10/30/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 18 PART 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

Dalam perjalanan pulang, Nok Du mengungkapkan keheranannya kenapa Polisi tidak menangkap orang-orang seperti Tuan Park tadi. Dong Joo bilang Polisi selalu membuat suara berisik saat akan menyergap, jadi para penjahat itu akan melarikan diri lewat pintu belakang.


Nok Du bertanya kenapa Dong Joo pergi ke sana padahal tahu kalau tempat itu berbahaya. Dong Joo tidak menjawab. “Lupakan. Jangan dijawab,” kata Nok Du.


“Hei, apa kau tidak lapar?” tanya Dong Joo. Nok Du tersenyum sambil mengeluarkan kantong uang dan mengajak Dong Joo makan gukbap. “Kau sempat mengambil itu? Astaga..”


Dong Joo membuka tasnya yang berisi banyak uang. “Hei, kau mencuri semua uang di sana? Dalam keributan itu?” tanya Nok Du. Dong Joo hanya tersenyum dan melangkah pergi.


Nok Du menahannya dan meminta Dong Joo membayar hutangnya. Dong Joo menolak. Mereka sibuk berdebat hingga tidak memperhatikan orang yang berselisih jalan dengan mereka.


Wanita yang berselisih jalan dengan Dong Joo berhenti dan memperhatikan Dong Joo. Ia terdiam sesaat, tapi kemudian menyusul si pria.


Dong Joo dan Nok Du masih berebut uang. “Apa kalian sudah menjalani pertengkaran kekasih?” tanya Raja yang tiba-tiba muncul. Mereka berhenti bertengkar dan memberi salam.


Pria tadi bertanya kenapa si wanita terus saja menengok ke belakang. “Aku terus mengatakan pada diriku bahwa itu bukan dia, tapi kurasa itu memang dia,” kata si wanita. Pria itu bertany siapa yang dimaksud. “Kurasa aku melihat nona yang pernah kita layani.”


Pria: “Nona? Tunggu. Maksudmu Eun Soo?
Wanita: “Ya. Aku yakin itu dia. JIka dia masih hidup, ia akan berusia seperti itu.”
Pria: “Tapi kita sudah mengurus semua jasad mereka. Omong kosong apa ini?”


“Astaga. Apa kau tidak ingat? Seberapa dalam pun kita menggali lubangnya, kita tidak menemukan jasad nona,” kata si wanita dengan sedih.


Mereka bertiga akhirnya makan bersama-sama di penginapan. Raja merasa tidak enak karena mengganggu kencan mereka yang menyenangkan. “Itu tidak menyenangkan,” kata Dong Joo. Raja merasa heran.


“Kau menyingkirkanku hari itu karena ingin bersamanya. Sekarang sepertinya sudah berubah,” kata Raja. Dong Joo bilang setelah berkencan, ia baru menyadari kalau Nok Du itu lemah. Nok Du meletakkan sendoknya dan bilang kalau ialah yang seharusnya berkata seperti itu. Raja tertawa.


Nok Du bertanya apakah Raja sedang mengintai lagi. Belum sempat Raja menjawab, ia bertanya apakah Raja sudah menemukan orang yang dicarinya. “Oh, belum. Malam ini aku tidak bertugas. Aku tidak bisa tidur, jadi aku ingin menaiki ayunan seperti yang kau lakukan terakhir kali,” kata Raja.


Dong Joo: “Ayunan?”
Nok Du: “Tidak...”
Raja: “Ah, kami bertemu di ayunan. Dia terlihat sangat sedih dan ingin menaiki ayunannya.”


Nok Du menebak kalau Raja punya masalah tidur. Ia bilang orang harus tidur dengan baik. Ia mengatakan itu agar tidak lagi membahas tentang dirinya. Raja tertawa lagi, “Berkat insomnia-ku, aku bisa bertemu denganmu. Aku senang karena kau membuatku tertawa,” ucap Raja. Nok Du membalas senyumnya.


Nok Du: “Apa kau ingin aku memberitahumu sebuah cara?”
Raja: “Apa?”


“Sebuah cara untuk melindungi anak itu dari Yang Mulia,” kata Heo Yoon. Yoon Jeo bertanya apakah ada sesuatu yang bisa ia lakukan. “Dia harus meraih tahta.” Yoon Jeo tidak mengerti. “Kau bilang dia pintar dan tangkas. Dan kelihatannya memang begitu. Bagaimana jika kita menurunkan tahta Raja saat ini dan membuat anak itu berada di atas tahta?” Yoon Jeo terkejut.


Nok Du mengajak mereka menaiki bukit. Raja menggerutu karena tadinya mengira Nok Du memiliki cara untuk mengatasi insomnia-nya. “Ya. Aku akan melakukannya,” kata Nok Du yang mendengar gerutuan itu. Ia kembali untuk mendorong Dong Joo, lalu melakukan hal yang sama pada Raja.


“Apa-apaan ini?!” kata Yoon Jeo dengan marah. Heo Yoon bilang Raja bersikap bodoh dengan menutup mata dan telinganya, serta menghunuskan pedang pada orang-orang di sekitarnya. “Dan siapa yang memberikannya pedang itu? Siapa yang bertanggung jawab telah menutup telinga dan matanya?!”


