10/24/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 14 PART 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

Hwang Tae buru-buru menghapus air matanya saat Yool Moo datang. Yool Moo bertanya apakah ada yang terjadi. Hwang Tae bilang minuman tadi membuat perasaannya agak sentimental.


Hwang Tae balik bertanya apa yang terjadi di luar. Yool Moo bilang semua sudah diurus. Ia meminta Hwang Tae tidak perlu khawatir dan mempersilakannya beristirahat. “Aku punya janji temu lain. Selamat malam,” kata Yool Moo lalu pergi.


Hwang Tae merasa lega karena Nok Du tidak ketahuan.


Nok Du berjalan dengan perasaan tak menentu. Ia menangis. Tapi kemudian, ia terlihat serius dan memakai cadarnya lagi.


Yool Moo merasa heran karena Nyonya Chun datang sendirian. “Aku tidak bisa menemukan Nyonya Kim, jadi aku pergi ke sini sendiri. Ada yang ingin kutanyakan padamu,” kata Nyonya Chun. Yool Moo bertambah heran karena Nyonya Chun tidak bisa menemukan Nok Du.


Yool Moo menyuruh Nyonya Chun masuk dan menunggu di dalam karena ia harus pergi keluar dulu. “Apa kau membunuh Nyonya Kim?” tanya Nyonya Chun hingga menghentikan langkahnya.


Yool Moo mengiyakan tanpa ragu sedikitpun. Ia membunuh Deul Re untuk menjaga rahasia dan menyingkirkan kemungkinan yang nantinya akan menjadi masalah. Ia bertanya apakah ada masalah dengan itu. “Untuk masalah di masa depan, haruskah kau membunuh seorang wanita yang membahayakan nyawanya demi menjalankan tugasnya?” tanya Nyonya Chun kecewa.


Yool Moo bilang alami bagi seseorang yang menghilang setelah mendapatkan tujuannya. Nyonya Chun mengambil kesimpulan bahwa Yool Moo mungkin akan mengabaikan Pasukan Muweol kapanpun ia mau. “Kau bisa memastikan aku tidak akan mengabaikan mereka. Dan untuk Desa Janda, aku sudah mengabaikannya,” kata Yool Moo.


Para perampok sudah sampai di laur gerbang Desa Janda. “Ayooo!” kata pemimpin perampok.


“Jika kau membutuhkan sebuah desa, aku akan membangun yang baru. Jika kau mau Rumah Gisaeng, aku akan membuatkan yang terbesar dan termewah di Hanyang. Jangan bilang kau berpikir untuk mengeluarkan Pasukan Muweol dari desa akan menyelesaikan masalah ini,” kata Yool Moo.


Nyonya Chun meminta waktu dan akan memastikan tidak akan ada bukti yang akan didapatkan oleh Raja. Ia akan memindahkan seluruh desa jika memang diperlukan. “Kenapa? Kenapa aku harus melakukan itu? Itu terasa merepotkan setelah aku tahu cara yang lebih sederhana untuk menjamin apa yang kuinginkan,” kata Yool Moo.


Nyonya Chun: “Aku mengerti sekarang.”
Yool Moo: “Syukurlah. Tunggu aku di dalam. Dan suruh Dan Ho untuk menemukan Nyonya Kim.”
Nyonya Chun: “Ya, Tuan.”


Nyonya Chun sangat mengkhawatirkan keadaan di Desa Janda, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Heo Yoon tampak melamun sendirian. “Kau berhasil menangkapnya?” tanya Heo Yoon ketika ada seseorang masuk ke ruangannya. Ternyata orang itu bukanlah pengawalnya. “Siapa kau?” tanya Heo Yoon pada seorang pria bercadar yang menghunuskan pedang ke lehernya.


“Ayahku, kakakku, dan aku. Kenapa kau mencoba membunuh kami? Siapa aku sebenarnya?” tanya Nok Du. Heo Yoon terperangah. “Jawab aku.”


“Apa kau…” ucapan Heo Yoon terhenti karena ada suara dari luar yang memanggilnya.


“Desa Janda berada dalam bahaya!” kata Nyonya Chun yang masuk dengan tiba-tiba. Ia terkejut saat melihat ada orang lain juga di ruangan itu. Nok Du pun sama terkejutnya.


Para perampok sudah masuk ke desa. “Ayo kita mulaaaai!!” teriak si pemimpin. Para perampok mulai melemparkan obor yang mereka bawa ke rumah-rumah. 


