11/06/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 21 PART 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

Hujan pagi hari menyambut Raja yang keluar dari kamarnya. Di luar sudah menunggu Kepala Pengawal dan anak buahnya.


Dua orang tua mantan pelayan di rumah keluarga Dong Joo tampak bersujud dengan ketakutan.


Sementara itu, Nok Du dan Dong Joo sedang menikmati masa romantic mereka setelah pengakuan cinta Dong Joo yang rumit.


Ayunan menjadi saksi bisu cinta mereka.


“Sial,” kata Nok Du setelah mereka berhenti berciuman. “Astaga..” Ia menyentuh wajah Dong Joo dengan gugup. Dong Joo bertanya kenapa Nok Du terlihat gelisah dan tidak berani menatap matanya. “Astaga… Aku merasa gugup.”


“Sekarang?” tanya Dong Joo heran. Nok Du juga tidak mengerti kenapa ia gugup. Ia gugup dan sadar kalau ia pasti bertingkah aneh. “Kau pengecut,” goda Dong Joo.


Nok Du bertanya apa Dong Joo tidak gugup, padahal hatinya hampir saja meledak. “Aku baik-baik saja,” kata Dong Joo lalu mengecup bibir Nok Du dan menatapnya dengan penuh cinta.


Tapi, Dong Joo tiba-tiba terjatuh.


“Kami pantas mati, Yang Mulia. Kami tidak tahu kalau itu kejahatan makam,” isak di pelayan pria. Raja bertanya apakah ketika mereka berdua mengubur jasad-jasad itu, mereka menemukan jasad Yu Yeon Kyung dan keluarganya.


Pelayan wanita lalu mengingat saat tanpa sengaja berpapasan dengan Dong Joo, yang ia yakini sebagai majikan mereka yang dulu masih kecil.


Pria: “Itu…”
Wanita: “Mereka semua mati. Mereka semua sudah mati. Nyonya yang melarikan diri dari rumah dan juga putrinya juga mati. Setelah memastikan kalau mereka sudah mati, kami menguburkan jasadnya.”


“Benarkah? Di mana kalian menguburkan jasadnya?” tanya Raja yang masih belum sepenuhnya percaya pada mereka berdua. 


Yool Moo melamun sendirian. Ia menatap makanannya dengan kosong.


Beberapa saat kemudian, Dan Ho datang melapor bahwa ia baru saja mengunjungi rumah gisaeng tempat Hwa Soo tinggal sekarang, tapi Dong Joo tidak ada di sana. Ia akan mencari di luar kota, tapi Yool Moo melarangnya pergi dan menyuruhnya duduk.


Yool Moo merasa Dong Joo benar-benar membencinya karena menghilang begitu saja. Ia bingung apakah harus merasa lega karena Dong Joo tidak pergi bersama Nok Du. Ia lalu mulai makan.


Nok Du menggendong Dong Joo dan tidak mau menurunkannya karena menurut tabib, Dong Joo harus istirahat total. Ia bilang tidak ada orang di rumah, jadi tidak akan ada yang melihat mereka. Dong Joo tetap minta turun.


“Lihat kan? Sudah kubilang. Tidak ada orang di…” Nok Du terkejut karena melihat seorang pria keluar dari rumah. Dong Joo langsung turun dan Nok Du membiarkannya. “Aku salah.”


Guru Hwang memberitahu bahwa tamu mereka datang dari istana untuk menemui Dong Joo. “Dari istana?” tanya Dong Joo heran.


Dayang mengatakan bahwa ia tidak keberatan jika ada satu lagi pelayan yang bekerja di bawahnya, tapi ia menanyakan alasannya. “Dia adalah gadis yang memberi nasehat bagaimana Yang Mulia mengatasi insomnia-nya, padahal para tabib sudah menyerah. Tolong terima permintaanku,” kata Ratu. Dayang menerimanya.


Dong Joo akhirnya masuk ke istana. Ia memperhatikan sekitarnya. Sekarang ia merasa agak ragu untuk melaksanakan rencananya membunuh Raja, karena ada Nok Du yang sangat ia cintai.


Kepala Pengawal memanggil Nok Du dan akan memberinya perintah. Ia juga akan membagi beberapa pengawal kerajaan untuk mendampingi Nok Du. “Baiklah. Apa tugasku?” tanya Nok Du.


