11/06/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 19 PART 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

Dong Joo pergi ke depan gerbang istana. Ia mengingat saat Nok Du bilang Dong Joo bisa berpura-pura menjadi keluarganya agar bisa masuk menyaksikan pelantikkannya. “Aku tidak bisa melakukan ini padaku, tidak peduli seberapa buruknya aku,” gumam Dong Joo.


Yool Moo bergabung bersama pejabat lain untuk menyaksikan pelantikan pegawai sipil dan militer baru.


Nok Du mengangkat kepalanya untuk menerima sertifikat penghargaan sebagai peserta ujian militer terbaik. Ia terkejut saat melihat Yool Moo ada disana.


Ia mengingat ancaman Yool Moo. “Kau pikir kau tidak akan membayar apa yang sudah kau lakukan padaku?!” kata Yool Moo saat di hutan bamboo.


Yool Moo mencibir pada Nok Du.


Nok Du semakin terkejut saat melihat wajah raja karena ia mengenal wajah itu. “Semua ini salahini karena dirimu. Semua ini karena dirimu… adalah putra Raja,” kata Hwang Tae saat mereka bertemu di rumah Yool Moo.


Nok Du merasa tubuhnya sangat lemas. Raja tersenyum dan memintanya menerima sertifikat itu. Nok Du mengambil sertifikatnya, lalu bersujud lagi. Ia resah.


Seorang dayang menepuk bahu Dong Joo dan bertanya apakah Dong Joo baik-baik saja karena ia mendengar kabar kalau Dong Joo hampir terluka di rumah judi Tuan Park. Ia meminta maaf pada Dong Joo. Dong Joo bilang itu kesalahannya sendiri.


Dayang itu menyarankan agar Dong Joo menadi dayang istana saja karena memiliki wajah yang cantik. Ia menyarankan agar Dong Joo memenangkan hati Raja saat Raja menyamar keluar istana. Dong Joo baru tahu kalau Raja suka pergi dengan menyamar.


Dayang bilang semua orang di istana tahu kalau Raja suka pergi dengan menyamar pada malam hari. Dong Joo lalu menatap gerbang istana dan mempertimbangkan saran tersebut.


Yool Moo keluar dari istana Raja, lalu Nok Du dipersilakan masuk. Yool Moo yang sudah mendengar nama Yeon Soo menebak kalau Nok Du datang ke Hanyang dengan Yeon Geun, Dong Joo dan Guru Hwang. Nok Du tampak marah.


“Silakan manfaatkan waktu selama kau bisa,” kata Yool Moo dengan nada ancaman dan menyentuh pakaian Nok Du.


Raja bertanya apakah Nok Du sangat terkejut hingga terus menatapnya tanpa mengatakan apa-apa. Nok Du meminta maaf karena ia belum terbiasa dengan peraturan istana. Raja tertawa. “Terima kasih karena telah membuatku tertawa. Itu tidak perlu. Peraturan tidak diperlukan antara kau dan aku,” kata Raja.


Nok Du tidak mengerti maksudnya. Raja berjalan mendekatinya dan Nok Du menundukkan kepalanya lagi.


“Tentu saja… dengan syarat. Kau harus berpura-pura tidak tahu tentang aku yang suka pergi ke luar istana pada malam hari. Tolong rahasiakan ini pada kekasihmu juga. Bagaimana menurutmu?” kata Raja. Nok Du menyanggupi dengan gugup.


“Aku akan menugaskanmu kepada Kepala Administrasi Baek yang pernah kau temui tempo hari. Kau akan membantu tugas-tugasnya,” kata Raja. Nok Du bersujud dan mengiyakan perintah Raja.


Malam harinya, Yool Moo sudah berada di kediaman Nok Du dan sedang memasak untuk Aeng Doo. Guru Hwang terus memperhatikannya dengan sebal, sedangkan Yeon Geun tampak ketakutan. Yool Moo bersikap santai saja. Ia bahkan menyuapi Aeng Doo. Guru Hwang mendesis kesal pada Aeng Doo yang bersikap baik pada musuh.


“Ini,” kata Yool Moo sambil memberikan daging. Guru Hwang membuang mukanya sambiil mendengus. “Astaga. Bukan begini cara memperlakukan tamumu.”


Guru Hwang: “Tamu?! Aku tidak tahu kalau tamu suka membawa pedang.”
Yool Moo: “Aku adalah tamu selama kau tidak membuat masalah.”
Guru: “Astaga. Kaulah yang memaksa masuk ke rumah kami dan membuat keributan. Kau sudah lupa?”


Guru Hwang menunjuk Yool Moo dengan sapu yang dipegangnya. Dan Ho dengan sigap menahan sapu itu agar tidak mengenai Yool Moo. Karena Dan Ho tidak mau melepaskan sapunya, Guru Hwang mematahkan gagang sapu dengan kakinya.


Guru Hwang menyerang Dan Ho dengan gagang sapu, tapi Dan Ho berhasil menangkis dengan pedangnya. Mereka memasang kuda-kuda dan bersiap dengan senjatanya masing-masing.


Yeon Geun tampak khawatir. Dan Ho akan menyerang, tapi ia tidak bisa melangkah maju. Ia melihat ke belakang, tapi tidak ada apapun yang menahan. Saat ia melihat ke bawah, barulah ia menyadari kalau Aeng Doo sedang memegangi celananya.


