10/22/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 11 PART 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

“Kau..” kata Heo Yoon yang sangat terkejut karena melihat Yoon Jeo menemuinya. 


“Anak itu putra Yang Mulia,” kata Yoon Jeo saat mereka sudah berada di dalam rumah. “Dia tumbuh menjadi pria yang cerdas dan cemerlang. Karena Yang Mulia sudah menjadi Raja, anak itu harus kembali, bukan?” Yoon Jeo tersenyum senang.


“Aku tidak bisa melakukan itu,” kata Heo Yoon. Yoon jeo bilang Raja berada di posisi tertinggi, jadi tidak ada yang perlu ditakutkan. Heo Yoon mengeluarkan wasiat mendiang Raja sebelumnya.

Yoon Jeo sangat terkejut karena wasiat itu berisi perintah agar Putra Mahkota diturunkan dari tahta dan mengangkat Pangeran Yeongchang sebagai raja berikutnya. Ia bertanya apa maksudnya itu.


“Aku baru saja membunuh orang yang menyembunyikan wasiat itu. Bagaimana menurutmu? Apa kau sungguh berpikir kalau tidak ada hal yang ia khawatirkan lagi? Kita tidak tahu kenapa mendiang Raja membuat keputusan itu. Bagaimana jika ini tidak berakhir dengan kenaikan tahta itu? Aku, kau dan anak itu… akan mati,” kata Heo Yoon. 


Heo Yoon merebut wasiat itu dan menyuruh Yoon Jeo menghentikan impiannya dan pergi. “Jika kau muncul lagi di hadapanku, aku tidak akan bisa memberi ampun,” ancamnya.


6 tahun berlalu dan Heo Yoon menatap wasiat itu lagi. “Tuan..” panggil pengawal kepercayaannya.


“Yoon Jeo menghilang?!” tanya Heo Yoon. Pengawalnya juga melaporkan kalau wanita Pasukan Muweol yang mengawasi Yoon Jeo telah tewas. “Kau harus menemukannya, bagaimanapun caranya!” Mereka berhenti di depan gudang.


Heo Yoon: “Kau membawa jasad wanita Pasukan Muweol itu?”
Pengawal: “Tidak, Tuan. Jasad yang di dalam ditemukan di Desa Janda.”


Prajurit membuka tirai jerami yang menutupi jasad wanita itu. [Ini Deul Re bukan siiih?] Prajurit menduga kalau Deul Re disiksa oleh pria yang menyelinap masuk ke Desa Janda, lalu melarikan diri ke Hanyang. Prajurit khawatir jika Deul Re membocorkan sesuatu.


“Temukan anak laki-laki itu dan siapkan Pasukan Muweol. Kurasa kita harus menyingkirkan pemerintahan local dan membawa Pangeran Yeongchang,” kata Heo Yoon.


Prajurit itu menaiki kudanya dan siap melaksanakan perintah tuannya. Tanpa ia sadari, Yoon Jeo ada di sana sedang menuju rumah Heo Yoon.


Nok Du memberitahu Guru Hwang bahwa ia hampir mengetahui siapa orang yang memberikan perintah untuk menyerang keluarganya. “Bunuh saja dia,” kata Guru Hwang. Nok Du bilang ia tidak melakukan itu karena masalahnya lebih rumit dari yang ia kira.


“Dia menyebutkan tentang pulau, jadi itu pasti dia. Tapi, aku yakin ada orang lain lagi yang terlibat,” duga Nok Du. Guru Hwang menyuruh Nok Du membunuh orang itu juga. “Sang Raja.”


“Apa?” Guru Hwang terkejut hingga terus mengedip-ngedipkan matanya tidak percaya. “Sang Raja? Apa kau bicara tentang Yang Mulia?” Nok Du mengiyakan. “Hei! Aku mengerti sangat sulit untuk berpakaian seperti itu, tapi yang kau katakan itu… menyakitiku.”


“Ini memang tidak masuk akal. Tapi jika ayahku memang mengenal Raja… Jika ia seorang bangsawan… jika dia bersembunyi di pulau karena kejahatannya… kalau begitu mungkin aku tidak seharusnya menggali lebih dalam masalah ini,” kata Nok Du.


“Kejahatan? Konspirasi? Hah?!” Guru Hwang langsung menutup mulutnya. Nok Du tidak percaya jika ayahnya terlibat konspirasi. “Tidak,” kata Guru Hwang tanpa suara karena takut ada yang mendengar.


“Tidak mungkin… ibuku… jelas mengatakan bahwa ini semua karena aku,” kata Nok Du sedih, Guru Hwang bilang ini hanya kesalahpahaman karena Yoon Jeo adalah pria yang sangat baik, jadi tidak mungkin melakukan konspirasi.


