11/07/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 22 PART 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

Yool Moo berkumpul dengan para pejabat yang sudah memutuskan untuk memihaknya. Ia mempersilakan mereka semua untuk duduk. “Kalian semua pasti sudah mendengar apa yang terjadi pada Tuan Heo?” tanyanya.


Menteri A mengatakan bahwa mereka berhutang pada Yool Moo yang sudah mengatasi keadaannya, sehingga mereka aman dan tidak disiksa.


“Pemberontakan akan terjadi pada tanggal 15 bulan depan,” kata Yool Moo membuat semua orang terkejut. “Ketik Yang Mulia meninggalkan Hanyang utnuk memberi hormat ke situs leluhur kerajaan, aku akan mengambil alih istana yang kosong.”


“Pada jam 11 malam, aku akan menuju istana bersama para penjaga melalui Gerbang Changui, Pastikan gerbangnya terbuka,” lanjut Yool Moo menyampaikan rencananya.


Menteri B memastikan bahwa pada saat itu Gerbang Changui akan terbuka. Yool Moo lalu memerintahkan Menteri A untuk mengambil segel kerajaan, menangkap Raja dan kembali ke istana.


Menteri C mendapat perintah untuk mendampingi Ratu Dowager dan Ratu akan memberikan perintahnya, sehingga pemberontakan akan berjalan dengan mulus.


Menteri D mengatakan bahwa Raja mengusir adiknya sendiri dan membawanya menuju kematian. Menurutnya, Raja juga melakukan kejahatan besar dengan memenjarakan ibunya. Ia yakin Rakyat tidak akan menentang mereka.


“Ada satu lagi yang bisa kita masukkan ke dalam daftar. Aku tahu rahasia Yang Mulia yang lebih mengerikan dan jahat daripada yang kalian ketahui,” kata Yool Moo.


Yeon Boon dan Jung Sook terkejut saat Kim Ssook memberitahu mereka bahwa orang yang membakar desa mereka adalah Yool Moo. Kim Ssok bilang mereka memang tidak memiliki bukti apapun terkait pembakaran itu dan juga kematian Nyonya Chun, tapi ia yakin kalau Yool Moo pelakunya karena Yool Moo membuat Jung Sook dan Yeon Boon berbohong untuk menjatuhkan Heo Yoon.


“Oh, tidak. Kalau begitu, Tuan Heo mati karena kita,” sesal Jung Sook. Yeon Boon marah dan bertekda membunuh Yool Moo. Kim Ssook mengingatkan bahwa jika termakan emosi, mereka tidak akan mendapat apa-apa.


“Kita bertiga tidak bisa mengalahkan Dan Ho. Sampai kita menemukan cara untuk mengalahkannya, tetaplah tenang. AKu akan menghubungi kalian,” kata Kim Ssook.


Malam harinya sepulang kerja, Nok Du melihat Dong Joo sudah menunggunya. Ia menepuk bahu Dong Joo untuk mengejutkannya, tapi tanpa sengaja Dong Joo malah memukul wajah Nok Du.


Hidung Nok Du berdarah dan ia terlihat sedih.


Dong Joo bilang semua itu salah Nok Du sendiri. “Bukankah sangat mengejutkan betapa tampannya aku walaupun aku terluka?” tanya Nok Du. Dong Joo mengiyakan dan mengusap wajah Nok Du.


“Kau sangat tampan. Tapi kau juga cantik dalam waktu yang sama. Ketika kau berpura-pura menjadi wanita, kau lebih cantik daripada wanita yang sesungguhnya,” kata Dong Joo. Nok Du bertanya kenapa Dong Joo bersikap manis padanya.


Dong Joo mendorong dahi Nok Du dengan jarinya. “Kau bahkan tidak bisa menerima pujian dariku. Kenapa kau teus membual? Ayo cepat. Banyak yang harus kita lakukan,” kata Dong Joo.


Nok Du menyusul Dong Joo dan merangkulnya, tapi Dong Joo melepaskannya. Sebagai gantinya, Dong Joo menggandeng tangan Nok Du.


Nok Du mengambil sebuah cermin dan berkata kalau itu yang paling cantik. “Apa?” tanya Dong Joo tidak mengerti. Nok Du mengarahkan cermin itu ke wajah Dong Joo.


“Inilah yang paling cantik,” kata Nok Du memuji Dong Joo. Dong Joo protes karena Nok Du menggodanya. “Dia tidak tahu betapa cantiknya dia. Berapa harganya?” tanya Nok Du kepada bibi penjual.


Mereka berjalan-jalan lagi dan bertemu dengan penjual kembang api yang katanya mendaatkannya langsung dari Kekaisaran Ming. Nok Du membelinya.


Di warung camilan, Nok Du menyuapi Dong Joo. “Kita harus membeli semua yang ada di keranjang,” kata Dong Joo. Nok Du menurutinya dan memesannya kepada bibi penjual termasuk membeli keranjangnya.


Penjual: “Keranjangnya juga?”
Nok Du: “Ya.”
Dong Joo: “Aku juga mau okchundang.”


Dong Joo mengambil dua okchundang, gula-gula kesukaan Nok Du, dan menyuapinya ke dalam mulut Nok Du.


Nok Du mengunyah okchundangnya. “Kau sangat manis ketika makan okchundang sebelumnya. Kau terlihat seperti kelinci,” kata Dong Joo senang.


Dong Joo minta dibelikan sepatu, tapi Nok Du menolak. Dong Joo merajuk dan bilang kalau sepatunya sangat indah, tapi Nok Du tetap menolak. Dong Joo menanyakan alasannya. “Jika aku membelikanmu sepatu, kau akan melarikan diri lagi, bukan? Aku tidak mau!” kata Nok Du.


