10/16/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 10 PART 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

Nok Du mengajaknya pulang, tapi Dong Joo menolak. Ia tidak berani memaksa dan pergi sendiri.


“Kenapa dia ingin tahu tentang hal itu?” gerutu Dong Joo setelah Nok Du pergi.


“Astaga!” Aeng Doo sangat terkejut saat terbangun dari tidurnya dan melihat Nok Du murung di sudut rumah.


“Benar. Mana mungkin itu aku. Aku tidak bertanya karena aku memiliki perasaaan untuknya. Aku hanya ingin tahu kenapa dia melakukan hal konyol itu,” kata Nok Du bicara sendiri.


Aeng Doo bertanya kenapa Nok Du bicara sendiri di pagi buta seperti itu.


“Apa? Pagi?” tanya Nok Du lalu melihat keluar. “Beraninya dia tidak pulang?! Beraninya dia!”


Dong Joo terbangun di tempat persembunyiannya dengan rambut berantakan dan punggung yang sakit. Ia sendiri heran kenapa ia melakukan itu.


Di rumah, Nok Du sudah menyiapkan makanan dan menunggu Dong Joo.


Ia mengintip dari pintu dan melihat Aeng Doo datang bersama Dong Joo. Ia buru-buru menutup pintunya.


Mereka makan dengan suasana canggung apalagi ketika sumpit mereka sama-sama ingin mengambil telur rebus. Sebagai gantinya, Aeng Doo yang mengambil telur itu dan akan memasukkannya ke mulutnya.


Tapi kemudian Aeng Doo meletakkan telur itu ke mangkok Nok Du. “Kuberikan telur itu padamu, sayaaang…” ujarnya. Dong Joo menyindir kalau mereka sedang dimabuk cinta. Nok Du mengingatkan apa yang akan terjadi kalau ia ketahuan. “Kau bilang kau akan mati.”


Dong Joo bertanya apakah Aeng Doo tahu apa itu pernikahan. “Tentu saja. Kita makan tiga kali sehari, bersenang-senang, dan menghabiskan waktu bersama seseorang,” kata Aeng Doo. Dong Joo membenarkan dan seharusnya Aeng Doo mencari pria yang tepat saat dewasa nanti, jangan bersama pria tidak berguna seperti Nok Du. “Dia cukup baik untukku.”


Nok Du mengangkat tangannya seolah akan memukul Dong Joo. Ia lalu mengusap kepala Aeng Doo dan menyuruhnya makan lagi. Dong Joo memilih pergi.


Malam harinya, Dong Joo masih belum kembali. Nok Du mendengar suara gemerincing. Ia lalu mengambil sesuatu dari lacinya dan mematikan lilin.


Beberapa wanita di Desa Janda tampak sibuk. Mereka mematikan semua penerangan.


Nok Du memakai pakaian serba hitam dan pergi ke kuil. Rupanya suara tadi adalah pertanda adanya pertemuan. Ia melihat tiga wanita berjaga di depan kuil.


Sementara itu di istana, para dayang menangis karena melihat Ratu mereka dibawa secara paksa. RAtu terkejut melihat dua bangkai yang ada di depan istananya.


“Aku tidak tahu apa-apa! Kutukan apa? Konspirasi apa? Lepaskan aku. Aku Ratu Dowager!” Kepala prajurit mengatakan bahwa Raja memberi perintah untuk mengawal Ratu ke Istana Barat. “Aku ingin bertemu putraku! Putrakuuu…!”


Tampak seorang pria menaiki kuda dengan tergesa-gesa.


Pangeran Yeongchang meminta bertemu dengan Raja, tapi tidak bisa. Tiga orang menteri melihat kejadian itu. Salah satunya merasa khawatir Menteri A akan menjadi target bagi mereka yang tidak menyukai keputusan ini.


“Keputusan selalu diikuti dengan konsekuensi. Akan kupastikan aku baik-baik saja. Jadi jangan khawatir,” kata Menteri A.


