10/24/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 12 PART 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

“Ini tempat pembuatan minuman. Minuman itu akan dikirim ke rumah Gisaeng. Dan uang yang dihasilkan di sana disimpan dengan aman untuk menyejahterakan Pasukan Muweol dan para janda. Ini sangat indah,” kata Jung Sook.


Nok Du memperhatikan tempat itu baik-baik.


Saat Nok Du keluar dari tempat pembuatan minuman, ia mendengar suara lonceng dan para janda bergegas mematikan penerangan di sana.


Kim Ssook: “Terima kasih untuk hari ini. Kau harus pergi.”
Jung Sook: “Kau harus membiarkannya berjaga hari ini.”
Kim Ssook: ”Tidak, tidak mala mini.”


Kim Ssook beralasan kalau belum saatnya Nok Du bekerja lembur. Ia mempersilakan Nok Du untuk beristirahat. “Baiklah,” kata Nok Du.


Dong Joo masih tidak bisa tidur. Ia bermaksud menyalakan lilin, tapi ada seorang pria masuk ke dalam rumah. “Apa itu kau?” tanyanya.


Yang datang ternyata Yool Moo!


Dong Joo mengingatkan bahwa Yool Moo tidak boleh datang ke sana. “Tidak apa-apa. Aku boleh melakukan itu,” kata Yool Moo. Dong Joo tidak mengerti maksudnya.


Nok Du melihat suasana Desa Janda semakin gelap dan orang berlalu-lalang dengan sibuk, lalu mereka tidak terlihat lagi. Ia sempat melihat Kim Ssook dan Jung Sook pergi. Nok Du berlari pergi.


Di kuil sedang ada rapat. Heo Yoon bilang mereka sudah menyingkirkan Pejabat Lokal, tapi itu baru permulaan saja. “Yang Mulia akan tahu kalau ada orang yang berusaha melindungi Pangeran Yeongchang. Apa kau yakin kau akan aman?” kata seorang menteri.


Heo Yoon bilang ia sudah memerintahkan orang untuk membawa Pangeran Yeongchang ke kuil dengan aman. Menteri lain terkejut. “Besok… Kita akan menjalankan rencana kita besok,” kata Heo Yoon.


Seorang pria berhenti di batu bertuliskan ‘Pria Dilarang Masuk’ yang ada di luar Desa Janda. Tapi, pria itu tetap berjalan masuk.


Yool Moo keluar dari rumah Dong Joo dengan lesu.


Nok Du muncul dari samping rumah dan melihat Yool Moo yang sudah berjalan pergi.


Heo Yoon merasa semuanya sudah siap, tapi seorang menteri mengatakan bahwa saat ini Raja dengan sangat sensitif dan merasa sekarang bukan saat yang tepat. “Jika kita terus terlalu berhati-hati, semuanya rencana akan gagal. Apa yang akan kau lakukan kalau begitu?” tanya menteri lain.


Menteri lain bilang keributan sekarang mungkin akan menjadi momen terbaik. Ia setuju jika mereka segera menjalankan rencananya. “Tidak perlu melakukan itu,” kata seorang pria yang sedang menaiki tangga.


Yool Moo muncul dengan wajah yang tidak seperti biasanya. [ini kelihatan banget nyebelinnya haha.. padahal biasanya dia selalu senyum]


Heo Yoon sangat terkejut saat melihat Yool Moo.


Yool Moo: “Kalian tidak perlu terburu-buru.”
Heo Yoon: “Apa yang…”
Yool Moo: “Oh dan satu hal lagi. Aku sudah mengurus apa yang darurat.”


Yool Moo mengeluarkan sebuah kain putih dan melemparkannya ke meja rapat. Seorang menteri membuka kain putih itu.


Mereka terkejut saat melihat kain putih itu merupakan pakaian berlumuran darah.


Heo Yoon menyadari kalau itu adalah pakaian yang dipakai Pangeran Yeongchang.


“Apa tidak ada orang di luar?!” tanya seorang menteri. Yool Moo bilang di luar ada banyak orang, tapi semua bekerja untuknya. Heo Yoon bertanya apa Yool Moo lakukan pada Pangeran Yeongchang.


“Aku membunuhnya,” kata Yool Moo.


Pria berbaju ungu yang menghampiri Nyonya Chun sebelumnya ternyata adalah Yool Moo.


