11/08/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 22 PART 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

Dong Joo terkejut karena Nok Du ingin tidur di kamarnya padahal sedang banyak orang di rumah. “Apa kau sudah gila?!” tanya Dong Joo.


Nok Du: “Ya, aku sudah gila. Bisakah aku masuk sekarang?”
Dong Joo: “Bagaimana jika ada orang yang membuka pintu kamarku?”
Nok Du: “Hei, siapa yang akan membukat pintumu pada larut malam? Kau sangat aneh.”


Dong Joo bilang ia kehilangan kata-kata menghadapi Nok Du. Nok Du bilang ia hanya mengatakan yang sebenarnya. “Aku akan ke sana, oke?” kata Nok Du lalu masuk ke kamar Dong Joo smabil membawa bantalnya sendiri.


“Aku lelah, jadi jangan mengajakku bicara dan langsunglah tidur,” kata Dong Joo smabil memalingkan tubuhnya. Nok Du mengiyakan dan masuk ke dalam selimut, tapi ia meletakkan tangan kirinya ke bawah leher Dong Joo.


Nok Du terdiam sebentar, lalu memeluk Dong Joo dari belakang. “Selamat tidur,” ucapnya.


Para janda tidur bersama Aeng Doo. Mereka terlihat sangat nyenyak. Tiba-tiba, Soon Nyeo menggerakkan kakinya hingga menindih Aeng Doo.


Mal Nyeon menggerakkan tangannya hingga mengenai Aeng Doo dan membuatnya terbangun. “Aw..!” pekik Aeng Doo.


Dong Joo menyentuh tangan Nok Du. Ia lalu berbalik dan menatap wajah Nok Du.


“Lihatlah dia sudah tertidur. Dia selalu menuruti apa yang kukatakan,” kata Dong Joo bicara sendiri. Ia lalu menyentuh wajah Nok Du. Ia lalu menyentuh bibir Nok Du dan terus menatapnya. Tiba-tiba, Nok Du menangkap tangannya dan membuat Dong Joo sangat terkejut.


“Apa kau bodoh? Bagaimana bisa kau mengharapkanku untuk tidur?” kata Nok Du. Dong Joo bertanya kenapa Nok Du tidak tidur. “Apa kau serius bertanya karena tidak tahu?” Dong Joo menyuruh Nok Du berhenti bergurau dan tidur.


Nok Du bilang kapanpun ia melihat Dong Joo, ia melupakan segalanya. Dengan begitu, ia bahkan bisa tersenyum saat melalui masa-masa sulit. “Aneh, bukan?” tanyanya sambil tersneyum. Dong Joo membalas senyumnya dan mengiyakan pertanyaan Nok Du.


Dong Joo mencubit pelan pipi Nok Du dan bilang kalau ia heran kenapa bisa menyukai pria brengsek seperti Nok Du. Nok Du bilang ia tadi tertidur dan Dong Joo yang membuatnya terbangun.


Nok Du menyentuh wajah Dong Joo, lalu mengecup dahinya. Mereka saling menatap. Nok Du lalu mengecup kening dan bibir Dong Joo. Mereka saling menatap lagi.


Suasana romantis terbentuk dan mereka berciuman. Tapi tiba-tiba seseorang membuka pintu, sehingga Dong Joo dan Nok Du berguling menjauh. Aeng Doo datang sambil membawa bantalnya. “Para janda itu memiliki kebiasaan tidur yang buruk,” keluh Aeng Doo sambil berbaring dan menutup matanya.


Nok Du: “Hei, Aeng Doo.. Apa kau melihatnya?”
Aeng Doo: “Melihat apa? Melihat kalian menempel seperti lem dan saling berciuman? Atau melihat kalian berguling menjauh seperti pant*t kalian terbakar? Yang mana yang kau maksud?”


