10/11/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 8 PART 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

“Dia pergi ke mana? Aku kelaparan,” keluh Guru Hwang sambil mencari-cari seseorang.


Yoon Jeo datang sambil membawa kayu bakar. Guru Hwang membantunya menurunkan kayu bakar itu dan mengingatkan bahwa batuk Yoon Jeo akan semakin memburuk jika pergi keluar dalam cuaca dingin. Yoon Jeo bilang ia harus bekerja karena tidak bisa hidup dari kemurahan hati Guru Hwang saja.


“Astaga, kau bahkan tidak bisa makan karena memikirkan Nok Du,” kata Guru Hwang. Yoon Jeo tidak menyangkal dan karena alasan itulah ia harus pergi ke Hanyang meski Guru Hwang berusaha menghentikannya.


Yoon Jeo bilang ia juga harus membantu Nok Du melepaskan kebencian di hatinya. Guru Hwang memintanya membicarakannya nanti saja dan mengajaknya makan lebih dulu. Yoon Jeo menurut.


“Aeng Doo… Hwang Tae… Kita makan sekarang,” panggil Guru Hwang. Hwang Tae keluar dan memberitahu kalau Aeng Doo tidak ada di dalam rumah karena tadi pergi ke dapur. “Apa? Berandal itu melewatkan jam makannya? Itu tidak akan pernah terjadi.”


Guru Hwang lalu mengingat sesuatu dan menjadi panik. “Ha… astaga! Celaka! Aeng Doo!” Ia berlari pergi dengan panik. “Aeng Doo! Dasar anak nakal! Kau… Aeng Doo…!”


Guru Hwang berlari sampai dermaga, tapi kapal sudah terlambat. “Tidak, Aeng Doo!” panggilnya.


Aeng Doo muncul dari persembunyiannya. Ayahnya menyuruhnya turun, tapi Aeng Doo tidak mau. “Ayah, aku akan pergi ke Hanyang, jadi jangan menghentikan aku!” kata Aeng Doo.


“Apa katamu?!” kata Guru Hwang terkejut lalu menceburkan dirinya ke sungai untuk menyusul kapal Aeng Doo. “Berhenti! Hei, berhenti!”


Yoon Jeo dan Hwang Tae sampai di dermaga dan mereka melihat Guru Hwang sedang naik ke kapal di kejauhan. “Astaga…”


Tanpa mereka sadari, seorang wanita dari Pasukan Muweol sedang mengintai mereka. Hwang Tae sempat menoleh ke belakang, tapi ia tidak melihat siapapun.


Seorang penjaga menemui Heo Yoon dan melapor, “Tuan, aku menemukan persembunyian mereka. Kau ingin aku melakukan apa?”


Heo Yoon tampak memikirkan sesuatu.


Kim Ssook menerima kabar bahwa Nona Kim tertangkap. Ia menyangka bahwa Nok Du-lah yang tertangkap, padahal itu adalah Nona Kim asli. Kim Ssook mendengar kalau Tuan Park mengatakan pada semua orang bahwa menantunya pergi untuk berdoa akan kembali malam ini.


Kim Ssook juga mendengar bahwa Tuan Park akan membunuh menantunya. Yoon Jeo Boon menduga kalau Tuan Park akan memaksa menantunya bunuh diri dan membangun batu kebajikan. “Kita tidak boleh membiarkan hal itu terjadi,” kata Jung Sook. Kim Ssook pamit pergi setelah mengemas barang-barangnya.


Dong Joo bertanya kenapa Nok Du mengikutinya. Ia juga bertanya apakah Nok Du tidak akan menemui kekasihnya, padahal ia sudah membuatkan alat yang diminta Nok Du. “Hal itu harus dilakukan di tempat tinggi,” kata Nok Du. Dong Joo lalu menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba.


Dong Joo menatap sebuah ayunan dengan sedih. Nok Du bilang Dong Ju harus menaiki ayunan itu. “Kubilang tidak. Aku tidak mau,” tolak Dong Joo.


“Tapi aku mau,” kata Nok Du lalu berlari dan menaiki ayunan itu. Dong Joo menyebutnya tidak punya rasa malu. “Di sini sangat sejuk,” kata Nok Du sambil terus mengayunkan ayunannya.


Nok Du lalu turun dari ayunan dan mendorong Dong Joo agar mau naik ayunan. Dong Joo tetap menolak. “Kenapa kau bersikap seperti itu? Kau terus mengatakan tidak, tidak mau, tidak butuh. Aku tahu bukan itu yang kau rasakan,” kata Nok Du.


Dong Joo: “Jangan konyol. Kau tahu apa?”
Nok Du: “Aku tahu.”
Dong Joo: “Tahu apa?”


“Aku tahu menahan diri seperti itu tidak akan bermanfaat bagimu. Aku juga tahu angina di atas sana sejuk,” kata Nok Du sambil tersenyum. Dong Joo memperhatikan lagi ayunan itu.


Dong Joo membayangkan kakeknya mengusap kepalanya sambil tersenyum. Ia mengingat saat kecil dulu ayahnya mengusap kepalanya dan memperbolehkannya melakukan apapun yang ia inginkan sesuai kata hatinya tanpa perlu mengkhawatirkan pendapat orang lain. 


Ayah dan Ibu Dong Joo pun tersenyum setuju.


Dong Joo melihat salah satu anggota keluarganya yang perempuan sedang menaiki ayunan itu. Mereka tampak sangat bahagia.


Dong Joo baru sadar dari lamunannya, ketika Nok Du mendorongnya lagi agar naik ke ayunan. Nok Du bilang menaiki ayunan tidak akan membuat Nok Du terbunuh ataupun dunia hancur karenanya.


Nok Du mendudukkan Dong Joo ke atas ayunan, lalu mendorongnya. Dong Joo terlihat ragu dan sedih.


Saat tubuhnya berayun, Dong Joo seolah melihat bayangan anggota keluarganya yang telah tiada.


Dong Joo tiba-tiba berdiri mengalahkan rasa takutnya dan mengayunkannya sendiri.


Lama kelamaan, ia mulai tersenyum mengenang rasa bahagia yang dulu pernah ia rasakan.


Dong Joo kecil sungguh sangat bahagia saat itu.


Nok Du juga sangat senang bisa melihat Dong Joo tersenyum bahagia.


Hujan deras tiba-tiba turun dan barulah Dong Joo turun dari ayunan. Nok Du menyebut Dong Joo pandai berayun. “Aku tidak pernah bilang tidak bisa. Hujan turun. Kau harus menemui kekasihmu,” kata Dong Joo.


“Benar. Aku harus menemuinya,” kata Nok Du sambil melindungi wajah Dong Joo dari air hujan. “Kau harus berlindung di penginapan. Aku akan segera kembali.”


Nok Du berlari meninggalkan Dong Joo sendirian.


Dong Joo juga berlari menuju penginapan. Ia melihat pakaian yang dijemur malah terkena air hujan lagi. Ia mengambil pakaian itu dan masuk ke dalam kamar.


Comments


EmoticonEmoticon