10/16/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 9 PART 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

Nok Du meninggalkan Rumah Wuseong dengan perasaan puas karena rencananya berhasil. Tanpa ia ketahui, Guru Hwang dan Aeng Doo juga berada di tempat yang sama tapi berjalan menuju arah berlawanan.


Guru Hwang merasa bahwa lebih baik jika ia yang mencari Nok Du, daripada ayahnya sendiri. Ia berharap Nok Du baik-baik saja. Karena tidak ada respon, ia baru menyadari bahwa putrinya sudah tidak ada di sampingnya. Ia panik dan memanggil anaknya.


Aeng Doo datang sambil mengunyah makanan. Guru Hwang heran darimana ia mendapatkannya. “Kau terlalu menyukai makanan. Bagaimana kau akan menemukan Nok Du?” tegur Guru Hwang. Aeng Doo yakin mereka akan segera menemukan Nok Du. “Apa maksudmu?”


Wanita mencurigakan di RUmah Wuseol tadi menemui seorang pria dan memperhatikan sketsa wajah Nok Du. Ia yakin kalau pria yang ia temui adalah pria yang ada di gambar itu.


Aeng Doo membawa ayahnya ke tempat ia mendengar informasi tentang Nok Du. Mereka mengintip agar mendapat informasi lebih banyak.


Guru Hwang: “Desa Mudam?”
Aeng Doo: “Sudah kubilang.”
Guru Hwang: “Benar.”


Hwang Tae membawakan makanan untuk ayahnya yang khawatir karena Guru Hwang masih belum kembali. Hwang Tae berpikir positif bahwa Guru Hwang beruntung dan bertemu Nok Du di Hanyang. Yoon Jeo mengharapkan hal yang sama. Mereka tiba-tiba mendengar suara pedang beradu.


Hwang Tae mengintip dan melihat seorang berpakaian serba hitam melawan beberapa orang dengan pakaian hitam & maroon. Cipratan darah sampai mengenai pintu rumah mereka.


Hwang Tae terkejut saat melihat salah satu di antaranya. Ia lalu mengajak ayahnya untuk segera melarikan diri.


Sambil menahan luka di perutnya yang masih sakit, Hwang Tae berlari bersama ayahnya masuk ke dalam hutan. Hwang Tae menyarankan agar mereka menempuh jalan yang berbeda. Yoon Jeo menolak. “Jalan pintas ini juga akan menuju gua yang pernah dikatakan oleh Guru Hwang. Kita bertemu di sana,” kata Hwang Tae.


Yoon Jeo menolak, tapi Hwang Tae terus memaksanya. Hwang Tae bilang akan sangat berbahaya jika mereka bersama. Yoon Jeo bilang akan mengalihkan perhatian para penyerang dan meminta Hwang Tae berhati-hati.


Seorang pasukan Muweol berlari mendekati Yoon Jeo sambil memegang perutnya yang terluka. Yoon Jeo berlari ke arah yang berlawanan dengan Hwang Tae.


Hwang Tae menghampiri wanita itu dan membalikkan tubuhnya. “Aku… aku…” kalimat wanita itu terhenti karena punggungnya ditebas pedang oleh pria berpakaian hitam. Wanita itu mati. Hwang Tae terkejut dan memperhatikan pria dengan pedang berlumuran darah itu.


Raja berjalan bersama para menterinya dengan tidak tenang. Ia berjalan menuju sudut halaman di mana para dayang dan beberapa penjaga sudah menunggunya.


Raja melihat bangkai hewan ada di sana. “Yang Mulia…” panggil Heo Yoon, tapi Raja menyuruhnya diam.


Menteri A mendekat dan berkata, “Yang Mulia. Hamba yakin ini dilakukan oleh Ratu Dowager.” Raja menegurnya karena bicara sembarangan. “Maafkan hamba karena mengatakan ini, tapi rumor mengatakan bahwa Ratu Dowager mengundang peramal ke istananya. Binatang yang menyimbolkan tahun lahirmu, dibunuh di bawah pohon Pangeran Yeongchang. Apa yang Anda pikirkan tentang itu?”


Raja memerintahkan Menteri A untuk mencari tahu siapa yang melakukan perbuatan itu dan apa alasannya. Ia lalu meninggalkan tempat itu diikuti oleh kasim dan para dayangnya.


Menteri A tampak tersenyum licik dan Heo Yoon menyadari hal itu.


Di Desa Janda, Kim Ssook memberitahu bahwa ia baru menerima pesan rahasia bahwa pria yang mereka cari muncul di Hanyang. Kim Ssook bilang ia akan lebih lama di Hanyang jika tahu pria itu akan berada di sana.


