10/30/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 17 PART 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

Komandan tidak jadi membuka pintu karena Raja datang. “Kau bilang lengan pria itu tergores?” tanya Raja memastikan. Komandan mengiyakan. Raja mengambil lentera milik pengawal dan membuka pintunya.


Nok Du dan Dong Joo bingung tidak tahu harus berbuat apa.


Raja mengangkat lenteranya agar bisa melihat lebih jelas karena di dalam ruangan itu sangat gelap.


Dong Joo membuka tali baju Nok Du dan menyembunyikan wajahnya seolah sedang berbuat sesuatu yang tidak senonoh. Nok Du terkejut, tapi Dong Joo menahannya agar tetap seperti itu.


“Hei, kalian.Keluarlah.. Astaga, apa yang terjadi?” kata Komandan.


Komandan melihat lengan baju Nok Du yang tidak robek sama sekali.


Ternyata saat melarikan diri, Nok Du yang menyadari bahwa lengan bajunya robek, lalu mengambil pakaian yang ada di jemuran.


“Tunggu. Aku mengenalnya. Dia bukan pria yang kau cari,” kata Raja yang kemudian meminta maaf kepada Nok Du. Komandan pamit untuk mencari Nok Du di tempat lain.


“Ayo, kita pergi,” ajak Komandan pada anak buahnya.


Nok Du bertanya apakah Raja adalah Kepala Polisi. Raja agak terkejut, tapi ia mengiyakan dan memberitahu kalau sedang mencari seseorang. Raja lalu bertanya apa yang sedang Nok Du dan Dong Joo lakukan di sana. Mereka lalu melepaskan dirinya dengan gugup. “Tidak ada apa-apa,” kata Nok Du.


Raja: “Ngomong-ngomong, apa kau tahu nama pria ini? Aku penasaran apa kau mengenalnya.”
Dong Joo: “Kenapa aku harus tahu namanya? Aku melihatnya di pasar dan mengaguminya, jadi aku mengikuti dan bicara dengannya. Aku bisa mengenalnya sedikit demi sedikit.”


Dong Joo tersenyum dan Raja tidak lagi mencurigai mereka.


Nok Du senang karena Dong Joo terus menggamit lengannya. Raja bilang ia mendengar kalau Nok Du sudah lama meninggalkan Hanyang demi kesehatannya. “Ya. Aku datang lagi ke Hanyang untuk membuat jejak di dunia ini, walaupun orangtuaku melarang,” kata Nok Du.


“Keluargamu menjadi pegawai negeri selama beberapa generasi, tapi kau malah bersiap untuk ujian militer padahal kau sakit-sakitan. Tapi jika kau percaya diri, kau harus tetap berusaha,” kata Raja. Nok Du mengerti.


Dong Joo menghentikan langkahnya seolah terganggu dengan kehadiran Raja. Raja mengerti dan pamit pergi. “Berati-hatilah, Tuan,” kata Dong Joo. Raja sudah akan pergi, tapi ia berbalik lagi.


“Kalian berdua… terlihat serasi,” puji Raja. Nok Du berterima kasih.


Setelah Raja pergi, Dong Joo langsung melepaskan gandengan tangannya. Ia bilang tidak punya banyak waktu, jadi harusnya Nok Du tidak berbincang selama itu. Karena masalahnya sudah selesai, ia akan pergi.


Nok Du meraih tangan Dong Joo dan mengingatkan kalau ia tidak akan pernan membiarkan Dong Joo pergi. “Ada yang harus aku lakukan di sini,” kata Dong Joo. Nok Du bertanya karena itukah Dong Joo meninggalkannya. Ia bertanya apa yang akan Dong Joo lakukan.


Dong Joo: “Aku tidak bisa memberitahumu.”
Nok Du: “Kenapa?”
Dong Joo: “Sama seperti kau menyamar sebagai wanita dan kenapa kau menggunakan nama samaran di sini. Aku juga punya alasanku sendiri. Mengerti?”


Nok Du akhirnya membiarkan Dong Joo berbuat sesuai keinginannya, tapi Dong Joo harus menepati janjinya. Ia mengeluarkan sebuah kertas dari balik bajunya. “Kau sudah menstempelnya,” kata Nok Du. Dong Joo mengambil kertas itu.


