10/22/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 11 PART 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

Dengan perasaan was-was, Yool Moo masuk tanpa izin ke Desa Janda dan menuju rumah Dong Joo.


Ia melihat ada sepasang sepatu wanita di depan rumah gadis yang ia cintai itu.


Di dalam rumah itu, Nok Du baru saja mencium Dong Joo dan akan menciumnya lagi.


Tapi, Yool Moo membuka pintu dengan tiba-tiba dan melihat mereka berdua. Nok Du sangat panik karena ia tidak memakai baju wanitanya. Yool Moo terlihat menahan marah.


Dong Joo menendang Nok Du dan bilang kalau ini hanya kesalahpahaman. “Keluar,” kata Yool Moo. Nok Du ingin menjelaskan, tapi tidak dipedulikan. “Keluar dari ruangan ini cepat!” 


Saat mendengar suara para janda yang datang mendekat, Nok Du dan Dong Joo menarik Yool Moo ke dalam rumah. Para janda sempat melihat pintu tertutup. “Nyonya Kim,” panggil Soon Nyeo.


Nok Du menjawab panggilan itu dengan suara wanita dan bilang kalau ia sedang bersiap tidur. Soon Nyeo memintanya keluar sebentar.


“Apa dia gila?!” kata Yool Moo saat melihat Nok Du akan memakai pakaian wanita lagi. Dong Joo membekap mulut Yool Moo agar tidak bicara lagi. Yool Moo masih berusaha bicara hingga Dong Joo memukul mulutnya.


Para janda yang tergabung dalam Pasukan Berbudi Luhur itu bilang akan masuk ke dalam rumah. “Aku akan keluar sekarang,” kata Nok Du sambil merapikan rambutnya. Yool Moo masih berusaha melepaskan diri dari Dong Joo.

Mal Nyeon bertanya apakah Dong Joo sudah pulang. Nok Du bilang Dong Joo sudah pulang dan sekarang sedang tidur. Bok Nyeo memberikan bunga iris untukNok Du pakai keramas besok bersama Dong Joo. Nok Du bilang ia akan melakukannya.


“Pria tidak ada artinya . Ini tidak berguna, Nyonya Kim,” kata Soon Nyeo sambil cegukan. Nok Du meminta maaf dan menyuruh mereka beristirahat karena pasti sangat lelah. Mal Nyeon bilang mereka baik-baik saja. Nok Du mendorong mereka pergi dengan alasan Dong Joo sedang tidur.


Nok Du menarik napas lega karena ketiga janda itu sudah pergi. Sekarang, ia tinggal mengkhawatirkan pria yang ada di dalam rumahnya.


“Itukah kenapa kau membantunya menyembunyikan fakta bahwa dia seorang pria?” tanya Yool Moo sambil merapikan topinya. Dong Joo mengiyakan dan meminta Yool Moo tidak mengatakan pada siapapun karena Nok Du akan segera pergi.


Yool Moo: “Lalu, bagaimana dengan… Apa yang aku lihat…”
Dong Joo: “Itu kecelakaan. Dia terpeleset.”
Yool Moo: “Kau ingin aku mempercayai itu? Aku percaya padamu, tapi si brengsek itu..”


“Itu bukan kecelakaan,” kata Nok Du. Dong Joo menyuruhnya diam. Dong Joo bilang ia tahu kalau Nok Du itu ceroboh, bodoh, dan memalukan, tapi Nok Du tidak jahat, jadi ia meminta Yool Moo tidak khawatir. Yool Moo bertanya apa Dong Joo melindungi Nok Du.


“Jika orang tahu dia seorang pria, aku juga akan dihukum karena membantunya. Aku melindungi diriku sendiri. Jadi, pura-puralah tidak melihat apapun, dan pergi. Kalau kau di sini lebih lama, akan berbahaya,” kata Dong Joo.


Yool Moo bilang ia membenci Dong Joo karena Dong Joo tahu ia akan menuruti keinginannya. Yool Moo lalu menarik kerah Nok Du dan mengajaknya pergi. Ia tidak mau Nok Du bermalam dengan Dong Joo lagi.


Dong Joo melerai mereka dan bilang kalau ia akan tidur di Rumah Gisaeng. “Pakai ini. Cepat,” kata Dong Joo sambil memberikan jaket wanita pada Yool Moo. Ia kemudian pergi bersama Yool Moo.


“Huft…” kata Nok Du.


Dong Joo yang sudah berada di Rumah Gisaeng memikirkan perkataan Nok Du yang bilang tidak memiliki kekasih. Ia menyentuh bibirnya dan mengingat kejadian tadi.