Para penghuni desa yang merupakan janda biasa keluar dari rumah dan berusaha menyelamatkan diri. Tapi, para perampok itu mengejar dan membunuh mereka. “Jangan lewatkan satu orang pun!” ujar si pemimpin.


Tiga wanita anggota Pasukan Berbudi Luhur keluar rumah. Mereka terkejut dengan keadaan desa. Mereka tampak kebingungan.


Nok Du menunggangi kuda dengan cepat, menembus gelapnya malam. [halah! Haha… kalo  kata orang Cirebon mah ‘kaya kang iya bae’]


Ternyata janji temu Yool Moo adalah dengan Dong Joo di tempat ayunan. [maaf ya di part sebelumnya aku nulisnya antara jam 9 sampi 11 siang, harusnya ‘malam’, hehe..]


Ia merasa sedih karena Dong Joo tidak kunjung datang. Ia mengingat sesuatu dan langsung pergi dengan menunggangi kudanya.


Dong Joo menatap tempat rahasinya yang sudah kosong. Ia menghapus air matanya, lalu pergi dengan membawa barang-barangnya.


Sementara itu, Aeng Doo dan Guru Hwang sedang berada di pasar. Aeng Doo sedang mencari penjual kue beras dengan daging di dalamnya dan rasanya sangat enak.


Salah satu penjual di sana mengatakan bahwa ia belum pernah mendengar ada tempat yang menjual makanan seperti itu. “Astaga, ini membuatku frustasi. Aku yakin ini tempatnya. Aku yakin,” kata Aeng Doo.


Guru Hwang sudah lelah menemani Aeng Doo. Ia menyuruh Aeng Doo makan apa saja, lalu pulang. Ia menakut-nakuti Aeng Doo akan bertemu harimau jika pulang terlalu malam. “Tidak apa-apa. Kita bisa bermalam di sini,” kata Aeng Doo.


Aeng Doo menunjukkan kantong uang yang dibawanya. “Dengan in, kita bisa menghabiskan 10 malam di sini,” ujarnya senang dan mulai mencari makanan itu lagi..


“Astaga.. kenapa dia menyuruhnya memakan sesuatu yang tidak pernah ada? Astaga, ini sangat menyebalkan. Tapi dia membawa banyak uang,” gerutu Guru Hwang lalu mengejar putrinya yang sangat suka makan. 


Suasana di Desa Janda semakin kacau. “Bunuh semua orang!” teriak pemimpin perampok. Mereka membunuh tanpa ampun.


Dong Joo yang akan pergi, kemudian menghentikan langkahnya saat melihat desa yang terbakar. “Itu desa kami. Api…” gumamnya terkejut.


Ia bergegas lari menuju Desa Janda.


Nok Du turun dari kuda dan berlari melewati sungai.


Soon Nyeo melawan para perampok, tapi kondisinya terdesak. Ia akhirnya terjatuh dan beberapa perampok mendekatinya.


Dong Joo menembakkan anak panahnya dan berhasil mengenai perampok yang akan membunuh Soon Nyeo. Ia membantu Soon Nyeo berdiri dan bertanya apa yang sedang terjadi.


“Aku tidak tahu,” kata Soon Nyeo. Saat mendengar suara teriakan, ia langsung pergi. Dong Joo ingin mengikutinya, tapi seorang perampok keburu datang dan mencekiknya.


Dong Joo berusaha melepaskan dirinya, tapi perampok itu terlalu kuat.


Yool Moo sampai di Desa Janda karena mengkhawatirkan Dong Joo. Ia melihat keadaan sekitar dengan gelisah.


“Dong Joo…” gumamnya ketika melihat Dong Joo di kejauhan.


“Dong Joo…! Hentikan sekarang juga!” teriak Yool Moo sambil berlari.


Dong Joo hampir kehabisan tenaga.


Sebelumnya, Aeng Doo bertanya apa yang Doo Joo bawa dan kemana ia akan pergi. “Katakan padanya aku menyesal karena ini tidak cukup banyak,” kata Dong Joo. Aeng Doo bertanya kepada siapa ia harus menyampaikan pesan itu.


“Kepada kakakmu. Siapa namanya?” kata Dong Joo. Aeng Doo menatapnya dengan sedih.


Perampok itu mengangkat kapaknya.


“Nok Du..” ucap Dong Joo dengan lemah. Ia menutup matanya dan tangannya terkulai lemas. Terdengar sabetan pedang dan Dong Joo pun terjatuh.


Nok Du menyelamatkan Dong Joo!


Comments


EmoticonEmoticon