“Ini surat perjanjian?” tanya Dong Joo. Nok Du bilang ia sudah menangkap orang yang mengambil uangnya, jadi ia tidak bisa membiarkan Dong Joo pergi. Ia melarang Dong Joo pergi sebelum membayar hutang dan bunganya.


Nok Du mengambil lagi surat itu dan mendorong Dong Joo pergi. Dong Joo kesal, tapi ia terpaksa menurut.


“Dia putramu?” tanya Raja. Yoon Jeo terbatuk dan mengiyakan pertanyaan Raja. Yoon Jeo bertanya apakah Raja tidak ingat kalau ia punya anak kecil. Yoon Jeo bilang setelah hampir mati 20 tahun lalu, ia pulang ke rumah. Ia lalu melarikan diri bersama istri dan anaknya. “Seingatku namanya bukan Nok Du.”


“Kami hidup bersembunyi, jadi dia tidak bisa menggunakan nama aslinya,” kata Yoon Jeo. Raja masih curiga dan meminta bertemu dengan Nok Du. Ia bertanya di mana keberadaan Nok Du. “Maaf harus mengatakan ini, tapi aku juga tidak tahu. Dia berpikir aku dikurung di sini dan menghilang.”


Nok Du membawa Dong Joo ke rumah Yeon Geun. Dong Joo meminta ruangan kosong untuk dirinya sendiri, tapi Nok Du tidak mempercayainya. “Jangan protes dan ikuti aku,” kata Nok Du sambil membawakan barang milik Dong Joo.


Dong Joo tidur di kamar Nok Du dan di sebelahnya adalah kamar Yeon Geun. Nok Du terus menatap Dong Joo dari belakang. Dong Joo terbangun dan memergokinya.


Dong Joo bertanya apa Nok Du sedang mengawasinya. Nok Du bilang Dong Joo pasti melarikan diri jika ada kesempatan. “Bagaimana keadaan lukamu?” tanya Dong Joo. Nok Du balik bertanya apakah Dong Joo serius dengan pertanyaannya. Nok Du bangun karena ia sangat penasaran.


“Bagaimana kau bisa pergi seperti itu? Aku sedang tidak sadar. Kita bisa saja tidak pernah bertemu lagi,” kata Nok Du. Dong Joo bilang itu tidak ada hubungannya dengan dirinya. Nok Du memegang bahu Dong Joo. “Bagaimana kau bisa berkata seperti itu?!”


Mereka saling bertatapan. Akhirnya Nok Du melepaskan tangannya dan berkata, “Baiklah. Jangan khawatirkan keadaanku dan hutangmu. Mengerti?” kata Nok Du. Dong Joo mengerti dan meminta Nok Du tidak memikirkannya juga.


Nok Du: “Siapa bilang aku melakukannya? Perasaanku untukmu sudah hilang.”
Dong Joo: “Aku bahkan tidak pernah memulai perasaan apapun.”


Nok Du kesal dan tidur lebih dulu.


Keesokan harinya, Guru Hwang dan Yeon Geun memasak 2 ekor ayam untuk merayakan kelulusan Nok Du di ujian pertama. Guru Hwang menyuruh Yeon Geun berhemat dengan memasak 1 ayam saja. Yeon Geun yakin Nok Du akan lulus ujian akhir dan berhasil masuk istana, jadi Nok Du harus makan dengan baik.


Aeng Doo setuju dengan Yeon Geun karena tidak baik jika menjadi orang yang pelit. Guru Hwang bilang 2 ayam terlalu banyak untuk mereka berempat. Yeon Geun marah karena Guru Hwang terus saja mengomel.


Yeon Geun berdehem, lalu mengetuk pintu kamar Nok Du. “Hei, yang di dalam. Kau harus sarapan. Aku akan masuk,” ujarnya dengan manis. Ia membuka pintunya. “Astagaaa!!”


“Apa? Apa yang terjadi?” tanya Guru Hwang yang langsung menghampiri Yeon Geun. Aeng Doo juga penasaran.


Mereka bertiga melihat Nok Du tidur bersebelahan dengan Dong Joo.


Guru Hwang langsung menutup mata Aeng Doo. “Astaga, lihat kekacauan ini,” keluh Yeon Geun.
Comments


EmoticonEmoticon