10/24/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 14 PART 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

Kim Ssook dan timnya memandang desa mereka dari atas bukit. Kim Ssook bertanya apakah semua orang sudah pergi. “Ya. Nyonya Chun dan Nyonya Kim juga sudah pergi. Jadi kita yang terakhir,” kata Yeon Boon.


“Rumah dan teman-temanku ada di sana. Aku melakukan perbuatan berdarah dingin sgar aku bisa tinggal di sana dengan tenang,” kata Jung Sook sedih. Kim Ssook bilang mereka harus pergi agar semua teman mereka aman.


Kim Ssook juga tampak sedih karena harus meninggalkan rumahnya. Ia pergi lebih dulu dan diikuti dua temannya itu.


Sekelompok perampok tampak makan dan beristirahat di hutan. “Itu dia datang,” kata seorang perampok.


Seorang perampok berambut panjang melemparkan sekantong uang yang disambut gembira oleh yang lainnya. “Ayo bergerak!” ajak perampok berambut panjang.


Yool Moo berada tidak jauh dari sana dan itu berarti ia yang memberikan perintah kepada mereka.


Nyonya Chun bertanya kenapa Heo Yoon tidak menyerah saja karena Yool Moo berjanji akan mengurus orang tidak berdaya seperti mereka. Ia merasa itu berarti Yool Moo akan lebih baik daripada raja saat ini.


Heo Yoon tertawa. Ia merasa Nyonya Chun tidak akan berpikir seperti itu setelah melihat apa yang ia miliki. Ia mengeluarkan sebuah kain putih dan menunjukkannya pada Nyonya Chun,


Nyonya Chun mengenali kalau pakaian itu milik Deul Re. “Kami menemukan jasadnya di gunung belakang desa. Dan kami baru tahu siapa yang membunuhnya,” kata Heo Yoon. Nyonya Chun bertanya apakah maksudnya adalah Yool Moo. “Dia menggali apapun yang ia perlu tahu tentangku, mencari kelemahanku, dan mengancamku.”


Nyonya Chun tampak sedih karena kehilangan Deul Re. “Kau pikir dia akan peduli pada yang lemah? Haha… Dia adalah orang yang bisa membunuh siapapun demi mendapatkan apa yang dia inginkan,” kata Heo Yoon.


Nyonya Chun keluar dari ruangan Heo Yoon dengan perasaan kacau. Heo Yoon juga keluar dan pergi ke arah yang berbeda


Nok Du yang sejak tadi mengintai di semak-semak, lalu mengikuti Heo Yoon.


Tepat setelah Nok Du pergi, Yoon Jeo keluar dari ruangan yang ada di dekat Nok Du sebelumnya. {Kaya sinetron striping deh… udah deket banget, tapi ga ketemu, hehehe]


Yoon Jeo terbatuk dan sempat melihat punggung seorang wanita. Tentu saja ia tidak tahu kalau oran berpakaian wanita itu adalah putra angkatnya, Jeon Nok Du.


Heo Yoon menemui para pengawalnya dan memberitahu bahwa Yool Moo memprovokasi mereka untuk membuat langkah awal. Ia mengingatkan agar mereka berhati-hati karena Yool Moo penuh persiapan. “Haruskah kami menemukan dan membunuhnya?” tanya pengawal.


“Dia tidak melakukan kesalahan. Dia harus bersembunyi dan tinggal di pulau karena ayahnya. bAwa dia kembali hidup-hidup,” kata Heo Yoon.


“Pulau? Apa mereka membicarakan kakakku?” Nok Du bertanya-tanya dalam hati. Ia melihat para pengawal pergi dan langsung mengikuti mereka.


Nok Du menyerang pengawal yang berada di paling belakang.


Para pengawal sampai di sebuah rumah. Pengawal terakhir yang sampai di sana tampak melihat keadaan sekeliling, lalu bergabung bersama yang lain.


Di dalam rumah, Yool Moo dan Hwang Tae sedang bersama. Yool Moo berharap mereka bisa berteman. Hwang Tae yakin secara perlahan mereka akan berteman baik. “Ya, tentu saja. Kita akan bekerja bersama untuk waktu yang lama,” kata Yool Moo.


Hwang Tae bertanya apakah ia berpengaruh dalam rencana Yool Moo. “Aku tidak akan membiarkanmu di sini jika kau tidak berguna. Ada sesuatu yang aku butuh bantuanmu, tapi itu bukan bagian dari rencanaku,” kata Yool Moo.


“Adik laki-lakimu… Maksudku.. aku harus menemukan putra Raja,” kata Yool Moo.


Pasukan pengawal Heo Yoon sudah sampai di depan ruangan. Mereka tidak jadi masuk karena mendengar suara dan saat berbalik ada pengawal Yool Moo yang sudah siap bertarung. Sementara itu, Nok Du yang sudah menyamar ada di atas genteng.


