10/23/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 11 PART 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

Dong Joo sudah ada di dapur Rumah Gisaeng. Yool Moo yang sudah ada di sana lebih dulu mengatakan bahwa ia akan melakukan apa yang Dong Joo minta demi kebaikan Dong Joo. Dong Joo bisa menganggapnya sudah melupakan kejadian kemarin, tapi ia melarang Dong Joo tidur di kamar yang sama dengan Nok Du.


“Kau pikir aku orang seperti apa? Kami juga tinggal dengan seorang gadis kecil. Jangan khawatir. Tidak akan terjadi apa-apa,” kata Dong Joo. Yool Moo mengerti, tapi ia punya pertanyaan.


“Kau bilang kau menyukai seseorang. Aku mendengarnya dengan jelas. Katakan padaku. Apakah dia adalah orang yang ada di pikiranmu saat kau mengatakan itu?” tanya Yool Moo.


Dong Joo terkejut sampai berhenti membentuk kuenya. “Tentu bukan. Aku juga punya standar, kau tahu,” sangkal Dong Joo setelah sempat terdiam sesaat. Yool Moo sepakat bahwa Dong Joo tidak mungkin menyukai pria seperti Nok Du.


“Kalau begitu… apa yang kau maksud adalah aku?” tanya Yool Moo dengan terbata-bata. Dong Joo menyangkal dengan keras dan bilang kalau ia saat itu sedang mabuk dan bicara sembarangan. Yool Moo kecewa. “Kau tidak perlu menyangkal sekeras itu.”


Nok Du sudah menyumpal hidungnya yang berdarah tadi. Ia mengintip ke dapur dari balik dinding. “Si brengsek itu. Aku akan..”ucapan Nok Du terhenti karena ia terkejut dengan kemunculan Aeng Doo yang tiba-tiba.


“Unnie, apa yang kau lakukan? Apa kau baru saja mengumpat Yool Moo-ku tersayang?” tegur Aeng Doo. Nok Du terkejut mendengarnya. “Ini terjadi begitu saja. Aku tidak bisa menahannya.” Nok Du bertanya apa yang sedang Aeng Doo bicarakan. “Aku sudah memikrikankannya. Ketika menikah, kau harus hidup bersama orang itu sepanjang hidupmu. Dan aku menyimpulkan… dia jauh lebih baik darimu. Maafkan aku.”


Nok Du kecewa mendengarnya. “Tubuhnya bagus dan berhati hangat. Dia selalu tersenyum padaku. Dong Joo unnie mengatakan bahwa aku harus menemukan pria yang hebat, aku rasa dialah orangnya,” tambah Aeng Doo.


“Astaga,” keluh Nok Du lalu menghembuskan napas lewat hidung kirinya hingga kapasnya terlepas. Ia pergi dengan kesal.


Yeon Geun, si Wakil Kurator, sedang menjamu Guru Hwang. Ia menuangkan minuman untuknya dan mereka tertawa bersama. “Jadi, kau bisa dibilang ayahnya Nyonya Kim?” tanya Yeon Geun.


Guru Hwang: “Ya, tentu saja. Aku yang membesarkan anak itu.”
Yeon Geun: “Astaga, ayah mertuaku! Maukah kau membantuku? Aku akan melakukan apapun untuk memenangkan hatinya.”


Guru Hwang meminta Yeon Geun melepaskan tangannya dan bilang kalau ia adalah seorang professional untuk urusan memenangkan hati wanita. Ia akan memberitahu apa yang harus Yeon Geun lakukan untuk menaklukkan hati wanita.


Nok Du datang dengan tiba-tiba dan menanyakan bagaimana caranya. “Astaga! Astaga, ini memalukan,” kata Yeon Geun.


Secara diam-diam, Nok Du mengikuti Dong Joo ke sungai. Ia melihat Dong Joo berjalan dengan tertarih karena membawa barang berat dan jalannya yang berbatu. Ia lalu mengingat nasehat Guru Hwang.


“Kau harus menjadi acuh tak acuh dan baik dalam waktu yang bersamaan. Tapi ini rahasia. Biar kuberitahu apa maksudnya. Inilah yang harus kau katakan sebelum menolongnya melakukan sesuatu. ‘Hanya ini yang bisa kau lakukan?! Kau harus bunuh diri jika tidak bisa melakukan ini!’ Lalu, kau menolongnya karena kau tidak punya pilihan lain,” kata Guru Hwang.


Nok Du mengambil barang bawaan Dong Joo dan menegurnya, “Bunuh dirimu sendiri. Kau tidak becus melakukan ini.” Dong Joo terkejut mendengarnya.


Nok Du akan mencuci alat makan itu, tapi Dong Joo memaksa akan melakukannya sendiri. Nok Du malah mendorong Dong Joo. “Aku membantumu karena aku harus melakukannya,” kata Nok Du. Dong Joo marah dan memukul kepala Nok Du dengan gayung.


Dong Joo: “Siapa yang mengajarimu?”
Nok Du: “Apa maksudmu? Kau akan mengingat ini sebelum tidur. Aku bersikap acuh tak acuh, bukannya baik. Itu membuat ketergantungan.”


