10/24/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 14 PART 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

Saat yang lain sibuk mengeringkan diri, Aeng Doo malah asyik menyantap ikan bakarnya.


Nok Du mengambil jaketnya dan memakaikannya kepada Dong Joo yang menggigil kedinginan. Aeng Doo bertanya kenapa Nok Du tidak bilang kalau dulu tinggal di pulau. “Dia tidak pernah bertanya,” kata Nok Du. Dong Joo melirik kesal.


Dalam perjalanan pulang, Nok Du kembali mengganti pakaiannya menjadi pakaian wanita. Dari belakang, ia menyadari bahwa kaki Dong Joo masih basah.


Nok Du memberikan apel untuk Aeng Doo, tapi menyuruh Dong Joo duduk. Ia menyebut Dong Joo bodoh karena belum mengeringkan kakinya. “Lupakan. Ayo kita pergi,” kata Dong Joo. Nok Du bilang Dong Joo akan terkena flu jika membiarkan kakinya kedinginan, dan itu akan membuat hidup Dong Joo semakin sulit.


Dong Joo tidak menolak lagi. Nok Du melepaskan kaos kaki Dong Joo, lalu memakaikan kaos kaki yang kering. Nok Du ingat pesan Dong Joo agar tidak bersikap baik padanya, tapi ia bilang akan melakukan apapun yang ia inginkan, lagipula Dong Joo tidak pernah mendengarkannya juga.


Dong Joo: “Bukan itu. Aku tidak tahu nama aslimu.”
Nok Du: “Apa?”
Dong Joo: “Ketika kupikir kau jatuh ke air tadi, aku tidak bisa memanggilmu karena aku tidak tahu namamu.”


“Kau ingin aku memberitahumu? Aku tidak mau,” kata Nok Du. Dong Joo kesal dan bertanya apakah namanya sangat berharga. “Aku akan memberitahumu nanti, jika kau mengurus Dong Dong dan Dong Joo dengan baik. Aku akan mengatakannya jika jengger mereka sudah tumbuh, sudah bertelur, dan menjadi ayam.”


Dong Joo kesal karena Nok Du selalu mengatakan ‘nanti’. Ia pergi, tapi Nok Du menahan tangannya. “Aku akan mengatakannya nanti agar kau tetap tinggal bersama mereka dan membesarkan mereka dengan baik. Mereka membutuhkanmu. Kau adalah pemiliknya. Mengerti?” kata Nok Du yang tidak mau Dong Joo pergi.


Dong Joo tampak ragu. “Berjanjilah kau akan melakukannya,” kata Nok Du. Dong Joo hanya menatapnya saja, lalu berkata bahwa ia akan menganggap Nok Du brengsek.


“Kenapa kau selalu kasar,” tanya Nok Du saat Dong Joo meninggalkannya. “Permintaanku tidak terlalu sulit untuk dipenuhi. Berjanjilah! Kau tidak mau berjanji?” Dong Joo tidak mempedulikannya dan merangkul Aeng Doo pergi. “Astaga…”


Nyonya Chun menunjukkan surat dari Heo Yoon yang menyuruh Pasukan Muweol pergi tanpa meninggalkan jejak. Yool Moo menyebut Heo Yoon sangat naif karena ia tahu Pasukan Muweol pasti akan pindah ke Hanyang.


Nyonya Chun bilang itu karena Raja sedang mengawasi tempat ini sekarang, jadi kondisi akan berbahaya bagi Pasukan Muweol. Ia menyarankan agar Yool Moo juga tidak datang ke Rumah Gisaeng lagi. “Aku mengunjungi Rumah Gisaeng ini setiap hari. Berhenti datang malah akan membuat curiga,” kata Yool Moo. Nyonya Chun bertanya apa yang harus ia lakukan. 


“Ikuti instruksi Penasehat,” kata Yool Moo. Nyonya Chun mengiyakan karena itu memang bagian dari rencananya. Ia bilang akan segera pergi ke Hanyang saat hari gelap. Ia bilang ia memang perlu menemui Heo Yeon untuk menurutinya.


Yool Moo: “Aku akan menyiapkan penjaga dan kuda.”
Nyonya Chun: “Tidak perlu. Aku akan pergi ke Hanyang bersama seorang janda yang baru bergabung dengan Pasukan Muweol. Dan aku yakin kau juga pernah bertemu dengannya.”


“Aku pernah bertemu dengannya?” tanya Yool Moo heran.


Dengan tangan gemetar, Yeon Geun menyerahkan buku laporannya. Kasim mengambil buku itu dan menyerahkannya kepada pengawal. Yeon Geun memperkenalkan dirinya dengan terbata-bata karena takut.


“Cukup. Katakan padaku tentang Desa Janda. Ceritakan apapun bahkan jika tidak terlihat mencurigakan. Kau hanya boleh pulang jika jawabanmu memuaskanku,” kata Raja. Yeon Geun menahan tangisnya.


Saat keluar dari ruangan Rumah Gisaeng, Yool Moo melihat Nok Du datang. Mereka saling berjalan mendekat. “Aku dengar kau bergabung dengan Pasukan Muweol,” kata Yool Moo. Nok Du mengiyakan dan itu karena ia akan dibayar.


“Aku dengar kau menyiapkan pengkhianatan,” kata Nok Du. Yool Moo tersenyum licik dan berjalan semakin dekat dengan Nok Du. Yool Moo berkata bahwa ia membiarkan Nok Du hidup karena permintaan Dong Joo.