“Apa kau akan membunuhnya jika aku menemukannya untukmu?” tanya Hwang Tae. Dengan jujur Yool Moo mengatakan akan membunuh Nok Du karena Nok Du tidak berguna untuknya, tapi ia juga akan mendengarkan pendapat Hwang Tae tentang hal ini. Yool Moo mendengar suara dari luar.


Nok Du masuk ke dalam ruangan dan langsung melepas cadarnya saat melihat kakaknya. Ia memeluk kakaknya yang sedang terkejut dengan kedatangannya. Ia bertanya bagaimana Hwang Tae bisa tertangkap dan apakah kakaknya itu terluka.


Nok Du melepaskan pelukannya, tapi kemudian memeluknya lagi. Ia merasa sangat lega karena bisa bertemu dengan kakaknya lagi. “Kau pasti sangat kesulitan. Aku merindukanmu, Hyung,” kata Nok Du.


Yool Moo melepaskan pelukan Nok Du dan bertanya bagaimana Nok Du bisa sampai di sana. “Ceritanya panjang. Tapi aku datang untuk menyelamatkanmu. Ayo kita pergi dari sini,” ajak Nok Du. Hwang Tae menolak karena ia datang bukan karena tertangkap.


Nok Du: “Apa? Kukira kau tertangkap oleh Pangeran Agung Neungyang. Aku pikir kau melarikan diri dari orang yang berusaha membunuh kita…”
Hwang Tae: “Kita hampir terbunuh di pulau karenamu.”
Nok Du: “Hyung…”


“Pangeran Agung Neungyang menyelamatkanku ketika aku hampir terbunuh karenamu lagi!” kata Hwang Tae sambil memalingkan wajahnya karena ia merasa sedih. Nok Du tidak mengerti apa maksudnya. Hwang Tae menatap adik angkatnya dengan mata berkaca-kaca.


“Alasan kita harus bersembunyi, alasan ibu harus mati dengan menyedihkan, dan alasan kita dikejar sepanjang waktu… Aku sudah tahu alasannya,” kata Hwang Tae. Nok Du bertanya apakah itu karena dirinya. “Ya, ini semua karenamu! Lupakan. Kau harus pergi. AKu tidak akan mengatakan kalau aku melihatmu hari ini, jadi pergilah.”


Hwang Tae mendorong Nok Du, tapi adiknya itu tidak mau pergi. “Kenapa ini kesalahanku? Kenapa? Katakan padaku. Katakan padaku!” tanya Nok Du. Hwang Tae bertanya apakah Nok Du akan bisa mengatasi jika tahu alasannya.


Nok Du: “Katakan padaku.”
Hwang Tae: “Baiklah. Semua ini karenamu. Ini… Ini semua karena… kau adalah putra Raja!”


Pengawal Yool Moo akan mengalahkan orang terakhir, tapi Yool Moo melarang orang itu dibunuh. “Kita butuh seseorang untuk kembali dan memberitahu Tuan Heo untuk tidak membuang-buang tenaga,” kata Hwang Tae.


“Omong kosong! Kau ingin aku mempercayai itu? Kau berharap aku percaya bahwa aku adalah putra Raja?” tanya Nok Du yang syok dengan fakta jati dirinya. Hwang Tae memalingkan wajahnya lagi dan menyuruh Nok Du menanyakannya sendiri kepada Raja jika masih tidak percaya.


“Ada apa denganmu? Aku adikmu. Aku putra ayah,” kata Nok Du. Hwang Tae bilang tadinya ia juga mengira begitu, sehingga ia menjalani kehidupan yang sulit.


Saat ibunya sekarat, Hwang Tae akan masuk ke dalam rumah. Ia tidak jadi masuk karena mendengar ibunya bicara pada Nok Du, “Ini semua salahmu. Jika bukan karenamu, putraku akan… Keluargaku akan…” Ibu tidak sempat menyelesaikan ucapannya.


Hwang Tae bilang ia tidak mau hidup seperti itu lagi. Ia bilang akan mendapatkan kembali semua kehidupannya yang pernah hilang gara-gara Nok Du.


Nok Du meraih tangan kakaknya dan berkata, “Hyung… tolong jangan seperti ini. Ayo kita pergi bersama-sama. Kau tidak bisa mengabaikanku seperti ini. Apa yang harus kulakukan sekarang?”


Hwang Tae mencengkeram kerah Nok Du dan menyuruhnya pergi dan jangan mencarinya lagi. “Jangan coba mencari tahu apapun. Bersembuny dan hiduplah seolah kau tidak ada. JIka kau tidak melakukan itu, kau pasti akan mati,” ujarnya.


Hwang Tae mendorong Nok Du hingga keluar pintu. “Hyung…” panggil Nok Du sedih.


“Jangan panggil aku seperti itu lagi,” kata Hwang Tae lalu menutup pintunya. Ia menangis.
Comments


EmoticonEmoticon