Nok Du merebut kembali gayungnya dan mulai mencuci. Dong Joo duduk diam sambil menatap Nok Du. “Kenapa kau menatapku seperti itu kalau kau tidak menyukaiku?” goda Nok Du. Dong Joo mengelak dan balik bertanya bagaimana ia melihat Nok Du.


Nok Du menyentuh dagu Dong Joo dan mengarahkan pandangan Dong Joo kepadanya. “Seperti ini,” kata Nok Du. Dong Joo melepaskan tangan Nok Du dan mengelap dagunya. “Kau mau ke mana?” tanya Nok Du saat melihat Dong Joo pergi.


“Bukan urusanmu!” kata Dong Joo. Nok Du mengingatkan agar Dong Joo tidak pulang terlambat dan makan malam di rumah nanti, tapi Dong Joo tidak menjawab. Nok Du menggerutu kalau Dong Joo tidak pernah mendengarkan ibunya.


Di istana, Menteri A mengutarakan keinginannya kepada Raja untuk memanfaatkan Asisten Kapten Pulau Ganghwa. Raja bertanya apa rencana itu aman karena banyak yang menyayangi Pangeran Yeongchang. Menteri A bilang ia akan melakukan yang terbaik dan tidak memberi ampun.


Menteri A meminta Raja tidak khawatir dan akan lebih baik jika orang-orang itu sendiri yang membuat kekacauan. “Ini akan menjadi kesempatan bagiku untuk mengetahui siapa yang ternyata mengkhianatiku,” kata Raja.


Dong Joo berada di tempat rahasianya. Ia duduk sendirian menatap sebuah kotak kayu dengan sedih. Ia lalu membaca kotak kayu itu pergi.


Di tempat pembuatan minuman, Kim Ssook sudah mendapat perintah baru. “Lee In Woo, Pejabat Lokal. Dialah yang merencanakan pengasingan. Ayahnya akan merayakan ulang tahun ke-60 besok. Aku dengar mereka hanya mengundang anggota keluarga,” kata Kim Ssook.


Yeon Boon menduga kalau Pejabat Lee takut kalau pembunuh akan datang dan membunuhnya kalau mengundang banyak orang. “Dia tidak akan pernah tahu bahwa para wanita yang bekerja disanalah yang akan menjadi pembunuhnyanya,” kata Jung Sook.


“Tujuh dari kita akan pergi ke Hanyang, termasuk Jung Sook dan aku. Setelah ini selesai, aku akan mengecek apakah ada yang mendengar tentang Deul Re,” kata Kim Ssook.


Yeon Boon bilang ia dan beberapa yang lain akan pergi ke Pulau Ganghwa. Kim Ssook meminta mereka menyampaikan pesan yang lain terhadap rencana kedatangan ini. “Astaga, semua orang di Pasukan Muweol akan pergi,” kata Yeon Boon.


Nok Du sedang mengomel sendiri karena Aeng Doo merasa Yool Moo lebih baik dari dirinya hanya karena makanan. Ia lalu melihat Kim Ssook dan yang lainnya.


Melihat tas yang mereka bawa, Nok Du menebak kalau mereka akan bepergian jauh. Yeon Boon bilang mereka akan pergi ke Hanyang karena ada pesta ulang tahun ke-60 yang sangat besar.


“Kami berencana membuat keributan di sana,” kata Jung Sook bangga, tapi Yeon Boon memelototinya. Nok Du bilang ia bisa ikut untuk membantu. Kim Ssook melarang karena tugas ini sangat penting dan berbahaya. “Di Hanyang sedang agak kacau. Kau tahu apa yang Yang Mulia lakukan? Di Pulau Ganghwa…”


Yeon Boon memukul mulut Jung Sook agar berhenti bicara. Jung Sook mengerti dan tidak akan bicara lagi.


Nok Du: “Apa yang Yang Mulia lakukan?”
Kim Ssook: “Bukan urusanmu. Jangan membuat masalah.”


Kim Ssook berpesan sambil menepuk bahu Nok Du. Jung Sook melewatinya smabil menepuk bahunya, dan Yeon Boon pun melakukan hal yang sama. “Selamat tinggal,” kata Nok Du.


“Pula Ganghwa? Yang Mulia?” kata Nok Du di dalam hati.


Pengawal  Heo Yoon melaporkan bahwa ia mendapat informasi kalau Pasukan Muweol sudah sampai. Heo Yoon bertanya apakah pengawal yakin kalau semua sudah siap. “Ya. Rumah Pejabat Lokal akan penuh selama pesta, jadi tidak akan sulit bagi mereka untuk berbaur,” kata Pengawal. Heo Yoon mengerti dan pengawal pun pergi.


Yoon Jeo yang sejak tadi bersembunyi, akhirnya keluar dan menghunuskan pedang ke leher Heo Yoon. “Sepertinya kau merencanakan sesuatu lagi,” kata Yoon Jeo. Perlahan Heo Yoon menoleh. “Lama tidak bertemu.”


“Kau…” ucap Heo Yoon terkejut.
Comments


EmoticonEmoticon