10/30/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 15 PART 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

Nok Du menebas beberapa perampok sambil berlari menuju tempat Dong Joo.


“Dong Joo… Berhenti. Cepat berhenti!” teriak Yool Moo. Tapi Nok Du tidak sengaja menabraknya dan berlari lebih dulu menuju Dong Joo yang dicekik oleh perampok.


“Nok Du…” rintih Dong Joo di sisa napasnya. Ia menutup matanya dan air matanya menetes, lalu tangannya terkulai lemas.


Tubuh Dong Joo terlepas dari tangan perampok, lalu Nok Du menangkapnya. Para perampok lain datang mengepung Nok Du.


Nok Du menyandarkan Dong Joo di batu tugku dengan hati-hati, lalu ia mengambil kapak milik perampok yang tadi mencekik Dong Joo. Ia mulai bertarung. Walaupun sempat unggul, tangan Nok Du tergores saat menghalangi perampok yang akan menyerang Dong Joo.


Beberapa perampok datang lagi, tapi mereka menurunkan pedangnya saat Yool Moo datang. “Aku akan membawa Dong Joo bersamaku,” kata Yool Moo. Nok Du merasa para perampok itu mengenal Yool Moo. “Itulah kenapa akan lebih aman jika aku membawanya bersamaku.”


Nok Du menyuruh Yool Moo berhenti bicara, kecuali Yool Moo ingin mati. “Jika aku melakukannya, Dong Joo akan mati. Itukah yang kau inginkan?” kata Yool Moo. Nok Du tidak punya pilihan lain.


Yool Moo membawa Dong Joo bersamanya dan berjalan melewati para perampok. Ia memberi kode kepada para perampok untuk menyerang Nok Du.


Para janda melarikan diri ke Rumah Gisaeng, tapi para perampok terus mengejarnya bahkan mereka menyerang para pelayan. “Bunuh semua janda, tapi jangan bunuh gisaeng. Hahaha…”tawa perampok itu terhenti karena kepalanya dilempar batu.


Yeon Geun datang bersama para gisaeng. “Yeon Geun, ayo lakukan ini! Ayoooo!” ujarnya pada diri sendiri. Ia terkejut saat menyadari bahwa ia hanya maju sendirian, sedangkan gisaeng terlihat ketakutan.


Yeon Geun sudah terlanjur maju, jadi ia menyuruh para perampok pergi. Ia melemparkan batu lagi, tapi tangannya terlalu lemas karena ketakutan. Batu itu jatuh ke tanah begitu saja. Para perampok menertawainya.


Yeon Geun akhirnya berlutut dan mengatakan bahwa melempar batu tadi adalah kesalahan. Seorang perampok yang masih tertawa, lalu mengangkat senjatanya siap menebas Yeon Geun. Tapi, Bok Nyeo tiba-tiba datang dan menarik  Yeon Geun.


Bok Nyeo melawan para perampok itu sendirian, hingga kakinya terkena sabetan pedang. Ia kesakitan, tapi terus melawan. Lengannya terkena pedang dan perutnya dipukul dengan batang kayu. Ia sempat terjatuh, tapi kembali menyerang.


Para gisaeng ketakutan dan melarikan diri, tapi perampok berhasil menangkap beberapa gisaeng. Hwa Soo tidak tertangkap, tapi ia tidak bisa membiarkan teman-temannya begitu saja. Ia menyerang perampok itu, hingga kedua temannya berhasil melarikan diri.


Perampok itu marah dan akan menyerang Hwa Soo, tapi Nyonya Choon dan Tim Kim Ssook menyelamarkannya. Saat perhatian perampok teralihkan, Hwa Soo mengambil pisau panjang dan menusuk pinggang belakang si perampok.


Nyonya Chun memeluk Hwa Soo yang menangis ketakutan. Ia memerintahkan Tim Kim Ssook untuk pergi ke Desa Janda. “Kau aman sekarang,” kata Nyonya Chun pada Hwa Soo.


Yool Moo membawa Dong Joo ke sebuah tempat. Ia ingin menyentuh wajah Dong Joo, tapi tidak jadi. Akhirnya, ia hanya memakaikan selimut pada Dong Joo. Ia lalu pergi untuk memanggil tabib.


Yeon Geun dan Bok Nyeo berusaha melarikan diri, tapi akhirnya terjatuh karena kaki Bok Nyeo terluka. “Kutangkap kalian,” kata seorang perampok sambil mengeluarkan senjatanya. Seseorang melempar kepala si perampok dengan guci.


