10/24/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 13 PART 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

Dong Joo tidak bisa tidur. Ia mengingat saat Yool Moo menemuinya dan bilang kalau Yool Moo diizinkan berada di sana.


“Aku bisa pergi kemanapun kusuka dan membunuh siapapun yang kuinginkan. Aku boleh melakukan itu,” kata Yool Moo. Dong Joo bertanya apa maksudnya. “Aku sudah tahu siapa yang kau sukai.” Dong Joo heran karena Yool Moo membicarakan itu lagi.


“Jika itu benar, apa tidak apa-apa jika aku membunuhnya?” tanya Yool Moo.


Nok Du masuk ke dalam rumah dan Dong Joo pura-pura sudah tidur. Nok Du langsung mengangkat selimut dan berbaring. Ia tampak resah.


Rupanya saat kembali ke rumah malam itu, Nok Du mendengar Dong Joo sedang bicara dengan seseorang di dalam rumah.


Ia mendengar Dong Joo berkata, “Aku akan segera pergi. Aku hanya memanfaatkannya. Aku selalu merasa bersalah karena Nyonya Chun sudah mengurusku. Tapi berkat dia, bebanku tertangkat.”


Nok Du kecewa mendengarnya.


Yool Moo: “Kau memanfaatkan dia?”
Dong Joo: “Ya. Sama seperti kau bersikap kasar hanya karena kau tahu siapa aku, aku menemukan kelemahannya dan menggunakannya. Jadi jangan berpikir hal konyol atau bicara mengerikan seperti itu.”


Yool Moo: “Baiklah. Tinggalkan tempat ini dan ikut denganku. Lalu aku akan…”
Dong Joo: “Tidak. Aku tidak mau mendengar itu. Silakan pergi.”


Tanpa sengaja, Nok Du dan Dong Joo bertatapan. “Apa? Ada apa?” tanya Nok Du. Dong Joo bangun dan bertanya kenapa Nok Du menuduh orang tidak bersalah sebagai orang cabul. Ia juga bertanya kemana dan apa yang Nok Du lakukan setelah itu. Nok Du tidak bisa menjawab.


Dong Joo bertanya kenapa Nok Du datang ke tempat itu. Nok Du menolak membicarakan hal itu. “Apa? Kau bilang kau akan mengatakan semuanya padaku,” protes Dong Joo. Nok Du bilang tadinya ia kira Dong Joo tidak akan tertarik.


“Kau memintaku tidak bertanya dan mengurus urusanku sendiri. Dan terutama, kau akan…” kalimat NOk Du terhenti saat mengingat perkataan Dong Joo pada Yool Moo yang bilang akan segera pergi dan hanya memanfaatkannya.


Dong Joo kesal karena Nok Du tidak mau melanjutkan ucapannya. Aeng Doo merasa terganggu. Nok Du juga bangun dan berkata, “Kenapa hanya aku yang harus mengatakan segalanya? Bagaimana denganku? Apa kisahmu?” Dong Joo protes kenapa malah bertanya tentangnya. Ia bilang mereka membahas ini karena Nok Du bersikap aneh. Mereka terus bertengkar hingga membuat Aeng Doo tidak tahan lagi.


Aeng Doo bangun dan memarahi mereka.


Keesokan harinya saat sarapan, Aeng Doo masih mengomel dan menyebut mereka anak-anak. Ia bilang jika ada masalah, mereka harusnya membicarakannya dengan tenang seperti orang dewasa. Dong Joo berhenti makan tanpa menghabiskan makanannya dan pergi tanpa mengatakan apa-apa.


Nok Du meminta Aeng Doo menanyakan kepada Dong Joo, kenapa Dong Joo pergi tanpa mencuci piring terlebih dahulu. Aeng Doo menyampaikannya pada Dong Joo. “Aku akan mencari uang. Dan katakan padanya kalau mencuci piring adalah tugasnya,” kata Dong Joo.


Aeng Doo: “Dia bilang itu tugas orabeoni.”
Nok Du: “Jangan pergi. Apa kau tahu pria seperti apa dia itu?”


“Aku tinggal denganmu, tapi aku bahkan tidak tahu siapa dirimu. Jadi bagaimana aku tahu tentangnya,” kata Dong Joo lalu akan membuka pintu. Nok Du melarangnya pergi. “Siapa kau sampai menyuruhku melakukan apa yang harus dilakukan?”


Nok Du: “Aku? Aku… ibumu. Aku ibumu.”
Dong Joo: “Astaga, katakan padanya, dia pasti sangat bangga pada dirinya.”
Aeng Doo: “Kalian membuatku gila! Kalian tidak bisa membiarkanku makan dengan tenang.”


Mereka melihat mangkok Aeng Doo sudah kosong. “Tapi makananmu sudah habis,” protes Nok Du heran.


Aeng Doo bilang ia tidak tahan melihat tingkah laku mereka yang kekanak-kanakan dan memilih pergi. Nok Du bertanya kemana Aeng Doo akan pergi. “Aku akan menemui Yool Moo orabeoni,” kata Aeng Doo. Nok Du bertanya kenapa Aeng Doo mau pergi ke sana. “Aku perlu makan siang sekarang karena aku sudah selesai sarapan.”


“Aaah… astaga… Sial!” umpat Nok Du setelah mereka pergi.


Mereka sampai di dapur, tapi Yool Moo tidak ada di sana. Dong Joo bilang Yool Moo mungkin tidak datang karena Yool Moo suka mengunjungi banyak Rumah Gisaeng lainnya. Dong Joo merasa ini kesempatan bagus untuk mencuci piring.


