10/30/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 17 PART 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

Tuan Park bilang Dong Joo akan digaji secara rutin jika bekerja di istana, jadi hanya butuh waktu 3 bulan bagi Dong Joo untuk membayarnya. Dong Joo membaca surat itu dan mengambil kuasnya.


Dong Joo: “Tunggu dulu.”
Tuan Park: “Apa? Apa? Kenapa?”


Dong Joo membuka kertas yang menempel di surat itu. Dan isi surat itu yang aslinya adalah ‘Kau berhutang 1000 yang’.


“Hah?! 3 bulan? Ini akan memakan waktu lebih dari 30 tahun,” protes Dong Joo. Tuan Park mulai kesal. Ia bilang Dong Joo bisa masuk ke sana dengan mudah, tapi tidak bisa keluar begitu saja. Ia menarik tangan Dong Joo.


Tuan Park memaksa Dong Joo menstempel surat pernjanjiannya. Nok Du tiba-tiba datang dan membenamkan wajah Tuan Park ke atas meja. Ia menarik Dong Joo ke belakang tubuhnya.


Nok Du menyebut mereka semua tidak memiliki etika bisnis. “Dia milikku,” kata Nok Du dan membuat Dong Joo tidak terima. “Dia sibuk membayar hutang padaku”


“Kalian berdua ingin mati?!” ancam Tuan Park yang wajahnya berlumuran tinta. Ia menggebrak meja, lalu kedua anak buahnya mengeluarkan senjata mereka. “Bunuh mereka!” 


Dong Joo terkejut dan menutup matanya. Nok Du terus menggenggam tangannya.


Beberapa saat kemudian, Nok Du tampak berjalan dengan lesu dan Dong Joo berjalan di belakangnya. Rambut mereka berantakan.. Nok Du menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


“Kau baik-baik saja?” tanya Dong Joo merasa bersalah. Nok Du bilang ia baik-baik saja. Ia bilang kalau ia tidak sedang terluka, para penjahat itu pasti dengan mudah dapat dikalahkan.”Kau berdarah!”


Nok Du terkejut dan menyentuh hidungnya. IAberalasan kalau hidungnya berdarah bukan karena terkena pukulan, tapi karena tadi gelap dan ia terjatuh.


“Bukan! Kau berdarah di sana!” kata Dong Joo panik. Nok Du baru sadar dan memegang luka di perutnya sambil mengerang kesakitan.


Nok Du menyingkap kain bajunya dan melihat lukanya berdarah lagi. Ia bilang ia sudah sembuh, tapi lukanya terbuka karena dia menggunakan ototnya. Ia bilang ia baik-baik saja. Dong Joo memukul bahunya dan mengomel kalau Nok Du tidak baik-baik saja.


Nok Du tersenyum senang karena Dong Joo mengkhawatirkannya. “Di mana klinik? Ikut aku,” kata Dong Joo sambil menarik tangan Nok Du.


Raja berdiri sendirian dan masih memikirkan perkataan Yoon Jeo yang mengatakan bahwa saat kejadian 20 tahun lalu, hanya dia yang bertahan hidup.


Seorang Ratu datang menemui Raja. Ia bilang Raja sudah lama tidak menemui, jadi ia datang menemui Raja walaupun ia tahu itu tidak sopan. Raja meminta maaf dan menanyakan alasan Ratu datang mengunjunginya.


Ratu: “Penasehat…”
Raja: “Aku tidak mau membicarakannya. Ini bukan sesuatu yang bisa kau campuri.”
Ratu: “Ikut campur? Aku khawatir. Aku khawatir jika teman lamamu mungkin tidak setia dan menyebabkanmu stress.”


Raja menghela napasnya. Ratu berkata, “Tahukah kau hanya btuuh waktu sebentar bagimu untuk berubah? Saat aku datang ke istana sebagai Putri Mahkota, kau sangat baik padaku. Setelah hari itu…”


Raja: “Hari itu?”
Ratu: “Aku tahu dosaku karena kehilangan anak tidaklah ringan, tapi…”
Raja: “Ratuku! Sudah kubilang berkali-kali agar tidak menyebutkan hal itu lagi.”


Mata Ratu berkaca-kaca. Ia bilang ia tidak bisa menyebutkan kejadian 20 tahun lalu. Ia juga tidak tahu bahwa dosanya sangat besar sehingga ia tidak pantas merasakan kenyamanan dari suaminya sendiri.


Raja bilang memang seperti itulah dia. Jadi ia meminta Ratu berhenti mengkhawatirkannya. Ratu yang menangis akhirnya berbalik pergi dan diikuti oleh para dayang serta kasim.


Seorang tabib memeriksa luka Nok Du. Ia menekan luka itu dan keluar darah dari dalam jahitannya. Nok Du merintih kesakitan. Dong Joo bertanya apakah Nok Du baik-baik saja. “Sepertinya tidak. Jika dia terus berdarah, dia akan mati,” kata tabib.


Tabib berdiri dengan oleng dan hampir jatuh. “Tunggu sebentar di sini,” ujarnya lalu mengambil nampan obat. “Ambil itu dan lap darahnya. Lihat betapa kotor suamimu itu.”


Dong Joo: “Dia bukan suamiku.”
Nok Du: “Aku bukan suaminya.”
Tabib: “Apa? Aneh sekali.”


Tabib itu pergi dan Dong Joo mulai mengelap sisa darah di hidung Nok Du. Nok Du bilang ia bisa melakukannya sendiri. “Astaga. Kau benar,” kata Dong Joo lalu menjatuhkan lapnya.


Mereka salah tingkah.


Dong Joo memasangkan perban di sekeliling perut Nok Do, sehingga jarak di antara mereka sangat dekat. “Apa?” tanya Dong Joo karena Nok Du terus menatapnya.


“Kau bilang kau tidak peduli apakah aku terluka atau tidak. Lalu, kenapa kau mengkhawatirkan aku?” tanya Nok Du. Dong Joo bilang ia tidak khawatir, tapi Nok Du terluka karenanya, jadi ia merasa berkewajiban membalas bantuannya. “Tapi wajahmu berkata sebaliknya. Kau tidak tahu apa yang harus dilakukan karena kau khawatir dan menyesal.”


Dong Joo bilang ia sudah lelah mengoreksi ucapan Nok Du, jadi ia membiarkan Nok Du memikirkan apapun yang diinginkannya.


Dong Joo kembali mendekat karena ia harus melanjutkan memasang perbannya.


Comments


EmoticonEmoticon