10/24/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 12 PART 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

Pengawal Heo Yoon sangat terkejut saat melihat Raja datang. Ia langsung memberi hormat. “sudah kubilang agar kau memanggilku ‘Tuan’ saat aku di luar istana. Apa dia di dalam?” kata Raja.


Pengawal mengatakan bahwa Heo Yoon sedang beristirahat. “Begitukah? Kalau begitu, aku akan mengejutkannya mala mini,” kata Raja sambil melangkah masuk.


Yoon Jeo bertanya apa yang Heo Yoon perbuat pada kedua putranya. “AKulah yang harusnya bertanya. Putramu… Bukan. Di mana putra Raja?” tanya Heo Yoon. Yoon Jeo marah kenapa sekarang Heo Yoon melakukan ini, padahal dulu Heo Yoon yang menyuruh mereka menghilang.


Yoon Jeo batuk dan Heo Yoon memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil pedangnya. “Kalau kau melakukannya, harusnya kau memastikan aku tidak pernah menemukanmu,” kata Heo Yoon. Mereka terkejut karena mendengar suara pengawal dan seorang pria lain.


Raja berjalan dengan terburu-buru dan ia membuka pintu kamar Heo Yoon tanpa permisi. “Yang Mulia,” sapa Heo Yoon dengan terkejut. Raja merasa curiga karena barang-barang di ruangan itu berantakan.


Yoon Jeo sendiri sudah bersembunyi di balik tirai pembatas ruangan.


Raja membuka tirai itu, tapi Yoon Jeo sudah tidak ada di sana. Ia melihat jendela sedikit terbuka, sehingga ia yakin kalau tadi ada orang di sana. Ia lalu mengajak Heo Yoon bermain janggi karena sudah lama mereka tidak memainkannya bersama.


“Tentu saja, Yang Mulia,” kata Heo Yoon yang masih syok.


Yoon Jeo ingin melarikan diri, tapi ada pengawal Raja di pintu depan. Ia terkejut ketika seseorang menepuk bahunya.


Pengawal Heo Yoon memintanya diam dan memberitahu kalau seluruh pintu masuk sudah dijaga. “Ikuti aku,” ajaknya. Heo Yoon tidak terlalu yakin, tapi ia tidak punya pilihan lain.


Seorang penjaga mengeluarkan piring makan Pangeran Yeongchang. Sepertinya pangeran tidak mau makan dan masih terus menangis memanggil ibunya.


Empat orang Pasukan Muweol tampak mengintai tempat itu.


Dong Joo menembakkan anak panahnya hingga menancap di pohon sasarannya. Ia kemudian melepaskan anak panah itu. “Aku sudah selesai. Sekarang aku bisa pergi. Aku memang harus pergi. Aku memang akan pergi setelah selesai membuat ini,” ujarnya.


Di rumah, Nok Du mengomel karena Dong Joo belum juga pulang padahal makanannya mulai dingin. “Apa kau pikir dia akan tertarik dengan hidangan ini?” tanya Aeng Doo. Nok Du bertanya apa maksudnya. “Yool Moo-ku tersayang membuatkannya aneka masakan. Hari ini, dia membuat jeolpyeon dan maejakgwa.” Nok Du kesal.


Aeng Doo: “Apa aku belum bilang? Aku hanya bilang kalau makanannya jauh lebih baik darimu, kalau saja dia harus memilih.”
Nok Du: “Si brengsek itu. Aku harus…”


Nok Du akan melabrak Yool Moo, tapi ia langsung duduk lagi karena Dong Joo sudah pulang. Dong Joo langsung mengambil bantalnya dan membaringkan dirinya.


Nok Du bertanya apakah Dong Joo tidak mau makan. Dong joo bilang ia sudah makan. Nok Du melemparkan sumpitnya ke meja dan mulai makan menggunakan sendok dengan kesal. “Kau sendiri yang rugi,” kata Nok Du.


Keesokan harinya, aneka jenis camilan dihidangkan untuk Raja. Raja bertanya apa yang Yool Moo pikirkan ketika membuat camilan itu.


“Biasanya aku tidak memikirkan apapun, tapi aku sangat bahagia ketika membuat ini,” kata Yool Moo. Raja menanyakan alasannya. “Aku membuatnya bersama wanita yang kusukai.” Raja bertanya apakah wanita itu seorang gisaeng.