Pria penunggang kuda tadi datang ke kuil. Ia dicegat, tapi seseorang mengenalnya. Ia kemudian mengatakan sesuatu, sehingga bisa diizinkan masuk ke dalam kuil.

Tidak lama kemudian, pria itu keluar lagi dengan orang yang menutupi kepalanya. Beberapa orang lainnya juga keluar dan dikawal oleh Pasukan Muweol. Nok Du masih mengintai mereka.


Sementara itu, Dong Joo tidak bisa tidur karena punggungnya sakit. “Benar. Aku tidak perlu tidur di sini. Aku akan tidur di rumah,” ocehnya lalu pergi.


Nok Du mengikuti pria penunggang kuda tadi. Pria penunggang kuda ternyata menjemput Heo Yoon untuk memberitahu apa yang terjadi di istana. “Raja sengaja menunggu sampai aku pergi. Dia sudah menggangguku sejak insiden yang terjadi di pulai,” kata Heo Yoon.


“Pulau?” gumam Nok Du heran.


Heo Yoon menyuruh pria itu untuk meminjam kuda dari RUmah Gisaeng, sedangkan ia akan pergi lebih dulu. “Ya, Tuanku,” kata pria itu.


“Apakah dia yang berusaha membunuh kami? Tapi dia juga menyebutkan Raja. Kenapa Raja tertarik pada kami?” Nok Du bertanya-tanya di dalam hati.


Raja termangu di kamarnya. Ia mengingat kejadian 20 tahun silam di sebuah desa di Provinsi Gyeonggi.


“Kenapa kau harus lahir di tanggal 19 November? Kenapa harus harus ini?” batin Raja yang akan mencekik putranya sendiri.


Yoon Jeo datang dan sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Di dalam rumah, Ratu menangis tersedu-sedu.


Heo Yoon datang menghadap dan bertanya bagaimana tragedi itu bisa terjadi. “Tidak ada yang akan tahu apa yang terjadi malam ini. Jung Yoon Jeo membawa putraku yang sudah mati. Aku ingin kau menyingkirkan mereka berdua,” kata Raja.


Di bawah hujan, Yoon Jeo menggali tanah sambil menangis. Heo Yoon sudah ada mengawasinya.


Bayi yang ternyata masih hidup, tiba-tiba menangis. Yoon Jeo segera menggendongnya dan akan membawanya pergi, tapi Heo Yoon menghalanginya.


Heo Yoon mengangkat pedangnya dan Yoon Jeo pasang badan melindungi bayi itu.


“Pergilah. Aku akan melaporkan kau mengubur jasad bayi itu dan aku menebasmu, lalu kau terjatuh ke sungai. Hiduplah seolah kau tidak ada. Hiduplah seperti kau sudah mati,” kata Heo Yoon yang melanggar perintah rajanya.


Nok Du menemani ibunya yang sakit parah. Ia bilang ayahnya akan segera datang sambil membawa obat.


Sayangnya, saat hendak membeli obat, Yoon Jeo malah bertemu dengan Menteri A. Yoon Jeo berusaha mengelak dan menyebut pria itu salah orang.


Tapi, Menteri A sangat yakin dan menceritakannya pada Heo Yoon. Heo Yoon pura-pura tidak percaya dan mengingatkan bahwa Yoon Jeo sudah mati di medan perang.


Heo Yoon kemudian memanggil orang kepercayaannya. “Aku ingin kau mengunjungi Pasukan Muweol. Ada orang yang harus kita temukan dan bunuh. Raja akan mencarinya juga. Kita harus menemukannya lebih dulu bagaimanapun caraynya. Kau mengerti?” ujarnya.


“Ya, Tuanku,” kata pria itu dan bergegas pergi.


“Jika Raja menemukannya lebih dulu, maka itu akan menjadi akhir bagi rencana besar kami,” gumam Heo Yoon.
Comments


EmoticonEmoticon