Dong Joo bilang ia tidak akan melarikan diri dan meminta sepatunya. Nok Du menarik Dong Joo pergi dan berkata, “Aku akan membelikanmu apapun kecuali sepatu. Jangan sepatu.” Mereka melanjutkan berjalan-jalan.


Yeon Geun melihat mereka dan bicara sendiri, “Mereka… pasangan yang serasi. Sial.” Ia akan pergi, tapi malah bertabrakan. “Astaga. Dorongan berat apa ini?” Mereka sama-sama terkejut.


Yeon Geun: “Tunggu. Kau…”
Bok Nyeo: “Ah, Wakil Kurator…”


Dong Joo memilih kain dan bilang akan menjahitkan baju untuk Nok Du. Ia bilang ia punya tangan yang tangkas, tapi Nok Du meragukannya. “Oh, dia dari desa kita,” kata Nok Du saat melihat Bok Nyeo.


Bok Nyeo melihat mereka dan melambaikan tangannya dengan bahagia. “Nyonya Park Bok Nyeo…” ucap Dong Joo terkejut. Yeon Geun tiba-tiba menunjuk sesuatu.


Soon Nyeo menepuk bahu Nok Du. Ia juga bersama dengan Mal Nyeon yang tampak lemas. Mereka sangat senang saat Nok Du menawarinya camilan. Mereka semua llau pergi ke rumah Yeon Geun.


Mereka makan sambil berbincang dengan riang mendengarkan Guru Hwang bermain kata. Soon Nyeo bilang pasti berat bagi Dong Joo karena menghabiskan dua hari di dalam sumur. “Tidak apa-apa. Pasti kalian juga merasa kesulitan,” kata Dong Joo.


Aeng Doo terkejut karena itu berarti Dong Joo tidak makan selama dua hari. “Ya. Karena itulah aku kelaparan,” kata Dong Joo sambil mengusap kepala Aeng Doo. Aeng Doo tersenyum senang saat Nok Du datang membawa nasi.


Guru Hwang heran karena hari ini Nok Du mau memasak nasi dan juga memasak lauk lainnya. Aeng Doo mencium aroma nasinya, tapi sepertinya terlihat kesal. Nok Du membagikan semua nasinya kepada semua orang.


Dong Joo akan menyendok nasinya, tapi Aeng Doo menghentikannya dengan kesal. Semua orang terkejut hingga tidak jadi makan. Aeng Doo mencium aroma nasinya lagi dan menyuruh Dong Joo meletakkan sendoknya. Aeng Doo menggunakan sendoknya untuk menyendok mangkok nasi Dong Joo.


“Itu kuning telur!” kata Yeon Geun. Aeng Doo lalu menumpah mangkok nasi Dong Joo ke mangkok kosong.


“Telur goreng. Lihat telur goreng ini!” kata Aeng Doo kesal. Nok Du bilang hanya ada satu telur yang tersisa. Ia bilang tabib menyuruhnya agar memberi makan Dong Joo dengan baik, terutama telur dan daging. Yang lain kecewa karena Nok Du bersikap tidak adil.


Dong Joo mempersilakan Aeng Doo memakan nasi dan telur gorengnya. “Tidak!” kata Nok Du lalu menyuapi Dong Joo. Mal Nyeon bilang kelakuan Nok Du membuat para janda itu semakin sedih. Yeon Geun mengomel agar mereka berhenti membuat keributan.


Bok Nyeo memberikan potongan daging ke sendok Yeon Geun. “Astaga, lihat itu,” kata Mal Nyeon.


Bok Nyeo tampak tersipu malu. Soon Nyeo bilang makanan itu terasa manis. Mal Nyeon dan Guru Hwang setuju dengannya. 


Tiba-tiba, pandangan Guru Hwang dan Soon Nyeo beradu. “Aeng Doo, aku akan membawakan air beras,” kata Guru Hwang tanpa melepaskan pandangannya dari Soon Nyeo.


Guru Hwang pergi dengan gugup. Mal Nyeo sampai menengok ke belakang untuk mencaritahu siapa yang Guru Hwang lihat. Aeng Doo masih mengomel kalau ia juga menyukai telur. “Aku akan menggorengnya untukmu lain kali.” Nok Du berjanji lalu memberikan potongan daging pada Aeng Doo.


Mereka melanjutkan makan dengan bahagia.


Sementara itu, Kim Ssook sedang bertemu dengan Pengawal Heo Yoon. “Aku bisa menyelinap masuk ke istana, tapi tidak akan mudah untuk bertemu dengannya secara pribadi,” kata Kim Ssook. Pengawal bilang yang perlu Kim Ssoo lakukan hanyalah memastikan suratnya sampai. “Berikan padaku.”


Pengawal memberikan suratnya kepada Kim Ssook. Ia berterima kasih dan berpesan agar Kim Sosok berhati-hati. Kim Ssook mengangguk. Ia juga bertanya apakah Kim Ssook bisa mencari tahu keadaan Heo Yoon.


“Sebenarnya ada yang ingin kukatakan padamu,” kata Kim Ssook.


1 komentar

  1. Asli, itu raja macam apa ayahnya Nok Du. Demi tahta, anaknya sendiri dibunuh. Sadis bener, bagaimana Nok Du memaafkan ayah yang begitu. Bunuh orang nda' ada menyesal-menyesalnya sedikit pun. Apalagi sepertinya penderitaan Dung Joo dikarenakan raja juga...

    BalasHapus


EmoticonEmoticon