Jung Sook: “Kau pikir Deul Re pergi ke Hanyang untuk menemukannya?”
Kim Ssook: “Kalau benar begitu, maka dia akan pergi ke Aseowon. Tapi kau tidak pernah mendengar kalau dia pergi ke sana.”


“Unnie…” teriak seorang janda yang datang sambil berlari. Ketiga wanita itu pura-pura sedang sibuk bekerja. “Wakil Kurator meminta kita untuk datang ke Rumah Gisaeng.”


Di pendopo Rumah Gisaeng, Wakil Kurator sedang melatih dialog yang akan ia ucapkan kepada Nok Du. “Nona Kim, ada yang ingin kukatakan.” Ia lalu bersimpuh dan mengangkat buket bunga. “Nona Kim… Nona Kim..” Ia bahkan melompat-lompat.


Para Gisaeng heran melihat tingkahnya itu. Wakil Kurator menghentikan tingkahnya dan meminta semua orang fokus. Kim Ssook dan rekannya datang membawakan pancake. Wakil Kurator bilang Nok Du menyukai pancake.


“Aku mengira kami diundang ke pesta. Tapi sepertinya kami di sini hanya untuk bekerja untukmu,” gerutu Kim Ssook yang kemudian meletakkan piringnya dengan kasar. Yeon Boon menambahkan bahwa Nok Du pergi menemui keluarganya, jadi mungkin tidak bisa kembali lagi. Jung Soo menyenggolnya agar berhenti bicara.


Yeon Boon meralat ucapannya bahwa Nok Du mungkin memilih untuk tidak kembali ke sana. Wakil Kurator memarahi mereka. Ia yakin Nok Du akan datang hari ini sesuai perkataannya.


“Nona Kim selalu menepati kata-katanya!” kata Wakil Kurator. Yeon Boon mengiyakannya dengan malas. “Sembelih seekor sapi dan masaklah rusuknya!”


Saat berjalan meninggalkan penginapan, Dong Joo dan Nok Du terkejut karena Yool Moo sudah menunggu mereka dan sudah menyiapkan 2 ekor kuda.


“Aku jalan saja,” kata Dong Joo saat melihat kedua pria sudah naik ke atas kuda. Yool Moo memintanya agar tidak sungkan karena mereka sama-sama mau pergi ke Rumah Gisaeng. Ia mengulurkan tangannya. Nok Du bilang tidak pantas jika seorang wanita dewasa naik kuda bersama pria dewasa. Ia juga mengulurkan tangannya pada Dong Joo.


Yool Moo bilang ia membawakan kuda karena Nok Du pernah bilang kalau bisa naik kuda. Nok Du bilang berat tubuhnya lebih ringan daripada Yool Moo jadi Dong Joo akan lebih aman bersamanya.


Nok Du: “Naiklah, Putriku.”
Yool Moo: “Raih tanganku, Dong Joo.”
Nok Du: “Ayo, Putriku.”


Dong Joo mengangkat tangannya.


Nok Du yang naik kuda sendirian tampak murung. Ia kesal karena Dong Joo lebih memilih untuk naik kuda dengan Yool Moo. 


Nok Du bertambah kesal saat meliht Dong Joo memeluk Yool Moo karena khawatir dengan goncangan kuda. Ia tiba-tiba menghentikan kudanya dan berpikir dengan serius.


“Aaaw..!” teriak Nok Du tidak lama kemudian. Dong Joo dan Yool Moo menoleh dan melihat Nok Du sudah ada di tanah. Nok Du lalu mengerang kesakitan. [wkkkkk Nok Du pura-pura jatuh] 


Nok Du bilang perhatiannya teralihkan dan ia terjatuh. Ia bangkit, tapi pura-pura kesakitan dan tidak bisa berdiri. “Sepertinya tumitku terluka,” ujarnya berbohong. Dong Joo merasa heran, tapi ia tidak mengatakan apa-apa.


Pada akhirnya, Yool Moo menaiki kuda bersama Nok Du dan raut kekecewaan jelas terlihat di wajahnya.


Dong Joo yang naik kuda sendirian mendahului mereka. “Huft…” keluh Yool Moo.


Wakil Kurator berjalan mondar-mandir karena gelisah menunggu kedatangan Nok Du. Ia melarang mereka semua makan terlalu banyak dan meminta menunggu sebentar lagi. “Kapan.. Kapan dia akan…”ucapannya terhenti saat melihat Dong Joo datang.


Semua orang melihat ke pintu masuk. Dong Joo memasuki halaman lebih dulu dengan dibantu seorang pelayan.


Menyusul di belakangnya, ada Nok Du yang memeluk Yool Moo dengan erat dan tertidur. Wakil Kurator syok, sedangkan Hwa Soo tampak marah.


Comments


EmoticonEmoticon