10/30/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 17 PART 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

Saat sarapan, Yeon Geun menatap curiga pada Nok Du dan Dong Joo. Guru Hwang juga melakukan hal yang sama. Karena suasana menjadi canggung, Nok Du memutuskan memulai pembicaraan.


Nok Du bilang Dong Joo punya kebiasaan tidur yang buruk. Dong Joo memastikan bahwa saat akan tidur mereka terpisah jauh. “Aku tidak mau kalian salah paham. Dia berhutang uang padaku. Hubugan kami sama seperti kreditor dan debitur,” kata Nok Du.


Dong Joo: “Dia benar. Aku harus membayar bunga 70 persen. Dia benar-benar rentenir.”
Nok Du: “Kami tidak memiliki perasaan satu sama lain.”
Dong Joo: “Dia benar.”


Guru Hwang masih mencurigai mereka. “Hah?!” kata Yeon Geun yang sama sekali tidak mempercayai cerita mereka.


“Karena dia sudah kembali, orabeoni tidak akan menangis lagi saat malam hari,” kata Aeng Doo polos. Nok Du beralasan kalau ia menangis karena lukanya terasa sakit. Guru Hwang bilang ia percaya dan mengajak mereka makan. Ia juga bilang kalau ia merasa senang karena Dong Joo sudah kembali.


Dong Joo melihat Yeon Geun yang masih bersikap sinis. Ia lalu menanyakan keadaan mereka semua. Ia juga bertanya apakah Aeng Doo sudah banyak mencoba makanan enak di Hanyang. “Aku hanya makan demi bertahan hidup,” kata Aeng Doo.


Yeon Geun bilang itu tidak benar. “Aku selalu memikirkan pancake daging dan kebab Korea. Aku merindukan Yool Moo orabeoni,” kata Aeng Doo sedih. Guru Hwang menyuapi Aeng Doo makanan agar tidak bicara lagi.


“Jangan bicara seperti itu. Menurutmu apa yang akan terjadi jika dia datang ke sini? Berpikirlah sebelum bicara,” tegur Guru Hwang. Dong Joo lalu bertanya apa yang membawa mereka semua ke Hanyang.


Yeon Geun bilang orang polos seperti Nok Du akan menderita di Hanyang, jika ia tidak membantunya. “Ya, seperti itulah. Ayo kita mulai makan!” ajak Guru Hwang.


Nok Du melihat tumpukan tulang ayam di piring Aeng Doo.


Nok Du buru-buru mengambil paha ayam dan meletakkannya di piring Dong Joo. Di saat yang bersamaan, Yeon Geun meletakkan dada ayam ke piring Nok Du. [wkkk semacam cinta segitiga yang terlarang]


Guru Hwang melihat kejadian itu dan menyebut mereka semua sudah bertingkah konyol sejak pagi. Nok Du beralasan bahwa Dong Joo harus makan banyak agar bisa bekerja keras untuk membayat hutangnya. Aeng Doo juga tampak kesal.


Dong Joo: “Ngomong-ngomong, aku harus pergi bekerja.”
Nok Du: Aku juga harus pergi.”


“Jangan pergi,” larang Yeon Geun, tapi Nok Du tidak mempedulikannya. Nok Du pergi ke arah yang sama dengan Dong Joo. Yeon melemparkan ayam yang akan digigitnya ke atas meja. Aeng Doo denagn senang hati memakannya.


Nok Du mengintai rumah Heo Yoon. Ia melihat banyak penjaga berpatroli tapi menggunakan pakaian biasa.


Ia buru-buru menyembunyikan dirinya saat melihat Dan Ho lewat di depan rumah Heo Yoon. Hal itu membuat Nok Du semakin penasaran tentang siapa lagi yang terlibat dalam hal ini.


Yool Moo mendengar kalau Hwang Tae mengalami susah tidur, jadi ia membawakan obat untuk membantu insomnianya. “Terima kasih. Tapi… apakah tidak masalah jika aku tinggal di sini tanpa melakukan apapun?” tanya Hwang Tae.


Yool Moo bilang Hwang Tae sedang bersiap untuk membantunya di masa depan. Hwang Tae mengerti. “Ketika waktunya tiba, aku akan mengembalikan kehidupanmu yang hilang,” lanjutnya. Hwang Tae bilang ia akan melakukan yang terbaik untuk membantu Yool Moo. 


[Apa kira-kira yang direncanakan Hwang Tae? Apa dia sungguh berpihak pada Yool Moo? Atau hanya berpura-pura agar Nok Du dan ayahnya aman?]


Dong Joo pergi ke pintu istana tempat dayang keluar untuk beristirahat. Ia menemui seorang dayang. Mereka lalu pergi ke suatu tempat untuk bicara.


“Aku tidak tahu apa kesalahanmu, tapi setiap kali kami membicarakanmu, dia akan mengomel bahwa dia sudah tertipu olehmu,” kata dayang itu membicarakan Dayang B. “Kami berkewajiban untuk mengikuti perintahnya. Aku harap kau mengerti.”


Dong Joo mengerti dan berjanji tidak akan bilang pada siapapun kalau mereka bertemu hari ini. Dayang itu menyarankan agar Dong Joo menyerah. “Tidak, aku tidak bisa melakukan itu. BIsakah kau menolongku? Aku akan melakukan apapun. Aku mohon,” kata Dong Joo.


Dayang itu ingin menolak, tapi kemudian ia berkata, “Sepertinya aku tahu satu cara.” Dong Joo terlihat antusias.


Kim Ssook tampak gelisah.


