10/24/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 12 PART 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

Nyonya Chun merebut pisau dari tangan Nok Du, lalu mengarahkannya ke leher Asisten Kapten. “Katakan dengan rinci tentang alasan kau pergi ke Hanyang,” kata Nyonya Chun. Asisten Kapten tampak sangat ketakutan.


Beberapa saat kemudian, Nyonya Chun menggorok leher Asisten Kapten, lalu mengibaskan darah dari pisau itu. “Siapa yang menyangka dia akan mempekerjakan Asisten Kapten Pulau Ganghwa untuk membunuh adik yang dia asingkan?” kata Nyonya Chun sambil mengembalikan pisaunya pada Nok Du.


Nok Du: “Apa kau pemimpinnya? Apa kau pemimpin Pasukan Muweol?”
Nyonya Chun: “Kita bisa membicarakannya lain waktu. Kita kehabisan waktu. Jika kau menemukan Ssook, suruh dia menarik mundur semua orang dan pergi ke kuil di mana Pejabat Lokal bersembunyi. Katakan padanya bahwa kita berada dalam jebakan.”
Nok Du: “Baiklah. Jangan khawatir.”


Setelah Nok Du pergi, Nyonya Chun dikejutkan dengan kedatangan seorang laki-laki berpakaian ungu.


Nok Du mengendarai kuda dengan cepat.


Suasana di rumah ayah Pejabat Lokal sangat tenang. Jung Sook bilang waktu terbaik melakukan tugas mereka adalah ketika suasana ramai, jadi ia heran kenapa di sana sangat tenang. “Ada yang salah. Kita harus mundur,” kata Kim Ssook.


Seorang pria tidak sengaja menabrak tukang masak. Akibatnya, wanita tukang masak itu tidak sengaja menjatuhkan nampan dan pisau yang dibawanya. Semua orang terkejut saat mendengar dentingan logam.


Wanita lain bermaksud membantu menyembunyikan pisau itu, tapi terlambat karena para pria yang ada di sana sudah melihatnya. Para pria itu bersika waspada dan saling memandang satu sama lain. Kim Ssook juga bersiap mengambil senjatanya.


“Wanita inilah pada pembunuhnya. Tangkap mereka!” kata pria yang sebelumnya mengecek keamanan tempat itu. Semua orang mengeluarkan senjatanya.


Para prajurit yang rupanya sudah bersiap sejak awal tampak memasuki rumah itu.


Nok Du langsung melompat turun dari kuda saat sampai di depan rumah Pejabat Lokal.


Kim Ssook sudah mengalahkan beberapa orang. “Pastikan untuk membunuh semua orang yang melihat wajah kita!” perintahnya lalu mulai bertarung lagi. Ia sempat membantu Jung Sook dengan melempar pisau ke musuh, tapi ia sendiri kemudian terjatuh dan terdesak.


Nok Du datang dengan menggunakan tutup panci sebagai perisai. “Aw, panas,” pekiknya. Kim Ssook terkejut dengan kedatangannya. “Pemimpin mengirimku.”


Kim Ssook bertanya kenapa pemimpin melakukannya. “Dia memintaku untuk memperingatkanmu tentang apa yang sedang terjadi sekarang. Kim Ssook mulai bertarung lagi, tapi Nok Du hanya menghindari serangan saja.


Kim Ssook kembali terkejut saat Nok Du memukul kepala lawan dengan tutup panci itu. “Pejabat local bersembunyi di kuil di Gunung Inwang,” kata Nok Du. Kim Ssook bertanya apa Nok Du bisa pergi ke sana. “Aku?”


Kim Ssook melihat musuh di belakang Nok Du dan akan menyerangnya. Nok Du mengarahkan tutup panci ke belakang tubuhnya untuk menangkis serangan. Kim Ssook mendorong Nok Du agar bisa menyerang musuh itu.


Setelah Kim Ssook menusuk musuh itu, Nok Du bertanya bagaimana ia bisa meninggalkan Kim Ssook di tempat berbahaya itu. “Aku akan segera ke sana, jadi ulur  waktu untukku,” kata Kim Ssook. Nok Du membuang tutup panci dan segera pergi.


Nok Du keluar dengan menaiki dinding dan berjalan menuju kuil. “Tidak menyenangkan jika hanya mengulur waktu,” gumamnya.


Di kuil, dua orang penjaga langsung bersikap waspada saat ada yang datang. Tapi mereka menurunkan kembali senjatanya saat melihat kalau yang datang adalah seorang wnanita. Salah satunya menyuruh Nok Du pergi karena tempat itu terlarang.


“Kalau begitu, harusnya kau jangan membiarkan penjagaanmu melemah,” kata Nok Du sambil membuka tutup kepalanya. Penjaga itu tidak mengerti. Nok Du memukul dada penjaga pertama hingga pingsan seketika dan mengalahkan penjaga kedua dengan mudah. Ia lalu melenggang masuk ke dalam kuil.