Heo Yoon bilang karena ia yang memberikan pedang itu, maka dia juga yang harus mengambilnya kembali. “Ini konyol! Kau tidak bisa seenaknya mengganti Raja karena tidak cukup pantas. JIka Raja selanjutnya tidak memenuhi kriteriamu, apa kau akan melakukan hal yang sama?!” kata Yoon Jeoo.


Heo Yoon bilang bukan itu maksudnya. Yoon Jeo mengingatkan agar Heo Yoon tidak bersikap sombong dan menjalankan tugas dengan baik sesuai jabatannya. “Masih ada beberapa orang yang mendengarkanku. Serahkan anak itu padaku,” pinta Heo Yoon.


“Cukup! Kau ingin dia mengambil posisi ayahnya?! Aku tidak ingin membuat Nok Du melakukan hal mengerikan seperti itu. Dan kau tidak punya hak untuk menurunkan tahta Raja. Sadarlah,” kata Yoon Jeo lalu mengalihkan pandangannya.


Nok Du membawa mereka ke puncak bukit untuk melihat pemandangan di bawah. Mereka menarik napas lega. Raja bilang ia merasa fresh.


“Kau akan tidur nyenyak malam ini karena sudah berolahraga. Tetaplah sibuk saat siang hari. Dengan begitu, kau akan sangat mengantuk saat matahari terbenam. Jangan biarkan semua pekerjaan dilakukan oleh anak buahmu. Tangkap para pencuri dan interogasi mereka sendiri. Mengerti?” kata Nok Du.


Raja tersenyum. Ia menduga banyak orang tidak bisa tidur dengan nyenyak di malam hari karena memiliki Raja yang tidak kompeten. Nok Du dan Dong Joo menatapnya dengan terkejut. “Ah, maksudku… Apa orang tidak membicarakan Raja di belakang? Kata Raja.


“Ah, benar,” kata Dong Joo dan Nok Du yang memiliki urusan dengan Raja. Nok Du bertanya apakah teman barunya itu pernah bertemu Raja. Raja gugup dan bilang ia tidak pernah bertemu Raja karena ia hanya Kepala Polisi tua.


“Ngomong-ngomong, sepertinya kau memiliki ketertarikan besar pada Raja,” kata Raja. Dong Joo dan Nok Du sama-sama menyangkal. Nok Du merasa heran karena Dong Joo ikut menjawab.


“Maksudku… aku sama sekali tidak tertarik. Kukira kau bertanya padaku,” kata Dong Joo membuat alasan. Raja dan Nok Du tertawa.


Saat menuruni bukit, Nok Du berjalan lebih dulu. Dong Joo ingin menanyakan sesuatu pada Raja, walaupun ia tahu itu melewati batas. “Apa kau terbiasa tidur sendiri?” tanya Dong Joo. Raja mengiyakan dan bertanya kenapa Dong Joo menanyakan hal itu. “Aku juga sulit tidur. Tapi… ini  membantu.”


Raja bertanya apa maksudnya. “Memiliki orang di sampingmu,” kata Dong Joo.


Dong Joo mengingat keberadaan Nok Du yang membantunya tertidur.


“Sangat membantu jika memiliki orang yang peduli dan mengkhawatirkanmu,” lanjut Dong Joo.


Dong Joo mengatakan itu sambil melihat Nok Du yang sudah berjalan ahak jauh di depan mereka. Raja tersenyum. “Aku tidak tahu bagaimana kisahmu, tapi jika kau tidak bisa tidur dengan alasan yang serupa, kau bisa meminta bantuan anggota keluargamu. MInta mereka untuk menemanimu,” lanjut Dong Joo. Raja mengangguk mengerti.


Nok Du kembali dan menuduh Dong Joo sedang bicara buruk tentangnya. Raja bilang tuduhan Nok Du tidak benar. Dong Joo mengomel dan berjalan lebih dulu. 


Nok Du: “Apa yang kau katakan?”
Dong Joo: “Kau tahu apa yang kukatakan.”
Nok Du: “Apa? Hei! Sudah kubilang jangan katakana itu pada orang lain!”
Dong Joo: “Kau tidak mengerti.”
Nok Du: “Jadi apa itu?”


Raja hanya tersenyum saat melihat mereka bertengkar lagi.


Dong Joo dan Nok Du sudah sampai di rumah. Nok Du bilang ia harus pergi ke suatu tempat dulu dan menyuruh Dong Joo masuk lebih dulu. “Kemana… Ah, benar. Kubilang aku tidak akan bertanya,” kata Dong Joo lalu berjalan masuk.


“Kau bisa menyimpan rahasia atau memintaku pergi. Aku tidak peduli. Tapi jangan lakuka hal yang berbahaya. Berjanjilah itu padaku. Kalau kau bersedia berjanji, aku tidak akan bertanya lagi,” kata Nok Du. Dong Joo terdiam.


“Jangan khawatir,” kata Dong Joo yang berarti menolak berjanji pada Nok Du.
Comments


EmoticonEmoticon