“Kenapa kau berkelahi selagi aku sedang makan? Kau akan membuatku nafsu makanku hilang. Astaga,” omel Aeng Doo. Dan Ho tampak bingung karena ditegur Aeng Doo seperti itu. Ia menatap Yool Moo untuk meminta petunjuk.


Yool Moo tertawa dan setuju dengan Aeng Doo karena perkelahian itu bisa merusak reuni kecil mereka. Dan Ho menurunkan pedangnya. Yool Moo mengusap-usap kepala Aeng Doo. Guru Hwang kesal dan menarik Aeng Doo.


Yool Moo: “Aku tidak mau melukaimu. Belum.”
Guru Hwang: “Belum? Tidak dapat dipercaya.”


Guru Hwang melihat Nok Du datang dan langsung menghalanginya agar tidak mendekati Yool Moo. Yeon Geun berlari menghampiri Nok Du dan bilang kalau semua itu adalah kesalahannya karena Yool melihatnya di gerbang istana saat sedang menunggu Nok Du.


“Tidak. Dia mungkin sudah akan membuntutiku,” kata Nok Du pada Yeon Geun. “Ikut aku,” ujarnya pada Yool Moo. Dengan ekspresi menyebalkan, Yool Moo mengikuti Nok Du.


Nok Du menyayangkan karena Yool Moo masih hidup. “Semua ini berkat kau,” kata Yool Moo yang terus didampingi Dan Ho. “Ngomong-ngomong, kenapa kau tiba-tiba mendapatkan pekerjaan di istana?” Nok Du bilang harus mencari nafkah dan seperti yang Yool Moo ketahui, ia sangat berbakat dalam bela diri. Ia lalu bertanya apa tujuan Yool Moo.


Sambil memegangi bahunya yang terluka, Yool Moo bilang ia belum pernah tertusuk pedang sampai ia menyangka sudah mati saat pingsan waktu itu. Setelah sadar, ia merasa akan memalukan jika membunuh Nok Du dengan cara yang mudah.


Nok Du: “Ini antara kau dan aku. Jangan libatkan yang lain dalam hal ini. Jika kau melakukannya…”
Yool Moo: “Kenapa tidak? Apa kau akan memberitahu Raja bahwa aku merencakan pemberontakan?”


Nok Du bilang ia bisa saja melakukannya sehingga Yool Moo dan keluarganya hancur. Yool Moo meragukannya karena Hwang Tae, kakak angkat Nok Du, juga merencakan pemberontakan itu bersamanya. “Apa?” tanya Nok Du tidak percaya.


“Jangan menatapku seperti itu,” kata Yool Moo dengan nada mengejek. “Dia kembali kepadaku karena keinginannya sendiri. Tidak seperti kau. Dia rakus dan ambisius.. sama sepertiku.” Nok Du marah dan menarik ekrah Yool Moo, tapi Dan Ho langsung menghunuskan pedangnya.


Dong Joo datang dan bertanya apa yang Yool Moo lakukan. Ia menarik Nok Du menjauh. “Hati-hati. Kau bisa terluka,” kata Nok Du.


Yool Moo melihat genggaman tangan Dong Joo dan Nok Du. Dong Joo bertanya, “Apa kau baik-baik saja? Apa kau terluka?” Nok Du bilang ia baik-baik saja.


Yool Moo yang cemburu kemudian merebut pedang Dan Ho dan menebaskannya. Nok Du menangkis dengan tangannya. Dong Joo panik. Yool Moo lalu menjatuhkan pedangnya dan berkata, “Kalau kau tidak mau dia mati. Ikut denganku.”


Nok Du: “Apa yang si gila ini katakan?”
Dong Joo: “Apa ini ancaman?”
Yool Moo: “Terserah apa yang kau pikirkan, tapi aku tidak bisa membiarkanmu berada di sini.”
Nok Du: “Pergilah. Masuk ke kamarmu.”


Dong Joo terdiam. Ia melepaskan tangan Nok Du. “Aku akan membawa barang-barangku, jadi tunggulah,” kata Dong Joo yang tidak mau Nok Du terluka.


Dong Joo pergi dan Nok Du terlihat sedih.


Sambil menunggu, Dan Ho bertanya kenapa Yool Moo sangat kesal pada Dong Joo. “Tidak. Aku sudah menyerah padanya,” kata Yool Moo. Dan Ho tidak mengerti. “Aku sudah membiarkannya melakukan apapun yang dia inginkan karena aku menyadari dia bertahan dengan kekuatan yang dia miliki. Tapi seorang pria muncul dan dia terpengaruh olehnya. Aku tidak tahan lagi dan memutuskan untuk menyerah untuk memenangkan hatinya.”


“Kalau begitu, kenapa kau memintanya untuk ikut?” tanya Dan Ho heran. Yool Moo bilang ia akan memiliki Dong Joo, walaupun Dong Joo tidak menyukainya


“Aku akan membuatnya berada di sisiku selamanya. Aku akan memenuhi sebuah keinginannya, jadi aku yakin aku memiliki hak,” kata Yool Moo. Dan Ho bertanya kenapa Yool Moo perlu melibatkan Nok Du yang menurutnya berbahaya. “Kau benar. Tapi melihat dia dan Raja tidak saling mengenali satu sama lain, terasa cukup menyenangkan. Sang Raja akan membunuh putranya dua kali. Itu akan cukup untuk membenarkan pemberontakan kita.” Dan Ho mengerti sekarang.


“Dia akan mati di tangan ayahnya sendiri,” lanjut Yool Moo.
Comments


EmoticonEmoticon