11/06/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 20 PART 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

Tuan Park dan anak buahnya terkejut saat ia melihat Dong Joo. Tapi kemudian ia merasa senang karena sudah mencari Dong Joo ke mana-mana, tapi malah Dong Joo muncul sendiri ke hadapannya. Dong Joo menyebut kalau Tuan Park salah orang.


“Begitukah? Coba kulihat,” kata Tuan Park mendekat. Dong Joo yang sempat mundur ketakutan, lalu menendang kaki Tuan Park. “Cepat kejar dia!”


Dong Joo melewati sebuah tali penghalang di sebuah desa. Saat berlari, ia tidak menyadari telah menginjak kertas pengumuman bertuliskan ‘Wabah telah menyebar…’ Tuan Park mengejar hingga Dong Joo terdesak.


Tuan Park mengeluh pant*tnya sangat sakit karena terus dipukuli. Ia marah karena Dong Joo mencuri uangnya dan di penjara ia mendapat banyak cambukan.


Dong Joo akan melarikan diri lagi, tapi Tuan Park menarik tas kotak kayu Dong hingga terjatuh. “Tidak, tidak apa-apa. Kemari… kemari.. Berbahaya. Kemarilah,” kata Tuan Park. Dong Joo mundur ketakutan. Ia terpeleset dan jatuh.


Tuan Park kebingungan.


Anak buahnya datang membawakan kertas pengumuman sambil menutup hidungnya. “Tuan! Apa yang kau lakukan di sini? Semua orang di desa ini mati karena wabah,” kata anak buahnya dengan panik.


Tuan Park terkejut. Ia memperhatikan Dong Joo yang berada dalam sumur dan tidak sadarkan diri.  “Dia mati. Dia sudah mati. Kurasa dia sudah mati,” ujarnya gugup lalu berlari pergi dengan ketakutan. Dong Joo ditinggal sendirian.


Saat Nok Du pulang, Guru Hwang bertanya apakah ada yang salah dengan Dong Joo. Nok Du bertanya ada apa. “Tadi dia ke sini dan memintaku untuk memberikan ini kepadamu. Tapi dia terlihat putus asa dan sedih,” kata Guru Hwang sambil memberikan bungkusan dari Dong Joo.


Nok Du membuka bungkusan yang berisi makanan kesukaannya. Ratu, ibu kandung Nok Du, juga menyukai makanan itu.


Nok Du tidak mengerti.


“Di mana aku?” tanya Dong Joo saat sadar. “Apa ada orang di atas?! Tolong! Tolong! Ada orang di bawah sini!” Ia berusaha menaiki sumur, tapi tidak bisa. “Tolong! Tolong! Apa orang di sana?!”


Dong Joo berteriak minta tolong, tapi tidak ada orang di dekatnya, apalagi orang-orang di desa tersebut sudah mati karena wabah yang terjad.


Keesokan harinya, hujan turun dan Nok Du masih melamunkan Dong Joo. Guru Hwang datang dan memperhatikan Nok Du.


“Apa kau yakin pria itu tidak menyembunyikan Dong Joo?” tanya Guru Hwang. Nok Du bilang Yool Moo juga sedang mencari Dong Joo. “Kalau begitu, mungkin dia melarikan diri seperti waktu itu.”


Nok Du menatap bungkusan makanannya yang belum ia makan sama sekali. “Tidak. Tidak mungkin,” ujarnya yakin. Guru Hwang penasaran kemana Dong Joo pergi, karena Nok Du sudah mencari ke seluruh bagian kotak. “Aku akan segera kembali.”


Guru Hwang menyuruh Nok Du membawa payung. Nok Du pun pergi mencari Dong Joo, tanpa mempedulikan hujan yang turun cukup deras. “Astaga…” keluh Guru Hwang.


“Tolong! Ada orang di bawah sini!” kata Dong Joo yang semakin lemas. Air hujan pun terus memenuhi sumur.


Nok Du pergi ke tempat ayunan, tapi Dong Joo tidak ada di sana.


Nok Du pergi ke rumah judi Tuan Park dan salah satu anak buah Tuan Park mengenalinya. Ia langsung pergi lagi karena tidak menemukan Dong Joo di sana. “Bos!” panggil anak buahnya pada Tuan Park.


