10/16/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 10 PART 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

Banyak pertanyaan di benak Nok Du. “Siapa pria itu? Apa hubungan Raja dengan ini semua? Apa yang sebenarnya terjadi?”


Nok Du sampai di rumah dan melihat sepatu Dong Joo sudah ada di sana. Ia tersenyum senang dan bergegas masuk ke dalam.


Pria kepercayaan Heo Yoon tadi berlari menuju Rumah Gisaeng. Tapi ia terpeleset dan terperosok. Ia berpegangan pada sebuah dahan, sehingga tidak jauh terlalu jauh.


Ia terkejut saat melihat sepasang kaki, yang sepertinya sudah menjadi mayat, terbaring di pinggir sungai.


Aeng Doo tertidur nyenyak, tapi Dong Joo tidak bisa tidur. Nok Du yang baru saja datang menyarankan agar lilin dinyalakan agar Dong Joo merasa lebih baik, tapi Dong Joo menolak karena mereka harus mengikuti aturan.


Nok Du: “Kenapa kau sangat takut dengan kegelapan?”
Dong Joo: “Siapa bilang aku takut?”


Nok Du mengingat saat mereka dipenjara dulu. Saat itu, Dong Joo juga gelisah tidak bisa tidur.


Ingatan Dong Joo tentang kejadian di lubang dengan banyak mayat sangat mengganggunya.


Tidak sanggup melihat Dong Joo terus gelisah, Nok Du menyalakan lilinnya. Dong Joo bangun dan bertanya kenapa Nok Du melakukannya. Nok Du yakin penduduk desa tidak bisa melihat cahaya itu dari luar. “Berhenti mengigau dan tidurlah. Berisik,” kata Nok Du.


Dong Joo tampak terharu dengan sikap Nok Du. “Jangan bersikap baik padaku,” larang Dong Joo. Nok Du hafal benar kalau Dong Joo berpesan agar ia hanya bersikap baik pada orang yang disukai, yang dikhawatirkan dan yang terus dipikirkan. “Ya. Seperti kau dan kekasihmu.”


Nok Du: “Aku tidak bisa menyembunyikan ini lagi. Kau tahu? Aku tidak punya…”
Dong Joo: “Aku mau tidur.”


Nok Du gagal mengatakan yang mengatakan sebenarnya. Ia membiarkan Dong Joo tidur. Ia mengingat perkataan Yool Moo tentang cinta. “Aku dalam masalah besar,” gumamnya.


Keesokan paginya, Dong Joo bangun lebih dulu. “Aku memutuskan untuk tidak membuang waktu untuk hal yang tidak penting. Tidak. Aku tidak bisa,” katanya sambil menatap Nok Du yang masih tertidur. Dong Joo membenamkan wajahnya.


Aeng Doo mengisi waktunya bersama tiga wanita dari Pasukan Berbudi Luhur. Mereka menghias rambut mereka dengan tanaman. Nok Du keluar dari rumah dan bertanya ada acara apa.


“Sekarang Dano, tanggal 5 bulan ke-5. Dano… Dano.. Dano…,” kata Mal Nyeon sambil menari dan menyanyi. Nok Du bertanya apa yang orang lakukan di Hari Dano.


“Sama saja. Kami memetik tanaman obat mugwort dan motherwort. Kami mencuci rambut dengan air bunga iris. Dan di oasar, para pria dan wanita menggilaaa…Hahaha…” kata Bok Nyeo.


Nok Du: “Menggila?”
Soon Nyeo: “Ya, kau tahu apa itu. Mata mereka bertemu di ayunan dan mereka berbagi perasaan. Tapi… itu tidak ada hubungannya dengan kita.”


“Walaupun begitu…. Dano… Dano… Dano..” mereka bernyanyi dan bergembira. Nok Du tersenyum sendiri.


Nok Du menemui Dong Joo dan mengambil barang bawaannya. “Hari ini Dano,” kata Nok Du. Dong Joo bilang ia tahu itu. “Ayo kita pergi ke pasar dan naik ayunan malam ini. Ada yang ingin kukatakan.”


Dong Joo bilang ia tidak mau mendengar appaun. Nok Du terlihat kecewa dan menanyakan alasannya. “Mendengarnya tidak akan berguna,” kata Dong Joo. Nok Du bertanya apakah Dong Joo tahu apa yang ingin ia katakan. “Ya, terlihat jelas.”


“Kau tidak ingin mendengarku, apakah karena Cha Yool Moo?” tanya Nok Du. Dong Joo mengangguk. Ia mengambil kembali barang bawaannya dan meninggalkan Nok Du.


Mereka sama-sama bersedih.


Sementara itu, Yool Moo sedang menggoreng daging dengan tepung di dapur.


Seorang pria datang dan melaporkan sesuatu sambil berbisik. Yool Moo mengangguk mengerti dan meminta pria itu membuka mulutnya.


Pria itu agak terkejut tapi kemudian menerima suapan Yool Moo. Ia lalu pamit pergi.