“Bagaimana dengan makan siang? Bagaimana dengan makan siangku? Dia berjanji akan membuat pancake bunga untukku. Dia juga bilang akan mengajakku piknik. Dia bilang pancake bunga terasa paling enak jika dimakan di saat piknik. Dia sudah berjanji,” rengek Aeng Doo sambil berjongkok.


Dong Joo berpikir sejenak, lalu bilang ia akan membuat pancake-nya. Aeng Doo sangat senang mendengarnya. Ia bertanya apakah Dong Joo bisa membuatnya dengan enak.


Seorang menteri dari kubu Hae Yoon mengatakan bahwa ia merasa tidak percaya diri untuk bertemu dengan Raja. Hae Yoon memintanya bersikap seperti biasa karena Raja pasti lebih curiga saat ini. Menteri itu bertanya apa yang harus mereka lakukan. “Kita akan memindahkan markas Pasukan Muweol. Katakan semua orang untuk berhenti mengunjungi Rumah Yeonhwa dan minta mereka berhati-hati agar tidak tertangkap,” kata Heo Yoon.


Menteri itu menyarankan agar mereka menerima tawaran Pangeran Agung Neungyang karena semua orang merasa itu pilihan yang bagus. Ia bilang karena Pangeran Yeongchang sudah mati, maka mereka harus menemukan solusi.


“Aku akan menemukan solusi lain. Dia tidak akan pernah menjadi Raja berikutnya,” kata Heo Yoon llau pergi lebih dulu.


Di Rumah Gisaeng, Nyonyoa Chun membaca sebuah surat. Ia kemudian menyuruh semua anggota Pasukan Muweol untuk meninggalkan desa besok. Mereka terkejut. “Pastikan tidak meninggalkan jejak apapun. Buatlah grup beranggoyakan 3 sampai 4 orang dan segera tinggalkan desa setelah matahari terbenam. Nanti kita semua akan bertemu di Rumah Aseowon di Hanyang,” lanjut Nyonya Chun.


Kim Ssook bertanya apakah yang memberikan perintah itu adalah Heo Yoon. Nyonya Chun mengiyakan. Yeon Boon mengingatkan bahwa dari apa yang terjadi kemarin, menunjukkan kalau Heo Yoon sudah tidak punya kekuasaan lagi.


“Kenapa orang yang harus kita layani sering berganti-ganti?” tanya Jung Sook heran. Nok Du baru tahu mengenai hal itu. Ia semakin terkejut karena mendengar nama yang Nyonya Chun sebutkan berikutnya.


“Tuan Yool Moo…. Ah, Pangeran Agung Neungyang sudah merencanakan ini sejak lama. Sekarang karena dia punya kekuasaan, kita tidak punya pilhan lain. JIka kita menolak, semua orang akan berada dalam bahaya,” kata Nyonya Chun. Jung Sook dan Yeon Boon saling berpandangan khawatir.


“Bagaimanapun juga, dia juga adalah orang yang bisa memenuhi harapan kita. Penasehat akan segera membuat kesepakatan dengannya, jadi kita tidak akan mengkhianati siapapun. Kita hanya perlu mempercayai mereka berdua dan mengikuti arahan mereka,” lanjut Nyonya Chun. Yeon Boon pikir itu tidak ada bedanya.


Nyonya Chun bilang ia akan menemui Yool Moo besok dan ia juga berpikir bahwa memindahkan markas mereka adalah pilihan yang tepat. “Aku akan menemanimu ke Hanyang,” kata Kim Ssook. Nyonya Chun bilang ia ingin agar Kim Ssook tetap di sana dan membantu yang lain pergi. Ia bilang ia akan pergi bersama Nok Du.


“Baiklah,” kata Nok Du.


Yeon Geun, si Wakil Kurator, tidur dengan nyenyak di pendopo. Tidak jauh di bawahnya, Nok Du dengan duduk bersama Guru Hwang.


Guru Hwang merasa khawatir karena Nok Du akan berurusan dengan Penasehat dan Sepupu Raja. Ia mengajak Nok Du pulang menemui ayahnya. “Lalu melakukan apa? Apa kali ini kita akan terus bersembunyi di gunung?” kata Nok Du. Guru Hwang menghela napasnya.


“Sekelompok pejabat tinggi berkumpul untuk memulai dunia baru d belakang Raja,” kata Nok Du. Guru Hwang bertanya apa Nok Du tahu apa artinya itu. “Konspirasi.”


Guru Hwang heran karena Nok Du sudah tahu, tapi tetap akan pergi. Ia bertanya apa rencana Nok Du. “Mereka yang melakukannya, jadi itu berarti ayahku tidak melakukan pengkhianatan,” kata Nok Du lalu menunjukkan roknya.


“Aku baru mengetahui kelemahan mereka dengan berpakaian seperti wanita. Aku harus menggunakannya untuk keuntunganku sendiri. Jika keadaan semakin buruk, aku akan melaporkan semua pengkhianat itu ke Kantor Polisi,” kata Nok Du.


Guru Hwang tidak bisa berkata apa-apa. “Aku tidak peduli apakah aku harus membunuh mereka atau tidak. Aku akan mengakhiri ini. Jadi kita tidak perlu lagi bersembunyi. Ayahku, kakakku, dan…” ucapan Nok Du terhenti saat mengingat perkataan Dong Joo yang akan segera pergi. “Dan…”


Guru Hwang memeluk Nok Du dengan tiba-tiba. Ia memutuskan akan tetap bersama Nok Du dan tidak lagi hidup dengan bersembunyi. “Ya, tentu saja. Aku akan tinggal denganmu dan Aeng Doo. Ya, pasti,” kata Nok Du.


Comments


EmoticonEmoticon