Kepala Pengawal melihat dua pelayan yang masih ketakutan.


Raja kembali menemui Heo Yoon. “Bawa mereka masuk,” kata Raja. Yool Moo berjalan masuk ke dalam sel.


Heo Yoon sangat terkejut saat melihat Jung Sook dan Yeon Boon juga datang ke sana. Hwang Tae juga ada bersama mereka. Heo Yoon tidak mengerti apa maksudnya.


Kedua pelayan itu membawa Nok Du dan para pengawal ke tempat mereka menguburkan jasad keluarga Dong Joo. Seorang pengawal ragu jika mereka masih mengingat tempatnya karena mereka tidak bisa mencari di seluruh gunung yang sangat luas itu.


“Ada peraturan bahwa kami tidak diizinkan keluar jika mendengar suara lonceng. Sementara itu, Tuan Heo sering mengunjungi rumah isolasil di Desa Janda,” kata Jung Sook memulai kesaksiannya. Raja bertanya bagaimana mereka bisa tahu padahal tidak boleh keluar.


“Temanku melihatnya padahal dia seharusnya tidak boleh berada di sana. Tuan Heo membunuhnya,” kata Yeon Boon. Heo Yoon terkejut dan bertanya apa yang Yeon Boon bicarakan itu.


“Beritahu Yang Mulai apa yang janda mati itu lihat di rumah isolasi,” kata Yool Moo. Yeon Boon bilang ada seorang pria muda yang berencana melakukan sesuatu yang besar.


Raja: “Siapa pria itu?”
Heo Yoon: “Yang Mulia…”
Yool Moo: “Ada yang harus kuberitahu tentang pria itu, Yang Mulia. Pria di sana akan mengatakannya kepadamu.”


Hwang Tae memberi salam pada Raja. Raja berkata, “Semua orang selain yang dua ini silakan pergi.”


Kedua pelayan sangat ketakutan saat Nok Du mendekat, padahal Nok Du hanya ingin memberikan air minum. Nok Du bilang karena mereka belum mengingat lokasinya, maka mereka akan kembali untuk hari dan melanjutkannya besok. “Ya, Tuan,” ujar mereka.


“Makam siapa yang kalian cari?” tanya Nok Du penasaran. Wanita itu bilang itu adalah makam yu Yeon Kyung yang dibunuh karena merencanakan pemberontakan terhadap Raja. Ia tidak tahu kalau memakamkannya termasuk kejahatan.


“Kami tidak ingat di mana kami menguburkannya,” kata pelayan wanita. Nok Du bertanya kenapa Raja ingin mereka menggali makamnya. Pelayan pria bilang semua orang sudah mati, tapi Raja tidak percaya.


“Gadis itu juga sudah mati. Aku mengatakan yang sebenarnya,” isak pelayan pria. Nok Du mengerti dan mereka melanjutkan perjalanan kembali ke istana.


“Yang Penasehat Yoon sembunyikan di tempat itu adalah putramu, Yang Mulia. Itulah kenapa dia menyingkirkan semua bukti dengan membunuh dan membakar dokumennya, “Tidak, Yang Mulia. Semua yang dia katakan adalah bohong,” kata Heo Yoon.


“Ketika kami tinggal di pulau itu, adikku pernah berkata bahwa dia ingin meraih posisi tertinggi,” kata Hwang Tae yang membuat Raja semakin terkejut. “Saat itu, kupikir dia ingin menjadi seorang jenderal.” Raja merasa sangat resah.


Yool Moo bilang rencana Heo Yoon bukanlah menjadikan Pangeran Yeongchang yang ingin dijadikan Raja, melainkan putra Raja sendiri. 


“Cukup! Cukup!” kata Raja lalu mencengkeram kerah Heo Yoon. “Apa kau tidak tahu bagaimana sulitnya menyingkirkan dia? Jadi bagaimana kau bisa berencana untuk mendudukkannya di tahta? Beraninya kau?!”


Heo Yoon bertanya apa yang Raja takutkan. Ia yakin Raja tidak lagi ingin berada di posisi itu. Raja semakin marah. “Seorang Raja tidak boleh membunuh keturunannya sendiri. Apa kau tidak tahu kalau seorang Raja harus memerintah dan melindungi rakyatnya?!” kata Heo Yoon.


“Tutup mulutmu!” kata Raja.
Comments


EmoticonEmoticon