Yool Moo sempat terdiam, tapi kemudian menjawab, “Ya. Dia seorang gisaeng, Yang Mulia.” Raja membalas senyum Yool Moo dan berkata bahwa Yool Moo memiliki waktu dan kebebasan. Hal itu membuatnya agak iri dengan kehidupan Yool Moo. Yool Moo hanya tertawa kecil.


Yool Moo lalu ikut memakan camilan yang ia buat sendiri bersama Dong Joo.


Di rumah Pejabat Lokal, seorang pelayan melapor bahwa tidak ada orang yang mencurigakan. Atasannya bilang bahwa mereka harus mengecek dengan teliti siapa saja yang masuk ke dalam rumah.


Jung Sook sudah mulai memasak bersama para wanita lain. Mereka semua tampak sibuk.


Kim Ssook yang sedang menggoreng pun tampak waspada.


Nok Du pergi ke kandang kuda milik Rumah Gisaeng untuk mencari kuda yang ia lihat ditunggangi oleh pria yang ia lihat keluar dari kuil. Ia tidak menemukan kuda dengan ekor yang sama.


Seorang pria tampak datang ke Rumah Gisaeng Yeonhwa untuk pertama kalinya. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Asisten Kapten Pulau Ganghwa. Nok Du buru-buru bersembunyi agar dapat mendengar lebih banyak. Asisten Kapten mengatakan bahwa ia dalam perjalanan menuju Hanyang dan disarankan untuk mampir ke Rumah Gisaeng Yeonhwa.


“Pulang Ganghwa?” katanya di dalam hati.


Pelayan merasa sangat terhormat dengan kedatangan Asisten Kapten dan mengajaknya masuk. “Mana gisaeng yang bernama Hwa Soo?” tanya Asisten Kapten.


Nok Du pergi ke ruangan Asisten Kapten dan ingin menguping. Ia pura-pura melihat-lihat tanaman saat ada gisang lain yang lewat.


“Adik laki-laki Raja yang diasingkan, datang ke wilayahku, Pulau Ganghwa. Hahaha…” kata Asisten Kapten. Gisaeng menyebut Raja sangat brutal. “Jangan berpikir seperti itu. Syukurlah karena itu aku dipromosikan.


Hwa Soo bertanya apa hubungan antara pengasingan adik Raja dengan promosi Asisten Kapten. “Dengarkan aku. Ada pesta di Hanyang dan… hehehe… lupakan. Kalian cukup tahu kalau ini adalah kabar baik,” kata Asisten Kapten.


Nok Du mendengar hal itu dan terus mengintai di sana. Saat melihat Asisten Kapten keluar dari ruangan itu, ia mengikutinya.


Nyonya Chun melihat mereka berdua.


Dong Joo membeli beberapa aksesoris dari seorang pria. “Apa kau ingin menjadi pedagang? Agak sulit untuk menjualnya kepada dayang istana karena sudah banyak pedagang yang biasa menjual kepada mereka sejak lama,” kata pria itu.


“Tidak, Tuan. Ada orang lain yang tertarik, jadi aku bertanya padamu,” kata Dong Joo sambil meletekakn aksesoris pilihannya. Ia tidak sengaja melihat Nok Du lewat.


“Astaga, rasanya lega,”kata Asisten Kapten yang sepertinya baru saja buang air kecil. Nok Du berada tepat di belakangnya, lalu mendekat dan meletakkan pisau tepat di depan leher Asisten Kapten. “Siapa kau?”


“Bisakah kau jelaskan padaku tentang pesta di Hanyang?” tanya Nok DU. Asisten Kapten tidak bisa mengatakannya. “Bagaimana jika nyawamu berada di ujung tanduk?”


“Ibu..” panggil Dong Joo. Nok Du terkejut dan langsung menyembunyikan pisaunya. “Ibu?” Asisten Kapten memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri.


“Dia orang cabul! Cepat panggil orang-orang!” kata Nok Du berbohong. Ia lalu mengejar pria itu. Dong Joo percaya pada Nok Du dan pergi untuk mencari bantuan.


Nok Du berhasil mengejar Asisten Kapten, tapi Nyonya Chun datang. “Nyo.. Nyonya Chun. Aku Asisten Kapten Pulau Ganghwa. Janda ini berusaha menyakitiku. Dia meletakkan pisau di leherku!” adu Asisten Kapten.


Nyonya Chun merebut pisau dari tangan Nok Du!
Comments


EmoticonEmoticon