Dong Joo menutup wajahnya karena malu. Nok Du menyadari bahwa Aeng Doo melihat semuanya. “Kau tahu? Setelah aku memikirkannya lebih jauh, aku semakin yakin kalau kau tidak lagi cocok menjadi suamiku. Apa yang harus kulakukan dengan pria yang hatinya sudah menjadi milik orang lain?” kata Aeng Doo masih sambil menutup matanya.


Dong Joo dan Nok Du akhirnya kembali tidur sambil berpegangan tangan, dengan Aeng Doo di antara mereka.


Keesokan harinya, Dong Joo mendengar tentang Raja yang suka keluar dari penjara bawah tanah dengan noda darah di jubah kerajaannya. Seorang pelayan juga mendengar berita kalau semalam ada orang yang mati di sana.


“Sepertinya, orang itu pernah menduduki jabatan tinggi. Penjara bawah tanah dibangun untuk hal semacam itu” kata seorang pelayan. Pelayan lainnya bertanya kenapa Dong Joo berdiri diam saja.


Dong Joo tersadar dari keterkejutannya dan menurunkan barang yang dibawanya. Cincin bunganya yang sudah layu terjatuh dan ia mengambilnya dan meletakkannya di dalam lengan bajunya. Ia lalu pergi dengan lesu.


Yool Moo bertanya kenapa Hwang Tae terlihat murung. “Seseorang mati karena aku berbohong,” sesal Hwang Tae. Yool Moo bilang mereka tidak hanya akan berjalan secara elegan dan melalui jalan yang indah. “Bukan itu maksudku.”


Yool Moo bilang jika Hwang Tae terus bersikap seperti itu, maka ia akan menemui Raja sendirian saja. Ia terkejut saat melihat Dong Joo. Ia menyerahkan keranjang makanannya pada Hwang Tae dan berlari menyusul Dong Joo.


Dong Joo berpapasan dengan Nok Du. Ia heran apakah Nok Du tidak bekerja karena selalu berada di istana. Nok Du bilang ada yang harus ia lakukan di sana. “Malam ini aku akan tidur di istana,” kata Dong Joo. Nok Du menanyakan alasannya. “Untuk bekerja.” Nok Du bilang Dong Joo tidak wajib menginap di istana. “Aku memilih tidur di sini.”


Yool Moo datang dan langsung menghajar Nok Du. Ia lalu menarik tangan Dong Joo. Hwang Tae juga terkejut saat melihat Nok Du. Yool Moo bertanya apa yang Dong Joo lakukan. Dong Joo meminta tangannya dilepaskan dulu, baru mereka akan bicara.


Nok Du menarik tangan Yool Moo. “Lepaskan dia, Pangeran Agung Neungyang,” ujarnya. Yool Moo mengibaskan tangannya dan mencengkeram leher Nok Du.


Nok Du ingin balas menyerang, tapi Kepala Pengawal datang dan menegurnya. Kepala Pengawal meminta maaf kepada Yool Moo. “Aku tidak tahu ada masalah apa, tapi banyak mata yang memperhatikanmu saat ini,” kata Kepala Pengawal.


Yool Moo menoleh ke belakang dan menyadari banyak orang yang memperhatikannya. Ia terpaksa melepaskan Nok Du, tapi ia meraih tangan Dong Joo lagi.


“Aku mencarimu ke mana-mana, dan aku menemukanmu di sini? Apa yang kau lakukan di sini?” bisik Yool Moo dengan kesal. Dong Joo bilang ia mendapatkan pekerjaan di istana. “Kau pikir apa yang bisa kau lakukan dengan bekerja di sini?” Dong Joo menolak dan menarik tangannya.


“Dong Joo!!!” teriak Yool Moo dengan marah.


“Yang Mulia Ratu tiba….!” Kata kasim. Mereka semua memberi hormat pada Ratu yang berjalan ke arah mereka. Ratu bilang ia terganggu dengan keributan yang terjadi, tapi ia tidak menyangka jika itu dilakukan oleh Yool Moo.


