11/06/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 20 PART 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

Heo Yoon yang dikurung di penjara bawah tampak lusuh dan lemas. Raja datang menemuinya dan menatapnya dengan sedih.


Raja bertanya sejak kapan Heo Yoon merencanakan pemberontakan. Ia menebak kalau Heo Yoon merencanakannya seak 20 tahun saat mulai berbohong bahwa putranya dan Yoon Jeo sudah mati. “Atau…” Raja melemparkan robekan kertas yang terbakar ke muka Heo Yoon. “Sejak kau menyembunyikan surat wasiat dari Raja sebelumnya?” Heo Yoon menundukkan kepalanya.


Raja mengingatkan kalau ia meminta Heo Yoon membawakan surat itu jika berhasil menemukannya. Saat itu, Heo Yoon mengatakan bahwa suratnya sudah terbakar. Ia bertanya apakah Heo Yoon bermaksud menurunkannya dari tahta dan memberikannya pada orang yang dianggap lebih pantas.


“Yang Mulia…” isak Heo Yoon. Raja menebak kalau Heo Yoon sama seperti orang lain yang menganggapnya tidak pantas menduduki tahta. Heo Yoon menangis. “Aku pantas mati, Yang Mulia.”


Heo Yoon bilang Raja bisa memberi hukuman apa saja padanya, tapi ia meminta Raja tidak mempercayai Yool Moo. Raja sama sekali tidak percaya kalau Yool Moo yang merencanakan pemberontakan.


Saat Heo Yoon baru saja tertangkap, Yool Moo berbisik padanya, “Aku berencana mendampingi keluargamu yang mungkin akan ditawan penjaga. Selama kau diam, aku berjanji akan menjauhkan mereka. Jika kau mengakhiri keributan ini dengan bertanggung jawab penuh  keluargamu mungkin berkesempatan untuk kehidup dengan nyaman.”


Heo Yoon tidak bisa bercerita lebih lanjut karena mengkhawatirkan keselamatan keluarganya. [Tapi selama adegan di rumah Heo Yoon, keluarganya belum pernah diliatin kan ya?]


Pengawal Heo Yoon memberitahu Kim Ssook bahwa itu semua perbuatan Yool Moo. “Apa itu berarti Pangeran Agung Neungyang yang berada dibalik kematian Deul Re?” tanya Kim Ssook. Pengawal Heo Yoon mengangguk. “Pangeran Agung Neungyang juga mengatakan hal yang sama. Ia bilang Tuan Heo Yoon berada dibalik semua ini.”


Kim Ssook bertanya perkataan siapa yang harus mereka percaya. Pengawal Heo Yoon meminta Kim Ssook memikirkan betapa panjang dan kerasnya Yool Moo melibatkan diri dalam masalah ini. “Dia sangat kejam dan cermat,” kata Pengawal Heo Yoon.


Sementara itu, Dong Joo tampak berdiri sendirian di depan rumah besar sambil mendekap kotak kayunya. Ia tampak gugup.


Ia mengingat saat dayang berkata, “Hanya ada satu tempat yang dia datangi secara sembunyi-sembunyi pada malam hari saat dia menyamar. Itu rmah gisaeng terbaik di Hanyang. Tempatnya berada di kaki Gunung Okmyuk.


Dong Joo masuk ke rumah gisang itu sambil membawa teh, Ia mendengar beberapa pria meminta agar para gisaneg menuangkan minuman. Langkahnya terhenti saat mendengar suara seorang gisaeng, “Yang Mulia, bisakah kau membawaku ke istana dan menjadikanku Ratumu?”


“Ssst… pelankan suaramu,” kata pria yang disebut Yang Mulia itu. Dong Joo meletakkan baki tehnya dan mendengar mereka semua tertawa. “Baiklah. Kepala Penaehat Daerah, ayo minum.”


Dong Joo mengeluarkan anak panah yang ia sembunyikan di dalam kaos kakinya. Ia mengatur napasnya, tapi kemudian ia mengingat Nok Du.


“Kau bilang kau tidak menyukaiku.Baiklah, aku mengerti. Tapi lihat saja, aku akan membuatmu menyukaiku,” kata Nok Du saat itu.


Dong Joo ragu dan tidak sengaja menjatuhkan anak panahnya. Ia terduduk lemas.


Ia mengingat saat seluruh anggota keluarga dan pelayannya dibantai oleh pengawal kerajaan.


Tapi, ia juga mengingat saat-saat bahagia bersama Nok Du.


Dong Joo menangis. Napasnya terasa sesak karena berusaha keras menahan tangisnya. Ia mengambil anak panah itu. Ia terkejut karena pintu tiba-tiba terbuka dan seorang pria terjatuh.


Gisaeng: “Yang Mulia!”
Pria: “Ratuku!”
Gisaeng: “Jika kau tidak mendengarkanku, aku akan menemui Raja yang lainnya.”
Pria: “Baiklah. Hahaha… Aku Raja yang lebih baik daripada dia.”


Dong Joo menyadari bahwa itu hanya pria mabuk, bukan Raja yang sesungguhnya. Ia pun langsung meninggalkan tempat itu.


Nok Du berjalan sambil melamun.


Ia mengingat saat ia bahagia karena bisa bertemu ayah angkatnya lagi, tapi ia sekarang sangat khawatir karena ayah kandungnya ingin membunuh ayah angkatnya.


Nok Du terkejut karena tidak bisa menemukan topinya yang tadi ia sembunyikan di belakang tanaman. “Apa kau mencari ini?” tanya Ratu yang datang bersama para dayang. Nok Du diam saja saat Ratu menyodorkan topi itu.


“Dia adalah Ratu. Tunjukkan rasa hormatmu,” kata Dayang Utama. Nok Du mengambil topinya dan menundukkan kepalanya. Dengan gugup, Nok Du meminta maaf dan memperkenalkan dirinya sebagai pengawal wilayah baru yang mengunjungi istana, tapi kehilangan topinya.


“Sepertinya kau tersesat,” kata Ratu. Nok Du meminta maaf karena ia belum terbiasa dengan istana. “Ambil ini. Aku mengenal tempat ini.” Ratu menyerahkan lampion milik dayang kepada Nok Du. Nok Du menerima lampion itu dan berterima kasih.


Nok Du terkejut saat melihat aksesoris milik Ratu yang sama dengan yang diberikan Pengawal Heo Yoon kepadanya.


Mata Nok Du berkaca-kaca menatap ibu kandungnya.


Setelah Ratu pergi, Nok Du menatap aksesoris yang disebut bisa membuktikan bahwa ia adalah putra Raja. Ia pergi dengan perasaan resah.


Ratu sepertinya juga merasakan sesuatu terhadap Nok Du. Ia menghentikan langkah dan melihat Nok Du yang sudah berjalan pergi.


Comments


EmoticonEmoticon