakan pendapat Guru Hwang. “Jika itu kau, aku akan bilang dia punya selera yang buruk terhadap pria. Hahaha…” ejek Guru Hwang. Nok Du kesal dan bilang kalau Dong Joo sedang mabuk. “Benar, benar.”


Yool Moo tidak sengaja lewat dan melihat Nok Du. Ia menyentuh bibirnya dan melarikan diri saat Nok Du mendekatinya. “Tuan! Tuan Yool Moo! Tunggu sebentar,” panggilnya. Yool Moo berlari sekencang-kencangnya.


Wakil Kurator masih sedih karena Nok Du menyukai pria lain.


Wakil Kurator lalu melihat Nok Du yang tengah berlari mengejar Yool Moo. Ia ikut mengejar mereka, tapi kemudian berhenti.


”Kenapa?! Kenapa bukan aku?!” isaknya.


Sekelompok Gisaeng, termasuk Hwa Soo, juga melihat Nok Du berlari mengejar Yool Moo. “Dia pasti sudah gila,” kata seorang gisaeng.


“Astaga! Tuan! Tuan!” panggil Nok Du, hingga Yool Moo terjatu. Yool Moo bangun dan kembali melarikan diri.


Yool Moo terpeleset dan ia memilih untuk tidak menerima uluran tangan Nok Du yang ingin membantunya.


Yool Moo pun tercebur ke dalam kolam.


Yool Moo keluar dari kolam dan menggigil kedinginan. Ia mundur ketakutan saat melihat Nok Du menghampirinya. Ia ingin melarikan diri, tapi Nok Du menyudutkannya ke pohon. Yool Moo bertanya apakah Nok Du menyukainya sejak hari di mana ia membuat es serut kesemek.


Nok Du: “Apa?”
Yool Moo: “Atau karena okchundang? Atau… saat di atas kuda? Lupakan. Kau tahu dengan jelas siapa yang kucintai.”
Nok Du: “Cinta?”


“Ya. Bagiku, kau adalah teman dari wanita yang kucintai. Tidak, kau ibunya. Jadi, tolong perlakukan aku seperti itu,” kata Yool Moo. Nok Du bertanya apa yang Yool Moo sukai dari Dong Joo. “Apa? Hm.. aku menyukai semua tentangnya karena aku mencintainya.”


Nok Du melepaskan tangannya dan bertanya bagaimana Yool Moo bisa tahu kalau dirinya sedang jatuh cinta. “Bagaimana bisa kau tidak tahu? Kau akan merindukannya saat ia tidak ada dank au akan bahagia jika melihatnya. Bahkan hal yang sangat kecil akan membuatmu khawatir. Cinta itu seperti batuk. Kau tidak menahannya,” kata Yool Moo.


“Batuk?” ulang Nok Du dan Yool Moo mengiyakan. Ia terkejut sendiri saat Yool Moo membahas tentang ciuman mereka kemarin. Yool Moo bertanya apakah itu karena Nok Du tidak bisa menahan perasaannya. “Ah, ya. Ya, kurasa begitu.”


Yool Moo tidak percaya kalau Nok Du belum pernah jatuh cinta. “Apa? Jangan konyol. Aku sudah beberapa kali jatuh cinta,” kata Nok Du berbohong. Yool Moo ingin mengatakan sesuatu, tapi Nok Du menyelanya. “Aku akan menyerah terhadap Anda.”


Yool Moo terkejut dengan respon Nok Du. “Aku sungguh-sungguh minta maaf karena ketidaknyamanan yang kusebabkan. Jangan khawatir tentangku lagi,” kata Nok Du lalu menepuk bahu Yool Moo dan pergi.


Di jalan, Hwa Soo menabraknya dengan sengaja.


Seorang gisaeng lain bahkan menyiramkan air pada Nok Du. Nok Du tidak bisa melakukan apa-apa.


Malam harinya, Dong Joo duduk sendirian di atas jembatan. Nok Du melihatnya dan tersenyum sendiri. Ia pun duduk di sebelah Dong Joo. Ia bilang ia penasaran ke mana Dong Joo pergi sejak tadi.


Dong Joo heran karena Nok Du bisa tersenyum dengan santai. Nok Du malah bertanya apakah Dong Joo sudah makan. Dong Joo memukul bahunya karena ia merasa dipermalukan, tapi Nok Du malah bertanya apakah ia sudah makan. Nok Du bilang itu karena seharian ini ia belum melihat Dong Joo makan.


Dong Joo bertanya kenapa Nok Du mencium Yool Moo. Ia bilang seharusnya Nok Du membalikkan meja atau menutup mulut Aeng Doo saja, atau malah memukulnya. “Apa perjanjianmu dengan anak itu? Kenapa dia memanggilmu ‘sayang’?” tanyanya.


Nok Du bilang Aeng Doo adalah tetangganya dan Aeng Doo percaya bahwa ia bertunangan dengan Nok Du. Ia bilang itu tidak benar, tapi masalahnya rumit. “Bertunangan? Kau jatuh cinta dengan seorang wanita, padahal kau sudah bertunangan dengan gadis lain? Ah, kau luar biasa,” kata Dong Joo.


Nok Du menatapnya dan Dong Joo bertanya kenapa Nok Du melakukan itu. “Siapa dari kami yang kau sukai?” tanya Nok Du. Dong Joo terdiam. “Mereka bilang cinta tidak bisa ditahan. Entah aku yang bodoh atau kau yang berpengalaman, tapi aku tidak mengerti apa yang kau rasakan. Tapi, aku sangat penasaran.”


Dong Joo: “Dasar bodoh. Aku hanya sedang mengoceh karena mabuk.
Nok Du: “Aku sudah dengar tentang kebiasaan minummu?”
Dong Joo: “Lalu, menurutmu siapa? Apa kau sungguh berpikri bahwa aku akan menyukai pria yang sudah mempunyai kekasih, sudah bertunangan dengan gadis lain, dan hidup sebagai wanita?”


Huft.. Kau benar,” kata Nok Du kecewa.
Comments


EmoticonEmoticon