10/11/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 8 PART 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

“Apa hidungmu lebih panjang atau hidungku yang lebih panjang? Kenapa hujan? Kamu tidak boleh berkarat,” kata Tuan Park pada gajah besi kesayangannya. Ia lalu menutup pintunya agar gajahnya tidak terkena percikan air hujan.


Tepat di atasnya, Nok Du menghancurkan salah satu bagian genteng yang mengakibatkan air hujan masuk ke dalam rumah.


Tuan Park terkejut karena gentengnya bocor. Ia mengambil gajahnya dan meletakkannya dalam pelukannya. Ia lalu keluar dari kamar dan memanggil para penjaganya.


“Atapku bocor! Naiklah ke atap sekarang juga!” perintah Tuan Park. Penjaga mengerti dan bersiap memeriksa ke atas genteng. “Cepat!”


Dari sisi genteng yang lain, Nok Du menyiapkan busur panahnya dan mengintai sasarannya. Ia memperhatikan Tuan Park yang sibuk mengelap gajahnya. Setelah yakin, ia melesatkan panah magnet yang sudah terikat dengan tali panjang itu. Saat magnet mengenai sasaran, ia menariknya seolah sedang memancing ikan.


Tuan Park sangat syok. “Tangkap… Tangkap orang itu!” perintahnya saat melihat seseorang mencuri gajahnya. Nok Du melarikan diri. “Tangkap dia! Tangkap dia! Tangkap orang itu!”


Nok Du berhasil turun di luar rumah dan dikejar oleh para penjaga. Ia berhasil sembunyi dan mengelabuhi para penjaga. Ia pun membawa gajah itu dengan tenang.


Di penginapan, Dong Joo tidak bisa tidur. Ia mengingat perkataan Nok Du bahwa rumah tempat tinggalnya dulu sekarang sudah kosong. Ia bangun dan memutuskan sesuatu.


Nok Du kembali ke atap rumah Tuan Park. Ia tertawa saat melihat Tuan Park yang frustasi karena kehilangan benda kesayangannya. Pelayan bahkan harus menggendongnya dan mengingatkan bahwa menantunya akan segera tiba.


Nok Du terkejut saat melihat Dong Joo sedang berjalan di jalan itu. “Kenapa dia di sini?” gumamnya sambil membuka cadarnya.


Walaupun masih ragu, Dong Joo berhasil membuka pintu rumah lamanya. Ia terdiam sejenak, tapi kemudian masuk ke dalam dan menutup pintunya. Ia masuk dan tersneyum saat melihat pohon yang berbuah lebat.


Tiba-tiba, sebuah buah menggelinding ke kakinya dan ia terkejut karena melihat Yool Moo di sana. Yool Moo juga sama terkejutnya.


Setelah terdiam sejenak karena terkejut, Yool Moo akhirnya tersenyum pada Dong Joo.


Nok Du mengikuti Dong Joo dan mengintai dari atap.


Yool Moo bertanya apakah Dong Joo berpakaian seperti itu karena tinggal di Desa Janda. Dong Joo bilang ia kebetulan sedang meminjam jaket ibunya. Yool Moo tersenyum. Dong Joo bertanya apa yang Yool Moo lakukan di tempat itu.


“Ah, itu… Aku tidak ingin orang lain tinggal di sini atau membiarkan rumah ini terlantar untuk berjaga-jaga jika kau datang ke sini suatu hari. Kurasa usahaku terbayar,” kata Yool Moo.


Dong Joo membalas senyumnya.


“Saat orang tua kita membahas pernikahan kita, aku diam-diam datang untuk menemuimu. Aku ingin meminta mereka membatalkan pernikahan jika kau jelek. Tapi setelah aku melihatmu, aku memohon kepada ayahku agar bisa menikahimu secepat mungkin,” kata Yool Moo.


Dong Joo diam saja. “Kalau kau mau, tempat ini selalu bisa menjadi milikmu,” lanjut Yool Moo. Dong Joo menggeleng dan menyebut semua itu tidak berguna. “Nona… Aku selalu ingin memanggilmu seperti itu di sini. Meskipun itu tidak berguna.”


Dong Joo melarangnya memanggilnya dengan sebutan itu karena akan memperburuk keadaan. Datang ke sana hanya membuat Dong Joo ingin kembali ke kondisinya dulu. “Maafkan aku,” kata Yool Moo.


“Kau membuat tempat ini terlihat sangat indah. Dan aku berterima kasih untuk itu,” kata Dong Joo sambil memperhatikan pohon yang berbuah lebat. Yool Moo tersenyum sedih. “Tapi, aku tidak akan pernah ke sini lagi. Jadi, tolong tepati janjimu dan terus memperlakukanku seperti seorang gisaeng.”


Yool Moo mengangguk sendu.


Saat Dong Joo pamit pergi, Yool Moo meminta izin untuk mengantarnya pulang karena sudah larut malam. “Aku ingin pergi sendiri,” kata Dong Joo lalu memberi salam dan pergi.


Nok Du yang sejak tadi mengintai dari kejauhan menggerutu, “Kenapa mereka berduaan di rumah kosong selarut ini? Dong Joo sulit dipercaya. Dia sangat dingin kepadanya di rumah gisaeng. Tapi dia sangat berbeda setelah berada di Hanyang.”


Nok Du merasa pergi ke pandai besi hanya alasan saja bagi Dong Joo. Perhatiannya teralihkan saat melihat sekelompok orang datang sambil membawa tandu. Ia memakai cadarnya lagi


Comments


EmoticonEmoticon