Kim Ssook dan timnya selesai menghabisi semua prajurit. “Aku tidak melihat ada yang melarikan diri. Kita harus cepat. Nona Kim mungkin kehabisan waktu,” kata Kim Ssook.


Setelah mereka pergi, seorang prajurit terbangun sambil menahan sakit.


Saat sampai di kuil, Kim Ssook menemukan dua penjaga tergeletak di lantai. Ia dan para wanita lalu masuk ke dalam kuil.


Mereka semakin terkejut saat melihat Pejabat Lokal sudah terikat dan pingsan. Nok Du bersikap biasa saja.


Para wanita berjalan pulang dengan menahan sakit. Nok Du yang berjalan paling belakang bertanya kenapa Kim Ssook mau melakukan hal berbahaya, padahal bisa hidup tenang di desa. “Apa karena kau membutuhkan uang seperti aku?” tanyanya.


Kim Ssook tersenyum. Ia bilang mereka hidup sendirian dan bersembunyi, jadi tidak membutuhkan uang. Nok Du menanyakan apa alasannya kalau begitu. “Karena hanya kami yang bisa hidup dalam kebebasan,” kata Kim Ssook. Nok Du tidak mengerti.


Kim Ssook menunjukkan bekas luka di kakinya. Nok Du terkejut. “Mertuaku melakukan ini karena aku tidak mau bunuh diri setelah suamiku meninggal. Dia meninggal tiga hari setelah kami menikah. Jika saat itu aku tidak melarikan diri, aku mungkin sudah dibunuh dan dikubur di sebelah suamiku yang wajahku sudah tidak kuingat. Tapi kisahku tidak sebanding dengan yang lain,” kata Kim Ssook.


Nok Du melihat para janda yang berjalan tertatih karena terluka di pertarungan tadi. Ia melihat mereka saling menanyakan keadaan masing-masing.


Kim Ssook bilang mereka bisa hidup lebih baik karena ada Nyonya Chun, pemimpin mereka. Walaupun begitu, suasana di luar desa masih tidak bersahabat untuk para janda. Nok Du bertanya apakah Kim Ssook memutuskan untuk membunuh Pejabat Lokal karena suka melukai janda.


“Tidak. Tapi kami melakukan ini untuk membuat dunia menjadi lebih baik untuk orang yang tidak berdaya seperti kita. Aku meyakini itu,” kata Kim Ssook.


Kim Ssook melapor pada Nyonya Chun bahwa Pejabat Lokal sudah mati seolah karena terjatuh. Nyonya Chun memuji pekerjaannya. “Nyonya Kim… banyak membantu kami kali ini,” kata Kim Ssook. Nyonya Chun bilang rasanya ia harus menepati janjinya untuk memberikan izin pada Nok Du agar bergabung pada perkumpulan mereka.


“Selamat datang ke Pasukan Muweol, Nyonya Kim,” kata Nyonya Chun. Nok Du merasa senang karena tujuannya tercapai. “Jung Sook akan menunggu di luar. Dia akan menjelaskan secara rinci. Sementara itu, ada yang harus kami bicarakan lagi.”


Nok Du mengerti dan pamit pergi, walaupun ia penasaran apa yang akan mereka bicarakan. Setelah Nok Du pergi, Kim Ssook bertanya apakah ada masalah karena Nyonya Chun tampak gelisah.


Keesokan harinya, Dong Joo menyiangi sayuran di dapur. Ia mengingat apa yang dikatakan pelayan sebelumnya.


Pelayan 1: “Dia bukan orang cabul. Dia Asisten Kapten Pulang Ganghwa. Apa benar dia cabul?”
Pelayan 2: “Dan aku sudah mencari ke seluruh tempat, tapi aku tidak bisa menemukannya.”


Dong Joo tersadar dari lamunannya dan pergi meinggalkan dapur.


Sementara itu, Yool Moo kembali memberi Aeng Doo makanan. Aeng Doo memberitahunya kalau Nok Du semalam tidak pulang ke rumah, jadi ia tidak bisa mengatakan apapun tentang Nok Du dan Dong Joo.


Yool Moo bertanya kenapa Aeng Doo terlihat sangat mengantuk. “Astaga, Dong Joo Unnie sama sekali tidak tidur semalam. DIa terus bergerak-gerak. Dan karena itu, aku juga tidak bisa tidur,” kata Aeng Doo. Yool Moo heran kenapa Dong Joo gelisah.


“Dia tidak berhenti menghela napas. Dia terus membuka pintu dan melihat keluar. Lalu, setelah keluar, ia mulai bicara seperti ini. ‘Dia tidak pulang ke rumah?! Beraninya dia tidak pulang tanpa memberitahuku?!’” kata Aeng Doo sambil menirukan napas Dong Joo yang tersengal karena marah.


Yool Moo menyadari sesuatu. Ia meletakkan sendoknya dan tidak jadi makan karena nafsu makannya mendadak hilang.


Yool Moo yang sedang sedih, malah melihat Dong Joo yang melongok keluar yang sepertinya menunggu Nok Du.


Comments


EmoticonEmoticon