11/08/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 22 PART 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

Nok Du menemui Dong Joo dan menanyakan pergelangan tangannya yang pasti sakit karena Yool Moo mencengkeramnya dengan keras. Ia bilang seharusnya ia memberi Yool Moo pelajaran. Dong Joo bilang ia baik-baik saja.


“Nok Du... aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa mulai mala mini aku tidak akan pulang,” kata Dong Joo. Nok Du heran kenapa Dong Joo terus mengatakan hal yang tidak menyenangkan itu.


Nok Du bilang ia bisa menemui Dong Joo di istana. Ia menyuruh Dong Joo beristirahat dan ia pamit pergi. Ia mengusap kepala Dong Joo, lalu pergi.


Dong Joo menatap bunga cincin dari Nok Du. [Ngga ngerti deh apa itu bunga cincin yang kemarin atau itu bunga baru lagi karena masih segar]


Kim Ssook yang sedang asyik menghisap pipa dikejutkan dengan kedatangan Nok Du. “Maafkan aku. Apa kau sudah mendengar tentang apa yang terjadi pada Penasehat?” tanya Nok Du. Kim Ssook mengangguk. “Apa kau akan terus membiarkan Pangeran Agung Neungyang melakukan ini?”


Kim Sook bilang ia sedang memikirkan apa yang harus ia lakukan. Nok Du mengulurkan tangannya, tapi Kim Ssook diam saja. Nok Du lalu meraih tangan Kim Ssook sehingga mereka berjabat tangan.


“Kenapa kita tidak saling membantu?” usul Nok Du.


Pengawal Heo Yoon yang baru tahu mengenai kematian Heo Yoon tampak menangis. Ia sangat terluka karena jasad Heo Yoon dibiarkan begitu saja. Ia sangat marah.


Yoon Jeo berdiri dan bilang kalau ia akan pergi ke tempat jasad Heo Yoon berada. “Cukup pastikan kau bertemu Yang Mulia Ratu kali ini. Aku yang akan mengurus jasadnya,” kata Pengawal. Yoon Jeo mengajaknya melakukannya bersama. “Kau tahu itu akan berbahaya.”


Yoon Jeo bilang itu juga akan berbahaya bagi pengawal. Ia mengajaknya pergi bersama, tapi pengawal menahan tangannya. “Aku hampir mati karena demam saat masih kecil. Bahkan ibuku menyerah untuk menyelamatkanku. Tapi Penasehat membawaku ke dokter dan menyelamatkanku. Dia menangis dan memohon kepada ayahnya agar menyelamatkanku. Dan ketika dia melakukan itu untukku, aku merasa bukan hanya sembuh dari demam. Aku merasa… Aku merasa menjadi manusia layak untuk pertama kalinya dalam hidup,” kata Pengawal.


“Akulah yang akan pergi karena rasa terima kasihku kepada Penasehat,” kata Pengawal. Yoon Jeo mengerti. “Aku minta maaf karena tidak bisa melindungimu hingga akhir.” Ia memberi hormat, lalu pergi.


Kepala Kasim menyarankan agar Raja memanggil Nok Du dan minum bersamanya. Raja menebak kalau Kepala Kasim mengasihaninya. “Bukan itu maksud hamba,” kata Kepala Kasim. Raja setuju dan meminta Kepala Kasim memanggil Nok Du.


Pengawal Heo Yoon sampai di Gerbang Sigu dan mencari jasad Heo Yoon di antara banyak jasad lain. Ia menangis saat akhirnya menemukan jasad Heo Yoon yang berlumuran darah.


“Tuanku…” isaknya.


Tiba-tiba sebuah pedang mengarah ke leher Pengawal Heo Yoon yang sedang menangis tersedu-sedu.


Sementara itu, Yoon Jeo tengah berjalan dengan was-was.


Di salah satu pintu istana, seseorang yang menutupi kepalanya pergi bersama dengan dua pria berpakaian hitam.


Sayangnya, ada yang mengintai mereka.


Pengawal bangkit perlahan dan melihat Dan Ho. “Di mana Jung Yoon Jeo?” tanya Dan Ho. Pengawal bilang Yoon Jeo sudah melarikan diri dan meminta Dan Ho tidak mencarinya. Dan Ho menebas kaki pengawal dan kembali mengarahkan pedang ke lehernya.


“Selanjutnya adalah kepalamu. Jangan ragu-ragu dan jawab aku,” ancam Dan Ho. Pengawal mencibir. Ia bilang Dan Ho pasti akan tetap membunuhnya, walaupun ia menjawab pertanyaannya.


“Aku tidak buru-buru karena tuanku ada di sini,” kata Pengawal lalu menggenggam pedang Dan Ho. “Itu berarti aku tidak mempermudah tugasmu.” Ia menusukkan pedang itu ke perutnya. “Aku datang ke sini untuk menemaninya di perjalanan terakhirnya.” Dan Ho mencabut pedangnya.


Pengawal Heo Yoon kehilangan nyawanya tepat di sebelah majikan yang sangat dihormatinya.


Yoon Jeo sampai di suatu tempat dan memberikan hormat kepada Ratu yang sudah menunggunya. “Selama ini kau masih hidup?” tanya Ratu. Yoon Jeo menganggukkan kepalanya.


Yoon Jeo: “Yang Mulia… apa kau ingat bahwa aku menguburkan putra Raja 20 tahun lalu?”
Ratu: “Ya. Dan kau terpeleset hari itu.”
Yoon Jeo: “Hari itu, aku tidak mati. Dan bukan hanya aku yang bertahan hidup hari itu.”
Ratu: “Apa maksudmu?”


“Putra Raja… masih hidup, Yang Mulia,” kata Yoon Jeo.


Nok Du dalam perjalanan menemui Raja.


Mendengar kenyataan itu, Ratu merasa sesak dan lemas. “Tolong lindungi dia,” kata Yoon Jeo memohon.


“Selamatkan dia? Apa maksudmu? Di mana dia?” tanya Ratu. Ia kemudian menghampiri Yoon Jeo. “Di mana dia? Di mana dia?!”


Yoon Jeo: “Kau harus melindunginya… dari Yang Mulia Raja.”
Ratu: “Aku bertanya di mana putraku! Aku akan melakukan apapun untuk melindunginya! Katakan padaku. Aku mohon.”


Mereka sangat terkejut karena Raja tiba-tiba datang.


Sementara itu, Dong Joo tampak mengintai di depan kediaman Raja. Rupanya ia bilang akan menginap di istana untuk menjalankan rencananya membunuh Raja. Ia membawa serta kotak kayu berisi busur panahnya.


Raja berjalan kembali ke istana bersama Yoon Jeo yang berada dalam keadaan terikat.


“Yang Mulia….!” Ratu berlari mengejar Raja hingga menabrak Nok Du dan hampir terjatuh. Mereka saling bertatapan.


“Siapa disana?!” seorang pengawal memergoki Dong Joo lalu menghunuskan pedangnya. Dong Joo ketakutan dan berusaha menyembunyikan kotak kayu ke dalam roknya.


Raja datang menghampiri Dong Joo. “Kepala Polisi Daerah…” ucap Dong Joo terkejut. Raja menatapnya dengan marah.


Ratu masuk ke dalam dan dayang mengejarnya.


Nok Du mengambil aksesoris kesayangan Ratu yang terjatuh.


Ratu berlari sambil menangis menyusul Raja dan Yoon Jeo.


Nok Du menggenggam erat aksesoris milik ibunya itu. Ia lalu berjalan tanpa ragu untuk menyusul ibunya.


Comments


EmoticonEmoticon