Yool Moo meminta maaf tanpa menatap Ratu. Ratu lalu bertanya apakah Dong oo adlaah pelayan Dayang Kim. Dong Joo mengiyakan. Ratu bilang ia tidak tahu apa masalah mereka, tapi pelayan yang bekerja untuk dayangnya berarti juga bekerja untuknya.


“Jangan perlakukan dia dengan tidak hormat,” kata Ratu kepada Yool Moo. Ia lalu bicara pada Dong Joo, “Kau boleh pergi.” Dong Joo memberi hormat lalu pergi. “Kau juga boleh pergi, Pangeran Agung Neungyang.”


Yool Moo memberi salam dan pergi. Hwang Tae juga melakukan hal yang sama sambil bertatapan sesaat dengan Nok Du. “Aku ingin berbicara denganmu,” kata Ratu. Kepala Pengawal mengiyakan. Nok Du memberi hormat dan Ratu pun pergi.


Nok Du menyusul Hwang Tae dan menariknya. Hwang Tae khawatir Yool Moo akan mengetahuinya, tapi Yool Moo sudah berjalan lebih dulu dengan cepat karena masih merasa marah. Nok Du menarik Hwang Tae ke tempat yang lebih aman.


Nok Du bertanya kenapa wajah Hwang Tae sangat pucat, tapi kakaknya itu mmeinta Nok Du tidak mengkhawatirkannya. “Hyung, belum terlambat untuk berhenti,” kata Nok Du.


Hwang Tae: “Tidak. Aku tidak bisa berhenti. Aku sudah terlalu jauh. Jadi bkau harus berhenti membuang waktumu.”
Nok Du: “Apa maksudmu? Hyung, apakah si brengsek itu mengancammu?”
Hwang Tae: “Tidak. Jangan ikuti aku.”


Hwang Tae pergi dan Nok Du tidak bisa melakukan apa-apa.


Sementara itu, Kim Ssook sudah berhasil menyusup masuk ke istana. Ia mendengar dua orang pelayan yang sedang bersiap membuat teh untuk Ratu. Pelayan itu pergi untuk mengambil teh terbaik.


Kim Ssook menggunakan kesempatan itu untuk menyimpan surat di bawah teko teh. Itu merupakan surat dari Pengawal Heo Yoon untuk Ratu.


Ratu sangat terkejut saat Kepala Pengawal memberitahunya bahwa Heo Yoon terlibat dalam rencana pemberontakan dan berakhir mati. “Dia adalah teman terdekat Yang Mulia. Sangat sulit dipercaya. Apa kau punya bukti? Siapa kaki tangannya? Kepada siapa dia berencana menyerahkan tahtanya?” kata Ratu.


Kepala Pengawal bilang Raja memberi perintah untuk merahasiakan hal itu. Ia meminta maaf karena tidak bisa mengatakannya pada Ratu.


Ratu menggenggam aksesoris kesayangannya dan berkata, “Sepertinya hari itu… dia memang ingin mengatakan sesuatu kepadaku.” Kepala Pengawal tidak mengerti. “Tidak ada apa-apa. Kau boleh pergi sekarang.” Kepala Pengawal memberi hormat, lalu keluar.


Saat mengangkat tekonya, Ratu menemukan surat. Sayangnya, Kepala Pengawal melihat kejadian itu.


Kepala Kasim mengatakan bahwa jasad Heo Yoon masih berada di dalam istana dan keberadaan keluarganya tidak diketahui. Ia bertanya apa yang harus mereka perbuat. “Tinggalkan jasadnya di depan Gerbang Sigu,” kata Raja. Kepala Kasim terkejut.


Raja: “Yoon… sudah mengabaikanku sejak lama. Jadi, aku akan melakukan hal yang sama.”
Kepala Kasim:”Ya, Yang Mulia.”


Kepala Pengawal datang menemui Raja.


Comments


EmoticonEmoticon