Yeon Boon dan jung Sook tampak mencari-cari sesuatu. Kim Ssook melihat kedatangan mereka dan langsung menghampiri. Mereka tampaknya berada di Rumah Gisaeng di Hanyang.


Mereka sangat lega karena dapat bertemu kembali. Mereka berpelukan dengan bahagia. Jung Sook langsung bertanya kenapa Nyonya Chun bisa tewas. “Aku seharusnya melindunginya. Aku tidak tahu harus mengatakan apa,” kata Kim Ssook.


YEon Boon bertanya apakah Kim Ssook terluka. Kim Ssook bilang ia baik-baik saja dan menanyakan para janda lain yang melarikan diri. “Kami sudah membawa mereka ke tempat yang aman. Tapi, siapa yang membunuh Nyonya Chun? Apa kau melihat wajahnya?” kata Yeon Boon.


Kim Ssook menggeleng. Ia bilang pelakunya memakai masker dan sangat gesit. “Nyonya Chun dikelilingi pengawal kerajaan, tapi ia berani menembakkan panah dan melarikan diri,” ujarnya. Jung Sook heran kenapa pelaku melakukan itu. “Aku akan menemukan dan membunuhnya, bagaimanapun caranya, siapapun dia.”


“Kalian masih belum mengerti?” tanya Yool Moo yang tiba-tiba muncul. Mereka terkejut.


Kim Ssook: “Apa? Tuan Heo?”
Yool Moo: “Coba pikirkan siapa yang memberi perintah untuk pindah ke markas lain. Dan siapa yang akan marah jika Nyonya Chun memutuskan bekerja untukku?”


Kim Ssook bilang mereka tidak bisa mengambil kesimpulan hanya karena alasan itu. “Penasehat sekarang dikurung di rumahnya. Yang Mulai sangat mencurigainya, tapi ia kehilangan bukti. Karena itulah Yang Mulai mengurungnya,” kata Yool Moo.


“Jadi maksudmu, Nyonya Chun adalah buktinya?” tanya Yeon Boon. Yool Moo bilang jika Nyonya Chun masih hidup, Heo Yoon pasti sudah mati sekarang.


Yool Moo memperhatikan ekspresi Kim Ssook dan mulai bersiasat lagi. “Kalian pikir Nyonya Min hilang secara kebetulan?” kata Yool Moo membicarakan Deul Re. “Jasadnya ditemukan di rumah Penasehat.” Mereka bertiga terkejut.


“Aku akan membantu kalian membalas dendam. Bagaimana menurutmu? Kau bisa menjadi pimpinan baru Pasukan Muweol? Balas dendamlah dan bantu aku menciptakan dunia baru,” kata Yool Moo. Kim Ssok tidak menjawab.


“Apa yang perlu dipertimbangkan? Kau harus melakukannya?” kata Jung Sook.


Yool Moo mengadakan rapat dengan beberapa menteri dan memberitahu bahwa Pasukan Muweol akan membuat markas baru di sana. Ia bilang tentara mereka juga sudah siap, jadi mereka harus bersiap untuk pemberontakan.


Seorang menteri mengatakan bahwa Heo Yoon belum membuat keputusan. Yool Moo yakin orang-orang yang di sana sudah cukup untuk mengurus pemberontakan. Ia menanyakan persetujuan mereka.


Menteri A: “Kau benar. Aku setuju.”
Menteri B: “Kalau begitu, bagaimana jika kita menulis deklarasi sebelum mengadakan pemberontakan? Yang menyatakan bahwa kita semua satu dan akan bertanggung jawab atas apapun yang terjadi.”


Yool Moo menatap Menteri B. “Ini bukan karena aku tidak mempercayaimu. Kupikir kita perlu mencatatanya agar semua merasa yakin,” kata Menteri B.


Keempat menteri menunggu jawaban Yool Moo. Yool Moo berkata, “Baiklah. Mari kita menulis deklarasi.”


Nok Du melihat Yool Moo baru saja meninggalkan Rumah Gisaeng.


Nok Du tidak jadi masuk karena melhat Dong Joo. Dong Joo menaiki sebuah tangga bangunan di depan Rumah Gisaeng.


“Aku kemari untuk bertemu Tuan Park,” kata Yool Moo. Kedua penjaga itu memperhatikan Dong Joo, lalu mengizinkannya masuk. Dong Joo masuk dan terlihat banyak pria yang duduk mengelilingi meja-meja.


Dong Joo melihat sekeliling ruangan dan akhirnya menemukan orang yang dicarinya.


“Dia seorang kakak kenalanku. Dia menerima uang dan memperkenalkan pelayan kepada adik perempuannya. Tapi adiknya sangat cerewet dan selalu berganti pelayan. Aku merasa mereka seperti penipu,” kata dayang yang Dong Joo temui di pintu istana tadi.


Dong Joo duduk di depan Tuan Park dan meletakkan sekantong uang di meja. Ia bilang ia ingin bekerja sebagai pelayan di istana. Tuan Park melihat isi kantongnya, lalu berkata, “Aku tahu kau ingin bekerja sebagai pelayan, tapi mendapatkan pekerjaan di istana tidak mudah,” kata Tuan Park.


Dong Joo bertanya apakah uangnya tidak cukup. Tuan Park melemparkan lagi kantong uangnya ke atas meja. “Itu terlalu sedikit. Tapia da satu cara,” kata Tuan Park lalu memberi kode kepada anak buahnya. Dong Joo mengambil kembali uangnya.


Anak buah Tuan Park meletakkan sebuah surat di atas meja. “Tanda tangani ini,” kata Tuan Park.
Comments


EmoticonEmoticon