Yool Moo: “Tapi rasanya semakin sulit. Aku mulai ingin melanggar janjiku padanya.”
Nok Du: “Aku terintimidasi oleh pria yang hanya bisa bicara. Lakukan saja apa maumu.”


Yool Moo menarik kerah Nok Du. “Jangan mempengaruhiku. Aku akan membuatnya jelas,” kata Nok Du lalu mengibaskan tangan Yool Moo. Ia lalu masuk ke dalam rumah.


Yool Moo tampak menahan amarahnya.


Dong Joo merapikan semua barangnya di tempat rahasianya. Ia menatap pakaian pria yang pernah ia pakai saat menyamar dan tidak sengaja bertemu Nok Du untuk pertama kalinya.


“Syukurlah aku tidak berjanji bahwa aku akan berada di sampingnya sampai anak ayamnya tubuh dewasa,” kata Dong Joo lalu menangis. “Tapi aku ingin melakukannya. Aku ingin berada di sampingnya. Maafkan aku, ibu…”


Hari sudah malam, tapi Dong Joo belum pulang. Nok Du melihat barang-barang Dong Joo masih ada di rumah dan tidak lama kemudian Dong Joo pulang. Ia memarahi Dong Joo yang pergi tanpa pamit. “Kau juga menghilang,” kata Dong Joo lalu duduk di atas selimutnya.


“Hwa Soo meminta bantuanku, jadi aku ada di tempatnya tadi,” kata Dong Joo. Nok Du tahu kalau Dong Joo berbohong karena tadi ia sudah mengecek ke Rumah Gisaeng, tapi tidak menemukan Dong Joo.


Dong Joo melihat buntalan milik Nok Du dan menebak kalau Nok Du akan pergi. Ia menyuruh Nok Du pergi saja dan membiarkannya tidur. Dengan menghela napas, Nok Du mengambil barangnya dan pergi.


Tapi tiba-tiba, Nok Du datang lagi. “Aku tidak memintamu untuk menyukaiku. Kau bisa memanfaatkanku jika itu yang kau inginkan. Aku tidak masalah dengan hal itu. Jadi… jangan menghilang dariku. Aku mohon padamu,” kata Nok Du lalu menutup pintunya lagi.


Dong Joo menangis.


Keesokan harinya saat sampai di Hanyang, Nok Du bertanya apakah Nyonya Chun akan baik-baik saja jika tidak menyamar. “Apa kau belum dengar? Tuan Heo ada di belakangku. Jadi lebih natural jika aku menemuinya seperti ini,” kata Nyonya Chun.


“Kita sampai,” kata Nyonya Chun lalu membuka gerbang rumah Heo Yoon.


Dong Joo meninggalkan surat di ruangan Nyonya Chun yang sedang kosong. 


Yool Moo bertanya apakah Dong Joo terburu-buru pergi hari ini karena Nok Du. “Aku pergi karena aku sudah siap,” kata Dong Joo. Yool Moo mengajak Dong Joo pergi ke Hanyang bersamanya. “Aku akan pergi sendiri. Tolong jangan mengikutiku.”


Yool Moo mengerti, tapi ia harus mengecek apakah Dong Joo tiba di sana dengan selamat. “Kau ingat di mana ayunannya? Tunjukkan wajahmu kapanpun antara jam 9 sampai jam 11 siang. Hanya itu yang kuminta,” kata Yool Moo. Dong Joo mengangguk.


Dong Joo: “Jika aku melakukan itu, kau tidak akan melakukan apapun, bukan?”
Yool Moo: “Apa kau sedang membicarakan dia?”
Dong Joo: “Ya. Berjanjilah kau tidak akan pernah menyakitinya.”


“Dan kau belum mengatakan kalau kau tidak menyukainya?” protes Yool Moo. Mata Dong Joo berkaca-kaca dan bilang walaupun ia menyukai Nok Du, ia akan menyembunyikan perasaannya.


Dong Joo bilang ia akan pergi tanpa mengatakan apapun dan melukainya, sehingga dengan begitu Nok Du akan memandang rendah dirinya. “Itu lebih baik daripada ia menderita karena kehilangan aku. Aku sangat tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat kau sayangi, tapi harus tetap bertahan hidup,” isaknya.


“Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Jadi kau tidak perlu khawatir tentang…” ucapan Dong Joo terhenti karena Yool Moo mengusap air matanya.


“Kau menangis. Dan itu karena dia,” kata Yool Moo yang sepertinya tulus mencintai gadis di hadapannya itu. Dong Joo menghapus air matanya. “Kau bukan memperingatkanku. Kau mengakui perasaanmu untuknya.”


Dong Joo: “Tolong bayar semua hal yang telah aku kerjakan untukmu.”
Yool Moo: “Tidak. Aku akan membayarmu di Hanyang. Jangan terlambat.”


Sementara itu di istana, Kasim membukakan pintu untuk Yeon Geun yang berjalan dengan lesu. “Terima kasih,” uja Yeon Geun. Kasim lalu menutup pintunya.


Yeon Geun hampir terjatuh karena sebenarnya kakinya lemas sejak tadi. Ia memukul kakinya agar tidak gemetar lagi. “Aku hidup…” isaknya.


“Rumah Gisaeng memfasilitasi Desa Janda… Bawa pemimpin mereka dan semua janda yang dekat dengannya. Jika tidak ada bukti, bawakan saksi,” kata Raja pada pengawalnya.


“Baik, Yang Mulia,” kata pengawal dan langsung pergi untuk menjalankan tugasnya.
Comments


EmoticonEmoticon