10/11/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 8 PART 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

Esok harinya, seorang pelayan mengeluh karena gerobak yang mereka bawa hari ini sangat berat. Ia dan temannya membawa gerobak itu melewati para penjaga.


Gerobak itu terasa sangat berat karena ada Nok Du yang bersembunyi di bawahnya.


Pelayan melapor bahwa barang-barang sudah sampai dan akan membukanya. “Tidak perlu. Kemarilah,” kata Tuan Park. Pelayan itu mendekat dan Nok Du terus memperhatikannya dari bawah gerobak.


“Apa yang terjadi pada wanita brengsek dan bedebah itu?” Pelayan bilang kedua orang itu akan tiba besok malam.


Nok Du kemudian melihat gajah besi yang dimaksud Kim Ssook. Ia juga mendengar keterangan pelayan kalau mereka mengejar Nona Kim asli sampai ke Woongchung, Jinhae, dan bersembunyi dengan Dol Bok.


Sambil mengusap-usap gajah kesayangannya, Tuan Park berkata, “Tidak tahu terima kasih. Pastikan mereka tidak lolos lagi.” Pelayan sangat yakin karena memilih jalan dari kuil.


Nok Du mengkhawatirkan keselamatan Nona Kim karena pelayan menyewa sekelompok pria yang pandai menggunakan pedang dan menyamar sebagai pembawa tandu.


“Keluarga kita akhirnya bisa membuat batu peringatan untuk istri berbudi. Kau juga senang?” tanya Tuan Park pada gajahnya.


TIdak lama kemudian, Nok Du berhasil keluar dari rumah Tuan Park sambil memegangi lehernya yang pegal. Ia sedang sibuk mencari cara mendapatkan gajah, tapi juga heran karena Nona Kim tertangkap lagi. “Ah, entahlah,” ucapnya.


Di istana, Raja bercerita bahwa saat ia menyamar, ia melihat seorang anak kecil yang menghancurkan telur serangga kecil dengan tangannya. Ia bilang pada anak kecil itu bahwa itu hanya serangga kecil dan terlalu kejam jika dibunuh.


“Tapi anak kecil itu menjawab, ‘Apa mereka terlihat seperti telur biasa bagimu? Bagiku, mereka tampak seperti kutu beras jahat yang akan menetas dalam semalam dan memakan semua biji padi kita. Kau tidak tahu apapun’,” kata Raja sambil sesekali memperhatikan Heo Yoon.


Heo Yoon sepertinya sadar bahwa Raja sedang menyindir dirinya.


Para menteri terdiam, tapi sebagian dari mereka kemudian tertawa dipaksakan. Salah satu menteri yang tertawa berkata bahwa anak kecil itu tidak mengenali Raja.


“Sekecil atau seremeh apapun makhluk-makhluk ini, jika ada sedikit bahaya, kau harus menginjaknya dan menyingkirkannya. Dia memberiku pelajaran penting,” kata Raja. Menteri tadi tersenyum.


Menteri yang berada di kubu Heo Yoon tidak tersenyum sama sekali. Raja bertanya apakah mereka tidak setuju. Heo Yoon tidak menjawab dan hanya meminum tehnya.


Terdengar suara Pangeran Yeongchang, “Bok Sil! Bok Sil!” Pangeran terkejut saat melihat Raja. Kasim pribadinya datang sambil membawa anjing bernama Bok Sil. Kasim memperingatkan bahwa pangeran tidak boleh masuk ke sana.


Pangeran bersembunyi di belakang kasim. “Maafkan aku, Yang Mulia,” kata Kasim kepada Raja. Pangeran lalu berlari ketakutan.


Heo Yoon tampak khawatir, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Ia kemudian memperhatikan Raja yang minum teh dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa.


Nok Du yang berada di tempat pandai besi menggerutu sendiri kalau mencuri itu sangat sulit.


Dong Joo mendapatkan barang yang dicarinya dari si pandai besi. Ia bertanya apakah Raja tidak akan datang lagi. Pandai besi bilang Raja tidak sering keluar, apalagi ada insiden besar saat perjalann terakhirnya.


Tanpa sengaja, Nok Du memegang batu dengan mata pisau menempel padanya. “Apa ini?” tanyanya heran.


Pandai besi bertanya apakah ada hal lain yang dibutuhkan Dong Joo. Dong Joo bilang ia sudah mendapatkan yang ia cari. “Cuacanya berubah-ubah sepanjang hari,” kata pandai besi lalu pergi keluar.


Dong Joo memberitahu Nok Du kalau yang dipegangnya adalah magnet. Ia menjelaskan magnet digunakan dalam membuat besi dan ada unsur unik di dalamnya sehingga bisa menempel dengan besi.


Nok Du: “Semua besi, unsur itu akan menempel? Bagaimana kau tahu itu?”
Dong Joo: “Aku memang payah soal menari. Sudah kubilang aku sangat terampil. Ini bukan apa-apa.”


Nok Du tertawa sebal, tapi kemudian tampak serius. “Tunggu dulu,” ujarnya. Mereka lalu melihat pandai besi yang berlari membawa besi dari luar.


Dong Joo: “Saat terkena air, besi itu akan berkarat.”
Nok Du: “Tunggu. Aku butuh bantuanmu.”


Di rumah, Nok Du menggambar suatu alat dan bertanya apakah Dong Joo bisa membuatnya. Dong Joo memperhatikan gambar itu dan bertanya apakah Nok Du seorang pencuri.


“Bukan. Putriku, kau tidak mempercayai ibumu sendiri?” protes Nok Du. Dong Joo memelototinya. “Sebenarnya, aku ingin melihat kekasihku dari kejauhan. Kupikir setidaknya aku harus mengiriminya surat yang menyatakan aku baik-baik saja dan aku akan menunggunya. Kumohon.”


Dong Joo tidak percaya Nok Du akan melukisnya dengan pelat besi. Nok Du bilang ia akan memberikan sesuatu pada kekasihnya. Dong Joo tidak mau membantu Nok Du dan memilih tidur. Nok Du putus asa.


Nok Du: “Akan kukurangi dari utangmu.”
Dong Joo: “Berapa?”


Dong Joo mulai bekerja.


Sedangkan, Nok Du pergi mengintai rumah Tuan Park.


Dong Joo bekerja dengan tekun. Busur panah buatannya dengan magnet sebagai mata panahnya sudah jadi.


Di halaman, Dong Joo mencoba panahnya. Ia tersenyum geli saat melihat Nok Du melindungi daerah berbahaya di dirinya.


Dong Joo lalu mengarahkan panahnya ke buah yang diletakkan di atas kepala Nok Du.


“Aku mengenainya!” sorak Dong Joo senang. Nok Du juga merasa senang.
Comments


EmoticonEmoticon