10/30/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 16 PART 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

Raja berjalan dengan marah setelah tahu kalau Komandan Pengawalnya tidak berhasil emncaritahu siapa yang menyerang desa dan membunuh para janda. Ia bertambah marah karena saksi yang mereka temukan malah tewas.


Raja mengambil pedang Komandan dan mengarahkannya ke leher Komandan. Para kasim dan dayang langsung bersujud ketakutan. “Apa yang kau tahu kalau begitu?! Apa yang bisa kau lakukan untukku?! Aku tanya apa yang bisa kau lakukan untukku?!” tanya Raja.


Komandan mendapat informasi bahwa di malam penyerangan, Nyonya Chun pergi mengunjungi Heo Yoon. Raja terkejut dan menjatuhkan pedangnya. Komandan ikut bersujud. “Yun lagi?” Raja bertanya-tanya.


Dan Ho menemui Yool Moo dan memberitahu kalau ia belum berhasil menemukan Dong Joo. “Aku harus menemukannya. Jika dia menolak datang, bawa dia secara paksa. Dan jika pria itu bersamanya, bunuh dia saat itu juga,” kata Yool Moo.


Dong Joo memakaikan masker pada seorang wanita. Ia juga memajang beberapa aksesoris yang dijualnya. “Ini berapa harganya?” tanya seorang wanita yang sepertinya adalah dayang. Dong Joo memberi harga satu koin untuknya.


Dayang itu merasa sangat senang karena mendapat harga murah, tapi ia bertanya bagaimana Dong Joo menafkahi hidupnya jika menjual dengan murah. “Aku bisa mendapat penghasilan jika kalian membantuku sedikit. Apa kalian pikir aku bisa mendapat pekerjaan sebagai pelayan di istana?” tanya Dong Joo.


Nok Du sudah sampai di Hanyang dan berjalan dengan gagah bersama Guru Hwang dan Aeng Doo. Ia dikejutkan dengan kemunculan Yeon Geun.


“Sampai kapan kau akan mengikutiku?” tanya Nok Du. Guru Hwang bilang mereka sudah sampai di Hanyang dan mereka bisa berpisah sekarang. Yeon Geun bertanya apakah mereka punya tempat tinggal. “Kami akan mengurusnya. Selamat tinggal.” Mereka pergi meningalkan Yeon Geun.


Guru Hwang: “Kau tahu? Kenapa dia masih melihatmu dengan kesedihan di matanya?”
Nok Du: “Apa?”
Aeng Doo: “Iya. Ketika kau tidur semalam, dia terus menempel padamu.”


Aeng Doo lalu menirukan ucapan Yeon Geun, “Tidak. Itu tidak mungkin.” Nok Du bilang sekarang Yeon Geun sudah tahu kalau dia adalah seorang pria. Yeon Geun berlari dan menepuk bahu Nok Du.


“Apa? Apa ini? Apa?” tanya Nok Du ketakutan.


Yeon Geun mengajak mereka ke suatu tempat dan menjamu mereka makan. “Jadi kau akan membantu kami memulai hidup di Hanyang?” tanya Nok Du. Yeon Geun bilang ia tidak melakukan ini untuk Nok Du, ia hanya membantu karena mengkhawatirkan Guru Hwang dan Aeng Doo.


Yeon Geun merasa memiliki ikatan dengan mereka. “Aku merasa kita seperti keluarga,” kata Guru Hwang sambil mengunyah makanan. Aeng Doo akan memanggilnya dengan sebutan orabeoni sekarang, Yeon Geun merasa terharu.


Nok Du bilang ia tidak bisa merepotkan Yeon Geun seperti itu. Ia bilang karena kejadian yang menimpa desa, Yeon Geun bisa dihukum. Yeon Geun terlihat gugup, tapi ia sudah bersiap untuk yang terburuk.


“Hanyang adalah kota kanibal, jadi aku khawatir bagaimana kalian akan bertahan. Dengarkan aku. Aku akan meminta bayaran untuk jasaku nanti. Ayo pergi,” kata Yeon Geun. Nok Du bertanya ke mana mereka akan pergi. “Kita butuh tempat tinggal. Kita juga harus melakukan sesuatu dengan pakaian norak itu.”


Nok Du memperhatikan pakaiannya yang disebut norak itu.


Yeon Geun mengajak mereka ke toko pakaian. Guru Hwang merasa pakaian barunya sangat lembut, hingga lalat pun akan terpeleset. Aeng Doo juga snagat menyukai baju barunya. Yeon Geun sedang gelisah karena Nok Du tidak juga muncul.


Nok Du keluar dari ruang ganti dengan pakaian berwarna pink. Mereka bertiga tampak takjub dengan ketampanan Nok Du.


