10/24/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 13 PART 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

Nok Du pergi ke dapur Rumah Gisaeng.


Tapi kejadian di kuil terlintas lagi di pikirannya. Ia mengingat saat Yool Moo berhadapan dengan Heo Yoon.


Ia kemudian membuka pintu dapur, tapi dari dalam Dong Joo dan Aeng Doo berlari keluar. Asap terlihat memenuhi dapur. Nok Du lalu masuk ke dapur untuk mengecek keadaan, sedangkan Dong Joo menempelkan tubuhnya di pintu karena merasa malu.


Nok Du bilang harusnya Dong Joo menggunakan air tepung beras yang lengket. Ia tidak percaya Dong Joo melemparkan rendaman kue beras begitu saja ke dalam minyak.


“Aku pikir sama saja. Menggoreng dalam minyak cukup mirip,” kata Dong Joo. Aeng Doo bilang Ia lapar dan meminta Nok Du memasak untuknya. Nok Du bilang ia sedang sibuk.


“Yool Moo orabeoni pasti akan membuatkannya untukku,” kata Aeng Doo. Nok Du tersentak.


Karena ucapan Aeng Doo itu, Nok Du akhirnya membuatkan makanan untuk mereka. Sedangkan Dong Joo sibuk membersihkan cipratan minyak yang menempel di dinding.


“Sudah cukup. Ayo kita pergi,” kata Aeng Doo. Nok Du dan Dong Joo bertanya mau pergi ke mana. “Kau bilang akan membuatkanku pancake bunga dan pergi piknik bersamaku.” Dong Joo bertanya kapan ia menjanjikan hal itu. Nok Du mengingatkan kalau ia sedang sibuk.


Aeng Doo: “Yool Moo orabeoni akan…”
Nok Du: “Baiklah! Ayo pergi!”


Dong Joo heran melihat perubahan keputusan Nok Du itu, tapi Aeng Doo malah tersenyum bahagia.


Yoon Jeo tinggal di rumah Heo Yoon. Setelah membawakan makanan, pengawal langsung keluar. Heo Yoon menyuruhnya makan. “Apa kau melindungiku? Atau kau menyekapku di ruangan ini?” tanya Yoon Jeo.


“Aku menyekapmu di sini agar aku bisa melindungimu,” kata Heo Yoon lalu duduk di hadapan Yoon Jeo. Yoon Jeo bilang ia tidak punya banyak waktu dan harus menemukan kedua putranya. “Aku akan mengerahkan orang terbaikku untuk menemukan anak sulungmu. Jika mereka tidak bisa menemukan jasadnya, berarti dia sedang bersembunyi di suatu tempat.”


“Tolong pastikan kau menemukannya untukku,” kata Yoon Jeo. Heo Yoon berharap ia juga akan menemukan putra Raja. “Kami akan pergi ke Ming. JIka kau ingin kami pergi jauh, kami akan melakukannya. Kami akan pergi kemanapun kau suruh.”


“Kau bilang dia tumbuh menjadi pria yang cerdas dan baik, bukan? Mungkin dia bisa menjadi pilihan lainku,” kata Heo Yoon. Yoon Jeo bertanya apa maksud perkataannya itu. “Tidak, bukan apa-apa. Aku akan menemukannya. Aku hanya perlu kau tinggal di sini dengan tenang. Tidak ada yang akan terluka, jadi jangan khawatir.”


Nok Du pergi piknik dengan mengenakan pakaian pria. Ia berjalan sambil menggandeng Aeng Doo, sedangkan Dong Joo membawa alat pancing. Saat melewati batu yang jaraknya cukup jauh, Nok Du menggendong Aeng Doo. Dong Joo juga perlu bantuan, tapi ia merasa gengsi. Ia malah bertanya kenapa Nok Du berpakaian seperti itu.


“Kenapa tidak? Kita mendaki lembah dan jauh dari rumah. Ini sangat bagus. Lihat betapa tampannya aku dengan pakaian ini. Ayo,” kata Nok Du sambil mengulurkan tangannya.


“Tampan, kepalamu,” ejek Dong Joo lalu melangkah tanpa bantuan Nok Du.


Mereka bertiga lalu naik perahu dan memancing. Dong Joo mengejek Nok Du yang tidak bisa memancing karena belum mendapatkan satu ikan pun.


Nok Du bilang Dong Joo juga belum mendapatkan ikan jejak tadi. Dong Joo mengajak mereka pulang. Ia mengomel karena Nok Du menyeretnya ke sana. Nok Du bilang ia juga tidak mau pergi, tapi ini semua karena Dong Joo ingin membuatkan pancake untuk Aeng Doo.


“Aku tidak pernah bicara tentang pergi piknik,” kata Dong Joo. Nok Du tetap menyalahkan Dong Joo karena seharusnya sejak awal Dong Joo tidak pergi ke dapur. “Dan kau pikir kenapa aku pergi…”


“Dan si brengsek itu yang paling buruk. Kalau ia berjanji padanya, harusnya ia menepati janjinya,” kata Nok Du. Aeng Doo menyuapkan pancake ke mulut mereka berdua.


Aeng Doo heran kenapa mereka terus saja bertengkar. Dong Joo bilang itu karena Nok Du memiliki banyak rahasia. Nok Du berkata itu karena ia tidak ingin berbohong pada Dong Joo. Dong Joo tidak mengerti. “Aku tidak bisa mengatakan alasanku datang ke sini. Tidak sekarang. Aku harus berbohong jika aku mengatakan alasannya. Aku tidak mau sekarang. Kau senang sekarang?” kata Nok Du


Aeng Doo memegangi perutnya dan meringis. Ia meminta maaf karena harus menyela, tapi ia bilang Nok Du harus menepikan perahunya.


Aeng Doo merasa lega setelah mengeluarkan isi perutnya. Ia merasa bisa bernapas dengan lega lagi sekarang. Ia meminta Dong Joo mencarikan daun yang lembut untuknya.


Saat sedang memetik daun, Dong Joo melihat Nok Du tercebur ke sungai. “Hei… hei!” Dong Joo panik dan berlari menuju sungai.


“Apa? Kau mau ke mana?” tanya Aeng Doo.


“Hei! Hei!” panggil Dong Joo sambil menceburkan dirinya ke sungai. “Hei!” Sungai semakin dalam, tapi Dong Joo belum menemukan Nok Du. Saat ia menarik napas untuk menyelam, Nok Du malah muncul sambil membawa ikan.


“Kau lihat itu? Aku tidak perlu alat pancingan menyebalkan itu untuk menangkap…” ucapan Nok Du terhenti karena ia melihat Dong Joo menangis.


Dong Joo: “Sial. Hei…”
Nok Du: “Ada apa denganmu?”
Dong Joo: “Yang benar saja. Sial.”


Comments


EmoticonEmoticon