11/27/2019

SINOPSIS The Tale of Nokdu Episode 27 PART 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2

Keesokan harinya, Raja keluar dari tempatnya menginap dengan disambut para pejabat, dayang dan kasimnya. Nok Du pun berjalan tepat di belakangnya.


“Yang Mulia…” panggil Kepala Pengawal yang tiba-tiba datang. “Jung Yoon Jeo… melarikan diri dari selnya, Yang Mulia.” Nok Du terkejut. Raja heran bagaimana Yoon Jeo bisa melarikan diri seperti itu.


Sementara itu di luar dinding, Dong Joo sudah siap dengan busur panahnya. Ia mendengar Kepala Pengawal meminta maaf kepada Raja karena sudah lalai dalam tugasnya.


Dong Joo mulai membidik Raja dengan busurnya.


“Sepertinya Ratu membantu Yoon Jeo melarikan diri dan menghilang bersamanya,” kata Kepala Pengawal sambil bersujud. Raja sangat terkejut dan marah.


Dong Joo sudah mengarahkan busurnya ke arah Raja.


Raja tiba-tiba merasa kepalanya sangat sakit dan Nok Du dengan sigap memeganginya. Karena Nok Du mendekati Raja, sudut tembak Dong Joo menjadi sulit.


Dong Joo menurunkan busur panahnya dan bernapas dengan tersengal-sengal.


“Mereka berusaha menyingkirkanku, sehingga mereka bisa menyerahkan tahta kepadanya. Tahtaku… Kirim seorang pengirim pesan agar mengatakan kepada penjaga untuk memperketat penjagaan istana. Lalu temukan narapidana yang kabur dan juga Ratu,” kata Raja yang kemudian memutuskan untuk kembali ke Hanyang.


“Ya, Yang Mulia,” kata Kepala Pengawal lalu pergi. Pengawal Baju Merah mendekati Raja dan melihat ke arah Dong Joo, tapi Dong Joo sudah bersembunyi. Kasim lalu bertanya bagaimana dengan rencana Raja untuk mengunjungi pemakaman leluhur.


“Rute mana yang tercepat ke Hanyang?” tanya Raja. Pengawal Baju Merah bilang rute tercepat adalah jika mereka menanjak gunung. “Kalau begitu, kita ambil rute itu. Kita tidak boleh membuang waktu. Ayo kita segara berangkat.” Nok Du mengiyakan.


Nok Du melihat langit yang agak mendung.


Dong Joo akan membidikkannya busurnya lagi, tapi Raja sudah pergi dan diikuti oleh rombongannya.


“Kita akan mengambil rute lain, jadi kalian harus sampi lebih dulu daripada yang lain dan pastikan tidak terjadi hal yang tidak diinginkan,” kata Pengawal Baju Merah kepada anak buahnya.


Seorang pengawal memergoki Dong Joo dan menodongkan pedang ke leharnya. Ia meminta Dong Joo menjatuhkan senjatanya. Dong Joo pasrah.


Tapi, tiba-tiba Yoon Jeo datang membantunya. Sayangnya, pengawal itu berhasil melukai lengan Yoon Jeo. Dong Joo lalu menembakkan anak oanahnya ke tubuh pengawal.


Yoon Jeo mengecek keadaan pengawal yang ternyata sudah mati itu


Dong Joo lalu membantu membalut luka di lengan Yoon Jeo yang merintih kesakitan karena lukanya cukup dalam. Mereka berdua menyadari bahwa kemarin mereka bertemu saling berselisih jalan.


“Melihat kau berhadapan dengan pengawal kerajaan, sepertinya kau sudah putus asa,” kata Yoon Jeo. Dong Joo bilang keadaan mereka berdua tidak jauh berbeda. “Aku menyarankan agar kau berhenti mengikuti Yang Mulia. Kau sepertinya tidak terbiasa dengan hal yang kau lakukan ini.”


Dong Joo bertanya apakah Yoon Jeo adalah prajurit yang hebat. “Aku ke sini bukan untuk menyakiti orang lain. Aku datang untuk melindungi orang yang kusayangi,” kata Yoon Jeo. Dong Joo bertanya apakah orang yang dimaksud adalah Raja.


“Jika iya, aku tidak akan membunuh pengawal tadi,” kata Yoon Jeo. Dong Joo bilang itu berarti tidak ada masalah dan meminta Yoon Jeo tidak mengganggu jalannya. “Apa yang coba kau lakukan itu mustahil. Bahkan jika berhasil, pada akhirnya akau terbunuh. Kau masih ingin melakukannya?”


Dong Joo yang sudah beranjak pergi berkata, “Aku melakukannya karena itu suatu kehairan. Aku berjanji pada mendiang ibuku bahwa aku akan membalas dendam pada musuh keluargaku.” Yoon Jeo merasa heran karena Dong Joo berjanji pada ibunya untuk membunuh seseorang. “Ya. Jadi tolong berpura-puralah kau tidak melihatku. Aku mohon.”


Yoon Jeo bilang tidak ada orang tua manapun di dunia yang ingin anaknya membunuh orang lain. Dong Joo menyebut Yoon Jeo tidak tahu apa-apa. “Tentu aku tahu. Aku juga orang tua. Dan iulah yang aku takutkan saat ini. AKu takut putraku akan menyia-nyiakan nyawanya yang berharga demi balas dendam. Itu pasti menghancurkan hidupnya,” kata Yoon Jeo.