“Ah, terserahlah,” ujarnya lalu memiringkan tubuhnya. Hwa Soo terbangun dan memintanya mematikan lilin. Dong Joo pun mematikan lilinya.


Dong Joo tidak tidur, tetapi malah pergi ke pintu luar Desa Janda. Ia berjalan mondar-mandir karena masih bingung mau masuk atau tidak.


Dong Joo terkejut saat melihat Nok Du sedang memperhatikannya dari balik dinding. Nok Du tersenyum tipis. Mereka lalu duduk bersama di pendopo kecil.


Nok Du: “Itu…”
Dong Joo: “Jika kau menyebutkan tentang ciuman, aku akan membunuhmu.”
Nok Du: “Yang mana…”
Dong Joo: “Berhenti menanyakan siapa yang kusukai.”


Nok Du bertanya kenapa Dong Joo tidak menanyakan apapun padanya padahal ia sudha bilang kalau Nyonya Kim dari Hanyang itu bukanlah kekasihnya. Dong Joo bilang ia tidak mau tahu, karena ia tidak tertarik pada Nok Du.


“Jangan… Jangan bohong,” kata Nok Du. Dengan santainya, Dong Joo bilang kalau ia tidak berbohong. “Hei, apa kau marah karena aku menciummu tanpa meminta izinmu?” Dong Joo bilang itu bukan masalah besar karena satu ciuman tidak berarti apa-apa baginya. “Bagaimana kau bisa bilang begitu? Aku merasakannya. Kau juga merasakan hal yang sama.”


Dong Joo menebak kalau Nok Du tidak pernah berkencan. Nok Du tersinggung, jadi ia berbohong bahwa ia membuat banyak wanita di kampung halamannya jatuh cinta padanya. Dong Joo tidak percaya.


Dong Joo bilang karena kurang pengalaman, Nok Du telah mengejar orang yang salah. Ia meminta Nok Du agar tidak mendekatinya lagi. “Aku datang untuk mengatakan itu,” kata Dong Joo lalu pergi.


Nok Du merasa sedih.


Pangeran Yeongcheon yang sedang digendong kasim, menangis dan memohon agar bisa menemui ibunya. “Jika aku keluar dari pintu itu, aku tidak akan bisa menemuinya lagi,” isaknya. Semua pejabat membungkuk memberi hormat saat pangeran melewati mereka. “Tolong izinkan aku menemuinya. Ibu… Ibu…”


Heo Yoon ikut merasa sedih saat melihat pangeran dimasukkan ke tandu secara paksa. “Yang Mulia… Yang Mulia…” isak dayangnya yang tidak tega melihat pangerannya seperti itu.


Raja bertanya apakah pangeran menangis dengan kencang. “Dia terlihat berani setelah meninggalkan gerbang,” kata Heo Yoon.


Raja: “Ratapan adikku sangat keras sampai kau bisa mendengarnya melewati dinding istana. Aku penasaran apakah mereka bersikap seperti itu saat aku dipermalukan di masa lalu.”
Heo Yoon: “Aku seperti itu, Yang Mulai.”
Raja: “Ya, kau satu-satunya yang melakukan itu. Bahkan ayahku menolak mengakuiku. Itulah kenapa ia meninggalkan wasiat yang sangat kejam.”


Heo Yoon memberanikan diri melihat rajanya. “Jika dulu kau tidak segera menyingkirkan masalahku, aku mungkin tidak akan menjadi raja. Itulah kenapa… aku mempercayaimu. Aku hanya percaya padamu. Kau tau itu, Yoon?” kata Raja.


Heo Yoon sangat terharu dan berterima kasih.


“Inikah wasiat dari mendiang Raja Rumor itu ternyata benar,” pikir Heo Yoon sambil membuka sebuah kotak. Ia mengingat kejadian 6 tahun lalu.


Heo Yoon: “Kenapa kau tidak segera membuat langkahmu?”
Pria: “Yang Mulia tiba-tiba menjadi Raja dan Pangran Yeongchang masih kecil. AKu mencari waktu yang tepat. Bagaimanapun juga, kau lebih cepat.”
Heo Yoon: “Kau akan dihukum karena konspirasi ini.”


“Aku bersumpah suatu hari nanti, kau akan menyesal karena mengambil perintah kerajaan ini dariku,” kata pria itu.


Pria itu kemudian dibunuh beserta seluruh anggota keluarganya. Heo Yoon-lah yang memberikan perintah.


Heo Yoon akan membakar wasiat Raja itu, tapi ia membatalkan niatnya.


Ia berjalan sendirian dan saat akan masuk ke dalam rumahnya, seseorang menyentuh bahunya dari belakang!
Comments


EmoticonEmoticon