Di luar, Tuan Park menghadang Nok Du. Nok Du menyuruhnya menyingkir, tapi Tuan Park menolak karena ia akan membunuh Nok Du. “Aku akan membiarkanmu bertemu kekasihmu di surge,” kata Tuan Park.


Nok Du: “Apa?”
Tuan Park: “Ah, rupanya kau tidak tahu. Dia sudah mati. Aku membunuhnya.”


Nok Du melemparkan payungnya dan mencengkeram kerah Tuan Park dengan marah.


Dong Joo semakin sulit bernapas.


Sementara itu, Raja masih belum bisa tidur.


Dong Joo yang hampir kehilangan kesadaran, mengingat saat Nok Du menggenggam tangannya dan mereka berjalan bersama.


Dong Joo tidak kuat lagi. Wajahnya pun terendam air. “Dong Joo…!” panggil Nok Du.


Dengan menggunakan tali, Nok Du turun ke dalam sumur. “Tida, Dong Joo,” ujarnya panik. “Dong Joo, bangun! Tidak! Dong Joo, bangun. Dong Joo…!” ia memeluk Dong Joo dengan erat.


Ratu sangat terkejut karena Raja datang mengunjunginya dengan tiba-tiba. Raja tersenyum padanya dan bilang ia merasa malu untuk mengatakannya, tapi ia tidak bisa tidur. Ia meminta maaf atas kebiasan buruknya. Ratu tidak mengerti.


Raja: “Ini bukan kesalahanmu. Semuanya… Semuanya kesalahanku.”
Ratu: “Yang Mulia…”
Raja: “Jika kau tidak keberatan, maukah kau tinggal denganku mala mini? Seperti masa lalu.”


Nok Du membawa Dong Joo pulang dan merawatnya. “Kau baik-baik saja? Kau sudah sadar?” tanya Nok Du saat melihat Dong Joo perlahan membuka matanya. Dong Joo bangun. “Apa yang kau lakukan? Kau belum boleh bergerak.”


“Pergilah. Pergi,” kata Dong Joo dengan lemah dan pucat. Ia berdiri dan akan pergi. Nok Du menyusulnya.


Nok Du bertanya bagaimana Dong Joo bisa berkata seperti itu padanya. Ia bilang ia sangat mengkhawatirkan Dong Joo. “Apa aku memintamu utnuk mengkhawatirkanku? Kenapa kau mencariku? Kenapa kau melompat ke dalam sumur?!” tanya Dong Joo. Ia lalu keluar padahal masih hujan..


“Ada apa denganmu??” tanya Nok Du. Dong Joo menghapus air matanya. “Dong Joo…” Dong Joo bilang ia punya tugas yang harus dilaksanakan. Ia sudah menjalani seluruh hidupnya dengan berusaha menyelesaikan tugasnya.


“Ketika aku berhasil… Ketika aku bertemu ibuku setelah menyelesaikan tugasku… kurasa aku akan sangat bahagia. Itulah alasanku hidup. Tapi… aku hampir mati sebelum menyelesaikan tugasku. Kenapa? Kenapa harus kau? Kenapa aku memikirkanmu? Kenapa aku hanya memikirkanmu saat itu?” isak Dong Joo.


Dong Joo bilang Nok Du selalu membuatnya ingin hidup. Nok Du bilang ia tidak tahu tugas apa yang harus Dong Joo lakukan sampai harus menjaga jarak darinya. Ia juga tidak tahu apa yang Dong Joo takutkan.


Nok Du: “Tapi apapun itu atau apapun yang terjadi pada kita, kita akan hidup bersama sekarang. Jadi tidak bisakah kau mengikuti hatimu dan menyukaiku? Aku hanya… sangat menyukaimu.”
Dong Joo: “Aku menyukaimu. Baiklah, aku menyukaimu! Aku sangat menyukaimu hingga aku hampir kehilangan akal!”


Nok Du lalu mencium Dong Joo. Mereka berhenti dan saling menatap.


Kali ini, giliran Dong Joo yang mencium Nok Du.


Comments


EmoticonEmoticon