“Astaga, kau masih terlihat cantik. Kau… Maksudku, pakaianmu! Kau akhirnya terlihat seperti seseorang yang berasal dari Hanyang,” kata Yeon Geun. Guru Hwang bertanya apa Yeon Geun yakin akan menghabiskan banyak uang seperti itu. Aku luar biasa dalam banyak hal. Aku punya banyak uang. Jangan khawatir.” Guru Hwang memuji kebaikan hatinya.


Yeon Geun memakaikan topi, walau Nok Du bilang tidak membutuhkannya. “Kau akan menjadi sepupuku yang sudah lama meninggalkan Hanyang. Ketika kau berumur kurang dari 10 tahun, kau pindah ke selatan karena kau mudah sakit. Lalu, kita kehilangan kontak. Dan sekarang, kau kembali,” kata Yeon Geun.


Nok Du khawatir ia sudah merepotkan Yeon Geun. “Jika bukan karena kalian, aku sudah mati. Aku berhutang pada kalian. Kau akan menggunakan margaku. Namamu sekarang Yeon Soo,” kata Yeon Geun.


Nok Du: “Yeon Soo…”
Yeon Geun: “Baiklah. Ayo kita mencari rumah.”


Nok Du pergi sendirian dan melihat sebuah ayunan.


Ia mengingat saat menemani Dong Joo bermain ayunan.


“Gadis yang mengerikan,” gerutu Nok Du yang mengingat senyum Dong Joo saat bermain ayunan.


Nok Du sudah akan pergi, tapi ia melihat seorang pria menduduki ayunan itu. Ia terkejut karena merasa ada seseorang yang merebut ayunan Dong Joo.


Yang duduk di ayunan itu adalah Raja. Nok Du bertanya, “Berapa lama kau akan menggunakannya?” Para pengawal langsung mendekat dan waspada, tapi Raja memberi kode agar mereka menjauh.


“Apa yang kau katakan tadi?” tanya Raja. Nok Du bilang ia sedang menunggu. “Untuk naik ayunan?” Nok Du mengiyakan. “Ah… kau ingin menaiki ayunan ini.”


Raja meninggalkan ayunan itu, tapi dia kembali duduk lagi. “Ah…sudah lama aku tidak bermain ayunan,” ujarnya, lalu berayun pelan.


“Baiklah, kalau begitu, Aku akan menunggu sebentar lagi,” kata Nok Du lalu duduk di atas rumput. Sambil mengayunkan ayunannya, Raja menebak kalau Nok Du sedang mengkhwatirkan sesuatu. “Ya.” Raja penasaran. “Aku takut akan mengetahui sesuatu yang aku tidak mau tahu.”


Raja: “Kau sepertiku. Apa kau ingin melarikan diri?”
Nok Du: “Tidak. Aku akan menghadapinya.”


“Tunggu dulu,” kata Raja saat melihat Nok Du akan pergi. “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Nok Du tidak yakin. “Sampai jumpa lagi.”


“Jika takdir mengizinkan,” kata Nok Du yang sama sekali tidak tahu kalau pria itu adalah ayah kandungnya.


“Aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat,” gumam Nok Du.


Malam hari tiba. Nok Du kembali menemui Heo Yoon yang kala itu sedang menatap bulan. “Kali ini, kau harus menjawab pertanyaanku,” kata Nok Du. Heo Yoon menyuruh Nok Du mengikutinya.


Heo Yoon membawa Nok Du menemui Yoon Jeo. “Ayah..” panggil Nok Du sambil melepaskan topinya dan langsung memeluk ayah angkatnya itu.


“Nok Du..” ucap ayah dengan penuh haru. Heo Yoon menutup pintu kamar dan meninggalkan mereka berdua.


Yoon Jeo menyentuh wajah Nok Du dan bilang kalau Nok Du pasti telah menjalani masa sulit. Nok Du bertanya kenapa ayahnya dikurung di tempat itu. “Ayah tidak dikurung di sini. Dia teman lama ayah. Dia tidak akan melukai kita lagi, jadi jangan khawatir,” kata Yoon Jeo.


“Dia seorang teman? Kenapa teman ayah berusaha membunuh kita? Dan sekarang, dia tidak akan menyakiti kita? Apa itu karena… aku adalah…” ucapan Nok Du terhenti karena Yoon Jeo memeluknya dan melarangnya mengatakan apapun.


Yoon Jeo juga melarang Nok Du bertanya. Sambil menangis, ia bilang kalau ia membenci ibunya karena ibunya selalu lebih menyayangi Hwang Tae. Yoon Jeo melepaskan pelukannya.


Yoon Jeo: “Ayo kita pergi dari cari kakakmu.”
Nok Du: “Ibu menjalani seluruh hidupnya dengan hampa dan meninggal tanpa mendapat pengobatan. Jadi bagaimana bisa aku tidak punya pertanyaan?”


“Siapa aku? Siapa aku?!” tanya Nok Du emosional.
Comments


EmoticonEmoticon