Nyonya Chun bertanya apakah Yool Moo akan menepati janji. “Tentu saja. Tugasmu adalah…” kata Yool Moo sambil menyodorkan kuas. “memulainya sekarang.”


Nyonya Chun mengambil kuas dan mulai menulis.


Pangeran Yeongchang masih saja menangis karena merindukan ibunya.


Seorang pria bercadar menyerang kedua penjaga. Empat Pasukan Muweol yang sejak tadi berjaga di luar dinding muncul dan menghuskan pedang kepada pria bercadar itu.


Pria itu memberikan sebuah surat. Salah satu dari Pasukan Muweol membaca surat itu. Ia terkejut, tapi kemudian meminta rekan-rekannya menurunkan pedangnya.


Dengan pedang berlumuran darah, pria bercadar tadi masuk ke ruangan Pangeran Yeongchang. [Apakah benar Pangeran Yeongchang sudah dibunuh?!]


“Beraninya kau melakukan itu?!” kata seorang menteri sambil menarik pedangnya. Yool Moo jauh lebih sigap. Ia menebas menteri itu lalu menusuknya.


Dong Joo terlihat gemetar dan ketakutan. Ia sangat terkejut saat ada orang yang masuk ke rumah lagi, tapi ia tampak lega saat tahu kalau itu adalah Nok Du.


“Tahukah kau berapa lama aku menunggu… Huft… huft..” kata Dong Joo sambil menarik napas lega. Nok Du mengambil sesuatu, lalu mengajak Dong Joo ikut bersamanya.


Nok Doo mengantar Dong Joo ke pintu pembatas antara Desa Janda dan Rumah Gisaeng. “Hei, kenapa kau tidak melihat mataku?” tanya Dong Joo. Nok Doo bilang ia bisa melihat Dong Joo dan menyuruhnya tidur di ruangan yang terang. “Kenapa kau tidak ikut denganku?”


Nok Du bilang akan menjelaskannya nanti. “Tamu di Rumah Gisaeng itu… Dia bukan orang cabul, bukan? Ke mana kau pergi setelah menghilang seperti itu?” tanya Dong Joo. Nok Du diam saja. “Kenapa kau datang ke Desa Janda?”


“Aku juga akan menjelaskan itu nanti,” kata Nok Du lalu pergi. Dong Joo tampak khawatir.


Yool Moo: “Aku benci suara berisik.”
Heo Yoon: “Putra Mahkota Neungyang!”


Yool Moo ternyata adalah Putra Mahkota Neungyang, yang kemudian akan menjadi Raja Injo.


Nok Du pergi ke kuil, tapi kali ini tetap dengan memakai pakaian wanitanya.


Heo Yoon akan mengeluarkan pedangnya, tapi seorang menteri lebih dulu menghunuskan pisau ke lehernya. Ia terkejut saat tahu ada pengkhianat di kubunya.


Beberapa pengawal lain masuk dan menghunuskan pedangnya ke semua menteri. “Jangan memperumit keadaan. Jangan biarkan Pangeran Yeongchang yang muda dan lemah untuk mengambil tahta. Sebagai gantinya, bantu aku untuk meraih tahta. Hanya itu perubahan dalam rencanamu,” kata Putra Mahkota Neungyang.


Nok Du berhasil masuk ke kuil. Ia merasa heran karena ada Yool Moo di sana.


Pria bertopi yang masuk ke Desa Janda itu berjalan semakin mendekati kuil.


Nok Du mendengar ada suara di luar kuil. Ia bergegas mengeceknya.


Heo Yoon menahan pisau di lehernya hingga tangannya berdarah. Ia berkata, “Kau pikir ancaman seperti ini akan menakutiku?” Yool Moo bilang ia tidak pernah berpikir begitu.


“Jika aku bermaksud membuat ancaman… tidak akan berakhir di sini. Hari ini aku hanya menyapa,” kata Yool Moo.


Heo Yoon mendorong pisau menjauh, tapi pedang pengawal Yool Moo semakin dekat dengan lehernya. “Jadi kau ingin menjadi seorang raja? Kau pikir kau memiliki apa yang seharusnya dimiliki  untuk menjadi seorang raja? ” tanya Heo Yoon.


Nok Du membuka pintu luar kuil dan melihat ada seorang pria bertopi datang.


Pria itu mengangkat wajahnya dan dia adalah Raja! Mereka saling bertatapan.


Comments


EmoticonEmoticon