Aeng Doo masuk ke dapur dan membuka mulutnya. “Aaaa...” pintanya. Yool Moo memandanganinya. “Aaaa…” Yool Moo tersenyum dan menyuapinya. Ia berpesan agar Aeng Doo mengunyah pelan-pelan.


Aeng Doo tersenyum senang. Entah ia menyukai Yool Moo atau menyukai makanannya [hahaha…]


Aeng Doo terus membuka mulutnya hingga irisan daging terakhir. Yool Moo bertanya apakah Aeng Doo masih bisa makan. “Aku sama sekali belum kenyang,” kata Aeng Doo.


Yool Moo akan memberikan suapan terakhir, tapi Aeng Doo bertanya apakah itu bisa dibungkus karena kakaknya juga menyukai makanan itu. “Orabeoni?” tanya Yool Moo.


Aeng Doo: “Ya, Orab… Unnie!”
Yool Moo: “Orab-unnie?”
Aeng Doo: “Maksudku.. unnie.”


Aeng Doo kemudian memakan sendiri potongan terakhir dan tidak jadi dibungkus. Yool Moo hanya tersenyum tipis.


Di tempat pembuatan minuman, Nok Du terus saja minum. Ketiga wanita itu berpikir kalau Nok Du sedang gundah karena tidak diterima menjadi Pasukan Muweol, padahal itu karena Dong Joo. Jung Sook yakin masih ada kesempatan bagi Nok Du.


Nok Du mulai mengoceh. Ia meletakkan mangkok minumannya dan berdiri. Yeol Boon lalu mengajak mereka mencuci rambut mereka dengan air bunga iris. “Tidak. Lebih baik aku pulang,” tolak Nok Du. Jung Sook membujuknya dan bilang nanti tidak akan ada orang di desa karena semuanya akan pergi ke gunung.


Kim Ssook: “Jalanlah dengan lurus.”
Nok Du: “Aku berjalan dengan lurus.”
Yeol Boon: “Astaga. Ada apa dengannya?”


“Kalian mau lihat? Lihat. Aku berjalan dengan lurus,” kata Nok Du dengan langkah oleng karena mabuk. Ia akhirnya terjatuh ke parit. “Padahal tadi aku berjalan lurus.”


Di rumah, Dong Joo sedang berbaring bersama anak ayam peliharaannya. “Apa yang terjadi padamu?” tanyanya saat melihat Nok Du pulang dalam keadaan kotor. Nok Du bilang ia terjatuh dan akan pergi mandi.


Setelah membersihkan dirinya, Nok Du melamun di dapur. Ia memikirkan Dong Joo. Ia menyadari bahwa Dong Joo selalu bersikap biasa saja, bahkan terkesan mengabaikan Yool Moo.


Yool Moo mengantarkan Aeng Doo sampai pintu luar desa. Ia bilang ia tidak bisa masuk karena ia seorang pria. Aeng Doo heran kenapa desa itu sangat kejam pada pria. “Karena itulah aku tidak bisa sering bertemu dengan ayahku. Dan orabeoni menjadi unnie,” kata Aeng Doo murung.


Yool Moo terkejut dan tidak jadi membuka pintu.


Aeng Doo menyadari bahwa ia sudah salah bicara. Yool Moo masih terpaku.


Dengan bertelanjang dada, Nok Du pergi ke kamar dan berkata, “Aku tidak menyukai siapapun sebelumnya.” Dong Joo terkejut dan bertanya tentang Nona Kim, tapi kemudian ia menyadari sesuatu.


“Kau berbohong padaku?” tanya Dong Joo. Nok Du mengiyakan. “Kenapa kau mengatakannya padaku sekarang?”


Nok Du: “Aku menyukaimu. Itulah alasannya.”
Dong Joo: “Aku sudah mengatakannya dengan jelas. Aku…”
Nok Du: “Aku tahu kau tidak menyukai si brengsek itu.”


Nok Du bilang ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya dan Dong Joo tidak pernah mencari perhatian di depan Yool Moo. “Dia mungkin melihatmu, tapi kau tidak. Karena kau melihatku. Bukankah itu benar?” lanjutnya. Dong Joo bilang ia tidak mau menjawab. Ia heran Nok Du terus bertanya tentang hal yang sama dan menyebut Nok Du tidak tahu apa-apa.


“Benar. Aku tidak tahu apa-apa. Jadi… “ kata Nok Du lalu mencium bibir Dong Joo. Dong Joo tidak mengelak. “Jadi, jawab aku.” Ia menyentuh Dong Joo dan mendekatkan wajahnya lagi. Dong Joo menutup matanya.


Yool Moo membuka pintu tanpa permisi.


Nok Du dan Dong Joo sangat terkejut. Nok Du lebih panik karena ia tidak memakai baju dan terlihat kalau ia adalah seorang pria. Yool Moo tampak marah.


Comments


EmoticonEmoticon