Guru Hwang datang sambil menggendong Aeng Doo. Ia berjalan sempoyongan karena mabuk. Ia menurunkan Aeng Doo dan meminta Bok Nyeo menjaganya. Ia bilang Bok Nyeo terluka jadi harus segera pergi. “Kau akan terluka. Biarkan aku saja yang melawan mereka,” kata Bok Nyeo. Guru Hwang menolak.


Dalam keadaan mabuk, Guru Hwang berhasil mengalahkan semua perampok. “Di mana Nok… Soon?” tanya Guru Hwang. Bok Nyeo dan Yeon Geun bingung karena tidak mengenal siapa Nok Soon.


Dong Joo sadar. Ia menyadari sesuatu, lalu bergegas pergi.


Tim Kim Ssook melawan para perampok.


Soon Nyeo dan Mal Nyeon pun berusaha mempertahankan desa mereka.


Para perampok itu seakan tidak ada habisnya. Para janda dan Tim Kim Ssook pun akhirnya terpojok. Kepala perampok menyebut para wanita itu sangat berani. Ia menantang siapa duluan yang mau melawannya. Kim Ssook berdiri.


“Aku,” kata Nok Du sambil berjalan mendekat. Para perampok merasa heran karena Nok Du hanya sendirian. “Aku maju lebih dulu.” Kepala perampok tersenyum mengejek.


Kim Ssook melihat tangan Nok Du yang sudah berlumuran darah.Nok Du mulai melawan semua perampok itu sendirian.


Dong Joo berlari menuju Desa Janda, tapi ia terjatuh. Ia mengaduh, tapi kemudian kembali berlari.


Tempat pembuatan minuman hampir terbakar habis.


Kepala perampok berhasil dikalahkan Nok Du dengan susah payah, tapi perampok lain akan menyerangnya. Kim Ssook melemparkan pisau pada perampok itu, sehingga Nok Du selamat. Melihat pimpinan mereka kalah, para perampok melarikan diri.


Rombongan Guru Hwang sampai di Desa Janda dan sangat terkejut dengan apa yag dilihatnya. Semua orang memperhatikan Nok Du.


Kim Ssook: “Terima kasih telah menolong kami. Tapi…”
Nyonya Chun: “Kau terlihat familier.”


Nok Du berusaha menyembunyikan wajahnya. Aeng Doo terbangun dan turun dari gendongan Yeon Geun.


“Ora… unnie.. Unnie! Apa kau tertangkap? Apa mereka tahu kau menyamar sebagai wanita?” tanya Aeng Doo sedih. Semua orang terkejut. Guru Hwang menyebut Nok Du bodoh karena sudah ketahuan.


Aeng Doo menyebut Kim Ssook kejam karena sudah memukuli Nok Du. Guru Hwang membawa Aeng Doo menjauh, sedangkan yang lain masih menunggu penjelasan Nok Du.


“Kau Nyonya Kim. Atau bukan?” tanya Kim Ssook memastikan dugaannya. Nok Du mengangguk dan semua orang syok. Yeon Geun tidak percaya sama sekali. Ia bahkan sampai pingsan setelah tahu kalau selama ini ia menyukai seorang pria.


Bok Nyeo: “Apa itu berarti kau berpura-pura menjadi seorang wanita?”
Soon Nyeo: “Tidak mungkin. Kita bahkan mandi bersama.”
Mal NYeon: “Bukankah dia terlihat seperti si brengsek yang pernah menyelinap ke desa kita?”


Kim Ssook bertanya kenapa Nok Du berusaha mendekati mereka. “Dulu saat di pulau, kami diserang. Aku harus mencaritahu siapa yang melakukannya dan apa alasannya,” kata Nok Du.


Nok Du mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya. Ia meminta maaf atas semua perbuatannya.


“Nok Du! Nok Du!” panggil Dong Joo. Semua orang menoleh. “Biarkan aku lewat.” Ia menghampiri Nok Du dengan cemas.


“Maafkan aku. Ini semua kesalahanku,” kata Nok Du sambil mengusap kepala Dong Joo. Dong Joo mengira Nok Du sudah mati. “Kenapa aku harus mati? LIhatlah aku…” Nok Du muntah darah dan ambruk.


“Tidak! Nok Du!” Semua orang terlihat khawatir.
Comments


EmoticonEmoticon