Nok Du pikir ia tidak boleh tergesa-gesa dan harus menyelidiki lebih dalam lagi. Guru Hwang setuju. “Tapi ngomong-ngomong, matamu sebab. Sepertinya kau habis menangis di sungai karena ditolak wanita,” kata Guru Hwang.


Nok Du menyentuh kantung matanya dan menyanggah ucapan Guru Hwang. Guru Hwang ingin melihat kantung mata Nok Du dengan lebih jelas. “Di mana Aeng Doo? Aku tidak melihatnya sejak kemarin,” kata Nok Du mengalihkan pembicaraan.


“Aeng Doo? Dia terus menangi dan mengatakan hal yang tidak aku mengerti,” kata Guru Hwang bingung.


“Unnie… Dia adalah unnie. Unnie…” isak Aeng Doo sambil duduk di bawah pohon. Yool Moo datang menghampirinya. “Dia bukan orabeoni-ku. Dia unnie-ku. Kemarin aku…”


Yool Moo menyuruhnya diam. Aeng Doo bertanya apakah Nok Do ketahuan, sehingga digulung dan mati. Ia menyundul perut Yool Moo dan meminta Yool Moo menggulungnya juga. “Benarkah? Ayo,” kata Yool Moo lalu menggendong Aeng Doo.


“Astaga! Ayah! Ayah, aku akan mati! Ayah! Ayaaaaah!” teriak Aeng Doo.


Nok Du mencari Aeng Doo, tapi belum berhasil menemukannya. Ia malah bertemu Dong Joo.


Dong Joo keluar dari rumah dan akan pergi, tapi Nok Du menghalanginya. “Kau mau ke mana?” tanya Nok Du. Dong Joo bilang ia akan bekerja. “Kau akan mencuci baju? Kurasa tidak.” Nok Du tidak melihat Dong Joo membawa pakaian kotor.


Dong Joo bilang ia akan pergi ke Rumah Gisaeng karena mulai ini akan bekerja di dapur. Ia berjalan melewati Nok Du.


“Ayaaah…” Aeng Doo masih terus berteriak. Ia baru berhenti berteriak saat mencium bau makanan. Ia mulai mengendus-endus. Yool Moo lalu menurunkan Aeng Doo dan melepaskan topinya.


Aeng Doo: “Kau tidak menggulungku di dalam tikar jerami?”
Yool Moo: “Jika kau mati, siapa yang akan memakan masakanku?”
Aeng Doo: “Lalu di mana ora… unnie-ku?”


Yool Moo bilang karena ada 2 perempuan yang melindungi Nok Du, ia memutuskan untuk menyelamatkan nyawa Nok Du sekarang. “Tapi sebagai gantinya, bisakah kau membantuku?” tanya Yool Moo.


Aeng Doo sangat senang saat melihat tumpukan daging di hadapannya. “Pertama, ayo kita penuhi perut kita. Kemudian, kita akan bicara,” kata Yool Moo.


Di mata Aeng Doo, Yool Moo tampak bersinar, apalagi ketika Yool Moo mulai menyisingkan lengan bajunya dan mulai memasak. “Waaah… Waah…”


Nok Du mengejar Dong Joo. “Apa yang bisa kau lakukan di dapur? Hei, kau tidak tahu kenapa dia menyuruhmu ke dapur? Kau sangat naif,” kata Nok Du.


Dong Joo: “Dia jelas ingin memisahkan kita.”
Nok Du: “Kurasa kau tahu. Itulah kenapa kau tidak boleh ke sana.”
Dong Joo: “Aku harus membayar hutangku padamu.”


Nok Du bilang akan memberikan diskon, jadi Dong Joo tidak perlu bekerja di dapur Rumah Gisaeng. Dong Joo mengingatkan agar Nok Du tidak mendekatinya. Nok Du cemberut.


“Tidak mau. Aku akan terus melekat padamu. Kau bilang kau tidak menyukaiku. Baiklah, aku mengerti. Tapi, aku akan membuatmu menyukaiku. Jadi jangan menemuinya,” kata Nok Du.


Dong Joo bertanya bagaimana Nok Du akan melakukan itu. “Itu…” Karena Nok Du tidak bisa menjawab, Dong Joo melanjutkan langkahnya menuju Rumah Gisaeng.


Nok Du berlari ke arah Dong Joo, lalu menggendongnya dan membawanya kembali.


Sayangnya, Dong Joo meronta dan berhasil melepaskan diri. Wajah Nok Du bahkan sampai terluka karenanya. Dong Joo pergi dan Nok Du masih mengikutinya.


Dong Joo berbalik dan menyuruh Nok Du pergi. Ia bilang Nok Du membuatnya sangat tidak nyaman. “Pergilah. Cepat,” suruh Dong Joo.


Nok Du terpaksa menyerah.


1 komentar


EmoticonEmoticon