Dong Joo terdiam. Yoon Jeo berdiri dan berkata, “Aku yakin keluargamu ingin agar kau hidup bahagia dan damai, bukannya malah hidup dalam dendam. Itulah yang orang tua inginkan.” Mata Dong Joo berkaca-kaca.


Saat berada di dalam lubang, ternyata ibu masih sempat hidup dan membangunkan Dong Joo yang pingsan. “Hiduplah… Pastikan kau hidup. Pastikan kau hidup, jadi…” ucapan ibu terhenti karena ia semakin lemah. Dong Joo kecil menangis memanggilnya ibunya.


“Jangan menyesal… Sedihlah sebentar saja. Dan lupakan semua hal yang mengerikan. Lupakan semuanya. Dan pastikan…  Pastikan kau hidup, sayangku…” kata ibu lalu semakin erat memeluk putrinya.


“Ibu…” isak Dong Joo. Tidak lama kemudian, ibu terkulai lemas tidak bernyawa. “Ibu… ibu…” Eun Seo, nama asli Dong Joo, menangis.


Dong Joo menghapus air matanya dan mengulangi pesan ibunya. Ia bilang ia tidak bisa melupakan bagaimana seluru keluarganya mati di depan matanya. “Semua orang mati dan meninggalkanku sendiri. Bagaimana bisa kau hidup dengan bahagia? Bagaimana?” isaknya.


Yoon Jeo menepuk pelan bahu Dong Joo dan meminta maaf karena terllau ikut campur dengan hidup Dong Joo. Tapi ia berharap Dong Joo tetap mempertimbangkan sarannya. Dong Joo pergi tanpa mengatakan apa-apa.


Yoon Jeo mendengar suara petir dan telrihat langit semakin gelap.


Hujan akhirnya turun, sehingga akhirnya Raja terpaksa turun dari tandu dan berteduh.


Raja termenung sendirian di dalam. Ia sangat resah karena tidak bisa segera kembali ke istana. Kasim datang dan mengabarkan bahwa jembatan menuju kota tiba-tiba ambruk, sehingga para pengawal dan dayang mengambil jalan memutari gunung. Raja kebingungan.


Kasim mengatakan bahwa matahari sebentar lagi terbenam dan hujan turun dengan deras, sehingga akan butuh lebih dari satu hari untuk sampai ke sana. Ia bilang mala mini Raja harus menginap di tempat itu.


Raja bilang saat semua orang sampai ke tempatnya itu, ia akan langsung pergi. “Ya, Yang Mulia,” kata Kasim.


Di ruang berbeda, seorang pejabat tidak menyangka kalau Nok Du memiliki ide untuk menghancurkan jembatan agar Raja tidak bisa kemana-mana. “Aku bisa melakukannya karena ada penjagamu yang diam-diam mengawasiku,” sindir Nok Du.


Pejabat itu menyadari sindiran Nok Du, tapi ia mengabaikannya. Ia mengingatkan bahwa mereka harus menangkap Raja sebelum pengawal lain datang.


“Berhenti mencampuri urusanku dan hubungi orangmu di Hanyang. Aku akan tiba di sana tepat waktu sesuai janjiku. Katakan pada mereka untuk melaksanakannya sesuai rencana,” kata Nok Du lalu pergi tanpa pamit. Pejabat itu menggerutu kalau sikap Nok Du tidak sopan.


Dong Joo sampai di tempat Raja singgah dan hujan sudah berhenti. Ia terdiam dan mengingat pesan Yoon Jeo bahwa keluarganya pasti ingin ia hidup bahagia dan damai, bukannya malah hidup dalam dendam. “Dia tidak tahu apa yang dia bicarakan,” kata Dong Joo yang mengabaikan saran Yoon Jeo. Ia melanjutkan langkahnya.


Ketika malam hari tiba, Yool Moo keluar dari kediamannya dengan mengenakan pakaian hitam. Dan Ho juga ada bersamanya, tapi Hwang Tae menghentikan mereka. Hwang Tae bertanya kenapa istana memperketat keamanan.


Yool Moo menoleh dan bertanya apakah Hwang Tae takut. “Bukan itu maksudku,” kata Hwang Tae. Yool Moo bilang mereka sudah berbuat jauh bersama, jadi Hwang Tae harus bersikap berani sekarang. Ia meminta Hwang Tae tidak khawatir karena rencana mereka akan berjalan lancar. Yool Moo pergi bersama Dan Ho, lalu Hwang Tae menyusulnya.


Mereka bertiga diikuti para komplotannya berjalan dengan penuh percaya diri menuju istana.


“Ada apa ini?” tanya seorang penjaga yang berjaga di atas pintu gerbang. Ia buru-buru turun untuk mengecek keadaan. Ia lalu bertemu dengan pengawal lain yang lebih tinggi jabatannya. “Kita mendapat masalah.”


Tapi pengawal yang lebih tinggi jabatannya itu malah memintanya untuk membuka pintu gerbang. Penjaga pintu menduga kalau terjadi pemberontakan. “Ini adalah revolusi,” kata pengawal pemberontak sambil mengeluarkan pedangnya. Anak buahnya juga melakukan hal yang sama. 


“Dan aku terlibat dalam revolusi ini! Dan jika kalian ingin membahayakan nyawa kalian demi melindungi Raja, kalian harus maju dan melawanku lebih dulu!” Para penjaga pintu kebingungan. “Apakah Sang Raja pantas menerima kesetiaan kalian?” Penjaga tidak menjawab. “Buka pintunya sekarang!”


Pintu dibuka dan Yool Moo pun masuk.


Comments


EmoticonEmoticon